
Surti tentu saja juga ikutan menghormati kearah Daniel dan juga Sarah karena sudah didengarnya kalau yang pria itu merupakan atasan Amira di kantor, sedangkan Sarah adalah wanita yang sudah dengan rela dan juga ikhlas hati menyumbangkan darahnya untuk Amira.
"Selamat datang di rumah kami ini dan juga maaf tidak memberikan sambutan yang baik, Nanti kalau ada apa-apa atau menginginkan sesuatu silahkan Bilang saja tidak perlu sungkan! "setelah mengatakan hal itu Surti pun memberi kode kepada Amira agar menjadi Google translate-nya untuk sementara waktu membuat Amira hanya bisa tersenyum.
"Tentu saja bibi! "sahut Daniel yang sebenarnya fasih berbahasa Indonesia.
Surti membuka matanya lebar-lebar karena tidak percaya ternyata orang yang ada di hadapannya itu bisa ngomong menggunakan bahasa Indonesia, Kalau tahu begitu kenapa dirinya tadi harus memberi kode kepada Amira agar membantu menerjemahkan kata-katanya agar Daniel dan juga Sarah paham dengan apa yang ia maksud.
"Den kasep teh paham apa yang Bibi ngomong tadi? "tanya Surti menggunakan bahasa Sunda.
"Iya saya paham tapi sedikit-sedikit soalnya sudah lama pergi dari Indonesia, Tetapi kalau di rumah ngomong sama Mama ya pakai bahasa Indonesia makanya tidak pernah lupa meskipun ada kata-kata yang begitu sulit yang sudah tidak bisa saya ingat lagi! "jelas Daniel.
"Wah kalau tahu begini mah Bibi bakalan tidak terlalu cemas memikirkan Mbak Amiranya kerja di kantornya Tuan, karena dengan ada teman yang bisa paham bahasanya pasti Mbak Amiranya tidak perlu Pusing harus tiap saat ngomong pakai bahasa Inggris! "sahut Surti antusias.
Sarah dari tadi hanya menjadi pendengar setia saja karena memang dirinya tidak tahu apapun yang dibicarakan oleh semuanya, dan Hal itu membuat Amira tersadar kalau wanita yang ada di sampingnya itu pasti sangat kepo dengan apa yang dibahas oleh Daniel dan juga Surti.
"sudah kamu Jangan memikirkan apa yang mereka bicarakan lebih baik Ayo kita masuk ke dalam dan duduk untuk istirahat, kalau mereka masih mau ngobrol itu tandanya mereka memang cocok jadinya kita yang merasa tidak cocok tidak boleh mengganggu. "ujar Amirah membuat Sarah terkekeh geli.
Surti mendekati Amira untuk memastikan keadaannya dan juga janin yang sedang ia kandung, karena Biar bagaimanapun keadaan Amira dan juga segala yang menimpanya itu merupakan tanggung jawabnya sebagai orang yang menjaganya.
"Bagaimana keadaan adik bayinya, dia baik-baik saja kan di dalam tidak rewel kan selama di sana? "tanya Surti penasaran.
"Dia baik-baik saja kok bahkan bisa dibilang aku itu rasa-rasanya seperti dia tidak ada di sini, Apalagi ada Aunty dan unclenya yang paling baik hati seperti mereka berdua!"jelas Amira sambil mengusap pelan perutnya yang masih rata itu.
"Syukurlah kalau begitu! Sebab tidak semua anak mengerti dengan kondisi orang tua tetapi anaknya mbak Amira ini memang paling keren, dia sudah tahu kalau harus tidur tenang di dalam dan tidak boleh rewel karena dia memikirkan keadaan Ibunya!"ujar Surti.
Daniel sebenarnya sedikit tidak nyaman karena Amira memanggil dirinya dengan sebutan Uncle bagi anaknya, padahal yang ia inginkan kalau saja suaminya Amira tidak mengakui bayi tersebut biarlah dirinya yang bertanggung jawab dan juga memberikan nama Smith kepada anak tersebut.
__ADS_1
Sarah yang tahu kegalauan hati dari majikannya itu tidak bisa banyak membantu, karena masalah antara Amira dan juga suaminya sampai sekarang mereka tidak tahu sama sekali Jadi kalau untuk mengambil kesimpulan rasanya terlalu cepat.
"kamu kalau masih capek lebih baik tidak usah masuk kerja saja dulu, nanti kalau sudah rasa mendingan baru kamu masuk karena saya tidak ingin mengambil resiko lagi! "jelas Daniel.
"Iya benar sekali Amira, bukan apa-apa sih tapi setidaknya kamu juga mengerti dengan kondisi kamu dan juga tidak memaksakan kehendak untuk tetap bekerja. Sekarang diri kamu itu bukan hanya satu melainkan sudah ada dua, ada nafas kehidupan yang sedang kamu jaga jadi otomatis kamu jangan pernah menjadi wanita egois! "Sarah menimpali perkataan dari Daniel itu.
Amira hanya bisa menghela nafasnya kasar karena kalau dirinya duduk dan tenang di rumah, segala macam kebutuhannya dengan Surti dan juga untuk membayar gaji wanita itu harus Ia berikan pakai apa jika dirinya tidak bekerja.
"Aku baik-baik saja kok! Kalau hari ini aku istirahat dengan baik sampai malam dan keesokan paginya Aku Pasti Bisa bakalan bekerja, kalian tahu kan kalau sekarang itu banyak biaya hidup itu lagi tinggi-tingginya kalau aku duduk nanti siapa coba yang bakalan memberi makan aku sama Bibi ?"tanya Amira sebab kalau dirinya Hanya duduk dan menerima uluran tangan orang lain Bukankah dirinya itu bakalan sama dengan benalu yang hobinya hanya numpang doang tidak ada kegiatannya sama sekali.
Daniel mendekati Amira lalu berlutut di hadapan wanita itu dan juga meraih kedua tangannya, tidak peduli jika ada beberapa pasang mata yang tengah menatap kepada dirinya dan juga Amira dan juga apa yang ia lakukan itu.
"Aku tahu kita tidak punya ikatan apa-apa dan juga tidak ada hubungan spesial yang patut untuk kita banggakan, Tetapi kalau untuk membiayai hidup kamu aku rasa aku bisa melakukannya. Bukankah kamu itu bukan seorang penyandang obesitas jadi makannya harus banyak, jadi kalau tiap kali orang membantu kamu selalu merasa tidak enak hati itu sama saja kamu tidak pernah menghargai kalau manusia itu merupakan makhluk sosial?"Sarah dan Surti Saling pandang karena memang merasa tidak ada yang salah dengan perkataan Daniel tadi.
"Aku juga setuju dengan yang dikatakan oleh Tuan Daniel, karena kita sesama manusia yang hidup di bumi ini patutnya harus saling tolong-menolong jika ada orang lain yang benar-benar kesusahan! Hari ini jangan kamu merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan kami, karena Siapa tahu Jangan sampai besok lusa kami yang gantian merepotkan kamu?"Sarah menimpali apa yang dikatakan Daniel karena memang perkataan pria itu tidak ada salahnya sama sekali.
"Aku ini hanya orang asing di dalam hidup kalian yang tidak punya ikatan persaudaraan ataupun apapun itu, kita hanya saling mengenal di kantor itu juga belum berlangsung lama dan aku tidak ingin kalian bakalan berpikiran bahwa selama ini aku hanya menggunakan kesempatan yang ada! "jelas Amira mengeluarkan apa yang ia pikirkan selama ini tanpa ada yang ditutup-tutupi ataupun dilebih-lebihkan karena memang dirinya berkata sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
"Aku mohon untuk kali ini, kamu Tolong dengarkan perkataanku dan juga turuti permintaanku! Karena aku tidak pernah meminta kamu menerimaku, dan juga menganggap kehadiranku berarti di hidup kamu. Tetapi yang aku inginkan hanyalah, aku bisa meringankan beban yang ada di pundakmu saat ini! "jelas Daniel perlahan membuat Amira menghembuskan nafasnya secara kasar lalu menatap ke arah pria tersebut tanpa ekspresi.
"Aku tidak ingin orang tua kamu berpikir kalau aku itu menggunakan kesempatan dan juga mungkin kebiasaan aku itu selalu saja menipu laki-laki di luaran sana, Dan juga sampai sekarang entah Suamiku itu sudah resmi menggugat cerai diriku atau belum aku juga tidak tahu sama sekali dan takutnya kami masih terikat pernikahan yang sah sedangkan aku malah seolah memberi harapan kepada pria lain. "jelas Amira.
Daniel merasa inilah merupakan saat yang paling tepat untuk mengetahui rahasia di balik pernikahan Amira, karena kalau tidak sekarang Kapan lagi mereka bisa berbicara dari hati ke hati meskipun di ruangan itu ada orang lain lagi selain mereka berdua.
Sarah pun ikutan mendekat ke arah Amira Karena Wanita itu juga sebenarnya sedikit ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, bukan karena ingin menggosipkan Amira di luar sana tetapi hanya ingin meringankan beban pikiran wanita yang sedang berbadan dua itu.
"Maafkan aku jika lancang tetapi, Bolehkah aku tahu sebenarnya hal apa yang membuat kamu pergi dari suami kamu?"tanya Daniel akhirnya tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya Terserah Kalau nanti Amira mengatakan jika dirinya tidak punya hak untuk bertanya hal itu.
__ADS_1
"Dari awal Pasti kalian semua ingin sekali tahu kan kenapa aku pergi dari rumah? Aku sebenarnya tidak ada niatan untuk pergi dari rumah, tetapi karena sikap suamiku yang tidak pernah mengerti itu dan juga berselingkuh dengan adik diriku sendiri Makanya aku memilih untuk pergi!"jelas Amira secara garis besar karena ia yakin pasti Sarah dan juga Daniel paham dengan perkataannya itu.
"Maksud kamu, Adik kamu selingkuh sama suami kamu sendiri?"tanya Sarah gemas karena kalau memang benar hal itu terjadi dirinya ingin sekali mencabik-cabik adiknya Amirah itu jika sekarang posisi wanita tersebut berada di dekatnya dan juga dalam jangkauannya masih.
Amira tertawa ketika melihat Respon yang ditunjukkan oleh Sarah itu, padahal saat dirinya mengetahui hal itu ia tidak merespon marah atau apapun tetapi memilih pergi.
"Ya seperti yang kamu dengar tadi aku ngomong, jadi makanya aku sudah tidak ingin lagi bergantung hidup kepada seorang pria. Jika aku masih bisa memberi makan pada diriku sendiri!"perkataan Amira itu membuat Daniel mendengus kesal karena wanita itu sama saja menyapu ratakan semua pria sifatnya sama saja tidak ada yang setia di dunia ini.
"Ah itu kan suami kamu aku mah beda, karena buktinya semenjak Kita pisah dari Indonesia dulu aku tidak pernah tuh kenalan sama cewek! Jadi jangan pernah kamu samakan dengan suami kamu atau pun benda apapun itu, karena kalau dia ada di hadapanku saat ini sudah Aku pastikan dia bakalan ku tonjok sampai puas!"ujar Daniel gemas karena menurutnya gara-gara sikap dari suaminya Amira membuat dirinya juga terkena imbasnya Karena Wanita itu selalu menolak jika ia membantunya sepenuh hati.
"Eh ngomong-ngomong kamu itu kan sudah berpakaian rapi seperti begini pasti mau ke kantor ketemu dengan klien? Soalnya setahu aku dijadwal itu kamu hari ini ada meeting penting, Jadi sepertinya kamu harus pergi saat ini juga maaf jika aku terkesan mengusir!"Amira tersadar jika mereka terlalu lama berbincang seperti begitu otomatis pekerjaan Daniel bakalan terbengkalai dan imbasnya perusahaan juga bakalan rugi karena gagal membuat kesepakatan dengan klien.
Daniel melepaskan tangannya dari Amira kemudian duduk di samping wanita itu setelah memberi kode agar Sarah menjauh, pria itu sebenarnya tidak ingin pergi ke kantor tetapi memang benar apa yang dikatakan oleh Amira kalau ini merupakan meeting yang paling penting.
"Bolehkah aku disini saja dan juga berduaan kamu sama kamu dan juga mengobrol sampai puas, Soalnya kalau ngobrol sama para klien itu bahasnya hanya bisnis saja? "lirih Daniel permohonan membuat Sarah dan Amira melototkan mata mereka tajam.
"Makanya Pak Kalau sebelum siap jadi pemimpin lebih baik tidak usah sama sekali!"sahut Sarah yang akhirnya keceplosan dan membuat wanita itu sadar dan memukul mulutnya pelan.
Adam kini sudah sampai di rumah kedua orang tuanya, terlihat mobil Papanya tidak ada di garasi tetapi berada di depan teras dan juga ada beberapa koper besar yang berada di dekat mobil itu.
Melihat apa yang ada di hadapannya saat ini membuat pria itu mulai mencurigai yang tidak-tidak, maka dari itu Ia pun segera berlari ke dalam rumah dan merasa terkejut ketika melihat Sakti dan juga Dina istrinya tengah menyeret koper Mereka lagi untuk keluar dari dalam rumah itu.
"Mama sama Papa mau ke mana malam-malam begini keluar bawa dengan koper, Kalian mau pindah ke rumahku atau bagaimana ya?"tanya Adam memastikan.
Dina dan Sakti memilih untuk tidak peduli dengan keberadaan pria itu dan mereka hanya menganggapnya seperti bayangan yang tidak perlu untuk dihiraukan, tetapi berbeda dengan Adam yang merasa tidak terima ketika orang tuanya mogok berbicara seperti itu.
"Mama, Papa! Kalian jangan seperti ini bisa kan? Oke aku tahu aku salah Dan juga aku berniat untuk berubah, tetapi kalau kalian memperlakukanku seperti ini rasa-rasanya seperti seorang anak Yang Tidak Dianggap? "tanya Adam yang benar-benar tidak terima ketika diacuhkan oleh kedua orang tuanya yang sangat berarti baginya itu.
__ADS_1
Dina menggantikan langkah kakinya itu lalu menatap tajam ke arah Putra mereka tersebut, karena menurutnya Adam itu selalu saja plin-plan tidak pegang pada satu komitmen.
"Kamu bisa membuat Aida tidak marah kepada kami? Kamu juga bisa membuat Amira pulang malam ini juga, kamu juga bisa membersihkan nama baik kami yang sudah tercoreng di hadapan Aida saat ini juga?"tanya Dina dengan sorot matanya begitu penuh kekecewaan di dalamnya membuat Adam langsung tertunduk lemas dan duduk di bawah lantai karena permintaan dari mamanya itu merupakan sebuah hal yang mustahil bakalan sanggup ia lakukan karena mengingat kemarahan yang jelas di matanya Aida dan juga kekecewaan yang di bawah oleh Amira saat pergi.