
Langkah kaki Zio begitu cepat saat ia meninggalkan Mentari. Ia kembali ke perusahaannya dan berniat untuk tidak pulang. Bukan karena ada pekerjaan lembur atau apapun itu, ia hanya ingin menenangkan diri di kantor. Akan tetapi ia tidak ingin ada yang tahu jika ia kembali ke kantor karena sejak tadi jam makan siang ia mengatakan bahwa ia tidak akan kembali lagi ke perusahaan.
Semua ia lakukan semata-mata agar menghindari orang yang mencarinya ke perusahaan. Jika mengetahui ia tidak akan kembali ke perusahaan maka pasti orang yang mencarinya tidak akan menunggu dan mencoba menemukannya di tempat lain. Zio sedang ingin sendiri dan menenangkan diri.
"Tari, maafin aku. Aku sayang sama kamu," lirih Zio menyeka air matanya yang jatuh membasahi pipi. dengan cepat ia mengemudikan motornya kembali ke perusahaan.
Sangat sakit menahan dirinya untuk tidak menemui Mentari lagi. Hatinya begitu terpaut pada gadis yang sampai saat ini masih bertahta di hatinya hanya saja kesalahan satu malam itu membuat Zio terperangkap dalam sangkar yang selama ini coba ia hindari.
Malam itu ....
"Bersulang!!"
Bunyi gelas saling berbenturan pelan mendominasi ruang VIP restoran tersebut. Para pebisnis hebat itu sedang merayakan keberhasilan mereka setelah proyek yang mereka kerjakan itu berhasil selesai dan mereka mendapatkan keuntungan yang begitu banyak.
Di antara para pebisnis tersebut ada Dimas Ezio Rasyid yang merupakan salah satu dari tiga pebisnis muda yang tergabung dalam mega proyek tersebut.
Awalnya mereka makan dan minum-minum biasa saja. Berbincang mengenai bisnis seperti sebelum-sebelumnya, tetapi setelah beberapa menit berlalu dan makanan dan minuman itu hampir habis, Zio merasa ada yang aneh dengan dirinya.
Kepala Zio mulai terasa berat dan suhu tubuhnya meningkat. Ia mulai menatap sayu pada wanita-wanita malam yang diundang oleh kolega bisnisnya di ruangan tersebut dan hal itu sudah sangat biasa dikalangan atas seperti mereka. Hanya Zio saja yang tidak memiliki pasangan sebab ia sudah bertaubat dan hanya menyimpan Mentari saja di hatinya.
"Pak Dimas, Anda seperti tidak sehat. Apa yang terjadi?" tanya Dwaine, salah satu kolega bisnisnya yang masih lajang sepertinya.
Zio mengibaskan tangannya, "Saya tidak apa-apa, hanya sedikit lelah. Saya mohon maaf tetapi saya harus kembali ke penginapan saya. Kalian silahkan melanjutkan acaranya," ucap Zio berpamitan.
__ADS_1
Mengabaikan tatapan aneh dari koleganya, Zio berjalan keluar sambil terus menggerutu dalam hati. Ia mengumpat karena jelas ia tahu yang terjadi pada dirinya saat ini karena seseorang telah menaruh obat perangsang pada makanan atau minuman yang tadi ia konsumsi. Entah apa maksudnya dan entah siapa dalangnya, tetapi Zio harus segera kembali karena ini akan bahaya jika ia tidak bisa mengendalikannya.
Dengan perasaan gelisah Zio mengemudikan mobilnya. Ia harus segera kembali ke penginapan dan jika bisa ia berendam air dingin sepanjang malam. Sepanjang perjalanan ia tidak berhenti mengumpat, ia mengutuk seseorang yang sudah memberikannya obat berbahaya ini. Namun sekarang bukan saatnya untuk mencari tahu karena ia harus bisa menyelesaikan masalah ini lebih dulu.
Zio sampai di hotel dengan langit yang mulai menggelap dan guntur yang menggelegar serta kilat yang menyambar-nyambar bumi. Ia berlari masuk ke lobi dan tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang wanita. Tubuh Zio menegang karena tak sengaja menabrak bagian dada wanita itu.
"Maaf nona, saya tidak senga--ja ... Dini!" pekik Zio ketika tahu perempuan yang ia hindari ini justru bertemu dengannya di hotel dan dengan ia yang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Dini pun terkejut, ia yang hendak keluar dari hotel justru bertabrakan dengan Zio. Sungguh sebuah kebetulan yang menyenangkan, pikir Dini.
"Zio, lu disini juga," pekik Dini sambil tersenyum senang.
Zio mengangguk, ia kemudian berpamitan pada Dini karena jika berlama-lama maka ia akan sulit mengendalikan dirinya. Namun Dini yang sudah bertemu dengan Zio pun tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendekati Zio, siapa tahu ia mendapatkan kesempatan untuk bisa lebih dekat dan juga merebut hatinya.
Zio tidak mempedulikan kehadiran Dini karena ia harus bisa menahan dirinya kali ini. Di dalam lift hanya ada mereka berdua dan Dini dengan leluasa mengajak Zio berbicara apalagi Dini terus berusaha menyentuh Zio yang membuat tubuh pria itu meremang.
Seakan tahu jika Zio dalam pengaruh obat, Dini mulai menyentuh Zio perlahan-lahan mencoba untuk membangkitkan hasrat Zio yang sedari tadi coba ditahannya.
"Dini stop! Jangan bikin gue bertindak kasar sama lu. Gue masih menghargai lu karena lu adalah cucu dari sahabat kakek gue. Mending lu jangan ikutin gue karena gue nggak suka sama lu!" ucap sarkas Zio, ia kemudian keluar begitu pintu lift terbuka.
Dini terus saja mengikuti Zio dan bahkan ia nekat memeluk Zio dari belakang. Zio berusaha melepaskan akan tetapi tangan Dini yang awalnya memegang perutnya itu justru satu tangannya naik ke dada dan satunya lagi turun ke bagian paha Zio.
Zio berusaha melepaskan diri dari Dini akan tetapi tubuhnya berkata sebaliknya. Hanya saja pikirannya masih bisa mengingat Mentari. Sangat sulit bagi Zio menghindari Dini dan sangat sulit baginya juga menjauh dari wanita itu sebab saat ini ketegangannya mencapai batas maksimal.
__ADS_1
"Lihat, punya lu bahkan udah tegang aja," bisik lirih Dini di telinga Zio.
Mata Zio terpejam, ia menggelengkan kepalanya lalu ia menghempaskan tangan Dini dalam sekejap. "Menjauh dan jangan muncul di depan gue wanita ja-lang!" teriak Zio.
Saat Zio menghempaskan tangan Dini, ia langsung mendorong wanita itu hingga terjatuh di lantai dan mendadak pingsan. Zio awalnya tidak peduli tetapi melihat Dini yang tak kunjung sadar walaupun sudah ia tendang-tendang. Karena rasa manusiawi, Zio pun membawa Dini masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan wanita itu di atas tempat tidurnya sedangkan ia memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk menenangkan juniornya.
Zio berdiri di bawah pancuran air shower, sangat dingin tetapi demi kebaikan dirinya ia rela. Dalam kedinginan ini Zio memejamkan kedua matanya mencoba mengusir hasratnya dan mendadak matanya terbuka kala sepasang tangan melingkar di perutnya.
Zio mengkapnya dan mencoba untuk melepaskan tetapi yang ada tangan Dini sudah memegangi aset berharga di tubuh Zio dan memainkannya dengan sempurna hingga Zio mengerang penuh kenikmatan.
Tanpa sadar Zio meracau, ia bahkan bahkan berbalik badan dan meminta Dini untuk berjongkok di hadapannya dan memasukkan juniornya ke dalam mulut Dini. Dengan senang hati wanita itu menurutinya, hal yang memang ia inginkan.
"Oh Tari, lebih cepat sayang!" ucap Zio yang membuat Dini menghentikan aksinya.
Sial! Kenapa dia menyebut nama Mentari? Apakah dia menganggap gue sebagai Mentari? Haihh ... tapi tidak masalah, yang penting malam ini gue mendapatkan lu, Zio. Lu silahkan anggap gue Mentari tetapi yang harus lu tahu kalau setelah malam ini Mentari nggak bakalan ada lagi dalam kehidupan lu. Lu itu milik gue, Zio. Bersiaplah, kita akan menikmati perang kita malam ini. Gue nggak sabar ngerasain keperkasaan lu!
Dini menyeringai, ia kemudian kembali memasukkan junior Zio ke dalam mulutnya dan berusaha memberikan servis terbaik untuk calon suaminya.
Nggak sia-sia gue tidur sama tuh orang kemarin, dia bisa ngelakuin apa yang gue minta. Hahaha ....
...****************...
Ini adalah alur yang emang dari awal ceritanya dibuat bakalan sampai ke kisah di bab ini.
__ADS_1