Cinta Dan Air Mata

Cinta Dan Air Mata
Dina Sakit


__ADS_3

Setiap mendengar kata-kata sindiran dari sahabatnya itu Dina tidak pernah menaruhnya di dalam hati, karena memang dari dulu mulutnya dan juga Aida selalu seperti itu saling Sindir menyindir Tetapi setelah itu langsung baik lagi.


Apalagi posisi saat ini mereka sedang makan kalau orang lain mah pasti bakalan marah karena tidak suka dikata-katain ketika sedang makan, tetapi berbeda dengan Dina karena menurutnya jika Aida ingin melampiaskan emosinya kapan saja dan juga di mana saja itu tidak masalah sama sekali baginya.


"Kamu baik baik saja kan setelah kamu sudah bercerai dengan suami Kamu yang pembohong itu, soalnya aku selalu khawatir kamu bakalan stres dan merasa sendirian serta tidak ada yang menemani di saat seperti ini? "tanya Dina Karena setelah bercerai dari tadi Dirinya belum ada kesempatan untuk berbicara berduaan dengan Aida maka dari itu sekarang mungkin merupakan saat yang tepat.


"Ya seperti yang kamu lihat mau dibilang baik sepertinya aku bohong mau dibilang tidak baik alasannya apa coba, Karena melakukan kepercayaan ini aku yang menginginkannya kemudian aku juga yang mau gugatnya jadi sepertinya sangat mustahil kalau aku harus menyesalinya di kemudian hari! "sahut Aida yang memang harus seperti itu karena seorang pria pembohong jika dibiarkan maka akan menjadi kebiasaan dan begitu terus tidak ada niatan untuk berubah sama sekali.


"Syukurlah kalau seperti itu aku lega mendengarnya, karena asal kamu tahu saja ya aku terus memikirkan kamu yang selalu saja menerima masalah terus-menerus tanpa henti seperti ini. "ujar Dina tersenyum bahagia karena dirinya yakin Aidan merupakan seorang wanita yang kuat yang tidak mungkin langsung tumbang hanya pada masalah seperti beginilah meskipun bisa dibilang perceraian itu merupakan sebuah guncangan yang paling terhebat dalam sebuah pernikahan tetapi terkadang semua orang terpaksa memilih jalan tersebut ketika kedua orang tersebut sudah tidak bisa disatukan lagi dalam sebuah ikatan karena jika terus dipaksakan otomatis hanya bisa menimbulkan dosa.


"ya maka dari itu lebih baik aku yang merasakannya jangan kamu ataupun orang lainnya lagi, soalnya Percayalah kita tiba-tiba menjadi Artis Dadakan ketika semua orang tahu posisi kita sebagai seorang janda! kalau ngomong yang soal baiknya saja sih tidak masalah tetapi terkadang mereka lebih seolah tahu masalah yang kita hadapi daripada diri kita sendiri, Jadi mau marah juga rasa-rasanya buang tenaga tetapi kalau diam saja juga sakit hati!" Ujarr Aida yang membayangkan sikap julid para tetangganya selama ini.


"ya makanya kamu doakan saja semoga aku dan juga Mas Sakti tetap langgeng sampai Opa dan Oma Bila perlu mungkin sampai kita bisa menemukan Amira, soalnya aku sangat merindukan anak itu yang selama ini kalau lagi suntuk dan juga sendirian pasti bakalan kutelepon minta ditemani dan juga bakalan ke curhat kalau lagi berantem sama mertuanya! "Dina begitu sembuh mengatakan semuanya itu yang mencoba untuk tetap tegar tetapi Percayalah hati seorang ibu itu sakit ketika anak yang ia sayangi pergi tanpa kabar.


Aida ingin mencairkan suasana Dengan mengatakan hal-hal Yang pasti bakalan membuat Dina sedikit histeris, karena jika tidak dipastikan sahabatnya itu akan menangis saat ini juga karena terlihat jelas dari gestur wajahnya untuk saat ini.


"Ada pantas Anakku pergi dari rumah Soalnya kamu jadikan dia teman curhat yang tidak pada tempatnya, seharusnya dia itu curhat sama kamu bukan malah sebaliknya seperti itu memangnya tidak malu sama umur?"ejek Aida membuat Dina langsung tertawa karena kata-kata sahabatnya itu aneh bin ajaib dan sungguh keterlaluan ketika didengarkan baik-baik.


"kamu ih orang lagi suasana melankolis seperti ini kamu malah mengejekku seperti itu, dasar tidak setia kawan dan juga sepertinya hati kamu itu sudah mati karena mungkin status kamu yang janda itu!"Ketus Dina memasang wajah cemberut tetapi Aida memilih untuk biasa saja yang penting intinya sahabatnya itu tidak menangis.


"Ya sudah kalau sudah selesai makan tolong ya dicuci piringnya soalnya kan aku sendirian tidak punya banyak waktu untuk mengurus rumah, kecuali kalau kamu mau membantuku maka aku bakalan dengan senang hati menurut kamu minat di sini sampai selama-lamanya!" perintah Aida yang sebenarnya hanya bercanda saja.


Dina yang ingin bangkit membantu sahabatnya itu membereskan piring di atas meja tiba-tiba merasakan pusing dan sekitarnya terasa begitu gelap, sudah begitu kedua kakinya juga sepertinya tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya membuat wanita itu limbung dan terjadi di atas kursi yang tidak jauh dari situ.


"Dina kamu baik-baik saja kan?" tanya Aida cemas ketika melihat Dina yang terduduk seperti itu.

__ADS_1


Dina menggelengkan kepalanya sambil memijat keningnya secara perlahan karena memang ia merasa pusing, sebab belakangan ini memang tekanan darahnya sedikit rendah mungkin karena terlalu banyak pikiran dan malam juga tidak bisa tidur karena memikirkan Amira.


"Aku baik-baik saja, kamu jangan cemas ya! Hanya saja aku boleh minta tolong tidak, kamu tolong ambil obatku di dalam tas yang botolnya warna coklat di dalam kamu kasih keluar tabletnya satu biji kemudian bawa ke sini ya! "pinta Dina pelan dan Aida tentu saja langsung melakukan hal itu tanpa banyak pertanyaan lagi.


Setelah mendapatkan obat yang dimaksud oleh Dina dengan segera Aida memberikan obat itu kepada sahabatnya itu bersama dengan satu gelas air, dirinya begitu terkejut ketika membuat kertasnya Dina terdapat tiga botol obat dengan warna yang berbeda-beda.


"Sudah merasa baikan?" tanya Aida penasaran setelah sesaat Dina sudah meminum obatnya dan terlihat wajah wanita itu sudah tidak terlalu seputar tadi dan juga sudah lebih rileks.


Dina tersenyum mendengar pertanyaan yang penuh kekhawatiran dari Aida tadi, karena menurutnya perhatian yang diberikan oleh Aida itu adalah hal yang paling penting yang sangat ia butuhkan di dalam hidupnya ini selain perhatian dari suaminya sendiri.


"Terima kasih atas bantuan yang sudah kamu lakukan kepadaku tadi, coba saja kalau tadi tidak ada kamu entah bagaimana caranya aku bisa melewati rasa sakit ini . "sahut Dina pelan tetapi Aida bukan orang bodoh yang tidak ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Dina.


"Ada yang kamu sembunyikan dari kami semua yang tidak ingin semua orang tahu tentang apa yang terjadi, Apa kamu yakin bisa melalui rasa sakit ini sendirian tanpa harus ada orang lain yang mengetahuinya? "Tanya Aida dengan tatapan menyelidik.


Dina terlihat menghembuskan nafasnya secara perlahan karena sepertinya saat ini ia harus jujur tetap Apa yang sedang dialaminya, karena Percayalah berpura-pura sehat itu rasanya sangat tidak mudah karena jika kambuh secara tiba-tiba dan sedang bersama dengan orang lain tidak mungkin bakalan menahannya saja karena sakit itu merupakan sesuatu yang sangat dibenci oleh manusia.


"kamu meminta aku berjanji untuk tidak pergi mengatakan kejujuran kepada suami kamu, sedangkan kamu sebagai istrinya saja sudah berbohong masa iya kita berdua harus berbohong seperti ini? Menurut kamu apa keuntungannya ketika sakit terus kita berbohong, Percayalah suatu penyakit itu kalau terlalu ditutup dan juga tidak diurus dia bakalan semakin parah bukan semakin sembuh. " tegas Aida karena menurutnya pemikiran Dina itu sangat tidak masuk akal Kok bisa menyembunyikan penyakitnya kepada suami Sendiri.


"Tapi kan kamu tahu kalau Mas Sakti itu adalah orang yang paling sibuk dan aku tidak Tega, masa iya dia sudah bekerja keras untukku malah aku harus merepotkan dia lagi? aaku ini kan pengangguran tidak punya kegiatan sama sekali jadi tidak ada salahnya kan kalau mengurus diri sendiri, hitung-hitung Mas Sakti bekerja untuk memberi melakukan kepada kami sedangkan aku melayani diri sendiri tanpa merepotkan orang lain!"ujar Dina yang masih tetap ada pendirian yang sangat konyol dan juga tidak masuk akal menurut Aida.


Aida Aida dari dulu sampai sekarang memang selalu mencoba kuat tidak ingin menyusahkan siapapun, Tetapi kalau dia tidak mampu maka ia bakalan meminta tolong karena Biar bagaimanapun Manusia adalah makhluk sosial yang harus membutuhkan bantuan orang lain.


Begitupun dengan Amira jika dirinya sudah tidak mampu menghadapi masalah yang ia hadapi pasti bakalan memilih untuk curhat kepadanya, untuk masalahnya dengan Adam sepertinya Amira sedang ingin mencoba untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikiran untuk bisa memberikan keputusan.


"kalau kamu pemikirannya begini Dari dulu kenapa harus menikah dan juga punya suami serta punya anak, dan juga kalau kamu hanya ingin orang lain merepotkan kamu dan kamu tidak ingin merepotkan orang lain ya Kenapa tidak hidup di hutan saja supaya tidak ada yang merasa terbebani ketika melihat kamu?" tanya Aida dengan nada bicaranya yang sudah sedikit meninggi.

__ADS_1


Dina hanya tertunduk ketika melihat Aida sudah marah-marah seperti itu pertanda bahwa ibu dari Amira itu sudah merasa sangat emosi, tetap mau bagaimana lagi selama ini keputusan sudah ia ambil dan tidak mungkin bisa dirubah lagi atau pun harus dikembalikan dari awal.


"Ya aku minta maaf soalnya kan aku merasa ini merupakan keputusan terbaik dan tidak merugikan siapapun, tetapi kalau memang kamu merasa bahwa aku salah aku bakalan ngomong sama Mas Sakti setelah pulang dari sini yang penting Intinya kamu jangan marah dong!"Dina sangat tidak sanggup jika Aida marah kepadanya karena selama dirinya Hidup Hanya ada satu sahabatnya sampai saat ini yaitu wanita itu.


"aku itu bukannya marah sama kamu hanya saja merasa kecewa dan juga tidak paham dengan arah pemikiran kamu yang sangat tidak masuk akal, coba saja kalau misalnya kamu sakit terus kamu ngomong dari ayah sama suami kamu yang mungkin tidak bakalan terlambat dan juga kamu tidak akan pernah sengsara selama ini. " Ujar Aida gemas karena Dina yang sudah tua itu tetapi gaya berpikirnya sangat lambat dan juga sepertinya mungkin dulu dia adalah orang yang selalu menduduki peringkat terakhir di dalam kelas.


Dina hanya mengusap wajahnya frustasi tidak ingin lagi membantah kata-kata dari Aida barusan, karena jika ia bantah maka bisa dipastikan Aida bakalan lebih ngegas lagi.


Aida yang melihat Dina sudah diam memilih untuk menurunkan nada bicaranya kemudian mulai mendekati sahabatnya itu secara perlahan, untuk memastikan kira-kira Dina itu sakit apa sampai kambuhnya saja sudah separah seperti tadi.


"kamu Sebenarnya sakit apa? Aku heran kok bisa kambuhnya separah tadi, seolah-olah ada penyakit serius yang ada di dalam tubuh kamu yang mungkin bisa dibilang sudah terlambat di tangani? "tanya Aida penuh selidik berharap agar Dina bisa berkata jujur kepadanya.


"Aku divonis terkenal kanker payudara tetapi baru stadium 2 hanya saja aku terlambat menyadarinya, Makanya selalu kalau kamu rasanya sangat menyiksa dan juga kadang-kadang membuat aku itu ingin pingsan!"jelas Dina pelan meratapi segala macam kejadian yang menimpanya di saat yang tidak tepat ketika rumah tangga anaknya sedang bermasalah.


Aida tertegun ketika mendengar penjelasan dari sahabatnya itu dan benar-benar merasa tidak percaya sama sekali, karena belakangan ini Dina selalu segar tidak ada nampak tanda-tanda bahwa wanita itu sedang sakit bahkan bisa dibilang kondisinya itu lebih Fit daripada Aida.


"Yakin kamu memang benar-benar merasakan sakit itu , soalnya selama ini aku tidak pernah melihat ekspresi Kamu itu seperti orang kesakitan?"tanya Aida penasaran membuat Dina mendengus kesal.


"Kamu itu aneh deh tadi suruh aku jujur sekarang giliran sudah jujur kamu malah memperlakukan aku seperti seorang pembohong, Memangnya kamu maunya apa sih suruh aku bohong terus Ya sudah aku bakalan melakukan seperti apa yang kamu inginkan?" omel Dina memasang wajah cemberutnya.


"ya bukannya seperti itu juga sih, Terus sekarang penanganan apa yang sudah mereka lakukan untuk penyakit kamu itu?"Tanya Aida penasaran.


"Aku di kasih obat untuk mencegah agar sel kanker tidak menyebar ke seluruh jaringan tubuh, nanti aku bakalan ngomong ke Mas Sakti supaya mengantarkan aku melakukan pemeriksaan di Prancis karena kan di sana alat-alatnya lebih canggih!" jelas Dina.


"Ya sudah kalau begitu secepatnya kamu ngomong sama dia supaya tahu segalanya masalah yang telah terjadi dan juga penanganan apa yang harus kamu lakukan, karena aku ingin kamu selalu sehat dan juga tidak ingin kamu kenapa-napa karena kamu kan tahu sendiri kalau hanya kamu yang aku punya saat ini!" Aida Tidka ingin Dina kenapa-napa.

__ADS_1


Dina menitikkan air matanya karena kata-kata dari Aida itulah yang sangat ia butuhkan selama ini, dan juga ketulusan Serta perhatian yang diberikan oleh wanita itu adalah sebuah vitamin tambahan bagi Dina.


Aida menyayangi Dina seperti saudaranya sendiri, bahkan wanita itu rela melakukan apapun yang penting intinya Dina selalu bahagia.


__ADS_2