Cinta Dan Air Mata

Cinta Dan Air Mata
Marah


__ADS_3

Aida memang tidak suka jika Dina menelpon anaknya tepat di hadapannya dan juga berada di dalam rumahnya, sebab menurutnya Adam itu adalah orang yang sangat menyebalkan dan juga sudah dianggapnya sebagai orang asing jadi otomatis ketika mendengar suaranya apalagi melihat wajahnya secara langsung dirinya benar-benar merasa muak.


"Yah kalau begitu ngomong! Memangnya kamu udah keperluan apa sampai menelepon jam begini, di sana pasti sudah tengah malam kan soalnya di sini kan sudah mau hampir siang? "tanya Dina penasaran membuat Adam di sebelah hanya menghembuskan nafasnya kasar sebab menurutnya nada bicara Mamanya itu tidak selembut dulu lagi sebelum dirinya melakukan kesalahan.


"Aku tidak mau kalau sampai bercerai dari Amira, Jadi kalau misalnya ibu Sebentar meminta kalian untuk mendaftarkan perceraian tolong ditolak karena aku tidak pernah mengizinkan hal itu! "lirih Adam penuh permohonan membuat Dina menatap penuh penasaran ke arah Aida yang diyakini mengundang mereka datang ke tempat itu pasti ada sangkut pautnya dengan perkataan Adam tadi.


"Loh kenapa kamu malah menolaknya? Bukankah itu bagus agar kamu bisa bersatu dengan wanita pujaan hati kamu , yang menurut kamu paling terbaik di dunia ini Dan juga merupakan pilihan hati kamu saat ini? "tanya Dina sinis.

__ADS_1


Adam mengusap wajahnya kasar karena sepertinya mau bagaimanapun dirinya membujuk Dina pasti tidak akan pernah berhasil, karena buktinya sekarang jawaban wanita itu benar-benar tidak mendukung keputusannya untuk tetap bersatu dengan Amira.


"Mama harusnya paham dong dengan kondisi Amira saat ini, tidak mungkin kan dia melahirkan tanpa ada sosok suami yang mendampinginya? Sebagai orang tua harusnya sadar kenapa aku sampai ngotot seperti ini untuk tetap bertahan di sampingnya Amira, karena menurutku ini merupakan pilihan yang terbaik dan juga membuat anak kami itu memiliki status yang jelas tidak pontang-panting seperti itu!"jelas Adam di seberang membuat Aida langsung mengambil secara paksa ponsel yang ada di tangannya Dina karena dirinya yang ingin berbicara dengan Adam secara langsung tanpa harus mendengarkan perkataan basa-basi antara ibu dan anak itu.


"Kalau begitu enaknya di kamu susahnya di anak saya dong, kamunya main celup sana celup sini sedangkan Amira masih mencoba untuk tetap setia? Jadi pria itu harus bisa bertanggung jawab dengan kesalahan yang dilakukan tidak lari daripada kenyataan seperti ini, coba dibalik kalau misalnya Amira melakukan hal itu perasaan kamu di mana pasti tidak terima dong? " Aida yang sudah tersulut emosinya tidak bisa lagi menahan amarahnya dan juga menelaah kata-katanya itu menjadi lebih sopan dan juga lebih baik didengar karena menurutnya orang seperti Adam itu tidak perlu sopan santun ketika berbicara dengan nya.


"Semakin kamu meminta semakin pula saya tambah semangat untuk membantu anak saya mengurus gugatan perceraian kepada kamu, jadi lanjutkan saja permohonan kamu itu sampai model apapun karena itu akan membuat saya bertambah semangat!"perintah Aidah membuat Adam langsung bungkam karena Perkataan wanita itu Sama persis dengan yang dikatakan oleh Amira bahwa semakin ada memberikan permohonan maka semakin pula Amira merasa muak dengan kehadirannya.

__ADS_1


"Kenapa diam, takut dengan ancaman saya tadi atau hanya ingin berpura-pura takut? Tidak masalah kamu mau merespon apapun tidak masalah juga kamu mau melakukan apapun, tetapi saya tidak akan pernah berubah pikiran dan memberikan anak saya kepada pria yang tidak bertanggung jawab seperti kamu! "tegas Aida lalu segera mematikan panggilan tersebut membuat Adam di sebelah hanya bisa mendesah kasar karena sepertinya segala macam percobaan yang ia lakukan sia-sia saja sedikitpun tidak menemukan jalan keluar yang pas.


Rangga hanyalah menjadi seorang penonton dan juga pendengar yang setia, dirinya bahkan terlihat menikmati kesengsaraan yang tengah dialami oleh Adam saat ini sebab menurutnya buah dari kebohongan adalah sakit hati dan juga merana seperti yang dialami oleh majikannya itu.


"kamu tidak ada niatan untuk memberikan saya pendapat ataupun sesuatu yang bisa membuat saya bisa berpikir dengan jernih, soalnya sekarang otak saya itu sepertinya tidak berfungsi lagi karena mendengarkan semua penolakan yang dilakukan oleh orang-orang tanpa pernah memikirkan perasaan saya sedikitpun? "pertanyaan dari Adam itu sebenarnya bersifat tawaran ataupun ajakan hanya saja Rangga tidak ada niatan untuk memberikan nasehat kepada pria tersebut sebab menurutnya segala macam nasehat itu tidak akan pernah berguna jika Semuanya sudah terlambat.


"Saya rasa sekarang yang bisa anda lakukan yaitu pasrah saja dengan keadaan, kalau memang Dewi Fortuna lagi berpihak ya maka Nyonya Amira bakalan berubah pikiran Tetapi kalau Lucifer sedang bertindak maka semuanya akan seperti begini! "sahut Rangga santai tanpa beban karena memang dirinya saja belum merasakan kenikmatan duniawi untuk apa harus memikirkan urusan rumah tangga kecuali dirinya sedang OTW untuk menikah nah mulai dari sekarang dirinya harus belajar dari kesalahan yang dilakukan oleh Adam.

__ADS_1


"Oh Tuhan ternyata meminta saran darimu malah membuatku tambah pusing soalnya tidak ada satupun yang bisa membuat aku menjadi tenang, Percuma saja Papa membayar kamu mahal-mahal jika alhasil tidak bisa berguna di dunia nyata seperti saat ini!"omel Adam padahal seharusnya pria itu sadar kalau pekerjaan Rangga ya sebatas profesionalitas dalam pekerjaan mereka saja Tetapi kalau urusan pribadi ya dirinya tidak akan pernah ikut campur karena itu bukan merupakan urusannya.


__ADS_2