
Pagi kembali menjelang, Mentari berpamitan pada Mawar yang semalam sudah mendengarkan curhatan dan keluh kesahnya. Mawar pun akhirnya jadi tahu mengapa Mentari menangis dan mengapa ingin resign dari perusahaan raksasa tersebut. Sang sahabat hanya bisa memberikan semangat dan menghibur saja karena kembali lagi semua itu ada di tangan Mentari, hanya dia yang bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Mentari tak sempat sarapan karena ia harus segera kembali ke rumah lalu pergi ke perusahaan dan menyelesaikan pekerjaannya. Ia tidak ingin makan gaji buta walaupun ia sudah mengerjakan setengahnya akan tetapi gajinya yang sudah ia terima kemarin rasanya tidak layak karena mengingat pekerjaannya masih menggantung.
Gadis itu melakukan motornya menuju ke rumahnya. Perasaannya memang sudah tidak sekacau semalam akan tetapi rasa sakit itu masih ada. Keluarga Zio sudah menyentuh titik terendah Mentari. Akan sangat sulit baginya untuk melupakan semuanya.
"Ini nih yang paling gue hindari punya hubungan sama orang kaya, gue nggak suka mereka merendahkan dan menilai segala sesuatunya dari uang. Gue paling benci sama manusia yang punya pemikiran sepicik itu. Emang sih semua orang butuh uang, tapi jangan lupa kalau cinta itu datang dari hati, bukan dari nilai rupiah. Ck! Zio, kenapa sih lu nggak jadi cowok biasa aja? Sederhana aja gitu, nggak usah jadi anak konglomerat biar hubungan kita jauh dari perdebatan soal harta - tahta dan orang ketiga!"
Mentari menghela napas, ia sudah hampir sampai di rumahnya. Ia turun menghentikan motornya tanpa mematikan mesinnya karena ia hanya ingin membuka pintu gerbang rumahnya. Setelah itu ia kembali naik ke motornya tanpa tahu seseorang saat ini sedang menatapnya dari dalam mobil yang terparkir tak jauh dari rumahnya.
Pintu rumah terkunci, Mentari yakin mamanya sudah pergi ke meubel tempat dulu papanya bekerja. Disana biasanya ibu-ibu mengambil borongan mengecat bangku yang lebih sering bangku sekolah. Sebenarnya Mentari sudah tidak ingin lagi mamanya bekerja, ia bisa menanggung biaya kehidupan mereka, akan tetapi mereka punya hutang pada rentenir dan keduanya bahu membahu mencari tambahan untuk membayar utang mereka tersebut.
Saat Mentari turun dari motor dan hendak membuka pintu dengan kunci cadangan yang ia ambil dari dalam tasnya, ia terkejut saat seseorang menepuk pundaknya dengan perlahan.
Mentari berbalik, ia langsung dibawa kedalam pelukan oleh orang tersebut yang tidak lain adalah Zio. Mentari tak sempat mengelak, entah darimana datangnya Zio hingga sudah berada di belakangnya dan sekarang sedang memeluknya.
"Gue kangen, lu darimana aja? Kenapa menghilang dan nggak ngasih gue kabar?" tanya Zio, ia mengeratkan pelukannya dan tak ingin melepaskan karena ia khawatir jika melepaskannya maka Mentari akan hilang dari jarak pandangnya lagi.
__ADS_1
Mentari tak bisa mengucapkan sepatah katapun karena saat ini air matanya lah yang memberikan semua jawabannya. Ia juga merasakan cairan hangat yang jatuh di pipinya dan ia tahu Zio saat sini sedang menangis.
"Maafin gue, maaf karena gue yang bawa lu ke apartemen dan maaf untuk ucapan keluarga gue. Lu nggak pantas menerima semua itu dan lagi-lagi gue nyakitin lu. Maaf Tari, maafin gue," lirih Zio.
Tidak bisa mendustai hati, Mentari membalas pelukan Zio. Ia juga sama merindunya dan takut kehilangan seperti apa yang Zio rasakan saat ini.
"Lu kok bisa disini?" tanya Mentari tanpa menjawab permintaan maaf dari Zio.
Zio menghela napas, ia pun mengatakan bahwa sejak semalam ia berada di depan rumah Mentari dan tidur di dalam mobil. Ia berkata juga jika Mentari pasti akan pulang sehingga akan lebih baik menunggu di depan rumah agar bisa langsung mengetahui kapan Mentari sampai dan ia bergegas menemuinya.
Setelah keduanya masuk, Zio langsung mengajak Mentari duduk dan kembali memeluk kekasihnya itu. Sejak semalam Zio dilanda ketakutan, ketakutan akan kehilangan Mentari ataupun Mentari akan meninggalkannya.
"Tari, kalau gue udah nggak punya apa-apa lagi apakah lu masih mau jadi istri gue?" tanya Zio setelah ia melepaskan pelukannya dan ia menggenggam tangan Mentari.
Pertanyaan Zio tentu saja bisa ditangkap oleh Mentari. Ia yakin sekali Zio kali ini berniat untuk meninggalkan keluarganya dan memilih hidup bersamanya. Suatu hal yang tidak bisa Mentari setujui.
"Zio, jujur saja gue emang lebih suka sama cowok yang sederhana. Gue nggak mau punya suami yang super kaya macam lu. Tapi nggak dengan bikin lu jatuh miskin ataupun ninggalin keluarga lu. Mereka bukannya tahu gue ini sebenarnya nggak mandang harta tapi justru mereka bakalan semakin menilai gue ini perempuan buruk. Gue nggak mau hal itu sampai terjadi dan gue lebih nggak mau lagi kalau lu sampai ninggalin keluarga lu demi gue. Jangan!"
__ADS_1
Zio mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia tahu Mentari pasti akan menolaknya akan tetapi ia juga tidak ingin kehilangan cintanya ataupun dipaksa mencintai perempuan lain.
Gadis cantik di hadapannya ini kemudian tersenyum lembut, ia membelai wajah Zio dengan penuh kasih sayang. "Kalau kita berjodoh, semua pasti ada jalannya. Gue mau hubungan kita itu baik-baik aja. Gue mau nikah sama lu dengan restu seluruh keluarga. Jangan sekali-kali lu mikir buat ninggalin mereka, lu harus ingat kalau sebelum ada gue, lu itu milik mereka dan anak laki-laki pun walau sudah menikah akan selalu menjadi milik ibunya. Lu tenang aja, gue cinta kok sama lu. Kita sebaiknya memikirkan jalan keluar dari masalah ini dan lu harus tahu gue nggak punya opsi buat ninggalin lu."
Ucapan tegas Mentari membuat bibir Zio melengkung indah. Ia sangat lega karena walau berat masalah yang tengah mereka hadapi akan tetapi Mentari tidak berpikir untuk meninggalkannya. Zio mendapatkan kembali semangatnya.
Keduanya pun saling bertukar pikiran, mencari jalan terbaik dari masalah hubungan mereka dan menjauhkan kata perpisahan dari pembicaraan mereka.
Ada beberapa pilihan yang akan mereka jalankan, Zio akan berusaha membuka topeng Dini dan mendapatkan bukti-bukti bahwa Dini bukanlah pilihan yang tepat sedangkan Mentari menyatakan jika ia punya solusi yang bagus untuk tetap mempertahankan hubungan mereka. Ia hanya meminta Zio untuk melaksanakan misinya dalam mengungkap kebusukan Dini sedangkan ia memilih memendam rencana sendiri.
Rencana Mentari yang tidak lain adalah meninggalkan perusahaan Zio dan pindah ke perusahaan Mawar.
Ya Tuhan, seandainya Mentari bukan jodohku maka jadikanlah dia jodohku. Aku hanya ingin dia!
"Zio, lu harus tahu kalau gue emang sayang dan cinta sama lu. Apapun yang gue lakuin nanti itu semata-mata karena gue mau hubungan kita baik-baik saja dan gue berharap kita bakalan berjodoh," ucap Mentari mencoba meyakinkan Zio karena setelah ini ia yakin Zio pasti akan marah padanya.
"Lu kenapa ngomong kayak gini? Ada apa?" tanya Zio yang masih memiliki kecurigaan terhadap sikap Mentari.
__ADS_1