Cinta Dan Air Mata

Cinta Dan Air Mata
Adam Penasaran


__ADS_3

Amira menggelengkan kepalanya mendengar saran yang diberikan oleh Sarah tadi, sebab menurutnya tidak mungkin dirinya berlari terus toh kalau memang sudah ditakdirkan mau bagaimanapun ia menghindar tetap bakalan ketemu dengan Adam.


"kamu tenang saja karena aku baik-baik saja dan juga tidak perlu dikhawatirkan, dan juga kasihan Tuan Daniel sekarang sedang lagi di ruangan meeting tidak mungkin kan membiarkan mereka menunggu terus tanda tanya! " Jelas Amira sambil tersenyum lalu mengambil ponselnya dan kembali merespon orang-orang di ruangan meeting yang pasti sedang menunggu.


Adam sebenarnya lebih fokus dengan suara orang yang sedang berbicara saat ini di seberang sana meskipun dirinya tidak melihat sama sekali, karena kebetulan panggilan antara Amira dan juga Daniel belum terputus sama sekali sebab meeting hari itu belum selesai.


"aku yakin itu suara kamu dan juga aku yakin kalau memang itu kamu, tetapi kenapa kamu malah menghindar seperti ini seolah-olah aku ingin memang terlalu jahat dan tak bisa mendapatkan maaf?"lirih Adam yang terlihat wajahnya penuh kekecewaan membuat Daniel bingung harus merespon seperti apa.


"Apakah kita bisa mulai meeting lagi Tuan Daniel, dan juga tuan Adiguna? Maafkan saya tadi atas insiden kecil yang sudah terjadi dan membuat kalian semua terpaksa menunggu, tetapi Itu semua memang benar-benar di luar dari kuasa saya untuk melakukannya! "jelas Amira yang merasa tidak enak hati kepada semuanya.


"lanjutkan saja pekerjaanmu!"perintah Adam yang bahkan bisa dibilang dirinya merasa lebih berhak memberikan perintah kepada Amira bukan Daniel yang jelas-jelas sebagai atasan dari wanita itu.


Daniel memilih tidak ambil pusing toh memang dia yakin ada yang pasti buru-buru makanya langsung memberikan perintah seperti itu, entah apa jadinya nanti kalau sampai pria itu tahu sebenarnya ada hubungan apa antara Adam dan juga Amira di kehidupan mereka yang sebelumnya Dan juga bagaimana status mereka berdua sampai saat ini Serta anak yang dikandung oleh Amira itu adalah darah dagingnya Adam.


"Ayo Amira Kamu pasti bisa melakukannya dan juga Jangan gugup karena kamu adalah the strong woman!" bisik Sarah memberi kekuatan kepada sahabatnya itu agar tidak terlalu terpuruk dan akhirnya bisa berimbas pada pekerjaan.


Amira tersenyum melihat perhatian kecil yang diberikan oleh Sarah kepadanya itu, wanita itu selalu datang di saat dirinya membutuhkannya dan juga di saat dirinya sedang terpuruk seperti saat ini.


Percayalah melupakan seseorang yang pernah melakukan sesuatu yang menyakiti hati kita itu, rasanya tidak akan pernah mungkin terjadi pada kehidupan manusia di dunia ini. Yang menjadi daya ingat yaitu kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang sekitarnya, Maka akan melupakan 1000 kebaikan yang ia buat tidak akan pernah berbekas akibat satu kesalahan.


Adam yang sedang mengikuti meeting hari ini fokusnya terpecah menjadi dua, antara Berusaha tetap mengingat suara orang yang sedang menyampaikan presentasi itu atau Berusaha tetap memasukkan apa yang disampaikan agar menjadi bahan pembahasan mereka nantinya.


"Baiklah sekian presentasi dari saya hari ini kalau ada yang ingin ditanyakan sampaikan saja, tetapi itu nanti langsung kepada Miss Diana karena dia juga secara garis besar sudah Ikut andil di dalam menyampaikan presentasi untuk hari ini! "jelas Amira lalu segera mematikan ponselnya meskipun belum mendapatkan izin dari ruangan meeting agar dirinya melakukan hal itu.


Daniel tersenyum ketika menyadari bahwa panggilannya kepada ponselnya Amira ternyata sudah dimatikan, membuat pria itu hanya menggelengkan kepalanya karena merasa kemas dengan sikap Amira Yang sepertinya tidak ingin menyapa para klien di situ ataupun sekedar berpamitan dengan mereka.


Adam yang melihat tingkah Daniel itu mendadak jadi tidak suka sama sekali, seolah-olah pria yang ada di hadapannya itu Tengah Kasmaran dengan Amira dan membayangkannya saja sudah membuat kepalanya pening secara mendadak.

__ADS_1


"Diana Tolong kamu sampaikan secara garis besar apa yang nanti bakalan ditanyakan oleh Tuan Adam dan juga tuan Rangga, karena saya ingin pergi memastikan keadaan Amira sebentar saja tidak memakan waktu kok paling hanya 5 menit saja! "Daniel tidak ada niatan untuk meminta izin kepada para kliennya karena menurutnya keadaan Amira itu lebih penting daripada segalanya.


Daniel juga tidak perlu harus bersusah payah memaksakan diri untuk tetap ikut berada di ruangan meeting tersebut, karena yang akan menyampaikan segalanya adalah asistennya yang tadi secara tidak langsung sudah diwakilkan oleh sekretarisnya sendiri.


Adam otomatis tidak terima ketika melihat Daniel yang lebih mengkhawatirkan Amira daripada proyek besar-besaran milik mereka ini, seolah-olah wanita itu adalah orang yang paling penting daripada pekerjaan Daniel dan juga ribuan karyawan milik pria itu.


"Tunggu dulu! Saya rasa karena tadi mendengar suara asistennya Anda keadaannya sudah sedikit membaik, Bagaimana kalau kita ke ruangan anda saja untuk membahas secara langsung dengan dia dan juga saya ingin menyampaikan permohonan maaf secara langsung karena memaksa wanita itu bekerja dalam keadaan yang tidak baik!" jelas Adam yang sebenarnya hanya akal-akalannya saja untuk bisa menuntaskan rasa penasaran dari tadi.


Rangga ikutan berjalan ke arah belakangnya Adam yang hari ini terlihat begitu tidak fokus dengan pekerjaannya, Padahal sebelum pria itu ke sini Sakti sudah mengatakan kalau anaknya itu workholic, jadi otomatis waktunya bakalan dipakai hanya untuk bekerja tetapi kenapa sekarang malah berbanding terbalik dengan semua yang disampaikan oleh Sakti tempo hari.


"Saya rasa apa yang dikatakan oleh Tuan Daniel itu benar, kalau sebaiknya kita membahas dengan sekretarisnya agar masalahnya cepat beres! Lagian tadi dia juga sudah ngomong kan kalau bakalan balik lagi ke sini, jadi sebaiknya kita membiarkan dia mengecek keadaan karyawannya itu. "tawar Rangga yang tidak tahu sama sekali kalau wanita yang dari tadi membuat ada penasaran itu adalah istrinya.


Daniel masih belum bergeming dari tempatnya karena memang sebenarnya tawaran Adam yang tadi itu tidak ada salahnya sama sekali, hanya saja sebelum masuk ke dalam ruangan meeting saja wajah Amira sudah pucat pasti ketika mendengar nama adikku nah bagaimana kalau sampai mereka bertemu


"Maaf tuan nanti Lain kali kalau keadaan Asisten saya sudah sedikit membaik kami bakalan bertemu anda secara langsung, tetapi kali ini saya minta maaf sama sekali bukan karya anda tidak ingin bersikap sopan hanya saja keadaannya yang sedang tidak mendukung. "jelas Daniel Lalu segera memilih pergi dari situ.


Adam menghentikan langkah kakinya karena berpikir bahwa jangan sampai asistennya Daniel itu sedang menunggu pria itu di kantin makanya dirinya juga ikutan ke dalam situ tanpa memasang wajah curiga, dirinya bahkan rela duduk di belakang Daniel seperti seorang penguntit yang tidak punya pekerjaan sama sekali.


"Anda sebenarnya sedang melakukan apa Tuan? Bukankah pembahasan kita soal proyek belum selesai, dan juga Anda mengatakan tadi sebelum datang ke tempat ini kalau urusan di sini harus segera diselesaikan agar bisa kembali? "tanya rangka yang benar-benar merasa penasaran dengan perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Adam dalam beberapa menit terakhir ini.


Adam mendengus kesal ketika mendengar pertanyaan dari asisten Papanya Itu, sebab menurutnya sudah sangat keterlaluan sebab pastinya saat ini Daniel mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu.


"kamu yang pergi berbicara empat mata dengan sekretarisnya pria itu untuk mendengarkan semua penjelasannya, bukan kepemimpin perusahaannya saja duduk di situ masa iya saya malah bertahan di situ dan tidak bergerak sama sekali seolah-olah saya juga posisinya seperti kamu! "perintah Adam yang sebenarnya sedikit masuk akal membuat Rangga memilih untuk pasar dan mengikuti perintah dari majikannya tersebut dengan kembali ke ruangan meeting.


Rangga kini hanya berduaan saja dengan Diana di dalam ruangan meeting, hanya saja wanita yang berpenampilan tomboi dia itu memilih untuk tidak pernah terpengaruh dengan kehadiran Rangga yang menurutnya hanyalah sebatas profesionalitas.


"Ya sudah karena pembahasan kita hari ini sudah selesai dan juga kedua pemimpin perusahaan hilang entah ke mana, Jadi saya rasa sudah cukup sampai di sini karena saya juga harus kembali ke perusahaan Soalnya ada pekerjaan yang masih menumpuk di sana! "pamit Rangga yang hanya tersenyum tidak ada niatan untuk memberikan uluran tangan terhadap Diana karena menurutnya di ruangan itu hanya mereka berdua saja takutnya jangan sampai ketiganya Ada setan di sudut-sudut ruangan.

__ADS_1


"Itu orang Kenapa sih masih tetap bertahan di belakangku bukannya minggat atau ke mana gitu, aku kan mau pergi melihat keadaan Amira saat ini tetapi kalau dia terus di situ bisa dipastikan sampai kantor ini tutup pun tidak akan pernah ada pergerakan! "batin Daniel kesal karena Entah mengapa dirinya merasa kalau Apa yang dilakukan Adam itu ada sangkut pautnya dengan keberadaan Amira di tempat itu


Adam sebenarnya juga sudah tidak betah berada di tempat itu karena menurutnya pekerjaan menunggu tanpa kepastian itu adalah sesuatu hal yang sangat membosankan, ingin sekali ia mendekati Daniel dan bertanya sebenarnya ke arah mana pria itu hendak pergi tadi hanya saja egonya masih terlalu tinggi untuk melakukannya.


Rangga yang sudah kembali meeting bertemu dengan Diana tadi memilih menyusul majikannya itu ke arah kantin, dan di sana terlihat Adam masih setia duduk di belakang Daniel dengan ekspresinya yang terlihat sudah sangat gelisah.


"Maaf Tuan Apakah kita bisa langsung pergi saat ini juga, soalnya urusan di sini sudah selesai dan pekerjaan di kantor masih menumpuk? "tanya Rangga memastikan.


Adam menghela nafasnya kasar ketika apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang bakalan terjadi, maka dari itu ia memilih mengikuti apa yang dikatakan oleh asistennya Itu sebab menurutnya tidak ada gunanya juga ya tetap bertahan di tempat itu tanpa kepastian.


"Ya sudah ayo kita pulang! Tetapi kalau bisa kamu tolong tempatkan anak buah kita di depan supaya bisa melihat gerak-gerik wanita yang ada di dalam sini, Yang pastinya kamu sudah dengar dari papa Jadi sepertinya aku tidak perlu harus menjelaskan panjang lebarnya! "perintah Adam membuat Rangga hanya bisa menggelengkan kepalanya karena menurutnya pria itu sebenarnya dari awal ada berniat mengejar istrinya mungkin tidak akan Nelangsa seperti saat ini.


"Baiklah Tuan, saya akan melakukan seperti yang anda katakan! Hanya saja tolong tetap fokus dengan tujuan awal, soalnya anda datang ketempat ini bukan ingin mengerjakan sesuatu hal yang sangat tidak penting sebenarnya. "jelas serangga membuat Adam hanya menatap kesal ke arahnya karena menurutnya pria itu dari tadi terlalu banyak berbicara dan semuanya sangat tidak sopan untuk didengar.


"lama lama di sini itu saya merasa bahwa kamu adalah seorang majikan dan saya hanyalah anak buah saja, soalnya dari diri kita di saat saya sampai ke sini yang memberikan perintah bukan saya melainkan kamu. "sinis Adam kesal karena Rangga itu mulutnya selain Lancang dan kemudian terlalu banyak berbicara serta bersikap otoriter seolah-olah Ia adalah pemimpin dari segala-galanya dan semua orang yang ada di sekitarnya harus mendengarkan apapun yang diperintahkan olehnya.


Ketika mendengar nada bicara Adam sudah tidak sangat bersahabat itu, Rangga memilih untuk diam saja dan juga tidak ada niatan untuk berdebat karena nanti urusannya bakalan panjang dan juga pembahasannya tidak akan pernah ada ujungnya.


Daniel yang melihat Adam sudah pergi dari tempat itu memilih untuk kembali ke ruangannya dengan bernafas lega, Persetan dengan isi otak dari Adam saat ini yang penting intinya ia bisa memastikan keadaan Amira Apakah baik-baik saja atau tidak.


"Wah syukurlah pria Kepo itu sudah pergi dari sini dengan begitu aku bisa bebas bertemu dengan Amira, Lain kali kalau ada pria itu datang ke sini untuk bertemu denganku Lebih baik aku menyuruh Diana yang mewakilkan saja. "gumam Daniel monolog.


Sesampainya di ruangan miliknya itu terlihat saat ini Amirah Tengah serius mengerjakan berkas yang tertinggal di situ, sedangkan Sarah sibuk dengan ponselnya membuat Daniel ingin sekali Menyiram air sehingga kepada wanita itu agar sadar kalau tugasnya itu memastikan keadaan Amira baik-baik saja bukan malah sibuk dengan benda persegi yang bisa membuat orang menciptakan dunia sendiri hanya karena memiliki benda itu.


"Teruskan saja Miss, kerjaan menengok ponsel itu? sampai-sampai melupakan tujuan awal yang saya katakan tadi sebelum keluar dari ruangan ini, yaitu memastikan keadaan Amira baik-baik saja dan kalau ada sesuatu hal yang tidak diinginkan silakan langsung menuju ke sana saja! "Sindir Daniel kesal tetapi Sarah hanya menggaruk kepalanya yang tak gagal karena menurutnya masa iya Amira sedang sibuk mengurus berkas tersebut dan dirinya Hanya duduk bengong tidak punya pekerjaan sama sekali Terus kalau mau mengajak Amira ngobrol rasanya tidak mungkin karena takutnya wanita itu bakalan terganggu.


"Sebenarnya tadi saya mau mengajak Amira ngobrol tetapi karena merasa jenuh jadinya dia sibuk dengan urusan itu, sedangkan saya hanya menjadi penonton saja dan karena takut nanti mata saya tidak bisa dikompromi alhasil benda ini yang menjadi temannya!" jelas Sarah.

__ADS_1


__ADS_2