CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~86


__ADS_3

Dini dengan cepat berlari untuk memeluk Zio tetapi yang terjadi Zio justru menghindar dan akhirnya Dini jatuh terjerembap di lantai. Mata Zio membulat sempurna sedangkan bibirnya terbungkam. Bukan, bukan karena ia terkejut melainkan karena sedang berusaha menahan tawanya. Dengan cepat dia berbalik dan tertawa tanpa suara.


Hal tersebut membuat Dini mendengus kesal karena ia melihat punggung Zio bergerak naik-turun, jelas sekali jika sekarang Zio tengah menertawakan dirinya.


"Apakah kau tidak berniat membantuku?!" teriak Dini, saat ini ia berusaha untuk berdiri tetapi yang ada justru ia merasakan sakit di kakinya hingga ia kesulitan untuk berdiri. Akan tetapi hal tersebut tidak sungguh-sungguh membuat kakinya keseleo karena ia hanya ingin beralasan agar Zio mau memapahnya.


"Apakah gue yang membuat lu terjatuh, 'kan bukan?! Lagi pula nggak usah akting segala, sok-sokan kaki ly keseleo. Gue sumpahin keseleo beneran sekalian biar dikamputasi! mlMau lu?! blBerdiri nggak lu!" cibir Zio, kemudian Dini mau tidak mau harus berdiri daripada ia sampai keseleo benaran seperti ucapan Zio barusan.


Zio duduk di kursi kerjanya, sedangkan Dini berusaha untuk duduk di pangkuannya tetapi Zio menghindar keras, ia meminta baik-baik kepada Dini untuk duduk saja di kursi di hadapannya, tidak perlu sedekat itu karena memang mereka bukan sepasang kekasih atau dua orang yang begitu dekat satu sama lain walaupun mereka pernah melakukan penyatuan.


Sambil menghentak-hentakan kakinya di lantai, dengan wajah yang kusut bak pakaian yang tidak disetrika yang tertumpuk berhari-hari lamanya, Dini duduk di kursi lalu berhadapan dengan Zio. Ia sedikit gemetar, ia bisa melihat wajah Zio tidak lagi ketakutan padanya atau tidak lagi seperti orang yang tidak berdaya di hadapannya karena Zio yang saat ini terlihat begitu dingin, tidak seperti beberapa hari sebelumnya saat ia menunjukkan bukti dimana mereka telah melalui malam dengan bercinta.


"Katakan apa tujuan lu datang ke tempat gue?" tanya Zio sarkas.


Dini menaikkan sebelah sudut bibirnya. "Oh, sudah berani melawan gue rupanya. Apakah tidak takut video itu akan gue sebar?" ancam Dini, jelas sekali ia sangat berani karena ia memiliki kartu AS milik Zio.


Zio tersenyum kecut, ia tahu sekali jika Dini pasti akan menggunakan kartu AS tersebut untuk mengancamnya. Namun kali ini Zio tidak bisa bertindak gegabah dengan langsung mengatakan bahwa ia tidak takut kepada Dini. Zio harus bisa memainkan emosi Dini, agar ia bisa meraih kemenangannya sendiri.


"Gue nggak lupa sama video yang lu gunain buat ngancam gue. Gue hanya lagi banyak pikiran dan salah satunya itu gue lagi mikirin tentang lu yang udah membelit gue dalam masalah ini. Lu nggak lebih dari perempuan ular! Tapi ya gue akui kalau cara lu menjerat gue emang paling hebat! Gue sampai nggak bisa ngelawan lu kayak gini," ucap Zio, Ia sengaja memuji kehebatan Dini agar wanita di hadapannya ini merasa besar kepala.

__ADS_1


Gue harus bisa bikin dia percaya sama gue, dan bertekuk lutut di hadapan gue biar nanti gue bisa menguasai dia lalu gue cari semua bukti video itu dan gue hapus. Setelah itu gue bakalan atur kejadian seperti yang sudah dia lakuin ke gue dan bakalan gue jadiin skandal terbesar yang pernah ada di negeri ini. Berani banget lu main-main sama Dimas Ezio Rasyid, cari mati!


Setelah bermonolog dalam hati, Zio kemudian memasang tampang semanis mungkin. Tak lupa senyuman maut ia berikan kepada Dini agar wanita itu terpesona padanya. Jerat dan pesona Zio memang tidak main-main, bahkan saat ini Dini sudah mulai panas dingin hanya dengan senyuman maut dari Zio.


"Sekarang katakan lu mau ngapain di sini, gue lagi punya banyak pekerjaan," tanya Zio dengan lembut, sejujurnya ia sangat ingin menggigit lidahnya karena sudah berbicara semanis itu pada wanita yang tidak layak untuk ia berikan kelembutan.


Sial gue harus menjadi rubah untuk menghadapi ular ini, gerutu Zio dalam hati.l


Dini tersenyum, "Gue hanya ingin memastikan kapan lu bakalan datang buat lamar gue. Gue takut nantinya gue hamil. Apa kata kolega bisnis dan keluarga kita kalau gue sampai hamil diluar nikah!" Dini menggigit bibirnya setelah berucap demikian.


Dalam hati Zio tertawa sarkas, mendadak Dini takut hamil sedangkan sana-sini ia membuat adonan dengan pria berganti-gantian.


Wajah Dini menegang, ia tidak suka dengan ucapan Zio walaupun itu adalah sebuah kenyataan. "Tapi dulu gue selalu main aman. Nggak ada hati sama mereka, kalau sama lu beda cerita. Gue masih cinta sama lu dan gue berharap bisa mengandung anak lu," ujar Dini, malu ya malu sekali, pikirnya.


Tapi gue nggak dan nggak akan pernah mau! Nggak sudi! ucap dalam hati.


Zio menggigit pipinya dari dalam, ia menatap datar ke arah Dini cenderung menatap malas. "Gimana kalau nanti kita bicarain soal pertunangan aja dulu. Tapi nggak sekarang soalnya gue masih harus keluar kota lagi beberapa waktu ke depan. Proyek gue lagi banyak dan gue lagi sibuk-sibuknya. Kalau misalnya gue nggak ngerjain pekerjaan gue ini bisa-bisa gue jatuh bangkrut. Lu mau nikah sama pria miskin? Nggak kan!"


Dini menelan salivanya dengan susah payah, mana mungkin mau hidup miskin walaupun ia jatuh cinta kepada Zio. Bahkan rencana perjodohan ini sengaja diatur karena keluarga Dini yang sedang diambang kehancuran itu ingin menumpang hidup enak kepada keluarga Zio dengan memanfaatkan persahabatan serta hutang budi kakek Rasyid pada masa itu.

__ADS_1


Zio tersenyum sinis, jelas sekali terlihat wajah ketakutan Dini saat ia mengatakan hal kemiskinan. Sesuatu yang tentu sangat dihindari wanita sok bergaya ini padahal sebenarnya hidup mereka sudah diambang kehancuran sejak beberapa bulan belakangan ini.


Gue heran sendiri kenapa dia rela lepasin Bright dan menikah sama gue, padahal setahu gue mereka itu udah lama pacaran dan udah berkali-kali ngelakuin aborsi. Harusnya ada cinta di antara mereka karena pernah beberapa kali ada bayi di dalam perutnya. Tapi ternyata wanita ular ini sama sekali tidak menggunakan perasaannya, murni hanya ingin bersenang-senang saja. Mendadak gue harus kasihan sama si Bright.


Bola mata Dini bergerak gelisah saat Zio tidak lagi menatapnya. Dini harus bersikap baik kepada Zio, meskipun Ia memiliki kartu AS milik Zio tetapi pria dihadapannya ini tidak bisa dianggap remeh karena pergerakannya tidak akan ada yang tahu. Dini juga harus tetap waspada meskipun Zio bersikap manis padanya bukan berarti itu memang benar-benar tulus dari hatinya mengingat Zio masih begitu mencintai Mentari.


"Ya baiklah jika lu ingin kita bertunangan dulu tetapi jangan terlalu lama karena gue tidak ingin jika seandainya gue hamil lalu perut gue membesar dan lu belum ingin menikahi gue. Ingat sayang, gue memegang kartu AS lu dan jangan coba-coba memanipulasi gue ya, karena lu nggak bakalan tahu apa yang bisa gue lakuin terhadap lu dan juga keluarga lu!" ancam Dini padahal ia sendiri bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika sampai Zio mencuranginya karena Ia tidak punya kekuatan apapun lagi selain kekuatan dirinya sendiri yaitu dengan menjajahkan tubuhnya kepada orang-orang yang ia mintai jasanya.


Ingin rasanya Zio tertawa, bagaimana mungkin Dini berniat mengancamnya sedangkan ia sendiri tahu bahwa keluarga Dini sudah tidak memiliki harta apapun lagi. Dan jika dipikir lagi, Dini sebenanrya sudah sangat beruntung dicintai oleh seorang Bright Santoso karena pria tersebut memiliki perusahaan yang cukup sukses walaupun tidak sukses keluarga Ar-Rasyid, tetapi setidaknya mampu menopang kehidupan mereka tanpa Dini bersusah payah bekerja.


Zio mengangguk, ia kemudian berkata lagi "Kalau lu udah nggak ada urusan lagi dengan gue, sebaiknya sekarang lu pulang karena gue masih banyak urusan. Tolong jangan ganggu gue biar pekerjaan gue nggak terhambat dan rencana pertunangan kita nggak tertunda. Bukankah lu nggak mau kalau pertunangan kita itu semakin diperlambat waktunya," ucap Zio yang sudah mulai malas bahkan sudah sangat malas berhadapan dengan wanita ular seperti Dini. Ia mengusirnya dengan halus.


Dini menghela napas, pekerjaan terberatnya adalah meluluhkan hati Zio yang masih terpaut dengan seorang wanita yang bernama Mentari. Setelah ini Dini berencana untuk menemui Bright agar mantan kekasihnya itu bisa membantunya untuk menjauhkan Mentari dari Zio. Ia tidak peduli Bright melakukan cara apa saja asalkan bisa menyingkirkan Mentari, maka ia rela jika Bright kembali meminta apapun darinya lagi.


Sejauh ini hanya Bright yang bisa gue andelim, gue harus ketemu dia. Ucap Dini dalam hati.


Setelah Dini pergi, Zio membenamkan kepalanya di atas meja. Tidak ada pekerjaan yang membuatnya begitu sibuk, juga tidak ada proyek di luar kota. Ia hanya ingin menghindar dan juga ingin menguatkan dirinya juga menyemangati dirinya untuk bertemu dengan Mentari dan menjelaskan semuanya. Ia yakin sekali kekasihnya itu pasti sudah memiliki firasat buruk terhadapnya karena terbukti tadi Mentari selalu memperhatikannya dan mengatakan jika dirinya terus saja melamun.


Zio mengambil ponselnya, ia kemudian menekan satu nomor telepon untuk ia panggil.

__ADS_1


"Halo sayang, aku nggak jadi sibuk hari ini. Nanti aku jemput ya, sebentar lagi aku ke sana."


__ADS_2