CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~117


__ADS_3

Juan menatap Mentari yang saat ini sedang memintanya untuk membawa Lidya pergi ke kampus. Sungguh Juan benar-benar merasa ini bukanlah bagian dari rencana, apalagi mengantar Lidya ke kampus, dia bukan sopirnya dan bukan pula sopir pribadi Mentari. Tidak sepatunya Juan mengantar adik Mentari ini pergi ke kampusnya.


"Apakah tidak bisa mencari taksi online saja? Ada banyak di luar sana," tolak Juan dengan suara yang terdengar begitu putus.


Untung saja tidak ada yang mendengar obrolan mereka di sana karena hanya ada Mentari dan Juan yang berada di dalam mobil. Selain menjadi bodyguard Mentari, Juan juga bertugas untuk mengantarkan istri dari kakaknya itu pergi ke kantor dan menjemputnya pulang jika Zio berhalangan.


"Sekalian saja ya, dia akan pergi ke kampus tapi sebelum itu lu anter gue dulu kemudian lu antar Lidya. Kemarin 'kan udah dari sana, lu sudah tahu dong alamat kampusnya," pinta Mentari dengan suara yang dibuat semanja mungkin agar adik iparnya ini mau menuruti keinginannya.


Setelah mengetahui bagaimana Lidya yang sesungguhnya, gadis yang menyimpan banyak duka karena perundungan juga menyembunyikan kecantikannya, bagi Mentari hanya Juan yang mampu untuk menjaga adiknya itu. Juan adalah sosok yang sangat penyayang dan pelindung, itulah sebabnya Mentari berharap Juan bisa menjadi kekasih sekaligus pendamping seumur hidup Lidya.


"Apakah lu sedang mengandung? Permintaan lu ada-ada saja, seperti orang lagi ngidam!" ledek Juan.


"Hei mana mungkin! Buatnya baru 2 hari yang lalu masa udah ada aja dalam perut, lu pikir segampang itu!" sungut Mentari.


Juan tertawa, mau tidak mau ia harus ikut mengantarkan adik Mentari pergi ke kampusnya. Setidaknya ia hanya berlaku baik kepada Mentari saja, bukan karena Lidya karena Juan sejujurnya sangat risih berada di dekat gadis yang dandanannya seaneh itu. Walaupun banyak di luar sana para garis-garis terlihat culun dan introvert akan tetapi menurutnya Lidya ini berbeda.


Tak lama kemudian terlihat Lidya keluar dari rumah Mentari. Gadis itu mengenakan kemeja berwarna abu-abu dengan rok yang berwarna hitam dengan panjang yang menutupi kakiknya. Tak lupa kacamata tebalnya serta rambutnya yang diikat dua

__ADS_1


Mirip seperti anak TK saja, gumam Juan dalam hati.


"Dia sangat cantik bukan? Apakah kau terpesona?" tanya Mentari yang melihat sosok Lidya namun yang ia bayangkan adalah sosok asli di balik penampilan adiknya tersebut.


Juan terbengang kemudian ia menatap Mentari dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. "Lu nggak salah lihat? Lu nggak salah ngomong? Lu sehat kan? Atau jangan-jangan setelah digempur kakakku lu jadi aneh," cecar Juan yang tidak percaya dengan pertanyaan Mentari dan juga pernyataannya tentang adiknya itu.


Mentari tidak menanggapi omongan Juan, ia kemuduan membukakan pintu agar Lidya bisa masuk. Kembali Mentari memperhatikan sikap Lidya, gayanya terlihat malu-malu saat menatap Juan yang walaupun tidak menatapnya karena Juan kini sudah fokus menyetir.


Di jalan Mentari mengatakan jika ia akan sampai lebih dulu dan Juan yang akan mengantarnya sampai ke kampus. awalnya ada rasa canggung di diri Lidya karena ia akan pergi berdua saja dengan Juan setelah ini, namun mengingat kata Mentari jika sopir kakaknya ini sudah memiliki kekasih dan akan menikah lagi, Lidya langsung menepis pemikirannya tersebut.


Beberapa menit kemudian mobil Juan sudah terparkir di depan lobby kantor Mawar. Mentari turun dan tak lupa meminta Juan sekali lagi Untuk mengantarkan adiknya dengan selamat. Juan hanya menganggukkan kepalanya saja, ia tidak berani protes ataupun berbicara dengan Mentari karena moodnya sangat tidak baik pagi ini.


Lidya duduk di belakang dengan keadaan seperti patung — diam membisu tanpa gerakan. Bahkan jika biasa ia akan menahan napasnya hingga ia sampai di depan kampus.


Juan sendiri tak banyak bicara, dia hanya melajukan mobilnya. Dan seperti biasa, Juan yang merupakan orang yang introvert dan juga pendiam tidak mungkin ia mengajak Lidya berbicara, apa lagi ia tidak suka melihat gaya Lidya yang terkesan udik bukan lagi unik.


Karena Juan sangat ingin cepat berpisah dengan Lidya, ia mengajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi hingga Lidya terkejut. Akan tetapi gadis itu bukannya takut, dia justru malah bersorak kemudian dengan cepat ia mengenakan seatbelt.

__ADS_1


Juan keheranan karena gadis ini sama sekali tidak berteriak meminta agar mobilnya dihentikan atau kecepatannya dikurangi. Memberanikan diri, Juan pun menatap ke arah spion yang ada di dalam mobil, ia bisa melihat Lidya saat ini sedang terlihat senyum-senyum sendiri bahkan seperti orang gila saja, pikir Juan.


"Hai, kenapa senyam-senyum begitu?" tanya Juan penasaran, lebih baik ia bertanya daripada memendamnya seorang diri.


"Oh maafkan saya, saya hanya terlalu senang karena bisa merasakan naik mobil mewah dan juga kebut-kebutan di jalan seperti di film-film yang pernah saya tonton. Ternyata begini rasanya kebut-kebutan di jalan, sangat menyenangkan."


Juan menginjak rem mobilnya saking terkejutnya ia mendengar jawaban dari Lidya. Juan menatap Lidya sekilas dari kaca spion kemudian Juan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak paham dengan cara berpikir Lidya.


Tidak ingin memperpanjang pembahasannya, dengan cepat Juan langsung kembali melajukan mobil hingga sampai di depan kampusnya, tempat yang kemarin sempat dia datangi bersama dengan Mentari juga.


"Pak sopir, apakah nanti saya pulang akan dijemput juga?" tanya Lidya memberanikan diri karena sejujurnya ia masih takut untuk pulang seorang diri di kota ini. Walaupun jarak tempuh tidak begitu jauh, akan tetapi dia tidak mengenal siapapun mereka kecuali keluarga Mentari.


"Tentunya tidak, saya banyak pekerjaan," jawab Juan dengan ketus.


Dalam hati Lidya bertanya-tanya pekerjaan apalagi yang dimiliki oleh sopir ini setelah dia mengatakan jika dirinya memiliki kesibukan lain. Ingin menanyakan akan tetapi siapalah dirinya sangat tidak pantas.


"Oh iya. Baiklah terima kasih untuk tumpangannya," ucapkan Lidya kemudian ia membuka pintu mobil untuk keluar.

__ADS_1


__ADS_2