
Adam dan Amira kini sudah sampai di kediaman keluarga Adiguna yang tampak begitu sunyi karena maklumlah yang tinggal di situ hanyalah Sakti dan juga istrinya yaitu Dina, Tidak ada orang lain lagi yang otomatis menambah suasana rumah itu lebih hidup tidak seperti saat ini layaknya kuburan padahal yang tinggal adalah manusia hidup.
Adam benar-benar merasa miris dengan kediaman kedua orang tuanya bukan karena kondisi rumahnya yang mengenaskan melainkan Kesunyian yang ada, dirinya tahu kalau kedua orang tuanya itu merasa kesepian tetapi tidak ingin membuat mereka merasa repot jadinya selalu menampilkan bahwa keadaan mereka baik-baik saja tidak perlu Terlalu dicemaskan.
"Kenapa lihatin rumah Papa sama Mama seperti itu? menyesal karena sudah pergi dari sini dan tidak berbakti kepada mereka serta membiarkan mereka sunyi terus, makanya jadi anak itu otaknya pintar sedikit biar terasa Bagaimana caranya berbakti kepada orang tua bukan hanya ingin warisannya doang! "omel Amira membuat Adam menatap heran ke arah istrinya itu karena menurutnya tanpa ia Bicara pun Kenapa wanita itu sudah paham dengan jalan pemikirannya ?
"kamu ceritanya lagi menghina suami sendiri, apa kamu tega melihat suami sendiri merasa malu dan juga tidak dihargai sama sekali? "tanya Adam dengan tatapan menyelidik sedangkan Amira hanya mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi sebab menurutnya suaminya itu senang sekali main drama akhirnya tidak pernah menang juga kok.
"Ya ayo masuk ke dalam memangnya kita tetap di luar sini kayak sensus penduduk yang ketakutan kalau mau masuk di rumah orang takutnya jangan sampai Ada guguk, kalau tahu seperti begitu lebih baik dari telepon biar tidak perlu harus lebay di depan rumahnya Papa sama Mama nanti dikira lagi hutang tau-tau kamu yang punya banyak hutang kepada mereka! "omel Amira membuat Adam lagi dan lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya karena menurutnya istrinya itu sepertinya punya dendam pribadi kepadanya sampai selalu saja memarahinya tanpa henti.
"Astaga istriku tersayang dari tadi tidak capek memarahi suami kamu yang tercinta ini, Padahal aku yang mendengarkannya saja rasa-rasanya mau pingsan ini sebentar lagi pokoknya kalau kamu marah satu kali lagi habis lah kesadaranku!"ujar Adam yang benar-benar tidak tahu lagi harus membuat permohonan Seperti apa agar istrinya itu menghentikan kemarahannya yang mungkin akibat tadi bertemu dengan Tania Sampai saat ini pun masih terbawa-bawa.
"Oh jelas mulut itu kan dipakai buat ngomong masa iya hanya cuma mingkem doang kan tidak ada gunanya sama sekali, jadi resikonya punya istri yang ngomong banyak ya seperti itu tidak perlu harus mengeluh Terima nasib saja kan? "jelas Amira lalu memilih untuk berjalan lebih dahulu meninggalkan Adam yang menurutnya gerakannya terlalu lelet kalau misalnya suaminya itu berlomba lari dengan siput alhasil siput yang menang guys
"Ya ampun istriku tercinta setidaknya tunggulah suamimu ini nanti kalau misalnya kamu sampai lebih dulu pasti Papa sama Mama bakalan salah paham, mengira kalau misalnya aku itu lari daripada kenyataan dan tidak pernah bertanggung jawab dengan menemui mereka serta menemani kamu pergi ke manapun! "ujar Adam tetapi Amira tetap saja melangkahkan kakinya tidak peduli dengan nada protes dari suaminya sebab menurutnya tinggal berlari mengejarnya saja Apa susahnya sih.
Amira Kan merupakan wanita hamil jadi mau berjalan seperti cara apapun pasti nanti bakalan tetap bisa disusul oleh orang lain, hanya Adam nya saja yang terlalu berlebihan dalam bersikap ya alhasil mintanya diperhatikan padahal sebenarnya tidak perlu sampai segitunya juga kan.
"kamu Kenapa jalannya lebih dulu setidaknya tunggulah suamimu ini ya maksudnya supaya Nanti Papa sama Mama tidak salah sangka, Soalnya kamu tahu sendiri kan sikap Mama itu seperti apa kebiasaannya itu selalu mencurigaiku seolah-olah aku ini adalah penjahat kelas kakap di dunia! "ujar Adam yang menyampaikan ada protesnya membuat Amira menatap heran ke arahnya karena menurutnya respon suaminya itu terlalu berlebihan.
__ADS_1
"aku itu wanita hamil ya Meskipun aku jalan 2 jam lebih dulu dari kamu tetap Nanti kamu pasti bakalan bisa menyusulku dong, kecuali kamu itu aki-aki sudah tua bangka kemudian cara jalannya harus menggunakan tongkat Nah itu baru bisa membuat aku harus mengerti dengan kamu! tapi lihat sekarang kan kedua kaki kamu masih berfungsi dengan benar tidak ada cacat ataupun celah sedikitpun Bila perlu mungkin bisa dibilang tidak apa-apa juga, mau dipakai lari marathon dadakan pun kamu masih sanggup melakukannya jadi pertanyaannya susahnya di mana kalau misalnya kamu menyusulku saja tidak perlu harus pakai protes segala? "omel Amira sebab menurutnya suaminya hari ini itu sudah terlalu berlebihan tingkahnya bahkan mengalahkan ABG yang lagi kasmaran.
Adam akhirnya memilih untuk bungkam soalnya berdebat dengan kamu yang bernama wanita itu merupakan pekerjaan yang hanya membuang-buang tenaga, sebab wanita zaman sekarang itu sudah punya yang namanya komitmen dalam hidup jika dirinya membuat kesalahan balik lagi tetap dirinya akan benar dan pria lah yang selalu salah begitu pun sebaliknya.
"selamat siang Papa sama Mama yang paling kece badai membahana intinya yang paling sempurna di dunia,hanya saja kasihan soalnya sudah memberi makan kepada anak yang tidak tahu diri dan juga bisa dibilang hanya membuat kotor dunia ini! "sapa Amira kepada kedua mertuanya yang membuat mereka berdua bukannya tersinggung malah tertawa dengan apa yang dikatakan oleh menantu mereka itu.
Dina merangkul bahu menantunya itu dengan begitu sayang sebab menurutnya kebahagiaan tersendiri itu ia miliki ketika bertemu dengan Amira dan mengobrol dengan tenang serta nyaman, tanpa ada yang namanya Kesedihan tidak enak hati dan juga rasa kecewa serta kecanggungan yang terjadi.
"Astaga kenapa tidak ngomong dulu kalau mau datang ke sini biar tadi Mama bakalan tungguin kalian di depan gerbang, Ya maksudnya tungguin kamu soalnya yang lain sih tidak dipedulikan mau datang atau tidak soalnya dia kan orangnya tidak diharapkan di rumah ini! "Dina ikut-ikutan menyindir Adam membuat anaknya itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena sepertinya datang ke rumah ini hanyalah untuk mengantar harga dirinya diinjak-injak oleh kedua wanita yang paling ia sayangi itu.
"Yah suka-suka kalian saja mau menghinaku Seperti apa soalnya kan kebiasaan kamu wanita Kalau bertemu pasti kamu pria yang bakalan dihancurkan namanya, terserah saja deh mau ngomong apa yang penting intinya tidak ada yang mengusirku dari sini soalnya kalau berjauhan dengan istriku ya rasa-rasanya separuh paru-paruku bakalan hilang karena soalnya pernapasanku kan sepenuhnya ada di dia! "jelas Adam yang kali ini berani menggombal di depan semuanya membuat Amira ingin sekali muntah sedangkan Papa sama Mamanya hanya menatap penuh ejekan ke arahnya.
Adam Berada di posisi yang serba salah karena mau menjawab perkataan mereka itu semua sebenarnya kenyataan yang terjadi, mau berdiam diri saja dan menjadi orang yang menjadi objek untuk dimarahi Rasanya pun tidak terima ya entahlah pria itu juga bingung harus bersikap seperti apa ke depannya.
"Ayo semuanya duduk di dalam masa iya hanya berhenti di depan sini saja, Nanti Mama bakalan suruh Bibi Martha untuk menyiapkan cemilan buat kamu! "ajak Dina sambil menarik tangan menantu kesayangannya Itu sebab menurutnya kehadiran Amira di tempat itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi mereka.
Adam jelas saja tidak terima karena menurutnya Harusnya kalau mau memberikan perhatian dan juga kasih sayang dibagi sama rata antara dirinya dan juga Amira, karena dengan begitu ia merasa tidak dianak tirikan padahal jelas-jelas Amira itu hanyalah seorang menantu tetapi mau bagaimana lagi dirinya juga bersyukur kalau kedua orang tuanya menerima kehadiran wanita itu dengan sepenuh hati.
"Mama tidak adil loh, seharusnya kalau mau memberikan perhatian aku juga dong yang notabene sebagai anak kandung Lalu setelah itu menantu kesayangan kalian!" Adam terlihat merajuk tetapi Dina memilih untuk tidak peduli karena menurutnya Adam itu kan sudah besar masa iya Hanya seperti itu saja dibuat jadi sebuah bahan untuk dipermasalahkan.
__ADS_1
"kamu itu sudah kami besarkan selama puluhan tahun dan sudah kami Beri makan agar bisa bernafas dengan baik dan juga hidup dengan tenang, hanya saja terkadang Kami merasa menyesal seperti yang dikatakan oleh menanti kesayanganku tadi Kalau Sebenarnya kamu itu percuma kami besarkan jika akhirnya hanya mencoreng nama baik kami saja! "sahut Dina menjelaskan membuat Adam langsung terdiam Soalnya kalau sudah seperti ini pasti merembesnya ke arah hubungannya dengan Franda dulu
"Mama baik-baik saja kan? apa mama merasa pusing atau gimana soalnya wajah mama itu kelihatan pucat loh, masa iya aku yang ibu hamil saja segemoy ini terus mama separah itu?"Mira merasa sudah cukup berbasa-basi dan juga tidak perlu harus berbuat seolah-olah Dina itu baik-baik saja karena menurutnya keadaan Mamanya itu lebih penting dan juga lebih utama saat ini sebab dirinya sangat menyayangi Aida dan juga Dina dengan begitu tulus ikhlas tanpa ada unsur paksaan sama sekali di dalam hatinya.
Dina yang sudah duduk di sampingnya Amira menatap heran ke arah menantunya itu, mencari kira-kira sebenarnya apa maksud tujuan dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Amira yang secara tiba-tiba dan juga tidak terduga.
"Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu, apa ada sesuatu yang kamu ketahui yang tidak pernah kami sadari sebelumnya? Mama itu selalu baik-baik saja kalau keadaan anak-anak Mama juga baik, kebahagiaan kalian itu merupakan hal yang utama di dalam hidup Mama saat ini tidak memikirkan yang lain apalagi seperti yang kamu khawatirkan itu! "jelas Dina yang masih saja berbohong membuat Sakti hanya menatap tanpa ekspresi ke arah istrinya semua Percayalah pria itu sebenarnya Tengah memendam rasa kecewa yang begitu sangat ketika melihat Dina yang pandai sekali berbohong tentang kondisinya.
"aku boleh tanya mah? Kira-kira keuntungan Mama membohongi kami itu apa, terus Menurut Mama kalau misalnya Mama tetap bertahan dengan kebohongan seperti ini karena tidak mau memikirkan tentang keadaan kami kedepannya tanpa Mama? "tanya Adam yang sudah tidak bisa lagi memendam pertanyaan di dalam kehidupannya soalnya menurutnya Dina itu adalah seorang wanita berkelas yang otomatis bisa menyembunyikan apapun yang tengah ia rasakan tanpa terkecuali.
Dina masih kebingungan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang yang ada di situ, sebab menurutnya di dalam pikirannya saat ini itu kedua anaknya datang berkunjung hanya untuk silaturahmi dan juga memastikan keadaan mereka bukan ingin mempersoalkan soal apa yang ia alami saat ini.
"kalian itu lagi bicara apa sih, Mama ini baik-baik saja soalnya kalau memang mama tidak dalam keadaan baik-baik saja tidak mungkin saat ini Mama duduk di sini loh dengan kalian? Sudahlah Mama mau ngomong sama Bibi Marta suka menyiapkan kalian makanan daripada membahas sesuatu hal yang tidak pernah terjadi, Mama tidak suka loh kalau kalian malah mengkhawatirkan kondisi orang lain dibandingkan kondisi kalian sendiri! "omel Dina tidak suka padahal sebenarnya Ia hanya ingin menghindar dari pertanyaan Semua orang yang terlihat begitu serius untuk saat ini.
"jadi Menurut mama aku juga suka kalau misalnya Mama bertahan dengan sakit seperti ini, kami yang notabene sebagai anak-anak Mama saja tidak tahu sama sekali loh keadaan ini kok bisanya ada kebohongan di dalam keluarga kita? padahal kalian semua akan tahu kalau keluarga kita itu hanya terdiri dari beberapa orang saja tidak begitu banyak, jadi kalau misalnya satu sakit dia orang lain juga pasti harus merasakannya dong biar kami merasa bahwa kehadiran kami di dunia ini memang berharga bagi orang-orang di sekitar! "jelas Adam membuat Dina hanya menggelengkan kepalanya karena menurutnya ia tidak ingin kehilangan momen ketika anak-anaknya datang berkunjung seperti ini.
"Mama baik-baik saja dan Mama pastikan itu, jangan pernah mencemaskan sesuatu yang tidak perlu kalian jelaskan karena sejatinya apapun yang kalian pikirkan tidak pernah terjadi!" ujar Dina lagi.
"kalau misalnya saat ini Adam telepon Ibu untuk langsung mengkonfirmasi apa yang kami dengar tadi kira-kira mama mau jawab apa, apa Mama masih mau berbohong dan mengatakan kalau misalnya ibu itu sudah membohongi kami berdua? Mama juga mau mengatakan kalau sebenarnya tidak terjadi apapun kepada mama dan juga semuanya baik-baik saja, kalau memang iya ya sudah ngomong saja biar aku bakalan telepon Ibu saat ini juga Biar aku bakalan mendengarkan apa yang kalian bicarakan! " Tegas Adamadam membuat Dina Bungkam karena akhirnya ia tidak punya lagi cara untuk mengelak.
__ADS_1