
Amira Tentu saja tidak menolak pemberian yang dilakukan oleh Daniel kepadanya saat ini, namun percayalah jika seseorang yang tengah hamil muda kemudian dipaksa makan banyak itu rasa-rasanya sangat mustahil.
maka dari itu Amirah memilih untuk memberikannya kepada Sarah yang ada di sampingnya, hitung-hitungkan bagi rezeki dengan wanita yang sudah mau menolongnya dan juga sudah mau berbagi suka dan duka dengannya.
"kamu bantuin aku ya makanya ini semuanya, Soalnya kamu tahu kan Bagaimana papa dan dia kalau sedang marah jika apa yang ia berikan aku tolak? "tawar Amira kepada Sarah tentu saja wanita itu tidak akan pernah menolaknya.
Dengan tatapannya yang berbinar Sarah Tentu saja tidak menolak tawaran yang diberikan oleh Amira kepadanya, karena kebetulan Ia juga belum makan sama sekali hari ini maka dari itu jika ada makanan enak yang ada di hadapannya untuk apa dilewatkan?
"Oh jelas tanpa kamu suruh pun aku bakalan menikmati semua ini tanpa tersisa sedikitpun, supaya Kalau Pak Daniel bertanya tinggal bilang saja kalau kamu hari ini itu makannya banyak sekali."ujar Sarah karena tahu bahwa Daniel itu paling tidak suka jika apa yang ia berikan kepada Amira tetapi orang lain yang menikmati.
Amira hanya tertawa mendengar perkataan dari Sarah tadi, karena memang sebelum wanita itu mengatakannya Ia juga sudah mengetahui bagaimana sikapnya Daniel selama ini.
Sarah yang sedang makan teringat akan pertemuannya dengan Cahaya tadi pagi, sepertinya Jika ia menceritakan kepada Amira pasti wanita itu bakalan begitu bahagia karena ia sudah membalaskan dendam .
"Kamu tahu tidak kalau tadi pagi aku baru habis bertemu, dengan si wanita yang namanya cantik tetapi orangnya jelek?"tanya Sarah memastikan kira-kira perkataannya seperti itu bisa dicerna oleh Amira atau tidak.
"Cahaya kan maksud kamu?"kali ini Amira balik bertanya karena memang kalau sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sarah yang menjurus kepada wanita itu.
"ya Kamu benar sekali! Dia itu habis aku kerjain soalnya siapa suruh waktu itu membuat kamu celaka, lain kali orang-orang seperti begitu jangan dikasih ampun karena nanti tambah besar kepala! "ujar Sarah sambil terus menyomot makanan untuk ia makan agar cepat selesai takutnya nanti ketahuan oleh Daniel.
Amira menggelengkan kepalanya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Sarah itu, karena memang dirinya dari awal tidak ada niatan untuk balas dendam apalagi posisi bayinya juga dalam keadaan baik-baik saja
"aku rasa respon kamu terlalu berlebihan sama orang, Padahal saya sudah dapat hukuman dari Daniel masa iya kamu tambah lagi?"Amira bukan yang orang yang suci yang tidak punya rasa marah sama sekali tetapi menurutnya kalau memang Cahaya melakukan hal itu karena merasa cemburu dengannya yaitu Wajar saja.
"Oh tidak bisa begitu Amira! orang Kalau berniat menyakiti kamu terus respon kamu biasa saja, Itu otomatis mereka bakal terus melakukan hal itu sampai niat mereka itu benar-benar membuat kamu kapok. Pokoknya aku tidak bakalan tinggal diam kalau sampai besok lusa dia Mengulangi kesalahan yang sama lagi, Aku tidak akan pernah tinggal diam sampai dia benar-benar pergi dari kehidupan kamu!"Sarah terlihat begitu semangat ketika membahas soal Cahaya yang menurutnya cemburu tapi tidak pada tempatnya.
Daniel yang sudah selesai meeting dengan kliennya dengan begitu antusias menuju ke ruangan Amira, berharap bahwa makanan yang tadi Ia berikan sudah dihabiskan oleh wanita itu dan dengan begitu ia merasa seperti usahanya dihargai.
Sesampainya di sana kebetulan pintu dalam keadaan setengah Terbuka membuat Daniel melihat dengan jelas, Siapa orang yang telah menghabiskan semua makanan yang ia siapkan untuk Amira saja.
__ADS_1
Sedangkan Amira dan Sarah tidak sadar sama sekali Kalau saat ini Daniel telah menatap tajam ke arah mereka berdua terkhususnya kepada Sarah, sebab menurutnya Wanita itu sudah lancang sekali memakan habis sesuatu yang sudah ia siapkan khusus hanya buat Amira.
"Bagaimana ceritanya makanan yang aku siapkan untuk Amira, Semuanya masuk ke dalam lambung kamu? kalau memang itu aku siapkan untuk kamu tidak mungkin aku menaruhnya dalam ruangan Amira kan, aku pasti langsung memberikan kamu di depan tadi tanpa harus berbasa-basi segala? "tanya Daniel tajam tetapi Sarah hanya cengengesan saja dan menelan suapan terakhir dan setelah itu ia akan pergi karena perutnya juga sudah banyak.
"Ya Tuhan Pak setidaknya datang itu dikasih salam dulu lah jangan asal masuk terus marah-marah, untung juga Amira itu kandungannya kuat kalau tidak urusannya bisa berabe kan? "tanya Sarah sambil menggelengkan kepalanya seolah pertanyaan Daniel tadi itu bukan sebuah masalah besar untuknya.
"Maafkan saya pak! soalnya tadi saya yang menyuruh dia makan soalnya takut dibuang kan Sayang, lagian lambung saya itu tidak sampai segede itu untuk menampung semua makanan yang ada di sini. "jelas Amira yang tidak ingin Daniel salah paham dan akhirnya Sarah yang bakalan terkena amukan dari pria itu.
"Kalau kamu memang tidak berniat menghabiskan nya itu tidak masalah, karena saya yang bakalan menghabiskan untuk kamu! Hanya saja kenapa harus memberikan kepada dia yang jelas-jelas tidak akan pernah ingat orang lain, Jadi wanita kok tidak bisa menjaga image diri dan juga martabat sebagai makhluk yang anggun ! "ujar Daniel sinis kepada Sarah Tetapi wanita itu mah bodo amat.
"Anda tenang saja Pak nanti semua makan ini bakalan saya ganti tanpa terkecuali, tetapi nanti setelah saya gajian dulu ya soalnya sekarang saya lagi miskin berat!"Sarah mengatakan hal itu sambil cengengesan dan memilih pergi dari tempat itu karena menurutnya jika lama-lama ada di situ otomatis Daniel bakalan lebih murka kepadanya.
Daniel tidak mungkin marah kepada Amira apalagi dalam kondisi yang seperti itu, pria itu memilih untuk mendekati Amira dan mencari tahu keadaannya.
"kamu gimana keadaannya? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan saat ini, kalau bukan makanan ya mungkin kamu ingin belanja di luar? "tanya Daniel penasaran.
Amira dulu adalah wanita rumahan yang tidak suka menghambur-hamburkan uang suaminya yang didapatkan dari bekerja siang dan malam, karena baginya yang penting intinya seluruh kebutuhan dapur terpenuhi kemudian suaminya itu juga dalam keadaan sehat hanya itu Harapan.
Maka itu sekarang ketika dirinya hidup serba kekurangan ia tidak terlalu mempermasalahkannya, karena menurutnya biarpun kekurangan yang penting hatinya tidak tersakiti melihat sesuatu yang membuat dirinya begitu merasa tidak dihargai.
Daniel menghela nafasnya kasar ketika mendengar penolakan yang dilakukan oleh Amira, ia begitu terpesona dengan sikap wanita itu yang tidak pernah mengambil kesempatan dalam kesempitan apalagi tadi ya dengan sengaja menawarkan hal itu kepadanya tetapi sepertinya Amira tidak tertarik.
"Ya maksudnya karena saya yang menawarkan itu artinya saya yang bakalan mentraktir Kamu! Tidak usah kamu pikirkan Dari mana kamu dapatkan uangnya, yang penting intinya hati kamu selalu bahagia agar bayi kamu juga tumbuh dengan sehat! "jelas Daniel membuat Amira ingin menangis karena tidak percaya ada orang yang perhatian kepadanya selain suaminya sendiri.
"loh kamu kok malah menangis Amira? kalau memang saya salah bicara, Oke saya minta maaf. Tetapi tolong jangan menangis ya, soalnya saya merasa bersalah sekali kalau sampai kamu mengeluarkan air mata seperti itu. "pinta Daniel yang mulai terlihat panik.
"Bapak itu tidak salah apa-apa karena saya saja yang pengen menangis, jadi jangan diambil pusing Anggap saja Saya lagi main drama! "Amira yang beberapa menit yang lalu sudah mengeluarkan air mata terlihat sekarang sudah kembali dengan berkas yang ada di hadapannya seolah kejadian yang tadi itu tidak pernah terjadi sama sekali.
"Sudah, hanya segitu doang? tanya Daniel yang benar-benar tidak percaya dengan mood-nya ibu hamil yang benar-benar ajaib.
__ADS_1
Amira hanya mengedipkan kedua bahunya pertanda tidak peduli dengan penasaran yang dirasakan oleh Daniel, karena menurut wanita itu ya memang sudah merasa baikan setelah mengeluarkan air matanya dan sekarang kembali memilih untuk fokus bekerja.
Aida yang sudah selesai mendaftarkan gugatan perceraiannya dengan Fadil di pengadilan agama, kali ini memilih untuk nyekar ke makam suaminya sebab sudah lama dirinya tidak ke sana. Setiap kali ia meminta Fadil untuk menemaninya ke sana pasti ada saja alasan yang diberikan oleh pria itu, yang terkadang membuat Aida merasa curiga karena suaminya itu seperti orang yang ketakutan ketika ia mengajak pergi ke makam suaminya.
"Halo Mas Selamat pagi! Maaf selama ini baru sempat berkunjung ke makam kamu hari ini, aku minta maaf karena sudah menjadi ibu dan juga istri yang tidak berguna untuk kamu dan juga Amira! "ujar Aida lirik bahkan jangan lupakan dengan air matanya yang dari tadi menetes terus tidak mau berhenti.
"Mas Pasti lagi menertawakan aku sekarang kan? Soalnya karena sibuk mengurusi suami dan juga anak tiriku sampai aku melupakan kewajiban menjadi seorang ibu bagi Amira, sekarang dia pergi dan aku tidak tahu dia perginya kemana Soalnya tidak pamit dan juga tidak pernah bilang kepadaku sedikit saja! "Aida terlihat seperti sedang curhat kepada Batu Nisan yang hanya membisu tidak bisa berbicara ataupun mengerti keadaannya.
"Mas sedang apa di sana? Tolong temukan Amira untukku dan bawakan dia dalam mimpiku, agar aku tahu kalau anak kita itu dalam keadaan baik-baik saja. "Pinta Aida lagi bahkan kali ini dirinya sudah memeluk nisan milik suaminya dan menangis dengan sendunya.
"Ibu Aida ya? Wah Setelah sekian lama Saya baru melihat Ibu kembali ke tempat ini, saya sampai berpikir kalau sebenarnya Ibu itu sudah pindah dari kota ini sampai-sampai tidak datang untuk nyekar di makamnya Pak Wisnu? "tanya penjaga makam yang sangat mengenal wanita paruh baya yang tengah menangis di atas Pusara suaminya itu.
Aida begitu tertampar dengan perkataan penjaga makam itu, karena memang kenyataannya seperti begitu. Dirinya rasa-rasanya sudah seperti orang asing yang tidak sadar, kalau ada kehidupan lain yang sudah tidak ada dalam jiwa tengah menantinya.
"Oh maaf Pak Kebetulan saya lagi ada urusan penting jadi tidak sempat buat datang ke tempat ini, tetapi Percayalah setiap malam doa saya selalu menyertai dia hanya saja kalau datang secara langsung tidak pernah sempat! "bohong Aida Tetapi kalau untuk mendoakan suaminya itu selalu ia lakukan setiap kali melakukan sujud kepada penciptanya.
"Kalau Mbak Amira ya memang sering dia datang ke sini bahkan bisa dibilang itu sebulan bisa dua kali, hanya saja sudah berapa lama ini saya tidak pernah melihat dia lagi! "jelas penjaga makam tersebut karena memang kebiasaannya ketika datang ke tempat itu selalu mendekati para keluarga Karena jangan sampai mereka membutuhkan sesuatu.
Aida memang benar-benar tidak bisa menahan air matanya saat ini sampai-sampai tidak peduli jika dirinya menangis di hadapan orang lain, karena ternyata anaknya itu selalu mengingat sosok Ayahnya tetapi dirinya yang sebagai seorang istri seolah-olah melupakan tanggung jawab itu.
"Oh Amira lagi keluar kota mungkin ya kira-kira beberapa tahun lamanya baru dia kembali, Jadi mungkin untuk saat ini saya yang bakalan mewakili dia soalnya tidak mungkin kan dia harus bolak-balik ke luar kota ? "ujar Aida yang tidak ingin membuka aibnya di hadapan orang lain yang jelas-jelas tidak ada hubungan sedikitpun dengannya.
"Ya sudah kalau begitu saya tinggal dulu nanti kalau ibu ada keperluan apa-apa atau mau minta tolong sesuatu, silahkan saja ke rumah saya yang berada di pinggir area pemakaman ini karena saya selalu ada di situ tidak pernah kemana-mana! "jelas penjaga makam tersebut Lalu segera pergi meninggalkan Aida dan membiarkan wanita itu untuk bernostalgia dengan almarhum suaminya.
"Amira sering ke sini ya Mas? Dia itu memang anak yang sangat berbakti terhadap orang tuanya, karena buktinya saat suaminya menyakitinya ia tidak pernah ngomong sama ibu. Mungkin karena tidak mau membuat Ibu merasa cemas, dengan kondisi rumah tangganya makanya dia memilih untuk diam dan menjalaninya semuanya sendiri!"ujar Aida.
Wanita itu memilih untuk berlama-lama di tempat itu karena sama saja kalau dirinya pulang ia bakalan sendirian di sana, Apalagi dengan masalah yang tengah ia dan Fadil hadapi membuat Aida rasa-rasanya malas pulang ke rumah karena masih ada jejak yang ditinggalkan oleh Fadil dan juga anaknya Franda.
Aida ingin sekali untuk pindah rumah tetapi Takutnya nanti tiba-tiba Amira pulang bakalan mencarinya, maka dari itu ia memilih untuk tetap tinggal di rumah itu meskipun bayang-bayang pengkhianatan dan segalanya masih tersimpan rapi dan jelas dalam ingatannya jika berada di rumah itu.
__ADS_1