
Adam sudah sampai di rumah seminggu yang lalu dan selama seminggu itu pula hubungannya dengan Amira sudah kembali normal seperti semula seolah-olah tidak terjadi apapun diantara mereka berdua, Amira juga sudah terlihat 100% menerima keberadaan suaminya sehingga membuat Daniel sudah capek dan juga bosan sendiri karena menunggu sesuatu tanpa kepastian maka dari itu ia memilih untuk pulang.
ya Meskipun awal-awalnya pria itu terlalu memaksakan diri tetapi pada akhirnya ia tetap harus menyerah dan tidak bisa memaksakan kehendak, sebab Biar bagaimanapun hubungan yang berawal dari pemaksaan sepertinya tidak akan bertahan lama maka dari itu lebih baik mengalir saja mengikuti alur nya.
Daniel yang sudah sampai di kediaman orang tuanya tidak banyak berbicara membuat Andara dan juga Michael Ya tentu saja tidak bisa memaksakan kehendak, sebab pria itu sudah besar bisa menentukan arah kehidupannya harus ke mana dan juga bisa mencari wanita sesuai kriterianya yang penting intinya seiman.
"gimana Liburan nya, Apa memang benar Amira menolong kamu dan tidak punya bersama dengan kamu? "tanya Andara penasaran karena menurutnya jangan sampai mungkin Amira sedikit terpesona dengan kedatangan Daniel yang nekat menyusulnya sampai ke Indonesia.
Daniel terlihat menghela nafasnya kasar sebab biar bagaimanapun orang tuanya itu merupakan saksi perjuangannya untuk bisa mendapatkan Amira, hanya saja sepertinya Apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan karena terbukti sekarang dirinya pulang dengan tangan kosong tidak membawa apapun.
kalau memang mereka itu jodoh ya tentu saja pasti akan bersama dan tentu saja Amira pasti bakalan terus tersanjung dengan kedatangan Daniel yang nekat itu, tetapi buktinya kan tidak justru wanita itu tetap mempertahankan hubungannya dengan suaminya ya Meskipun pria itu sudah menduakannya.
"ya mungkin saja kami tidak berjodoh Dan juga mungkin saja Tuhan sudah menyiapkan jodohku yang lain, hanya saja Aku ingin kali ini mama tidak boleh ikut campur di dalam urusanku mencari jodoh karena aku sudah besar! "tegas Daniel yang benar-benar tidak ingin dibantah.
Andara hanya mengangkat kedua bahunya pertanda tidak peduli dengan apapun yang dikatakan oleh anaknya itu yang penting intinya dirinya bisa memiliki menantu dan juga bisa mempunyai cucu, kehidupannya bakalan terasa begitu lengkap di hari tua jika rumah tangga yang ia Bina baik-baik saja dan anaknya juga memiliki tanggung jawab serta dirinya Sebelum meninggal kita bisa melihat kebahagiaan keluarganya mereka.
Michael terkenal sangat cuek dan juga tidak peduli dengan urusan sekitarnya yang penting intinya semuanya masih aman terkendali, terkecuali ada sesuatu hal yang tidak diinginkan maka dirinya yang harus bertindak untuk menjaga keamanan dan juga kenyamanan para anggota keluarganya.
"karena kamu sudah mendapatkan kepastian tentang selama ini yang kamu kejar maka kedepannya, Papa harap kamu menjadi pribadi yang bertanggung jawab kemudian tidak yang namanya lepas tanggung jawab serta keluyuran tidak jelas. "perkataan Michael itu terdengar biasa saja tapi ada tersirat nada ketegasan dan juga penekanan di dalamnya.
"Papa Tenang saja karena aku juga sudah tidak ada niatan lagi untuk mencari jodoh dalam waktu dekat ini, toh kalau misalnya sudah diatur pasti juga nanti bakalan datang sendiri dan juga kalau memang sekarang belum waktunya untuk menikah ya Nikmati saja dulu! "sahut Daniel menjelaskan pemikirannya saat ini sebab Ia juga sedang tidak mau lagi yang namanya mencintai tetapi rasanya sangat sepihak saja yang merasakannya itu sangat tidak menyenangkan.
"sabar saja nanti juga pasti bakalan ketemu orangnya bahkan bisa dibilang saat dia datang kamu tidak akan pernah menyangka sama sekali, mau itu orang yang selama ini bersama dengan kamu atau orang yang tidak pernah kamu kenal sebelumnya Yang penting intinya ya di bawah santai saja," Andara tidak ingin terlalu mempermasalahkan tentang anaknya terlalu jauh sebab takutnya jangan sampai Daniel tertekan dan berakhir dengan kabur seperti kemarin-kemarin.
Amira pagi ini sebenarnya tidak ingin sekali beranjak dari tempat tidur karena Entah mengapa perutnya terasa begitu mules, sudah begitu pinggangnya itu rasanya mau patah seperti kemarin dirinya baru habis Arit padi di sawah.
Adam tidak menyadari hal itu sama sekali karena semalam istrinya itu baik-baik saja maka dari itu ketika Amira tidur sampai pukul 06.30 belum bangun juga ya ia tetap membiarkan hal itu, karena mungkin Amira itu kan setiap malam tidak tidur dengan tenang akibat terlalu sering bolak-balik kamar mandi akibat kandungannya yang sudah semakin membesar.
__ADS_1
Aida pun melakukan hal yang sama tidak terlalu cemas memikirkan kondisi anaknya saat ini, dirinya kini tengah membantu Surti menyiapkan sarapan karena Adam pagi ini harus sudah kembali ke kantor sebab dirinya akan cuti lebih lama lagi maka dari itu ia harus memastikan keadaan di sana.
"Nak Adam tolong dipanggil dong Amiranya supaya dia sarapan dulu Lalu setelah itu istirahat kembali pun tidak masalah yang penting intinya dia sudah makan, soalnya nanti vitaminnya yang di pagi hari belum diminum loh dan kalau dia tidur terlalu lama Takutnya nanti Tulang belakangnya itu bakalan sedikit sakit! "minta Aida Ya jelas saja dan langsung segera bangkit dan pergi ke dalam kamar mereka untuk memanggil istrinya.
Sesampainya di sana Adam mengurutkan keningnya karena merasa heran ketika melihat wajah Amira yang meringis seperti Tengah menahan sakit, membuat pria itu langsung cemas dan segera mendekati istrinya untuk memastikan kira-kira apa yang membuat wajah wanita itu seperti Tengah menahan sakit.
"kamu baik-baik saja kan, Kalau ada apa-apa bilang saja ya daripada kamu pendam sendiri?" tanya Adam dengan wajahnya yang pucat pasi.
Amira menghela nafasnya berkali-kali berusaha untuk menetralkan rasa sakitnya dan berharap agar segera pergi, tetapi sepertinya rasa sakit itu semakin teratur membuat dirinya ingin menangis tetapi masa hanya sakit segitu doang harus menangis ?
"Aku itu perutku rasanya mules banget Terus tulang belakangku ini loh rasanya tulangnya sudah tidak ada di tempatnya, sakit yang minta ampun Kalau semalam enak 2 Sampai 3 jam baru sekali mulesnya tetapi sekarang Astaga hampir 15 menit mules kemudian hilang Lalu setelah itu muncul lagi! " ujar Amira yang sedikit merasa kesal karena tidurnya sangat terganggu.
Adam membulatkan matanya sempurna ketika mendengar penjelasan dari istrinya itu, karena dirinya sangat yakin kalau saat ini itu istrinya ingin melahirkan maka dari itu pria itu langsung loncat dari atas tempat tidur dan berlari ke arah dapur untuk bertemu dengan mertuanya.
"Astaga ibu itu Tolonglah Aduh apa namanya ya Astaga Aku bingung mau ngomong apa nih...
"Memangnya kamu mau ngomong apa, kalau memang ada hal penting ya sudah ngomong supaya kami dengar? "tanya Aida penasaran soalnya menantunya itu baru kali ini bersikap sama tidak masuk akal dan juga saking paniknya sampai-sampai tidak bisa berpikir jernih Padahal selama ini Adam orangnya kalem segala sesuatu ya di bawah santai.
"Tarik nafas pelan dulu Pak, Nanti kalau sudah rileks baru ngomong tetapi kalau belum Ya sudah Tenangkan diri dulu biar jangan terburu-buru. "saran Surti tetapi Adam mengangkat tangannya tinggi-tinggi memberi kode bahwa tidak bisa lagi untuk menunggu lebih lama lagi karena ini sedang darurat.
"ini itu darurat Bibi, kalau sebenarnya di dalam itu Amira sudah merasakan Perutnya mules secara terus-menerus dan....
Adam belum selesai menjelaskan terlihat kini Surti dan juga Aida sudah berlari menuju ke dalam kamarnya Amira, yang penting intinya maksud dan tujuan pria itu mengatakan semuanya sudah mereka pahami jadi tidak perlu harus mengatakan sampai habis karena terlalu lama.
Adam menatap heran ke arah gerakan kedua wanita itu karena merasa sangat bingung kok bisa ya tiba-tiba gerakannya sudah seperti Ninja, padahal biasanya Surti dan juga Aida itu gerakannya kalem santai kemudian anggunlah istilahnya di situ tidak seperti saat ini benar-benar Barbar dan juga sangat mengerikan.
"Kenapa mereka bisa berubah dalam waktu hitungan detik seperti itu ya, kan seharusnya mendengarkan penjelasanku selesai dulu barulah mereka mulai bertindak? "batin Adam yang tidak paham dengan pola pemikiran kedua wanita paruh baya yang ada di rumah itu yang menurutnya gercep sih boleh tetapi sadar umur Takutnya nanti bukan mengurus Amira Tetapi malah mengurus mereka berdua.
__ADS_1
Amira menatap heran ke arah ibunya dan juga Surti dengan nafas ngos-ngosan masuk ke dalam kamarnya, padahal Ia sekarang sedang menunggu suaminya yang entah mengapa menghilang tiba-tiba padahal Ia saja belum berbicara sampai habis.
"loh kok Ibu ada di sini sama Bibi juga, Memangnya Mas Adam pergi ke mana? itu Orang aku ngomong belum habis kok pergi begitu saja memangnya Dia pikir ini tidak sakit apa, jadi orang aku tidak peka sama sekali sudah tahu kalau istrinya ini tidak bisa menahan sakit terlalu lama! "omel Amira kesal.
"kita ke rumah sakit sekarang tidak boleh banyak menunggu Takutnya nanti dia bakalan keluar di rumah ini, soal suami kamu urusan belakangan Siapa suruh jadi suami tidak peka sama sekali. "nah tuh kan kali ini Adam lagi di salah kan padahal dirinya saja tidak tahu apapun bagian ini kan kelahiran pertama di dalam rumah tangga mereka Jadi otomatis Adam masih baru untuk memahami semuanya.
"Aduh Mana bisa begitulah bu, aku tuh lagi menunggu suamiku suruh dia datang ke sini deh soalnya aku pengen ngomong! Lagian ngapain mau ke rumah sakit orang aku saja baik-baik saja, masa iya sakit-sakit seperti begini langsung dibawa ke rumah sakit nanti dibilang cengeng kan urusannya lebih rumit!"Amira meskipun meringis masih terlihat santai membuat Aida ibunya merasa gemas dengan kelakuan anaknya itu yang menurutnya terlalu bertele-tele.
"Amiraku sayang, Anakku paling manis di jagat raya ini! kamu itu bukan sakit penyakit tetapi mau melahirkan jadi harus ditangani segera, Memangnya kamu mau brojol di sini Terus menurut kamu Ibu paham urusan membantu orang melahirkan gitu? "omel Aida membuat Amira terkejut dan wanita itu tanpa banyak berbicara langsung segera bangkit dan rasa sakit yang begitu menyiksanya tidak dipedulikannya sama sekali karena ia segera menuju ke dapur dan menarik suaminya agar segera pergi.
"Ayo Mas kita jalan!"ajak Amira membuat Adam yang tengah kebengon dari tadi merasa heran Memangnya sementara sakit seperti begini mau jalan ke mana.
"Loh kok malah jalan, Bukannya Kamu mau melahirkan? "tanya Adam heran.
"yya Justru itu makanya aku ajak kamu jalan, emangnya kamu mau aku melahirkan di sini terus kamu yang bantu gitu? Memangnya kamu kuat melihat aku nanti berusaha untuk melahirkan anak kita ke dunia ini, jangan sampai anaknya belum lahir Kamunya sudah tepar lebih dulu dan jangan sampai hal itu terjadi aku benar-benar bakalan tidak menegur kamu selama 40 hari!"omel Amira.
"Ya sepertinya memang harus 40 hari Mbak, tidak menegur Pak Adamnya! biar nanti tidak ada yang namanya junior junior selanjutnya yang datang belum waktunya, Seharusnya kan bisa diatur jaraknya Jadi kalau misalnya sudah 40 hari direncanakan Untuk tidak saling mendekati lebih bagus!" pembahasan mereka sudah meluber kemana-mana padahal kini Amira itu sebenarnya merasakan sakit hanya karena antusiasnya untuk segera ke rumah sakit sampai-sampai melupakan hal itu sejenak.
"Terus gimana kita jalan atau malah ngobrol seperti begini saja, soalnya kan semuanya pengen ngobrol ya sudah dilanjutkan saja Nanti baru kita pergi setelah lahir ? "Amira kali ini mengomeli mereka semua bahkan rasa sakitnya itu sudah tidak dipedulikan sama sekali ketika semua orang sudah lupa kalau hari ini merupakan hari yang penting.
"Ya ampun Sayang ayo kita jalan Maafkan suamimu ini yang terlalu kelihatan panik sampai-sampai lupa, nanti kalau misalnya besok lusa aku lupa lagi ya tinggal kamu Ingatkan saja ya jangan kamu juga ikut-ikutan lupa, "Adam menarik tangan istrinya itu sampai-sampai melupakan kalau ada dua wanita paruh baya yang tengah membereskan semua peralatan yang akan mereka bawa ke rumah sakit ya Meskipun semuanya sudah beres tinggal di bawah saja Tetapi kan harus perlu pengecekan ulang.
"Ayo kita jalan!"ajak Adam dan tentu saja Amira pun mengiyakan saja sampai-sampai melupakan kalau sebenarnya kedua wanita dewasa yang ada di rumah itu belum masuk ke dalam mobil.
Adam yang akan berangkat merasa kebingungan seperti Tengah melupakan hal penting tapi apakah itu ia saja tidak tahu, sedangkan Amira memilih untuk menikmati rasa sakitnya karena sungguh jika dihitung dari 1 sampai 10 rasa sakit melahirkan itu mungkin tepat di angka 15.
"kenapa berhenti Mas, Kenapa tidak langsung jalan?"tanya Amira gemas melihat gerakan lelet suaminya itu.
__ADS_1
"Mas itu seperti melupakan sesuatu tetapi apa ya, soalnya kayaknya kamu sudah ada di sampingnya Mas terus kunci mobil sudah ada tinggal jalan saja kan?"tanya Adam balik.