CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~10


__ADS_3

Kok doa dan harapan gue cepat banget ya dikabulin? Perasaan dulu waktu gue minta buat segera lupain Zio eh lama banget bahkan sampai sekarang belum dikabulkan juga. Aneh!


Bukannya menjawab pertanyaan Juan, Mentari malah melamun dan sialnya malah memikirkan sang mantan. Juan sendiri mengernyit karena gadis yang akhirnya ia tahu aslinya cukup bar-bar dan meledak-ledak ini mendadak diam setelah ia menanyakan perihal pacar.


Juan mendadak jadi tidak enak hati, mungkin Mentari sudah memiliki pacar atau baru saja putus cinta atau sedang dalam masalah percintaan.


"Sorry, gue nggak maksud buat nanya kayak gitu," ucap Juan yang membuat Mentari berhenti melamun.


"Eh, nggak apa-apa kok. Gue kali yang minta maaf karena nggak langsung jawab pertanyaan lu. Gue cuma keingat sama mantan gue kalau lu bahas soal pacar. Gue udah lama nggak pacaran karena trauma disakiti. Gue memilih menjomblo asal gue nggak sakit hati aja," jawab Mentari dengan pandai beralibi.


Ingat Mentari jadilah perempuan mahal. Jangan asal iya iya aja. Nanti kesannya lu ngarep banget padahal emang. Jual mahal biar dia penasaran.


Mentari terus mendoktrin dirinya dalam hati, ia memang sudah bertekad agar kelak yang akan menjadi pendampingnya adalah orang yang pantas untuk diberikan raga dan hatinya. Biar mantan tahu dan lihat kalau ia bisa mendapatkan yang jauh lebih baik. Tidak perlu kaya karena sang mantan jauh lebih kaya, cukup pria yang mencintainya tapi bukan pria melarat juga. Biar ia bisa membuktikan bahwa mantannya salah karena pernah membuatnya patah hati.


"Oh sorry, gue nggak tahu. Lu jadi keingat lagi deh," ucap Juan merasa tak enak hati saat melihat wajah Mentari yang tadi terlihat sendu.


Mentari berusaha terlihat tersenyum padahal aslinya ia sedang berakting. Demi misinya untuk mendapatkan pria idaman. "Santai aja, semua juga sudah berlalu dan sekarang gue udah mulai menata hati dan perasaan gue. Semoga kelak gue nggak salah lagi mendaratkan pilihan," jawab Mentari sok bijak dan sok elegan.


Juan menganggukkan kepalanya, ia mengamini ucapan Mentari barusan. Ia mengurungkan niatnya untuk brtanya lagi, takut salah bertanya dan membuat Mentari marah atau sedih.


Mobil Juan berhenti di parkiran kantor, ia yang tadinya ingin mengantar Mentari pulang tetapi justru ditolak mentah-mentah walaupun dengan cara yang elegan oleh Mentari. Akhirnya mereka berada di kantor lagi dengan Mentari yang langsung turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih karena Juan sudah mengantarnya.


Mentari pun dengan sedikit terburu-buru mengemudikan motornya karena hari sudah semakin sore dan ia sudah lelah. Lelah hati dan fisik tentu saja. Walau ada Juan sang calon belahan jiwa, ia tetap saja belum bisa kontan melupakan Zio dan Bella yang tadi berciuman.


Mentari mengeluh pada dirinya sendiri, oh lebih tepatnya pada kemacetan yang harus menjebaknya di jalan dalam waktu yang cukup lama. Samar-samar ia mendengar suara orang-orang berteriak dan mengatakan bahwa ada kecelakaan karena itulah jalanan semakin macet.


Mentari yang membawa motor bisa lewat sedikit-sedikit dengan celah yang ada. Ia sampai di depan dimana ada pria yang baru saja kecelakaan setelah mengendarai motornya. Ia juga duduk di pinggir jalan dengan tangan dan kakinya berdarah. Bisa Mentari lihat ada sebuah motor yang tergeletak di jalan dengan keadaan mengenaskan dan untung saja pengendara motor tersebut tidak separah motornya.


Mentari kembali fokus ke jalanan hingga ia terkejut karena mendadak seseorang naik di atas motornya.


"Eh ... lu kenapa naik di motor gue?" pekik Mentari yang terkejut saat tahu pria yang tadi kecelakaan itu sudah naik di atas motornya.

__ADS_1


"Tolongin gue, antar ke apotek atau rumah sakit. Eh klinik deh kalau nggak keberatan. Luka gue sepertinya perlu diobati," ucap pria tersebut sambil nyengir ke arah Mentari.


"Ya keberatan nggak keberatan lu udah naik nih di motor gue. Kalau gue suruh lu turun bisa-bisa dalam hitungan detik gue bakalan viral dengan hastag seorang gadis pengendara motor menurunkan pria yang kecelakaan dan tidak punya hati karena tidak mau berempati," ucap Mentari sedikit kesal namun pria tersebut justru tertawa.


"Kok lu lucu sih. Nama lu siapa sih?" tanya pria itu.


"Nggak punya nama!" jawab Mentari kemudian ia melajukan motornya saat lampu lalu lintas sudah berganti warna menjadi hijau.


Sepanjang perjalanan Mentari terus saja mengumpat. Ia sudah lelah sedari tadi dan juga sedang kesal pada Zio dan kini di belakangnya ada pria tengil dan menyebalkan yang sedari tadi tidak berhenti mengoceh. Mentari sampai menyalahkan klinik dan rumah sakit karena tidak berada di dekatnya sekarang.


Rasa lega Mentari tak terkira begitu ia sampai di depan klinik. Dengan cepat ia mengajak pria itu masuk ke klinik dengan bantuan sedikit memapah karena pria itu beralasan kakinya sakit.


Dia ini memang tampan tapi gue nggak suka sama cowok tengil kayak dia, mana berisik lagi. Tobat gue sama Zio dulu yang sebelas dua belas kayak dia. Lagian dia juga cuma nemu di jalan, nggak bakalan bertemu lagi dan nggak mungkin jadi jodoh juga, 'kan?


Mentari mengantar pria itu ke dalam ruangan dan ia langsung bergegas pergi. Namun pria itu menahannya dengan membuat sedikit drama hingga Mentari benar-benar ingin membunuh pria ini yang sudah menambah daftar kekesalannya hari ini.


"Dok, tolong bilangin sama pacar saya untuk jangan pergi dan jangan marah lagi. Saya bahkan kecelakaan karena ngebut di jalan untuk ngejar dia, biar dia nggak salah paham sama saya, dok. Bantuin dong," ucapnya kepada dokter yang sedang mengobati lukanya.


Halloo ... gue kenal lu aja enggak! Sialan, kenapa gue bisa bertemu orang gila seperti dia. Bikin kesal aja. Duh ... kalau udah kayak gini gue mendadak pingin makan orang, sumpah!


Sedangkan pria itu dan dokter hanya tersenyum melihat wajah kesal Mentari. Hingga pria itu selesai diobati dan Mentari membantunya keluar, gadis itu sama sekali tidak mengucapkan apapun. Ia kesal dan ingin makan orang. Tapi sayang Mentari tidak senekat itu juga. Ia bukan kanibal.


"By the way thanks, ya. Gue Oliver," ucapnya mengulurkan tangan saat Mentari sudah siap baik di motornya.


Mentari menatap datar pria itu kemudian ia langsung memakai helmnya. Tidak perlu menggubris dan semoga tidak akan bertemu lagi, pikir Mentari.


Oliver menarik tangannya sambil cengengesan. "Sorry. Jangan marah dong, ntar cantiknya hilang," goda Oliver namun Mentari justru tetap datar.


Memilih abai dan hendak menarik gas motornya tetapi sayang sekali Oliver justru menahannya. "Seenggaknya nama lu siapa. Gue baru datang ke kota ini lagi setelah sekian tahun dan gue kecelakaan bersama motor yang baru gue beli. Untung ada lu sang penyelamat. Seenggaknya gue tahu nama lu," ucapnya memelas.


Kok gue bukannya iba tapi malah ingin muntah.

__ADS_1


"Rama!" jawab Mentari.


Tentu saja Oliver mengernyit. Ia merasa gadis di depannya ini sedang mengerjainya.


"Ramadhani, panggil aja Rama. Gue harus pulang dan gue rasa lu bisa pulang sendiri. Sekian dan terima kasih, semoga kita nggak bertemu lagi. Bye!"


Oliver memandang lurus kedepan melihat sosok Mentari yang sudah pergi. Pesona ketampanannya yang mengambil garis wajah eropa tidak mempan di hadapan sang penyelamat.


"Tapi sayang gue beroda semoga kita bisa bertemu lagi Rama," gumam Oliver sambil tersenyum tipis.


Oliver segera mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang sedangkan yang ia hubungi sedang asyik bercinta.


"Sial! Siapa sih ini, ganggu banget!"


"Angkat aja sayang, mungkin penting," ucap sang wanita.


Sang pria menyeringai, "Tapi lu yang mimpin," ucapnya kemudian ia melihat ponselnya dan tertera nama pemanggil yang membuatnya terbelalak. Ia segera meminta wanitanya untuk berhenti walaupun ia sedang menikmati.


"Bro, tumben lu nelepon gue. Ada apa?"


Oliver mendengus, suara terengah-engah sepupunya ini tidak bisa berbohong jika ia sedang melakukan hobi gilanya.


"Bro, gue udah di Jakarta dan gue kecelakaan. Bisa lu tolong jemput gue di klinik. Nanti gue kirim lokasinya," ucap Oliver.


Sang sepupu memekik, "Lu baru pulang udah kecelakaan. Ya mungkin itu karena lu disuruh cium tanah air yang sudah cukup lama lu tinggalin. Salam pertemuan," kekehnya.


Yang ditertawakan hanya mengumpat pelan kemudian ia tersenyum, "Nggak masalah karena gue bertemu bidadari di jalan," jawabnya sambil membayangkan wajah kesal Mentari.


Sang sepupu justru malah meledeknya hingga Oliver kesal karena suara ******* dari seberang telepon begitu menjijikan walaupun ia salah satu penikmat suara seperti itu.


"Dimas Ezio Rasyid, lu jemput gue sekarang!" pekik Oliver, ia sudah tidak tahan dengan sikap sepupunya yang justru melanjutkan percintaannya dan sialnya saat mereka masih tersambung di telepon.

__ADS_1


Zio berdecak, "Oke, oke, santai bro."


__ADS_2