CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~11


__ADS_3

sambil bersungut-sungut Mentari berjalan masuk ke dalam rumahnya, ia tidak mempedulikan kedua orang tuanya sedang menatap heran padanya. Hari ini Mentari sudah cukup kesal, hingga saat ia pulang pun ditambah lebih kesal lagi karena bertemu dengan pria bernama Oliver yang entah dari mana asal usulnya itu. Hari ini adalah hari paling mengesalkan sepanjang sejarah di hidup Mentari.


Kedua orang tuanya saling menatap, kemudian mereka menggelengkan kepala tanda tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan anak perawan mereka ini. Tadi sebelum berangkat kerja, wajahnya berseri-seri. Tapi saat pulang dari kerja wajah anaknya itu justru cemberut dan terlihat kusut.


"Mungkin dia lelah," ucap Rama.


Masuk ke dalam kamar, Mentari langsung segera membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Ia butuh mendinginkan tubuh dan pikirannya setelah seharian ia lelah bekerja, lelah hati dan fisiknya, juga rasa kesal yang tiada tara yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.


Membayangkan wajah Zio-membayangkan wajah kekasihnya Bella, semua itu membuat Mentari merasa sakit hati. Kepalanya terasa pusing, namun mendadak wajah tampan Juan melintas di pikirannya. Senyuman terbit di bibirnya namun sesaat kemudian wajah menyebalkan Oliver mengusir senyuman manis Juan membuat Mentari menggerang kesal.


"Fix, hari ini adalah hari menyebalkan sepanjang sejarah hidup gue. Besok gue harus pasang kesabaran ekstra dan sepetinya gue harus mulai melatih diri gue agar terbiasa dengan situasi ini. Gue bakalan terus ketemu Zio dan nggak menutup kemungkinan gue juga bakalan ketemu sama kekasihnya. Sabar Mentari, lu kuat!"


.


.


Oliver menatap sepupunya yang baru sampai setelah hampir satu jam ia menunggu di depan klinik tersebut. Ingin rasanya ia memberikan bogeman pada Zio yang sudah membuatnya berada di tempat ini terlalu lama dan ia yakin benar jika adik sepupunya itu menunda waktu menjemput karena masih menyelesaikan sesi percintaannya.


"Mana bidadarinya?" tanya Zio celingak-celinguk mencari sosok yang dimaksud Oliver saat tadi menelepon.


Oliver mendengus, ia langsung saja masuk ke dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan sepupunya. Lagi pula, bidadari itu hanya untuk dirinya saja, tidak akan dia beri tahu pada Zio karena ia tahu bagaimana perangai sepupunya ini yang merupakan penjahat wanita dan juga sangat suka berburu para wanita cantik.


Zio mencebikkan bibirnya, ia tahu jika wanita yang tadi disebut oleh sepupunya ini pasti sudah masuk dalam daftar wanita yang akan dikencani oleh sepupunya sehingga ia tidak memberitahukannya. Zio pun langsung kembali masuk ke dalam mobil dan mulai mengemudikan mobilnya untuk membawa Oliver ke rumah utama.


"Kenapa lu pelit sekali sih bro? Gue kenal semua bidadari cantik di kota ini, kali aja yang lu maksud adalah salah satu teman kencan gue," celetuk Zio yang sudah sangat penasaran dengan perempuan yang baru saja disukai oleh sepupunya ini.


Ia sangat tahu bagaimana standar gadis yang ingin dikencani oleh Oliver, lain daripada yang lain dan tentu saja sangat spesial.


Oliver tersenyum, "Dia sangat cantik dan unik. Orang yang suka marah dan meledak-ledak, dan yang paling penting dia begitu manis dan wajahnya sangat menggemaskan ketika dia marah," jawab Oliver sambil membayangkan wajah kesal Mentari saat tadi bersamanya.


Wait, kenapa gue jadi keinget Mentari? Tapi tadi Mentari 'kan pulangnya bareng Juan naik mobil. Fix, nggak mungkin Mentari nih dan jangan sampai dia.

__ADS_1


"Oh ya, namanya siapa?' tanya Zio penasaran. Dalam hati Ia terus mengumumkan agar sepupunya ini tidak menyebut nama mantannya itu.


"Namanya Rama, cukup unik bukan untuk seorang perempuan. Dia sangat unik seperti namanya. Bagaimana jika nanti ketika dia jadi kekasihku, rasanya gue ingin segera menemuinya. Tapi gue tidak tahu nomor ponselnya dan juga alamat rumahnya."


Zio menghela napas lega, untung saja yang diucapkan sepupunya ini bukan nama mantannya itu. Jika tidak, Zio pasti akan kalang kabut ketika sepupunya yang penuh dengan pesona ini jatuh cinta kepada Mentari. Bukan tidak mungkin Mentari juga akan membalas perasaannya. Tidak bisa dibayangkan Zio ketika mantannya akan menjadi saudara iparnya, ia tidak ingin membayangkan juga karena itu terlalu menyakitkan untuknya.


"Rama? Kenapa namanya sepeti nama cowok sih? Jangan sampai dia transgender dan lu salah milih."ucap Zio, ia tidak habis pikir dengan nama perempuan yang baru saja bertemu dengan sepupunya ini dan langsung membuatnya jatuh cinta.


Oliver mendengus, ua kemudian menggeplak sedikit kepala adik sepupunya ini. Zio mengeluh, namun ia tidak mungkin membalas karena pria di samping ini adalah sepupunya dan sejak kecil mereka selalu bersama sampai ketika mereka berkuliah baru mereka berpisah.


"Awas aja nanti jika gue bertemu dengannya dan bakal gue kenalkan sama lu, jangan sampai lu jatuh cinta!" ancam Oliver, ia tidak terima jika calon kekasihnya itu dipandang pria lain.


Wait, kok gue udah ngatain gadis itu sebagai calon kekasih? Apa emang pesonanya udah bikin gue luluh walaupun sekali ketemu. Atau apa yang dinamakan Love at first sight? Ini nggak lucu 'kan? Tapi wajahnya selucu itu.


Oliver tersenyum sendiri setelah bergumam dalam hati. Merasa lucu saja, dirinya yang seorang Casanova mendadak jatuh cinta pada wanita yang baru saja temui. Apalagi wanita itu tidak terlihat seksi, ia justru terlihat kesal dan tidak suka kepadanya.


Zio yang melihat kelakuan sepupunya ini hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia benar-benar penasaran kini dengan sosok perempuan yang sudah membuat sang Casanova ini jatuh cinta. Ia pernah mengalami ini dulu, bersama Mentari dan setelah ia putus dengan gadis cerewet itu, ia tidak lagi merasakan hal yang sama. Selama ini ia memiliki kekasih bahkan banyak kekasih hanya untuk kepuasan semata tidak ada yang lagi seperti Mentari.


Zio yang malamun sambil mengenang masa-masa indahnya dulu bersama Mentari justru membuat Oliver bingung karena kini arah mobil mereka bukanlah ke rumah utama melainkan ke jalan yang sama sekali tidak pernah diketahui oleh Oliver selama ia tinggal di Jakarta.


"Bro, lu sebenarnya mau bawa gue kemana?" tanya Oliver.


Zio yang mendapati kesadarannya langsung menghentikan mobil tersebut tepat di depan rumah di mana ia melihat seorang gadis sedang duduk di teras rumah sambil memainkan ponselnya.


"Lu tunggu di sini, gue mau keluar. Gue Ada urusan jangan keluar! Kalau lu keluar, gue nggak bakalan anterin lu ke rumah utama dan bakal nyuruh lu turun di sini biar lu kesesat sekalian, jangan turun!" ancam Zio.


Ia memberikan ancaman kepada sepupunya ini bukan karena apa, Ia hanya tidak ingin jika Oliver jatuh cinta kepada gadis yang hendak ia temui ini.


Oliver hanya mengangkat bahunya, ia tidak peduli apa yang anda lakukan oleh Zio disini. Ia hanya berpikir bahwa Zio pasti akan menemui salah satu wanitanya.


Sedangkan Zio, dia mulai berjalan melangkah masuk ke halaman rumah dengan pagar kayu tersebut. Ia a tersenyum melihat gadis yang masih asik dengan ponselnya tanpa menyadari kehadirannya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum mantan."


Ponsel Mentari langsung jatuh ke lantai begitu ia mendengar sapaan tersebut dari suara yang sangat ia kenali dan beberapa saat yang lalu sempat ia jadikan sebagai sasaran untuk memaki-maki, mengumpat dengan nama tersebut di dalam kamar mandi.


Mata Mentari membulat sempurna begitu melihat wajah tampan di depannya ini, wajah yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya namun kali ini justru menjadi wajah yang paling ia benci karena selalu membuatnya kesal.


Mentari sempat berpikir bahwa benci itu tidak jauh dengan cinta karena bedanya hanya setipis silet sehingga Mentari menarik ulang kata kunci itu.


"Lu kok bisa di sini?" tanya Mentari kaget, ia kemudian memngambil ponselnya yang jatuh di lantai lalu berdiri sambil menatap sebal kepada Zio.


"Kalau ada orang memberi salam, hukumnya wajib untuk menjawab salam," sindir Zio.


Mentari mencebikkan bibirnya, "Wa'alaikumsalam, ngapain lu di sini? Mau nyari ribut atau belum puas bikin gue kesel hari ini karena lu udah ninggalin gue di jalan? Nah sekarang lu datang mau ngapain?" Sungut Mentari, ia kembali kesal setelah mengingat hari Zio menyuruhnya turun dari mobil hanya karena ia ingin putar balik untuk mengambil motornya di kantor.


"Ck!" Zio berdecak, "Kalau orang bertamu itu disambut baik-baik, bukan dengan cara seperti ini," ucap Zio, ia tidak memperdulikan Mentari yang malah duduk di samping kursi yang ada di dekat kursi terasnya.


"Gue lagi nggak terima tamu. Pulang deh. cukup, gue nggak mau diganggu dan gue mau malam ini baik-baik aja untuk menghadapi lu besok," usir Mentari tanpa tedeng aling-aling.


Zio tidak memperdulikan Mentari, ia sibuk menatap sekeliling dan menemukan motor yang tadi pagi ia lihat dikendarai oleh Mentari terparkir di halaman rumah tersebut. Zio mulai berpikir, jika tadi Mentari pulang bersama Juan lalu siapa yang mengantar motornya?


"Motor lu kok bisa di sini?" tanya Zio, sesungguhnya ia sangat penasaran.


"Sabar Mentari sabar," gumam Mentari. "Ya iyalah bisa di sini, gue pulang naik motor karena ada yang sudah nyuruh gue turun dari mobilnya tadi," sindir Mentari.


Kalau dia pulang naik motor berarti tadi dia numpang Juan cuma buat balik lagi ke kantor dong. Wah bagus dong, berarti Juan belum tahu rumah Mentari. Jangan sampai dia PDKT deh sama mantan gue ini, gue nggak ikhlas.


"Ya udah, gue mau balik. Sampai ketemu besok, bye."


Mentari melongo melihat Zio yang sudah melenggang pergi sambil bersiul-siul. Heran saja, tidak ada angin tidak ada hujan mendadak muncul di rumahnya dan tanpa melakukan apapun ia langsung pergi begitu saja.


"Dasar mantan gendeng;" umpat Mentari.

__ADS_1


"Dan Gue denger itu!" seru Zio tanpa berbalik badan, terdengar kekehan dari mulutnya sedangkan Mentari justru memanyunkan bibirnya karena kesal.


__ADS_2