
Zio memalingkan wajahnya, ia harus kuat dan menguatkan Mentari. Ia sadar benar cinta mereka dan hubungan percintaan mereka sedang tidak baik-baik saja. Mentari dengan harga dirinya dan keluarganya yang sudah merendahkannya. Zio bisa saja melawan keluarganya akan tetapi Mentari justru tidak menginginkan hal tersebut. Zio tahu jika Mentari hanya ingin yang terbaik untuk mereka berdua, tetapi mengapa sampai mengambil keputusan seperti ini?
"Zio, aku sayang sama kau," lirih Mentari dalam pelukan hangat sang kekasih.
"Kalau kamu sayang sama aku, terus kenapa kamu membuat keputusan tanpa membicarakan denganku lebih dulu? Semua bisa kita selesaikan bersama, Tari. Kamu nggak percaya sama cinta aku ke kamu?" tanya Zio, bahkan keduanya tanpa sadar sudah berbicara dengan sangat lembut dan lirih bahkan sudah tidak menggunakan panggilan lu-gue lagi.
Mentari tidak menjawab, ia hanya memeluk erat tubuh Zio dan menghirup aroma menenangkan dari tubuh tersebut. Sosok yang nantinya akan sangat ia rindukan karena mulai hari Senin Mentari sudah tidak lagi bekerja bersama Zio dan itu artinya mereka sudah tidak akan bertemu lagi kecuali di hari libur atau Zio mendadak datang ke rumahnya.
Zio hanya membiarkan Mentari menumpahkan tangisnya. Ia sendiri sadar jika semua ini tidak akan mudah dan bahkan akan sangat sulit tapi bukan berarti mustahil. Bagi Zio, semua ada jalannya dan jika Tuhan sudah berkehendak maka semua akan terjadi.
Ya Tuhan, bekerja samalah denganku.
Zio berdoa dalam hati, meminta agar hubungan mereka direstui oleh Yang Maha Kuasa.
"Zio, maafin aku. Aku bukannya nggak mau ngomong. Tapi ... mengucapkan selamat tinggal itu jauh lebih menyakitkan daripada saat merencanakannya. Aku nggak sanggup ngomong ke kamu dan aku yakin jika aku ngomong lebih dulu pasti kamu bakalan cegah aku. Tolong hargai keputusan aku ini ya, ini demi kita," ucap Mentari setelah ia melepaskan pelukannya dan menatap Zio yang enggan menatapnya.
Tak ada sahutan dari Zio, ia memilih memalingkan wajahnya sebab ia sendiri tidak ingin terlihat lemah. Hati Zio sangat hancur mengetahui fakta bahwa Mentari sudah merencanakan akan pergi darinya dan bahkan sudah ia realisasikan dengan dirinya yang sudah bukan lagi karyawan di perusahaan miliknya.
Mentari memalingkan wajahnya, ia juga turut hancur saat melihat Zio yang enggan menatapnya. Ia menangis tanpa suara, menyesali keputusannya mengatakan yang sebenarnya pada Zio. Padahal mungkin akan jauh lebih baik jika Zio mengetahuinya nanti saja di hari Senin.
Semua ini karena Dini. Wanita nggak tahu diri itu udah bikin gue sama Mentari jadi seperti ini. Bersiap aja, lu bakalan dapat balasan dari gue!
Zio sangat mendendam pada Dini, namun ia juga menyalahkan keluarganya yang sudah keterlaluan pada Mentari. Kedua orang tuanya yang Zio pikir akan mendukung justru melakukan hal yang sama bahkan lebih buruk lagi dari perlakuan kakek Rasyid pada Mentari.
"Sayang, semuanya salah paham. Dini yang sudah merencanakan ini semua. Aku juga yang salah karena memberikan mobilku padanya. Aku tidak memperhitungkan rencana Dini akan membawa keluargaku ke apartemen. Aku juga salah kenapa aku bawa kamu ke apartemenku, seharusnya kita ke penginapan murah saja," ucap Zio yang kini sudah berani menatap Mentari yang masih memalingkan wajahnya.
Wajah sedih Mentari mendadak berubah menjadi kesal mendengar ucapan Zio barusan. Ia langsung menatap dingin alea Zio yang kini merasa heran mengapa mendadak Mentari menatapnya seperti itu.
"Maksud kamu apa?" tanya Mentari dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Hah?" Zio memasang wajah penuh tanya dan sialnya itu terlihat sangat polos di mata Mentari.
Mentari langsung mencubit pipi Zio karena gemas dengan ekspresi sok polos Zio padahal memang sebenarnya Zio tidak paham dengan maksud Mentari dan ia tidak merasa ada yang salah dengan ucapannya kecuali ....
"Hahaha ... aku salah ngomong ya sayang? Hahaha, jangan salah paham ih," ucap Zio diselingi tawa.
Mentari mengerucutkan bibirnya dan tanpa membuang kesempatan Zio pun langsung menempelkan bibirnya secepat kilat hingga mata Mentari melotot sempurna.
"Zioo!!" pekik Mentari dan Zio langsung memecahkan tawanya. Satu tangannya ia rangkulan di leher Mentari dan dengan perlahan ia menarik tengkuk Mentari hingga kepala Mentari merapat di dada bidangnya lalu ia kecup mesra puncak kepala Mentari.
"Ya aku tadi nggak ada maksud apa-apa ngomong kayak gitu. Maksud aku tuh, biar mereka nggak bakalan tahu kita dimana. Mana mungkin seorang Zio datang ke penginapan murah, mereka pasti nggak bakalan kepikiran kesana. Paling kalau nggak ketemu di apartemen pastinya mereka bakalan nyari ke hotel," tutur Zio yang semakin membuat Mentari kesal namun berada dalam dekapan Zio juga membuatnya merasa senang dan nyaman.
Bodoh amat sama restu deh, hari ini gue mau puas-puasin meluk Zio. Dia pacar gue, kekasih gue, jadi gue bebas meluk dia sesuka hati gue.
Suasana penuh derai air mata tadi kini justru berubah menjadi begitu ceria dan keduanya bahkan sudah saling melempar candaan seolah tadi mereka tidak sedang berada dalam zona cinta tak direstui.
Keduanya seolah sangat tahu caranya untuk menemukan kebahagiaan bersama dengan cara yang sederhana. Semakin diterpa badai justru semakin membuat hubungan mereka semakin kuat. Mungkin karena keduanya memiliki cinta yang sama besarnya dan ingin berjuang bersama.
Mentari memasang pose seolah sedang mempertimbangkan keinginan Zio padahal sedari tadi ia sudah punya jawabannya. Ia tentu saja tidak akan membatalkan rencana mereka sebab ia ingin menghabiskan waktu bersama Zio dan juga ia ingin menunjukkan pada Zio jika ia akan tetap memperjuangkan hubungan mereka dengan caranya sendiri.
Mentari akan berusaha meyakinkan Zio jika jalan yang ia ambil ini adalah jalan yang terbaik dan bisa membantu menyelamatkan hubungan mereka.
"Haih ... kenapa mikir aja lama banget?" gerutu Zio dan Mentari pun tertawa.
Tangan Mentari terulur kemudian ia mengacak-acak rambut Zio gemas. "Iya, jadi. Tapi aku nggak mau kita ke penginapan atau ke hotel ya. Nggak mau! Jangan ada ide gila kayak gitu," ucap Mentari mengenaskan dan Zio kembali memecahkan tawanya.
Zio, lu emang tampan banget. Apalagi kalau lagi tertawa dan mode kulkas. Lu emang tampan. Gue cinta banget sama lu. Ah, andai lu itu bukan anak orang kaya.
"Pulang yuk, udah mau malam juga," ajak Mentari dan Zio pun menurut saja.
__ADS_1
.
.
Langkah Zio yang sedang bersiul-siul masuk ke dalam rumah langsung terhenti saat menemukan di ruang tamu ada seluruh keluarganya. Sepertinya mereka sudah menantikan kedatangan Zio sejak tadi. Ia bisa melihat wajah mereka penuh dengan ketegangan.
Tanpa diminta Zio pun ikut duduk karena melihat tatapan maminya yang seolah menyuruhnya untuk bergabung.
"Darimana kamu?" tanya kakek Rasyid membuka pembicaraan.
Zio mengangkat sebelah alisnya, ia kemudian tersenyum kecil. "Kencan," jawab Zio enteng.
Wajah kakek yang tadinya tegang pun semakin terlihat mengetat, ia terlihat sangat marah dan tatapannya seolah menghunus Zio.
"Zio, sekali lagi kakek tegaskan sama kamu kalau Dini itu calon istrimu. Jangan membantah kakek karena ini sudah keputusan final. Silahkan tinggalkan semua ini jika kau masih memilih wanita itu!" ancam kakek Rasyid yang ia yakini Zio tidak akan mungkin melakukannya.
Zio kaget dan wajahnya yang tadi berbinar-binar kini berubah menjadi datar seperti tembok. Ia menatap seluruh anggota keluarga di ruangan tersebut. Kedua orang tuanya memalingkan wajah mereka sedangkan Juan mengangguk mantap pada sang kakak seolah ia menjadi pendukung garis keras. Padahal jika diingat-ingat lagi mereka tidak sedekat itu dan Juan juga pernah punya perasaan yang sama terhadap Mentari.
Zio tertawa sumbang, ia tersenyum miris pada kakeknya yang begitu membela wanita ular seperti Dini dan bahkan mengancam cucunya sendiri.
"Entah sihir apa yang sudah wanita itu berikan pada kakek," sindir Zio.
"Dimas Ezio Rasyid! Dia itu wanita baik-baik dan keluarganya juga kakek mengenal dengan baik. Jaga bicaramu, persis kamu tidak punya keburukan sama sekali!" hardik kakek Rasyid.
"Justru karena Zio sadar jika punya banyak kekurangan dan keburukan makanya Zio milih gadis baik-baik untuk dijadikan pendamping," sanggah Zio.
"Jangan membantah kakekmu Zio. Apa susahnya menerima perjodohan ini. Kau tidak dirugikan bahkan kau akan mendapatkan keuntungan," timpal Danu.
Entah mengapa papinya yang pro pada hubungannya dan Mentari mendadak menjadi pendukung Dini juga. Zio pun menatap maminya yang masih enggan menatapnya.
__ADS_1
Zio berdiri, ia menatap satu per satu anggota keluarganya sambil tersenyum ironi. Ia lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompetnya.
"Ini-" Zio meletakkan dompetnya di atas meja - "Ambil ini semua. Lebih baik aku jadi gelandangan daripada harus mengorbankan seumur hidup menikah dengan wanita yang tidak aku inginkan! Silahkan ambil saja. Dan ternyata kakek itu bukanlah kakekku karena lebih memilih membawa cucu orang lain dan mengusir cucunya sendiri!"