Cinta Dan Air Mata

Cinta Dan Air Mata
Aida vs Franda


__ADS_3

Amira mau tidak mau harus memaksa suaminya itu agar ikut dengan Sakti pergi ke Singapura guna menemani pengobatan sang Mama di sana, sebab waktu persalinannya juga diperkirakan masih seminggu atau dua minggu lagi Jadi sepertinya kalau ada menemani Papa dan juga Mamanya di sana Ia di sini sendirian bersama dengan sang Ibu pun tidak ada masalah yang berarti.


sebab jika membiarkan Sakti sendirian rasa-rasanya mereka sebagai anak itu tidak berguna sama sekali, padahal jelas-jelas di saat orang tua sakit seperti ini harus ada anak-anak yang mendampingi mungkin dengan begitu mereka bakalan lebih merasa sedikit kuat karena ada anak yang selalu bersama dengan mereka.


Bukan karena ingin menjadi seseorang yang tidak bisa memberikan apapun, hanya saja tidak selamanya pemberian kita itu harus uang dan juga materi bisa dengan tenaga dan juga perhatian dan itu sepertinya sudah lebih dari cukup dan semua orang pasti bakalan menyukai hal tersebut.


Adam sebenarnya sedikit resah tetapi dirinya juga tidak tega harus membiarkan papa dan juga mamanya terbang ke negeri orang sendirian, Memang sih selama ini mereka selalu terbiasa pergi ke mana-mana berdua tetapi itu dalam keadaan sehat walafiat dan juga untuk mengurus bisnis bukan seperti saat ini yang satu Tengah sadar yang satu dalam keadaaan Koma.


Sakti memang merupakan seorang pria yang kuat yang tidak mungkin akan terlihat lemah Ketika istrinya saja sudah terbaring seperti itu, hanya saja terkadang karena terlalu fokus memikirkan kesehatan Dina sampai-sampai ia bisa melupakan kesehatannya sendiri padahal usia mereka bisa dibilang sudah tidak muda lagi.


"Aku baik-baik saja di sini Papa dan tidak mungkin akan nakal ke sana kemarin serta tempat pesona untuk sesuatu hal yang tidak perlu, kalau kalian semua pergi aku pasti bakalan di rumah terus bareng sama ibu dan tidak akan pernah kemana-mana kalau memang nanti saatnya mau melahirkan ya tinggal hubungi Mas Adam saja kan? "jelas Amira yang tidak tega kalau mertuanya itu selalu saja lebih mementingkan dirinya.


Sakti memang sedikit merasa terbantu kalau misalnya Adam akan ikut dengannya ke negeri orang, hanya saja dirinya sedikit waspada takutnya jangan sampai Dina sadar dan tahu kalau anaknya itu pergi meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti begitu karena pastinya wanita tersebut akan marah-marah seperti biasanya.


"papa itu bukan memikirkan yang lain Tetapi hanya mewaspadai sikap Mama kamu itu Yang pasti bakalan tidak terima kalau sampai ada meninggalkan kamu sendiri yang di sini, kalau memang keadaan kamu biasa saja Ya tidak masalah tetapi kamu ini juga dalam hitungan hari mau melahirkan loh? "jelas Sakti kenapa sampai dirinya keras kepala berharap agar Adam mau tinggal dan tidak usah pergi kemanapun serta Jangan bergerak sedikitpun untuk menjauh dari Amira.


Amira menghela nafasnya kasar karena Lagi dan lagi dirinyalah yang menjadi tolak ukur orang semua dalam bergerak dan menentukan pekerjaan mereka, Kalau sudah seperti begini terus lama-lama dirinya juga bakalan memaksakan kehendak untuk ikut dengan mereka mungkin dengan begitu tidak ada perdebatan lagi.


"Ya sudah kalau begitu lebih baik aku ikut kalian saja supaya tidak usah banyak berdebat lagi, soalnya kalau ngomong terus kapan Perginya kapan Mama berobatnya dan juga kapan sembuhnya? "omel Amira kesal membuat Sakti dan juga Adam hanya bisa Saling pandang lalu akhirnya lebih memilih untuk mengikuti kemauan Amira daripada harus wanita itu juga ikut pergi padahal orang kalau sudah hamil besar itu dilarang loh bepergian jauh.


"Astaga Sayang,masa iya kamu mau pergi jauh seperti itu? Apa kamu tidak memikirkan keadaan si Utun nantinya, kalau misalnya dia kenapa napa gimana dan juga kalau kamu drop atau apalah itu?" Tanya Adam jelas saja tidak terima ketika mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya tadi dan juga sepertinya tidak memikirkan soal keadaan dirinya dan juga anak di dalam kandungannya saat ini.

__ADS_1


Amira tersenyum mengejek soalnya dirinya juga tidak mungkin mengatakan semua itu kalau sampai kedua pria dewasa itu bergerak cepat, bukan malah berdebat di saat yang tidak tepat seperti ini dan juga sepertinya masalah yang tengah dihadapi Dina itu bukan terlalu serius untuk langsung diprioritaskan.


"Habisnya kalian berdua sih Terlalu lelet geraknya, tinggal ambil keputusan kemudian laksanakan Ya sudah bereskan? bukan malah pembahasannya meluber ke mana-mana dan alhasil barang yang sudah menjadi topik utama menjadi tergeserkan, sekarang pertanyaannya kalau misalnya terlambat Siapa yang mau tanggung jawab kalian berdua kan tidak mungkin soalnya kan hobinya seperti itu?"Amira Bukannya ingin menjadi seorang menantu yang kurang ajar kepada Ayah mertuanya hanya saja kalau memang salah ya harus diingatkan biar kesalahan itu jangan terulang lagi.


"Ya sudah kalau begitu kami berdua bakalan pergi tetapi kamu baik-baik saja di sini ya Dan kalau misalnya ada yang macam-macam tinggal lapor saja, usahakan juga jangan terlalu dekat dengan Rangga soalnya aku sangat membenci tatapan pria itu kepada kamu dan juga aku sangat tidak suka kalau kamu terlalu bergantung kepadanya seolah-olah dia itu merupakan suami kamu sedangkan aku ini hanya orang luar! "nah tuh kan belum jalan saja ultimatumnya sudah segede gaban apalagi kalau sudah jalan Entah berapa menit berapa detik pria itu memberi kabar dalam sehari.


Amira hanya menggelengkan kepalanya soalnya menurutnya apapun yang dikatakan oleh Adam itu terlalu berlebihan dan juga mengkhawatirkan hal yang tidak perlu, dirinya bukan anak kecil lagi yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan juga tidak untuknya Jadi kalau misalnya terlalu diingatkan lama-lama ya bisa khilaf loh.


kini mereka semua sudah pergi sudah tahu kan kalangan Sultan segala sesuatu tinggal ngomong doang langsung menjadi kenyataan, apapun yang direncanakan secara dadakan pun mau budgetnya memerlukan Berapa semuanya bisa terjadi hari itu juga tanpa harus menabung selama beberapa tahun lamanya.


ketika mereka semua sudah pergi ya Otomatis Amira juga memilih untuk pulang dengan diantar oleh Rangga, karena ultimatum dari majikannya Rangga kini memilih untuk memasang pembatas antara penumpang dan juga sopir supaya dirinya dan juga Amira tidak saling bicara Soalnya di dalam mobil itu sudah ada cctv-nya loh.


"Astaga Rangga, majikan kamu itu sedang tidak ada di sini bisa tidak jangan berbuat seolah-olah kita ini merupakan musuh bebuyutan? ya memang sebenarnya aslinya seperti itu kalau saya itu sedang kesal sama kamu soalnya kelakuan kamu dulu dulu itu masih terngiang dalam pikiran saya, kok bisa ada ya bawahan yang kurang ajar seperti kamu mau mengikuti saran dari majikannya pada sarannya itu hanya menjerumuskan kamu kepada hukuman yang tidak pernah selesai kan? "Amira ini sebenarnya bukan mengajak Rangga berbicara agar suasana tidak terlalu canggung kemudian tidak bosan tetapi malah seperti mengorek kembali kesalahan yang sudah pernah dilakukan oleh pria itu.


Amira malas mengajak asisten dari suaminya itu berdebat soalnya nantinya tetap bakalan membawa-bawa nama suaminya, padahal tujuannya Amira itu baik agar tidak ada yang namanya bosan ataupun merasa capek karena terus-terusan duduk.


"Ya sudah terserah kamu saja deh tidak usah ngomong sekalian sama kamu hidup pun aku tidak masalah, tetapi Awas ya kalau suatu saat ada yang ngajak bicara terus kamu merespon Aku pastikan bakalan melapor kepada suamiku yang bukan bukan biar kamu langsung diusir menjadi gembel di luaran sana! "ancam Amira dengan nadanya yang begitu mengintimidasi.


Rangga adalah kaum yang bisa dibilang teraniaya karena bisa menjawab apa yang dikatakan oleh Amira tetapi tidak dapat melakukannya, bukan karena takut Tetapi hanya mengarah kepada kelangsungan hidupnya ke depannya soalnya ia bergantung dengan segala macam pekerjaan yang diberikan oleh keluarga Adiguna Jadi kalau misalnya sampai kepercayaan mereka kepadanya sudah hilang ya tinggal pasrah saja menjalani hidup dengan penuh kesengsaraan.


Aida kini tengah menunggu putrinya untuk pulang soalnya tadi sebelum berangkat pulang ke rumah Aida sempat menelpon Amira untuk memastikan keberadaannya dan juga memastikan soal keadaan Dina saat ini, dan ketika tahu bahwa besannya itu bakalan dirujuk menuju ke rumah sakit yang lebih canggih lagi membuat dirinya hanya bisa mengusap dadanya secara perlahan karena inilah buah dari sikap Dina yang terlalu malas tahu selama ini akhirnya dirinya sendiri yang menanggung bukan orang lain.

__ADS_1


wanita paruh baya itu kini tengah menunggu anaknya di depan teras rumah berharap agar Amira cepat sampai lalu menyuruhnya untuk beristirahat, kondisi tubuh Amira saat ini sebenarnya tidak bisa diporsi terlalu berlebihan sebab ada nyawa yang harus ia tanggung kehidupannya.


Franda yang kebetulan lewat di situ dan melihat Aida yang tengah duduk di depan rumahnya membuat emosinya tiba-tiba memuncak ke permukaan, Bagaimana tidak emosi kini ia melihat Aida begitu menikmati kehidupannya Sedangkan dirinya dan juga bapaknya malah terlunta-lunta tidak jelas hidup di kos-kosan yang begitu sempit.


Franda tahu masuk ke dalam rumah orang yang bukan siapa-siapa itu adalah sesuatu perbuatan yang tidak sopan, baik kalau misalnya tuan rumah itu menerima kedatangannya dengan tangan terbuka Tetapi kalau mereka merasa risih dan juga tidak terima ya Otomatis jangan menyesal kalau ia diusir secara kasar.


"Wah ternyata hidup di dunia wakanda itu tak enak juga ya, mau apa-apa harus kerja dulu tidak seperti Nyonya besar yang tinggal tunjuk doang sesuatu langsung datang! Oh iya lupa kalau Nyonya besar seperti dia kan sebenarnya tinggal sebentar lagi akan langsung menghadap ke penciptanya, soalnya sudah kecium bau tanahnya dari sini Maklumlah sudah tua rentah ya bertahan hidupnya pasti hanya setahun dua tahun doang! "entah ada dendam Masa Lalu apa yang tengah dialami oleh Franda sampai-sampai harus mengusik ketenangan dari Aida.


kata-kata dari Franda itu sebenarnya tidak digubris sama sekali oleh Aida sebab menurutnya orang kalau ngomong terus ketika tidak direspon pasti bakalan capek dan berhenti, Tetapi semakin direspon jangan berharap dia bakalan berhenti ngomongnya yang ada di makalahnya rocos terus tidak jelas hanya karena ingin melihat kira-kira Batas kesabaran orang yang sedang ia ajak ribut itu sampai di mana.


Aida memilih untuk masuk ke dalam rumah mungkin dengan dirinya berada di dalam rumah Franda bakalan capek sendiri dan akan pergi tanpa ia suruh, Namun sepertinya pemikirannya itu tidak sesuai dengan kenyataan karena terbukti sekarang Franda sudah mencekal tangannya memberi isyarat agar wanita itu tidak boleh ke mana-mana melainkan harus berbicara dengannya Sekarang juga.


"Kenapa mau masuk ke dalam rumah? Tidak mampu menjawab apa yang saya katakan tadi atau memang itu sesuai dengan kenyataan, Bukankah memang yang saya bicarakan tadi itu adalah sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan oleh kamu? "tanya Franda sinis.


Franda sangat puas ketika lawan bicaranya itu tidak berkutik dan merasa diri menang, sebab dendam di dalam hatinya itu sudah berakar tidak akan pernah pergi begitu saja meskipun dengan Aida mengucapkan beribu kata maaf dari mulutnya.


"saya ada masalah apa ya dengan kamu? Oh iya terus saya punya pertanyaan kira-kira kamu masih ingat atau tidak Dan kalau tidak ingat lagi Oke saya bakalan mengulanginya, Kenapa kamu balik lagi ke rumah ini padahal kamu tahu kan kalau dari awal saya sudah mengusir kamu agar jangan coba-coba lagi kembali di sini? "tanya Aida penuh penekanan.


Franda mencebikan bibirnya soalnya ia tidak terima ketika ada orang yang sudah mengusik harga dirinya seperti itu, dirinya sangat ingat dengan jelas bahkan Masih Membekas sampai sekarang bagaimana Aida ketika mengusir dirinya dan juga Fadil agar segera angkat kaki dari rumah itu.


"kamu menghina saya? mentang-mentang karena ini merupakan rumah kamu jadi kamu bisa berlaku sesuka hati kamu, Eh asal kamu tahu saja ya orang seperti kamu itu sebenarnya sudah tidak layak Loh tinggal di rumah seperti ini! soalnya kesannya seperti seorang wanita yang tidak baik-baik saja, masa iya hobinya hanya di rumah saja tapi punya rumah itu segede ini pasti orang lain bakalan berpikir kalau kamu itu sebenarnya....

__ADS_1


"Emangnya kamu pikir saya seperti kamu, ingat ya dulu kamu datang ke sini itu masih bau kencur kemudian tidak ada yang merawat serta beler di mana-mana tetapi saya loh yang sudah membuat kamu secantik ini! "Aida bukanlah tipe orang yang ingin mengukur apapun yang ia berikan supaya maksudnya orang tersebut bisa sadar hanya saja manusia seperti Franda itu harus diingatkan biar bisa dibilang tahu berterima kasih dan juga tidak terlalu tinggi hati.


__ADS_2