
Adam yang mengetahui bahwa panggilannya tidak digubris oleh Papanya mulai berpikir sesuatu yang tidak tidak tetapi ia masih mengekspresikan wajahnya itu dalam keadaan biasa saja, karena takutnya jangan sampai kalau dirinya merespon secara berlebihan membuat Amira bakalan panik dan akan berpengaruh pada kandungan wanita itu.
Amira yang melihat panggilan dari suaminya tidak direspon oleh orang tuanya membuat pikiran aneh-aneh mulai berkecamuk, dari pemikiran jika Sebenarnya ada hal yang sangat membuat dirinya cemas sedang terjadi atau mungkin kedua orang tuanya Adam belum benar-benar memaafkan putranya itu maka dari itu mereka Mengabaikan semua komunikasi yang berasal darinya.
"gimana Mas mereka mau merespon atau tidak panggilan dari kamu, kalau memang tidak Ya sudah nanti biar aku yang menelpon saja mungkin Siapa tahu mereka bakalan mengangkatnya? "tawar Amira daripada dirinya Hanya duduk dan juga menunggu sesuatu tanpa kepastian seperti ini kenapa kalau tidak langsung mencobanya secara langsung mungkin dengan begitu hasilnya bakalan langsung cepat dirasakan.
Adam yang berusaha tersenyum menanggapi apa yang dikatakan oleh istrinya itu karena sekarang permasalahannya bukan panggilan yang tidak dijawab oleh Papanya tadi melainkan mungkin jangan sampai ada sesuatu kejadian yang benar-benar tidak terduga sedang terjadi di dalam kehidupan mereka, karena jika memang seperti itu maka Adam tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri karena kebodohan yang ia lakukan membuat keluarganya kocar-kacir tidak jelas seperti saat ini.
"sudah kamu jangan merasa cemas seperti begitu karena nanti aku bakalan menghubungi Mama kok, mungkin tadi papa lagi ada kesibukan atau mungkin lagi sedang menyetir mobil Soalnya kalau menunggu Dimas itu terkadang lelet makanya kebanyakan Papa selalu membawa mobil sendiri kalau mau pergi kemana-mana! "jelas Adam berusaha agar tetap tenang supaya istrinya juga tidak ikut dengan keadaan yang ada saat ini karena nantinya jika Amira merasakan hal tersebut tidak menutup kemungkinan keadaan istrinya itu akan tidak baik-baik saja.
Amira memilih untuk mengikuti perkataan suaminya itu dengan duduk tenang sambil menunggu Apa yang dilakukan oleh Adam, kalau memang tidak ada yang merespon maka dirinya yang bakalan bergerak menghubungi semua orang satu persatu karena Biar bagaimanapun kecemasan yang ia rasa itu bukan sebuah barang permainan yang bisa saja diabaikan begitu saja tidak usah terlalu diambil pusing.
"Ayo Mama Angkat dong soalnya kalau kalian sampai tidak menganggap panggilan dariku entah nanti apa yang bakalan dipikirkan oleh istriku, apapun kesibukan yang sedang kalian lakukan setidaknya respon saja panggilan dariku!"pinta Adam dalam hati karena ia juga sudah mulai merasakan was-was takutnya jangan sampai kedua orang tuanya saking kecewanya sampai-sampai tidak mengangkat panggilan darinya Tetapi malah disalah artikan oleh Amira bahwa ada hal yang sangat buruk sedang terjadi di dalam kehidupan mereka.
Apa yang dipikirkan oleh Adam berbeda dengan yang dipikirkan oleh Amira saat ini, Karena Wanita itu benar-benar ketakutan jangan sampai orang tuanya kenapa-napa atau mungkin ibunya yang sedang tidak baik-baik saja karena perasaan seorang anak yang merasakan cemas berlebihan seperti begitu biasanya dikarenakan Adanya ikatan batin yang begitu kuat.
Dina yang sedang panik merasa bahwa ponsel di dalam tasnya itu bergetar karena kebetulan kedua tangannya sedang bebas sebab kepalanya Aida yang ia baringkan di pahanya, maka dari itu dirinya langsung mengangkat panggilan jangan sampai itu merupakan panggilan penting yang tidak bisa dilewatkan sama sekali.
di bangku depan Sakti mengerutkan keningnya ketika melihat istrinya hanya melihat saja panggilan yang masuk di dalam ponselnya tanpa ada niatan untuk mengangkatnya, jelas saja pria itu merasa penasaran Siapa sih yang sebenarnya menelpon saat ini Tetapi istrinya itu malah memilih untuk melihatnya saja tanpa ada niatan untuk berbicara dengan penelpon tersebut.
__ADS_1
"Siapa sih yang nelpon Mah? sampai-sampai tidak mau diangkat seperti itu, siapa tahu itu penting ya harusnya direspon dong supaya tidak penasaran? "tanya Sakti membuat Dina menghembuskan nafasnya kasar Karena sekarang memang ia sedang tidak ada mood untuk berbicara dengan putranya tetapi jangan sampai juga ada terjadi sesuatu hal yang tidak mereka inginkan Yang Terjadi kepada Amira makanya Adam menelpon mereka dijawab seperti itu padahal selama ini pria itu jarang melakukan panggilan.
"Adam yang menelpon tetapi Mama sepertinya malas untuk mengangkat panggilan darinya, karena sudah mempermalukan kita dengan membuat Aida drop seperti ini karena memikirkan anaknya dan juga mama tidak suka pria yang plin-plan seperti dia itu! "ujar Dina yang mengeluarkan semua una-uneknya Tetapi menurut Sakti sebenarnya ini merupakan sesuatu yang paling penting agar Adam dan juga Amira bisa pulang.
"sebenarnya lebih baik Mama angkat saja panggilan darinya dan terus bilang keadaan Aidah yang sebenarnya karena mungkin dengan begitu dia bakalan langsung pulang, daripada nanti dibiarkan begitu saja pasti pria itu tidak akan punya pikiran untuk membawa anaknya Aida pulang ya dengan begini kita juga yang bakalan kewalahan kalau misalnya saat Aida sadar nanti kemudian marah-marah dan menanyakan keberadaan Amira! "Sakti merasa jika saat itu merupakan saat yang tepat jika ingin agar Adam segera menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam keluarganya dan juga permasalahan antara dirinya dan juga Aida Yang sepertinya tidak ada titik terang karena Aida masih tetap mempertahankan pemikirannya bahwa Adam bersalah di sini dan seperti itulah yang ada dalam pikirannya Sakti saat ini padahal kenyataannya tidak seperti begitu juga.
sampai panggilan itu selesai tidak ada respon sama sekali dari seberang membuat Amira benar-benar sangat mencemaskan hal itu, Sedangkan ada masih berusaha untuk menelpon sekali lagi ya mungkin nada dering mamanya sedang tidak aktif sampai tidak mendengarkan panggilan yang ia lakukan.
"mama tidak merespon ya Mas? Oh Tuhan sebenarnya apa sih yang terjadi diantara mereka sampai-sampai harus melakukan ini semua, mau marah atau Sesibuk apapun setidaknya panggilan dari kita direspon supaya kita benar-benar tahu apa yang terjadi diantara mereka! "Baru kali ini Amira marah-marah seperti itu karena biasanya wanita itu akan memilih Tetap santai dan juga tidak mempermasalahkan segala sesuatunya secara berlebihan.
"ya kamu tenang saja nanti mas bakalan mencoba untuk menghubungi Mama sekali lagi, mungkin tadi dia sedang tidak mendengar kalau ponselnya ada panggilan kan kita bisa mencoba sekali lagi untuk memastikannya! "tawar Adam sambil tersenyum membuat Amira hanya bisa menghela nafasnya secara perlahan padahal Percayalah jika wanita itu dalam keadaan tidak baik-baik saja akibat terlalu mencemaskan sesuatu yang belum ada kepastian kira-kira apa yang sedang dia cemaskan.
"Ais kutu kupret ini menelponku sekali lagi padahal dia tahu kalau sebenarnya aku itu masih merasa kesal dengannya, tapi ya sudahlah daripada dia hanya membuat pusing lebih baik mencoba sesuatu yang berbeda atau aku mengangkat saja panggilan darinya mungkin Siapa tahu sangat penting! "gumam Dina monolog dan akhirnya mengikuti saran yang diberikan oleh suaminya tadi yaitu menjawab panggilan yang berasal dari Adam untuk memastikan Sebenarnya ada alasan apa sampai putranya itu mau menelpon mereka.
"Kenapa Adam, Kalau ada yang penting silakan ngomong kalau tidak ada ya sudah nanti saja soalnya Mama ada urusan yang sangat penting tidak bisa ditinggalkan? "pertanyaan Dina itu benar-benar membuat Adam jadi kebingungan karena tidak seperti itu sikap mamanya selama ini yang selalu saja sabar dan juga berusaha menerangkan segala sesuatunya dengan begitu baik jika dirinya sudah menelpon di jam segitu.
"Mama tolonglah aku sedang tidak ingin berdebat saat ini, karena aku benar-benar ingin memastikan kira-kira Bagaimana keadaan semua di situ! jadi aku mohon dengan sangat Tolong jangan membuat kami di sini kebingungan dan juga istriku merasakan kecemasan secara berlebihan, karena mengingat kondisinya yang sebenarnya tidak boleh tertekan sama sekali apalagi harus mengalami sesuatu hal yang tidak diinginkan! "pinta Adam penuh permohonan membuat Dina mendengarkan sebab menurutnya pemikiran dewasa anaknya itu sudah sangat terlambat kemarin-kemarin ke mana saja sampai melupakan hal sepenting itu.
"kapok kan sekarang Karma yang sedang menimpa kamu? Makanya dulu saja kamu melakukan sesuatu sekehendak hati sekarang setelah merasakan dampaknya malah menyesal, kalau mau melakukan sesuatu kata orang tua kan harus dipikirkan dulu tidak hanya mementingkan sesuatu hal yang tidak boleh sama sekali! "omel Dina lagi membuat Adam tidak tahu lagi harus berkomentar bagaimana karena sepertinya orang tuanya itu sedang merasa cemas kepadanya sampai-sampai tidak tahu bahwa dirinya begitu panik ketika melihat wajah Amira yang seperti menahan tangisnya.
__ADS_1
Adam yang menyadari hal itu langsung mengubah topik pembicaraan dengan Dina dan berharap agar ada kejujuran Dari Mamanya itu, karena Biar bagaimanapun Ia melakukan semua ini demi mementingkan istrinya yang dalam kondisi berbadan dua saudara kalian merasa cuma seperti itu rasa-rasanya sangat tidak baik bagi kesehatan mereka berdua .
"gimana keadaan Mama sama Papa serta ibu Aida sekarang mah, Apakah ada sesuatu yang tidak kami ketahui sedang terjadi kepada Kalian bertiga? "tanya Adam the point Soalnya kalau terlalu lama berbicara alhasil nanti sesuatu yang penting tidak akan pernah mereka bahas Soalnya masing-masing lebih mementingkan ego.
Dina menghembuskan nafasnya kasar ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh putranya itu, karena ia yakin pasti Amira sedang merasakan sesuatu yang tidak baik-baik saja jadinya menyuruh Adam untuk menghubungi mereka.
"Amira sekarang ada di mana? Terus kalau misal Mama mau mengatakan sesuatu dia siap mau mendengarkannya atau tidak, Dan juga bilang dia ingat apa yang ada di dalam kandungannya sekarang ini karena bukan hanya dirinya sendiri melainkan ada kehidupan lain yang menanti agar emosi ibunya itu tetap stabil tidak ada masalah sama sekali karena nantinya bakalan berpengaruh? "pertanyaan Dina itu memang sangat masuk akal karena Biar bagaimanapun yang harus mereka pikirkan juga selain dari kondisinya Aida yaitu kondisi psikisnya Amira.
Adam menoleh ke arah istrinya ingin memastikan kira-kira Bagaimana keadaannya membuat wanita hamil tersebut memaksakan senyuman di wajahnya, meskipun rasanya sangat tidak nyaman ketika merasa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja tetapi memilih untuk Mengabaikan semua itu demi menjaga perasaan istrinya agar tidak frustasi secara berlebihan.
"Amiranya ada di sampingku dan dia juga yang sudah menyuruh aku untuk menelpon Papa sama Mama untuk memastikan keadaan kalian bertiga, Mama Tenang saja psikisnya baik-baik saja karena dari tadi dia sudah mengatakannya Kalau iya siap mendengarkan apapun berita nantinya! "sahut Adam dan Amira menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh suaminya karena ia juga bukan anak kecil yang tidak sadar dengan kondisinya saat ini dan memilih menjadi orang tua yang egois serta tidak peduli dengan keinginan anak di dalam kandungannya yang berharap agar mood ibunya selalu baik-baik saja.
"tadi pagi mama merasa perasaan tidak enak dan ketika merasa perasaan itu tidak enak langsung pikiran Mama tertuju kepada Aida, karena Biar bagaimanapun di rumah dirinya tinggal sendiri tidak ada orang lain yang menemaninya sebab ketika Mama menyuruhnya menggaji art ia menolak hal itu tidak ingin memasukkan orang asing lagi ke dalam rumahnya yang hanya untuk membohonginya saja! sampai di sana ketika dipanggil-panggil tidak ada respon sama sekali padahal lampu rumahnya itu masih dalam keadaan menyala, membuat Mama sama Papa mulai mencurigai sesuatu yang tidak jelas dan alhasil memilih untuk mendobrak pintu dan Percayalah saat sampai di dalam kamar aidanya sudah pingsan! Tapi kalian Tenang saja karena Mama sama Papa juga sudah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, doakan saja semoga dia baik-baik saja serta tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan karena biar bagaimanapun Aida merupakan orang yang baik!"jelas Dina sambil menghela nafasnya secara perlahan karena merasa seperti ada beban himpitan yang begitu menekan dadanya.
Amira merasa dunianya seakan berhenti saat itu juga ketika mengetahui bahwa ibunya itu pingsan di dalam rumah dan sekarang sedang dibawa ke rumah sakit dan Itu semua benar-benar membuat dirinya merasa bersalah, sebab tidak percaya jika ibunya akhirnya drop juga padahal kemarin waktu dirinya berbicara dengan wanita paruh baya itu respon ibunya biasa saja suaranya pun tidak mengalami perubahan sama sekali seperti layaknya orang yang sedang sakit.
Adam pun merasakan hal yang sama yaitu benar-benar merasa bersalah kepada mertuanya itu, coba saja kalau dulu dirinya tidak pernah melakukan kesalahan ya Otomatis mereka pasti tetap berada di Indonesia dan juga Amira bisa memastikan keadaan ibunya itu secara langsung tidak seperti sekarang merasa cemas tetapi tidak bisa berbuat banyak karena tidak berada di tempat yang sama.
"Ya sudah Mama sama Papa fokus aja membawa Ibu ke rumah sakit, nanti kalau misalnya ada apa-apa tolong langsung kabari ya! Soalnya kami sudah mau pergi ke jet untuk membawa pulang Kami ke situ, doakan saja Semoga semua berjalan lancar agar kita kembali berkumpul dan Adam juga bisa meminta pengampunan kepada Ibu dan juga Mama serta Papa karena benar-benar sudah mengecewakan kalian!"Adam berusaha untuk tegar karena mengingat kalau misalnya dirinya lembek ya bagaimana dengan yang akan dilakukan oleh Amira nantinya.
__ADS_1