Cinta Dan Air Mata

Cinta Dan Air Mata
Terpaksa


__ADS_3

Siapa pun yang berada di posisi Amira pasti akan merasa terpuruk dan juga sebenarnya tidak nyaman, rumah yang ada di hadapannya sekarang memang merupakan milik orang tuanya hanya saja rumah itu pun menyimpan kenangan yang sangat tidak menyenangkan baginya.


kenangan di mana ketika mendengar suara suaminya dan juga Franda yang merupakan adik tirinya itu berbagi peluh di ranjang yang sama, Padahal status pria itu sebenarnya masih merupakan suami sahnya tetapi sepertinya pria itu memang sudah lupa akan segala-galanya dan lupa akan beban moral yang akan mereka terima ketika melakukan semua itu dan diketahui oleh siapapun.


Amira berbohong jika mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan juga dirinya berbohong jika mengatakan bahwa ia tidak masalah ketika rumah itu menyimpan semua kenangan buruk tersebut, dirinya hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan yang namanya kecewa dan juga sakit hati Maka dari itu ketika semua hal ini terjadi siapapun pasti akan mengalami seperti yang ia alami saat ini yaitu penuh dengan rasa kekecewaan dan berusaha terlihat baik-baik saja tetapi tidak bisa.


ada yang benar-benar merasa bersalah karena saat ingin menyentuh tangan istrinya pun terlihat wanita itu seperti enggan, mungkin karena merasa jijik atau apapun itu karena intinya Amira itu hanyalah manusia biasa yang bisa terkadang berubah pikiran secara tiba-tiba dan seperti itulah saat ini.


"kamu marah karena kejadian yang pernah terjadi di sini, Baiklah kalau begitu ayo kita pulang aku bakalan memberi rumah yang baru yang sesuai dengan keinginan kamu dan juga tidak pernah ada kenangan pahit di dalamnya? "tawar Adam soalnya istrinya itu tidak mungkin seharian berada di mobil tersebut.


Amira menggelengkan kepalanya karena tentu saja ia tidak ingin mendapatkan rumah yang baru ia tidak ingin mendapatkan sesuatu yang terpaksa diberikan hanya karena keadaan yang mendesak, dirinya hanya ingin yang namanya ketenangan dalam hidupnya kemudian tidak membawa beban pikiran ketika ia berada di rumah yang bakalan ditempati nantinya.


"Aku tidak tahu harus seperti apa nantinya dan juga aku tidak tahu harus bagaimana nantinya yang penting intinya tolong biarkan aku bisa berpikir dengan jernih, Lalu setelah itu aku bakalan memilih jalan mana yang terbaik yang harus aku pilih tidak perlu harus kalian memaksaku dan mengatakan segala macam tawaran yang sangat memuakkan itu! "ujar Amira yang penuh penekanan sehingga membuat Aida dan juga ada hanya terdiam karena mereka yakin jika wanita itu pasti Tengah mencoba untuk menahan kekesalannya jika mereka terus-menerus bertanya ini dan itu yang akhirnya pasti membuat Amira merasa bosan.


"Baiklah kalau memang itu kemauan kamu, tetapi hanya Mas tidak inginkan kalau kamu menyiksa diri sendiri! Mas yang salah di sini biarlah Mas yang tersiksa, biarlah yang dihukum ini orang lain bukan kamu dan juga bukan anak kita karena Percayalah ini sungguh sangat menyiksa! "lirih Adam bahkan sampai mencium kaki istrinya tetapi Amira segera menepisnya dengan cara menariknya dan memindahkan ke arah yang lain karena dirinya tidak ingin menjadi istri yang durhaka dengan membuat suaminya menunduk seperti itu.


"Mas bangun dan jangan bikin aku jadi emosi dengan kamu saat ini karena sudah bertingkah yang aneh-aneh, kamu pikir dengan begitu aku bakalan berbalas kasihan kepada kamu dan mau menerima semua permohonan maaf kamu tadi? Pikir dong Mas tidak selamanya Apa yang kamu harapkan itu sesuai dengan yang kenyataan saat ini terjadi, aku ini manusia biasa loh yang terkadang bisa merasa bosan juga ketika setiap saat Harus melihat adegan yang tidak jelas! "sarkas Amira dengan nada suaranya yang sudah sedikit meninggi mungkin karena batas kesabarannya sudah habis atau apa yang dilakukan oleh Adam kepadanya barusan.


"Mas tahu di sini itu terlalu berlebihan dalam melakukan sesuatu adalah suamimu yang sangat tidak berguna ini,hanya saja Mas sudah mendapatkan semua karmanya sudah mendapatkan semua penolakannya dari kamu dan juga dari orang-orang sekitar Percayalah ini sangat menyiksa!"jelas Adam.

__ADS_1


"Bik Surti nanti tolong bawa tas aku itu ke dalam ya soalnya aku pengen masuk dan istirahat karena di sini semua orang pada Ngomongnya aneh semua, bukannya membuat masalah jadi beres malah membuat Kepalaku jadi tambah mumet dan juga kebingungan harus bagaimana! "perintah Amira lalu segera pergi dari hadapan Adam yang dari tadi hanya menundukkan kepalanya karena yang ia butuhkan saat ini istirahat bukan melihat wajah-wajah penuh bersalah padahal kemarin-kemarin begitu congkaknya mengangkat wajahnya seolah-olah ingin menunjukkan kepada aliran kalau dirinya merupakan pria yang laku di manapun.


Adam sedikit bernafas lega karena akhirnya istrinya itu mau masuk ke dalam rumah dan beristirahat tidak harus duduk dan menyengsarakan diri di dalam mobil begitu saja, kalau dirinya yang sengsara seperti itu tidak masalah tetapi kalau istrinya yang dalam kondisi hamil Ya tentu saja merupakan sebuah beban pikiran yang amat sangat.


"Puas kan kamu? lain kali lakukan hal itu lebih rajin lagi bahkan bisa dibilang lebih gila lagi bila perlu tidak perlu hanya dengan satu wanita saja tetapi belum puluhan wanita sampai kamu puas, supaya kamu bisa melihat anak saya itu makin tersisanya Seperti apa dan juga membuat kamu semakin bahagianya bagaimana Karena akhirnya membuat seorang wanita mengalami hati yang hancur! "ujar Aida yang padahal sebenarnya kondisinya itu kalau bisa dibilang belum terlalu Fit juga Hanya saja karena saking ingin meluapkan rasa emosinya dirinya sampai melupakan kondisinya itu.


Aida kini sudah pergi meninggalkan Dina dan juga Sakti yang hanya menatap penuh kekecewaan kepada anaknya bahkan bisa dibilang Dina itu seperti Tengah menahan tangisnya, padahal wanita itu sebenarnya dalam kondisi yang tidak baik-baik saja hanya karena anaknya dan juga biasanya serta menantu kesayangannya membuat wanita itu berbuat seolah-olah dirinya dalam keadaan sehat padahal kankernya itu bukan sesuatu hal yang menjadi bahan bercandaan.


"Mama berterima kasih sekali nak untuk masalah yang kamu ciptakan kepada kami Dan juga untuk kotoran yang sudah kamu buang ke wajah kami saat ini, sebenarnya kamu itu adalah kebanggaan kami karena anak kami satu-satunya yang kami punya di dunia ini ya hanyalah kamu! kehormatan yang kamu berikan itu adalah sebuah mahkota yang bakalan kami bawa sampai mati tetapi kalau seperti ini entah mau bagaimana Jadinya, Mama sampai bingung harus menjalani hidup seperti apa hanya agar bisa melupakan semua masalah yang sudah kamu ciptakan saat ini! "Dina tahu disaat seperti ini bukanlah saat yang tepat untuk meluapkan emosinya tetapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi kemudian saja pun rasa-rasa yang merupakan sebuah kebohongan.


Adam adalah orang yang terakhir untuk masuk ke dalam rumahnya tersebut karena semua orang rasa-rasanya sangat menjauh tidak seperti tadi dan juga kemarin, sedangkan Amira sudah terlihat beristirahat di kamar yang biasa mereka gunakan ketika menginap di kediaman orang tuanya Amira.


Adam hanya terduduk di sudut ranjang tersebut sambil menatap ke arah punggung istrinya yang dari tadi tidak menoleh sedikitpun ke arahnya, mau berbicara pun rasanya tidak bisa takutnya jangan sampai Amira merespon secara berlebihan seperti yang ia lakukan tadi sewaktu masih berada di luar rumah.


sedangkan Sakti dan juga Dina kini duduk bersama dengan Aida tanpa berbicara pun seperti orang-orang yang lain Mereka masing-masing Tengah memikirkan sesuatu dan juga sibuk dengan urusan masing-masing, membuat Surti jadi bingung dan juga posisi serba salah karena mau berbicara pun sepertinya tidak sopan Karena posisinya di rumah itu sebagai apa.


"Aidah, kalau keadaan anak-anak seperti ini posisi kita sebagai orang tua harus ngapain Ya? Di satu sisi aku ingin agar Amira dan juga ada dalam keadaan baik-baik saja tetapi tidak mungkin juga kan harus Egois dengan membiarkan anak kamu harus tertekan seperti tadi, terus kalau misalnya kita diam saja mengikuti cara mereka untuk mengambil langkah ke depannya Seperti apa sepertinya tugas kita sebagai orang tua itu tidak ada gunanya sama sekali? "jelas Dina yang dari tadi hanya diam dan juga memikirkan hal itu sehingga membuat Aidah yang sebenarnya datang ke rumah untuk beristirahat mau tidak mau harus memikirkan solusi yang terbaik untuk anak-anak.


Aida ingin menikmati masa tuanya kemudian masa sendirinya ini dengan melakukan sesuatu hal yang berguna kemudian melihat anak-anak mereka bahagia serta cucu-cucunya yang lahir dalam keadaan sehat, namun jika sudah seperti ini rasanya kebahagiaan itu sangat jauh daripada kenyataan dan juga rasanya terlalu minta yang muluk-muluk jika hasil akhirnya tidak sesuai dengan keinginan.

__ADS_1


ya sebenarnya masuk akal sih manusia itu selalu ingin yang terbaik dalam kehidupannya tetapi hasil akhir sudah ada yang mengatur, kalau memang kenyataannya harus bahagia terus hidupnya senang jauh dari yang namanya masalah itu memang keinginan siapapun tetapi balik lagi pada kenyataan.


"Dari awal memang Amira ingin mengajukan perceraian untuk dirinya dan juga ada tetapi ya balik lagi dia kan selalu ngomong kalau ada kesempatan yang kedua yang ingin dia berikan kepada suaminya itu, mungkin tadi dia syok jadi responnya mungkin terlalu berlebihan tetapi kita lihat saja nanti kedepannya Seperti apa kalau memang reaksinya masih sama seperti saat ini ya sudah kita bakalan ngomong dan mencoba untuk memberikan saran agar bagaimana mereka bersikap dalam menghadapi problema rumah tangga seperti itu. "Aidah tidak ingin menjadi orang yang egois dengan memaksakan semua orang agar bisa mendengarkan pendapatnya Meskipun orang tersebut sebenarnya tidak ingin mendengarkan apa yang dikatakan oleh kita.


"Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu ya, soalnya tidak mungkin juga kan mengganggu Amira sedang dia nya saja lagi beristirahat seperti ini!" pamit Dina dan juga suaminya Karena sejatinya Wanita itu sebenarnya sudah mulai merasakan drop dan juga pusing akibat Sudah beberapa hari ini tidak mengkonsumsi obatnya karena sibuk dengan urusan Aida yang jatuh sakit dan juga menjaga wanita itu selama Amira tidak ada di tempat.


"Bibi kalau capek Lebih Baik istirahat saja tidak usah memaksakan diri untuk bekerja, soalnya saya juga mau pengen istirahat dulu jadi otomatis pekerjaan rumah Sepertinya di cancel dulu deh. "ujar Aida karena tidak mungkin kan membiarkan seluruh isi buku sendiri sedangkan wanita itu baru saja melakukan perjalanan yang lumayan jauh.


"Tidak juga sih Bu, Hanya menyelesaikan pekerjaan yang kemarin-kemarin tidak sempat dikerjakan. Nanti juga kalau sudah selesai saya bakalan beristirahat, sok atuh Ibu istirahat lebih dulu saja soalnya orang baru keluar dari rumah sakit itu perlu mengistirahatkan tubuhnya sejenak tidak perlu harus terlalu di forsir! kalau urusan soal Mbak Amira tidak perlu harus terlalu cemas seperti itu mungkin tadi dia hanya sedikit terkejut tetapi nanti setelah itu pasti baik lagi, maklumlah Setelah sekian lama meninggalkan tempat ini terus kembali lagi pasti dia bakalan mengingat kejadian-kejadian yang buruk. " kata Surti dan Aida hanya menganggukkan kepala pertanda paham dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu.


Fadil kini sudah berada di rumah tempat di mana dirinya dan juga Franda tinggal dan ketika ia masuk ke dalam rumah tersebut dalam kondisi sunyi, Bagaimana tidak yang tinggal di situ hanya dirinya dan juga Franda sedangkan kalau di siang hari seperti ini anaknya itu pasti akan pergi bekerja di tempat biasanya.


Franda itu adalah tipe orang yang paling tidak suka membereskan segala macam kekacauan yang terjadi di rumah, dan hal itulah yang dilihat oleh Fadil pertama kali ketika membukakan pintu yaitu kotoran yang ditinggalkannya beberapa hari lalu tetap bertahan di tempatnya tidak bergeser barang satu centi pun akibat Franda yang terlalu sibuk dengan urusan pribadinya.


"Kamu itu sebenarnya tidak bisa hidup susah hanya saja kondisi kita yang tidak mendukung untuk kamu hidup senang, seharusnya sudah tahu keadaan kita seperti begini lebih peka dan juga sadar jika rumah sempit ini bakalan terasa tidak nyaman kalau dibiarkan semuanya berserakan. "mau tidak mau Fadil harus meletakkan tas tempat pakaian kotornya di atas kursi kemudian mulai membereskan rumah.


jika harus menunggu Franda yang melakukan semuanya maka itu sama saja tidak mungkin karena anaknya itu tidak akan pernah peduli sama sekali, jadi daripada mendengarkan omelannya tanpa henti lebih baik mengerjakan sendiri saja Bukankah itu juga merupakan pekerjaan ringan yang tidak terlalu memakan tenaga.


Franda sebenarnya tahu hari ini jadwal Fadil untuk keluar dari rumah sakit hanya saja dirinya sengaja berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari mengurus Bapaknya itu pulang kemudian membayar ongkos taksi dan segala macam, maka dari itu saat makan Siang pun tidak pulang sama sekali tidak seperti biasanya Yang pasti bakalan membawakan makanan untuk karena dirinya ingin menunjukkan kepada pria tersebut kalau sebenarnya di dunia Ini sebenarnya tidak gampang untuk melalui sesuatu tanpa bekerja.

__ADS_1


__ADS_2