CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~24


__ADS_3

Mentari dan Maya menatap Rama yang sedang di dorong di atas brankar menuju ke ruang operasi. Keduanya menangis bersama melihat bagaimana parahnya luka-luka yang ada di tubuh Rama. Mereka saling berpelukan dan ikut mengantar hingga ke depan pintu ruang operasi.


"Dokter Fardan belum datang. Mungkin sebentar lagi akan sampai karena tadi beliau baru saja dipanggil untuk melakukan operasi di rumah sakit lain," ucap salah satu perawat yang bertugas untuk membantu dokter di ruang bedah.


Mentari meminta mamanya untuk duduk di kursi tunggu dan mencoba menenangkan diri. Mereka harus berdoa dan memasrahkan semua pada sang Pencipta.


Mentari menerima telepon dari Juan dan mengatakan alasannya mengapa tadi mengacuhkan Juan. Ia juga menyebutkan alamat rumah sakit dimana papanya dirawat. Ia masih berdiri dan bersandar di dinding. Beban pikirannya kini semakin banyak saja.


Memikirkan utang pada Banyu, gajinya yang dipotong dan kini kondisi papanya yang entah bagaimana nanti kedepannya.


"Mentari?"


Suara yang amat dikenali Mentari itu membuat ia menoleh pada pria yang terlihat terengah-engah menghampirinya. Balutan jas profesinya membuat Mentari sedikit pangling tetapi ia terburu sadar bahwa pria ini adalah dokter yang akan menangani papanya.


"Fardan," sapa Mentari sedikit malu-malu.


"Kamu disini Mentari? Apakah pasien yang akan segera di operasi itu adalah papa kami?" tanya Fardan dan Mentari mengangguk lemah.


"Kalau begitu kamu beroda ya, aku harus segera masuk dan doakan agar aku bisa menyelamatkan papa kamu. Aku masuk dulu ya, kamu yang sabar dan kuat."


Skin ship yang dilakukan Fardan pada Mentari dengan mengusap puncak kepalanya membuat pipi Mentari seketika bersemu merah.


Fardan tersenyum lembut lalu ia buru-buru masuk ke dalam ruang operasi.


Tak berselang lama setelah Fardan masuk, Juan datang menghampiri Mentari. Ia menanyakan bagaimana proses operasi tersebut dan Mentari hanya mengatakan jika operasinya sedang berlangsung.


Juan melirik wanita yang sedang duduk tak jauh dari mereka. Lewat tatapan matanya ia bertanya pada Mentari.


"Dia nyokap gue," ucap Mentari memperkenalkan. "Yuk duduk, jangan cuma berdiri aja," ajak Mentari dan Juan pun ikut duduk di sebelah Maya.


Maya menatap pada pemuda yang duduk di sebelahnya dan ia tersenyum hangat. Ia kemudian melirik Mentari dan Juan yang sadar dengan lirikan Maya langsung memperkenalkan diri.


"Saya Juan, Tante. Saya teman kerja Mentari. Tadi saya melihat Mentari pulang terburu-buru sehingga saya menyuslnya ke sini," ucap Juan dengan ramah dan Maya lansung menyukai cara pria ini berkomunikasi.


"Saya Maya, panggil saja Tante May. Saya mamanya Mentari. Kamu teman atau pacarnya Mentari?" tambak Maya dan itu membuat Juan salah tingkah sedangkan Mentari justru merasa kesal karena mamanya berkata demikian.


"Ma! Jangan gitu dong Ma, malu sama Juan. Lagian mama tuh nggak usah nanya ini itu dulu, ingat papa lagi di dalam sedang berjuang hidup dan mati. Mama tuh harusnya berdoa, bukan larak-lirik cowok tampan kayak gini. Sadar Ma, nyebut Ma."


"Dih sewot!"


Sesaat kemudian wajah Maya berubah sendu lagi. Ia hanya mencari hiburan saja tadi dengan menggoda Mentari dan Juan. Sejujurnya hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja menantikan belahan jiwanya sedang berjuang di dalam ruang operasi.


"Juan lu jangan masukin ke hati ya omongan nyokap gue, dia emang gitu orangnya, suka blak-blakan," ucap Mentari tidak enak hati.

__ADS_1


Dia bukan pacar aku sih Ma, tapi akan jadi pacar, lanjut Mentari dalam hati.


"Kayak lu ya," ledek Juan yang membuat pipi Mentari bersemu merah.


Sedangkan dari ujung koridor, Zio mengepalkan tangannya. Ia tidak suka melihat Mentari begitu dekat dengan Juan. Hatinya terasa panas dan ia tidak akan membiarkan Mentari dan Juan dekat lebih lama.


Dengan langkah besar Zio mendekati mereka. "Lho, Mentari? Lu ngapain disini? Siapa yang sakit?"


Zio terlihat begitu handal memainkan perannya yang berpura-pura tidak tahu tentang Mentari padahal ia memang datang untuk sang mantan.


Mentari dan Juan tentu sangat terkejut melihat kedatangan bos mereka ini. Zio yang tadi meminta Mentari untuk bersikap selayaknya atasan dan bawahan kini sudah berdiri di hadapannya. Mentari ingin kesal karena ia tahu kehadiran Zio pasti akan selalu membuatnya kesal namun melihat situasinya Mentari mengurungkan niatnya.


"Papa saya masuk rumah sakit Pak, itu sebabnya saya berada disini," jawab Mentari.


Dia minta gue mulai sekarang menganggap dia sebagai bos gue, gue harus ikuti keinginannya. Mungkin dia sudah nggak mau gue merasa dekat dan pernah punya hubungan spesial sama dia.


Zio sedikit tersentak dengan ucapan formal Mentari padahal saat ini mereka berada di luar kantor. Namun beberapa saat kemudian ia teringat jika dirinya lah yang meminta Mentari untuk bersikap formal padanya. Mendadak Zio merutuki ucapannya tadi.


Kenapa gue jadi merasa canggung gini sama Tari? Gue mendadak kangen sama pertengkaran nyeleneh kami dan entah mengapa gue pingin meluk dia. Kenapa dia kelihatan sangat rapuh dan bermasalah sekali sih?


"Oh ya? Semoga beliau lekas sembuh." Dari sekian banyaknya kata yang tadi sudah Zio persiapkan untuk memberi ucapan penyemangat Mentari, Zio hanya bisa berkata demikian. Mendadak ia kehilangan kata-katanya.


"Aamiin. Terima kasih Pak," sahut Mentari.


Oke gue ngaku kalau gue cemburu! Tapi apakah rasa cemburu itu karena gue masih cinta sama Mentari? Mustahil!


"Mentari, boleh saya menyapa Tante Maya?" tanya Zio yang mendapat ide untuk mengobrol dengan calon mamah mertua gagal, ia yakin dengan mendekati Maya maka ia akan memiliki kesempatan untuk berlama-lama di rumah sakit.


Mentari melirik mamanya yang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya, ia kemudian menatap Zio dan menganggukkan kepalanya.


Zio tersenyum tipis, ia kemudian mendekati Maya dan membuat wanita paruh baya itu tersentak. Ia memindai wajah Zio dan merasa familiar.


"Halo Tante, apakah masih ingat saya? Saya Zio, mantan kekasih Mentari," ucap Zio dengan menekankan kata mantan kekasih dengan tujuan agar Juan mendengarnya.


Maya menatap lekat wajah Zio kemudian ia tersenyum, "Oh Nak Zio, iya Tante masih ingat. Apa kabar kamu sekarang Nak? Makin tampan saja," ucap Maya, sebenarnya ia hanya sedikit antusias mengajak Zio berbicara, hatinya merasa tidak tenang karena Rama masih berada di ruang operasi.


"Wah, syukurlah kalau Tante masih ingat saya. Kabar saya baik dan kebetulan Mentari adalah sekretaris saya di kantor. Dunia ini memang sangat sempit ya Tan," ujar Zio, ia harus pandai mencari topik pembicaraan agar terus tersambung dan akan menahannya agar lebih lama berada di rumah sakit.


"Oh ya?" Maya terkejut, Mentari tidak pernah menceritakannya dan ia mengira jika Mentari masih bekerja di kantor pak Santoso karena selama ini Mentari juga tidak pernah bercerita.


Zio mengangguk, kemudian keduanya terlibat percakapan kecil yang membuat Zio merasa menang karena ia bisa berlama-lama di dekat Mentari.


Juan yang melihat Zio terus saja mencari topik pembicaraan merasa sedikit iri. Ia sama sekali tidak mendapat kesempatan seperti itu sedangkan Zio yang baru saja datang sudah merebut posisinya.

__ADS_1


"Ma, mama mau aku beliin makanan atau minuman?" tanya Mentari.


Maya menatap Mentari, "Tolong beliin mama minuman saja Tari," jawabnya.


Mentari mengangguk, ia kemudian mengajak Juan untuk pergi ke kantin dan itu membuat Zio beranjak dari tempat duduknya tetapi melihat Maya yang menatap heran padanya terpaksa mengurungkan niat Zio untuk menyusul mereka.


Biar dulu deh, mending sekarang gue deketin nyokap nya. Nanti juga mereka balik lagi.


.


.


"Maaf Tante, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi kami tidak bisa menyelamatkan Om Rama. Beliau sudah meninggal."


Brukk ...


Kantung plastik yang berada di tangan Mentari terjatuh begitu ia mendengar Fardan mengatakan bahwa papanya meninggal.


Mentari menggeleng keras sedangkan Maya sudah luruh di lantai karena mendengar berita tersebut. Ia menangis--meraung tidak terima dengan kenyataan yang baru saja terjadi.


Di belakang Mentari, Juan berusaha untuk menggapainya tetapi Mentari sudah berjalan lebih dulu. Di depannya ada Zio yang siap menjadi sandaran tetapi Mentari juga melewatinya.


Kini Mentari berada di depan dokter Fardan.


"Bilang sama aku kalau itu nggak benar Fardan!" ujar Mentari dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Ia menarik jas dokter Fardan meminta agar dokter tampan itu mengatakan bahwa papanya tidak meninggal.


Fardan kemudian membawa Mentari ke dalam dekapannya. Hal itu disaksikan oleh Juan yang kaget dengan dokter yang bisa memeluk Mentari begitupun dengan Zio yang kaget sekaligus geram karena Mentari berada di pelukannya.


Gue tahu lu sedih Tari, tapi bisa nggak lu lihat disini ada gue. Lu kalau mau peluk ya peluk gue aja. Ini juga si dokter kenapa pakai meluk Mentari segala sih?


"Tari, jangan gini Tari. Kamu harus menguatkan dirimu dan mamamu. Aku minta maaf karena tidak bisa menyelamatkan papamu. Aku minta maaf Tari. Kamu harus sabar dan kuat, aku akan selalu mendampingimu," ucap Fardan berusaha untuk membuatkan Mentari.


Mentari memiliki erat tubuh Fardan dan menangis di dadanya. Zio sendiri walaupun dalam benaknya terus bertanya-tanya tentang pria ini, ia mengambil inisiatif untuk membantu Maya berdiri.


"Fardan, papa aku nggak boleh meninggal. Dia belum aku bahagiain. Aku belum nikah dan dia belum gendong cucunya. Huhuu ...."


Fardan semakin mempererat pelukannya pada Mentari, ia berusaha menyalurkan kekuatan pada Mentari, ia tahu ini tidak akan mudah untuk Mentari dan Maya. Tak lama kemudian Mentari melepas pelukannya kemudian ia segera menuju ke arah mamanya dan keduanya berpelukan sambil menangis.


"Tari, papa kamu kenapa tega ninggalin mama? Mama belum siap hidup tanpa dia. Minta dia bangun Mentari, ini tidak lucu. Dia pasti lagi prank mama. Fardan, kamu lagi ngerjain Tante, ya? Ayo ngaku kamu. Kalau kamu nggak ngaku, Tante nggak bakalan restuin kamu balikan sama Tari. Ayo Fardan panggil Om keluar, dia pasti di dalam sedang menertawakan kami. Cepat suruh dia keluar Fardan!"


"Tante maaf tapi--"


Bruuukkk ....

__ADS_1


Maya pun ambruk di lantai karena kehilangan kesadarannya.


__ADS_2