Cinta Dan Air Mata

Cinta Dan Air Mata
Gugatan cerai


__ADS_3

Keesokan paginya Aida merasa seperti mendengar suara Amira yang tengah memanggilnya, membuat wanita itu langsung segera bangkit dari tidurnya dan tanpa menunggu lagi


langsung membuka pintu depan.


Aida mencari kesana kemari berharap bahwa anaknya itu memang datang ke rumahnya pagi ini, dan tidak akan pernah pergi lagi membiarkan dirinya merasa cemas berlebihan.


Wanita paruh baya itu masih tetap berusaha berpikir bahwa tadi itu memang ada suara Amira yang membangunkannya, dirinya begitu bahagia karena mengira bahwa anaknya sudah pulang dan tidak akan pernah kabur lagi hanya karena ingin menghindari Adam.


"Amira! kamu di mana nak? Bukannya tadi ibu ada mendengar suara kamu, masa sekarang kamu langsung pergi lagi ? "lirih Aida yang masih tetap ada pendiriannya bahwa ia tadi mendengar suara anaknya pulang.


Aida sudah seperti orang yang kebingungan karena masih tetap berpikir jika Amira sudah pulang, dirinya bahkan berlari ke arah jalan tanpa mengenakan alas kaki hanya karena takut nanti Amira bakalan pergi lagi.


Sesampainya Ia di jalan dirinya hanya menemukan tukang bubur yang menjadi langganannya Amira kalau pulang ke rumah, membuat wanita itu mengira kalau anaknya saat ini tengah mengambil mangkok di dapur seperti kebiasaannya kalau mau beli bubur selalu saja menyiapkan wadah untuk dirinya sendiri..


Namun sayang ternyata harapan wanita itu terlalu tinggi, karena sudah setengah jam dirinya berdiri di situ tidak ada tanda-tanda Amira bakalan datang dan membeli bubur langganannya.


"Maaf Akang, kalau Boleh saya tahu tadi Akang berhenti di sini karena dipanggil anak saya bukan? "tanya Aida memastikan.


pria yang bisa dibilang setengah baya itu menatap sekelilingnya dan memastikan kalau dari tadi itu tidak ada Amira yang datang, Entah mengapa melihat wajah penuh keyakinan milik Aida membuat pria itu menjadi tidak tega kepadanya.


"Saya dari tadi nongkrong di sini sepertinya Mbak Amira tidak datang membeli bubur seperti biasanya, apa dia lagi menginap seperti biasanya makanya Ibu Ida menanyakan hal itu ? " Tanya pria itu memastikan.


Aida menggelengkan kepalanya setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh tukang bubur itu, dirinya pun dengan langkah lesu memilih untuk kembali ke rumah daripada nanti ya banyak bertanya dan menimbulkan berbagai macam drama yang tidak berkesudahan.


"sepertinya ibu Aida sedang merindukan Mbak Amira!" gumam pria itu monolog.

__ADS_1


Aida dari tadi sudah menahan tangisnya dan ketika sampai masuk ke dalam rumah pun, tidak ada tanda-tanda ada anaknya di situ. Wanita itu benar-benar tidak menyangka, jika anaknya itu pergi dan tidak mau kembali lagi padahal jelas-jelaslah tak kesalahannya itu pada Adam bukan dirinya.


"Kamu itu sebenarnya ke mana sih Nak ? Kan yang melakukan kesalahan itu ada Bukannya ibu, jadi kalau mau kabur ya seharusnya di sini karena ini merupakan rumah kamu tempat untuk kamu berlindung? "batin Aida pelan.


wanita itu Akhirnya ingat kalau hari ini merupakan jadwalnya untuk pergi ke pengadilan agama, untuk menggugat cerai Fadil yang jelas-jelas bukanlah seorang kepala keluarga yang didambakan oleh setiap istri.


Aida tidak peduli jika nantinya Fadil bakalan melakukan sesuatu yang aneh-aneh, karena intinya ia sudah punya bukti yang kuat agar pengadilan bisa langsung meloloskan gugatannya itu.


Sesampainya di pengadilan wanita itu sempat mendapatkan pertanyaan dari pegawai yang bertugas di situ, soalnya menurut mereka pernikahan Aida dan juga Fadil itu bisa dibilang bukan baru sehari dua hari doang tetapi melainkan sudah berpuluhan tahun.


"Ibu yakin mau menggugat cerai suami ibu? Bukankah kalian menikah itu sudah lama sekali, Jadi kalau tidak bisa menyelesaikan masalah Saya rasa tidak mungkin deh?"tanya pegawai itu memastikan kembali jangan sampai Aida berubah pikiran sedangkan mereka sudah memasukkan nomor registernya.


"Saya yakin dengan keputusan kali ini dan tidak akan pernah berubah pikiran sedikitpun, jadi Tolong daftarkan saja saya tinggal tunggu Kapan tanggal sidangnya! "setelah melakukan serangkaian pendaftaran yang cukup memakan waktu Aida pun pergi meninggalkan tempat itu sebab menurutnya suatu waktu pasti bakalan kembali lagi.


Fadil yang tidak mendapatkan apapun dari keluarganya Adam semalam ternyata nekat menginap di pintu gerbang rumah mewah itu, soalnya Ia yakin kalau keluarga Adiguna itu memiliki budi pekerti yang cukup bagus dan juga mempunyai sikap yang tidak tegaan terhadap kesusahan orang lain.


Sakti dan juga Dina semalam tidak jadi pergi akibat Apa yang dilakukan oleh Fadil dan juga Adam yang menahan mereka mati-matian, Padahal semua barang-barang sudah di packing begitu rapih tinggal untuk dibawa perjalanan jauh saja hanya saja akibat kelakuan Adam mereka akhirnya membatalkan niatnya sementara waktu.


"Astaga Papa sepertinya berikan saja apa yang dia inginkan daripada kitanya malu, soalnya itu orang dari tadi tidak bergerak sama sekali loh dari gerbang nanti apa kata tetangga coba? "Dina benar-benar kesal dengan kehadiran Fadhil yang sebenarnya hanya mengganggu kenyamanan keluarga mereka.


"Biarkan saja Mah! Soalnya kalau capek dia pasti bakalan berhenti sendiri, tapi kalau kita merespon ya dianya sepertinya bakalan tetap ada di situ?"jelas Sakti membuat Dina mendengus kesal.


"Ya tapi kan tidak perlu sampai segitunya juga kan? Masa iya dia mau menginap di situ semalaman, besok kalau dia terus di situ karena apa yang ia inginkan belum didapatkan gimana? "tanya Dina yang masih sewot dengan keberadaan Fadil yang menurut mereka sangat meresahkan dan juga tidak menyenangkan untuk dipandang.


Sakti tidak mungkin bersikap anarkis terhadap Fadil apalagi semua orang di Kompleks itu tahu jika pria tersebut merupakan besannya, Padahal mereka tidak tahu kejadian yang sebenarnya itu seperti apa tetapi kebiasaannya itu menilai sesuatu hanya di depan mata saja tanpa ingin mencari bukti yang jelas.

__ADS_1


"Soalnya kalau kita mengusir dia secara langsung ,Mama tahu sendiri kan kebiasaan tetangga di sini? Jadi lebih baik Biarkan saja dan kita tidak usah terlalu repot sih, lakukan saja diri kita dengan urusan yang lebih berguna daripada mengurusi Orang yang tidak tahu diri itu!"ujar Sakti membujuk istrinya agar lebih rileks lagi tidak perlu harus tersulut emosi melihat keberadaan Fadel di depan rumah mereka.


Adam hari ini sebenarnya Berencana untuk keluar dan juga meminta tolong kepada anak buahnya untuk mencari Amir, tetapi karena ada keberadaan Fadil di situ membuat pria itu lebih memilih mengurungkan niatnya sebab tidak ingin berhadapan dengan pria pecundang dan juga pengganggu seperti Fadil itu.


"Itu kakek tua, Kapan sih perginya dari situ? Memangnya dia pikir orang rumah tidak ada urusan lain lagi di luar sana, Jadi dianya nongol terus di situ seolah-olah urat malunya sudah tidak ada pada tempatnya lagi? "sungut Adam tidak tenang di dalam kamarnya karena takutnya Jika ia tidak mencari Amira lagi bisa dipastikan orang tuanya bakalan benar-benar pergi saat itu juga.


Dina yang kebetulan melintas dan melihat kamar yang biasa Adam tempati itu sedang terbuka, wanita itu memilih untuk mendekat dan memastikan apa saja yang dilakukan oleh anaknya itu.


"Kamu tidak kemana-mana hari ini? Bukannya kamu harus pergi mencari Amira, Soalnya kalau kamu duduk saja di dalam kamar itu maka bisa dipastikan istri kamu tidak akan pernah ditemukan? "tanya Dina kesal karena menurutnya tingkah adanya terlalu lelet itu pastinya bakalan membuat Amira lebih lama lagi untuk pulang ke rumah.


Adam hanya bisa menghembuskan nafasnya secara perlahan Karena sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdebat , meskipun perkataan Mamanya itu sedikit keterlaluan tetapi mau bagaimana lagi ini semua kesalahannya terletak pada dirinya.


"Aku sebenarnya mau pergi keluar saat ini juga, tetapi mama lihat kan di gerbang itu ada siapa yang sedang menunggu? Nanti kalau sampai aku keluar terus dia teriak-teriak dan tetangga mendengarnya, nama baik kita juga bakalan tercoreng dan juga tidak akan pernah bisa pulih kembali! "jelas Adam berharap agar wanita yang melahirkannya ke dunia itu paham.


"Itukan resiko yang harus kamu hadapi ketika melakukan semua tanpa memikirkan dampak yang bakalan terjadi, Jadi sekarang Jangan pernah kamu untuk lari daripada tanggung jawab lebih baik kamu keluar dan hadapi dia serta Bagaimana caranya agar dia segera pergi dari situ! "ujar Dina yang benar-benar sedang tidak main-main karena menurutnya Adam itu katanya sudah besar tetapi sebenarnya pemikirannya masih sepicik anak kecil.


Adam hanya bisa menghela nafasnya kasar ketika orang tuanya itu seolah-olah sangat memusuhinya, dan memang itu masuk akal karena ia tidak mungkin membantah jika Kenyataannya memang benar-benar terjadi.


"Aku bukannya tidak ingin mencari Amira ataupun membawa dia pulang kembali ke rumah, untuk sekarang sepertinya aku tidak bisa bergerak dulu soalnya kehadiran Fadil benar-benar sangat mengganggu!"Adam kali ini sudah sangat berbeda jika yang dulu selalu saja membantah apapun yang dikatakan oleh orang tuanya maka sekarang ia lebih memilih untuk merenungkan segala macam kesalahannya dan berharap agar bisa berubah menjadi jauh lebih baik lagi.


"Ya sudah terserah kamu saja mau cari sekarang atau besok atau tahun depan pun itu suka-suka kamu, Lagian Mama juga selama ini kan setiap kali ngomong tidak pernah kamu dengarkan Jadi sekarang untuk apa repot-repot memikirkannya?" setelah mengatakan hal itu Dina pun memilih pergi kembali ke dapur Terserah mau melakukan apapun yang penting Intinya bisa mengalihkan pemikirannya terhadap Aida.


Adam tahu jika saat ini mamanya itu benar-benar merasa kecewa kepadanya, namun Ia juga tidak bisa lari dari kenyataan saat ini dan memilih Hanya bisa pasrah saja dan menunggu kira-kira ada keajaiban tidak yang datang.


"Kamu menang Amira karena sudah berhasil membuat semua orang menjadi benci kepadaku, dan memang itu yang seharusnya terjadi selama ini karena aku sudah menyia-nyiakan kamu! Pulanglah aku mohon soalnya Tolong jangan pergi seperti ini tanpa memberikan kepastian tentang hubungan kita, Aku tahu aku salah tetapi bukannya setiap kesalahan itu masih bisa mendapatkan yang namanya Kesempatan Kedua?"gumam Adam dalam hati berharap agar Amira juga mendengarkan apa yang ia katakan saat ini.

__ADS_1


Padahal tanpa Adam sadari jika saat ini Amira Tengah ditraktir oleh Daniel makanan kesukaannya, walaupun Wanita itu sudah menolaknya berulang kali tetapi pria itu terlihat sangat antusias.


__ADS_2