CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~27


__ADS_3

Fardan melirik Zio dan Mentari mengikuti arah pandangnya. Dahi gadis itu semakin mengkerut saja, ia sama sekali tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Fardan. Ia sendiri tidak memiliki kekasih lalu bagaimana bisa menikah?


Zio yang kebingungan mencari alasan apa sampai detik ini bahkan tidak bisa menemukan ide yang tepat. Ingin melipir tapi itu tidak mungkin karena Mentari dan Fardan pasti akan berbicara berdua dan ia akan ketahuan.


Zio kemudian berdiri dan merangkul Mentari. "Sayang kamu nggak cerita sama aku kalau kamu selama ini berhubungan baik dengan mantan kamu ini. Jadi selama kita pacaran kamu sering menceritakan tentang aku ya sama dia. Kok aku sampai nggak tahu sih?"


Habis ini dia ngamuk ya ngamuk deh. Daripada gue malu!


Mentari berusaha melepaskan rangkulan Zio tetapi justru mantannya itu terus mengeratkan rangkulannya. Alhasil ia hanya bisa pasrah.


Lain yang dirasakan Mentari, lain pula yang ada di pikiran Fardan. Hatinya cukup sakit melihat Mentari dan Zio yang begitu lengket. Ia memilih menyeruput kopinya dan tidak lagi menanyakan hubungan mereka.


Melihat Fardan yang sudah tidak lagi membahas hubungan mereka membuat Zio merasa tenang. Ia pun melepaskan rangkulannya namun begitu ia lepas Mentari kembali bertanya pada Fardan.


"Kau tadi bilang nikah? Siapa yang mau nikah? Aku?"


Fardan pun meletakkan cangkir kopinya di kursi yang ada di sebelahnya. "Ya siapa lagi," jawab Fardan.


"Hah? Tap–"


"Tari, boleh anterin gue ke toilet nggak? Udah nggak tahan pingin pipis," sambar Zio sambil memasang pose sedang menahan rasa ingin buang air.


Mentari yang masih dongkol dengan ucapan Fardan pun hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaan Zio.


Huhh selamat selamat.


"Tari, kalau begitu aku pamit dulu ya, soalnya nggak bisa lama juga. Ada pasien yang harus aku tangani beberapa beberapa saat lagi. Besok aku pasti datang, sekali lagi aku turut berduka cita ya. Dan kamu ada dia juga yang bakalan jaga kamu di sini," ucap Fardan sambil melirik Zio. "Kamu baik-baik ya, aku pamit. Mari Zio," ucap Fardan, sejujurnya ia hanya ingin menghindar karena tidak ingin terlanjur patah hati berada di tempat ini dan menyaksikan kebersamaan pasangan serasi itu.


"Oh iya. Makasih ya udah datang. Kamu jangan terlalu capek dan semoga pekerjaannya berjalan dengan lancar. Kalau sempat, datang lagi besok ya," jawab Mentari yang diangguki oleh Fardan.


Fardan pun beranjak pergi dan Zio langsung menyeret Mentari menuju ke dalam rumah karena Ia memang sebenarnya sangat ingin buang air kecil dan membasuh wajahnya.


Begitu Zio memasuki rumah Mentari, jal pertama yang ia lihat adalah pemandangan di mana banyaknya orang yang sedang membaca ayat suci Al-Qur'an dan juga Maya yang sedang duduk di lantai sambil sandaran di dinding. Maya terlihat lemah dengan wajah yang begitu sembab serta air mata yang masih meninggalkan jejak di pipinya.


Banyak pasang mata para pelayat yang ada di dalam rumah Mentari menatap ke arah Zio, bisa Zio pastikan bahwa tatapan itu adalah tatapan yang penuh tanya tentang siapa dia dan apa hubungannya dengan Mentari.

__ADS_1


Ada rasa senang di dalam hati Zio karena hanya Ia laki-laki yang dilihat bersama Mentari dalam keadaan berkabung ini. Tentu mereka pasti akan berpikir bahwa dia adalah kekasih Mentari.


Saat sampai di depan kamar kecil, Zio pun langsung masuk dan meminta Mentari untuk menunggunya di depan toilet karena ia tidak mau ditinggal sendirian dan ketika ia keluar malah bertemu dengan ibu-ibu yang ada di dalam rumah ini lalu menanyainya.


"Jangan kemana-mana ya Tari, tungguin gue di depan sini aja. Lu 'kan tahu gue orangnya ganteng banget dan nggak anak-anak, remaja, dewasa, ibu-ibu bahkan nenek-nenek pasti gemas kalau lihat wajah tampan gue ini. Jadi lu tungguin gue ya, gue nggak mau gombal sama ibu-ibu yang ada di dalam rumah ini."


Mentari sempat membuka mulutnya cukup lebar sambil menatap datar pada Zio. Kemudian ia menggelengkan kepala tak habis pikir dengan pemikiran dan ucapan Zio barusan.


"Ya udah cepat masuk deh, nanti gue tungguin," ucap Mentari, ia masih harus menjaga kewarasannya walaupun saat ini mentalnya diuji bertubi-tubi.


Zio tersenyum, kemudian ia masuk ke dalam toilet. Setelah menuntaskan hasratnya untuk membuang air kecil, ia menuju ke wastafel dan membasuh wajahnya hingga rambutnya.


"Gila! Gue udah gerah banget pakai baju ini tapi gue nggak mau pulang. Gue nggak mau ninggalin Mentari di sini dan nanti ada cowok lain lagi yang bakalan gombalin dia."


Zio kemudian membuka pintu toilet sambil menyugar rambutnya ke belakang dan itu tak luput dari pandangan mata Mentari yang saat ini tengah terpanah dengan ketampanan mantan kekasih merangkap atasannya itu. Tetes-tetes air yang mengalir dari rambutnya dan membasahi wajah tampannya itu membuat Mentari kesulitan meneguk salivanya.


"Gue tahu gue ganteng, nggak gitu juga kali natapnya. Awas tuh iler, malu-maluin tahu!" ledek Zio yang membuat Mentari memasang wajah datar seketika.


"Lu mending pulang aja deh, gue kasihan sama lu. Pasti lu udah capek banget, mana baju lu nggak diganti-ganti. Gue yakin lu perlu mandi dan istirahat, besok 'kan lu harus masuk kerja. Oh ya, gue izin ya belum bisa masuk kerja besok, masih harus ada acara pemakaman papa. Boleh ya," pinta Mentari, tanpa sadar ia menggandeng tangan Zio berjalan keluar dan mendekati jenazah papanya di mana mamanya berada.


Maya sedikit terkejut karena masih melihat Zio berada di rumah ini bahkan ia tak habis pikir dengan mantan kekasih anaknya ini yang masih betah berada di rumah ini dengan pakaian yang belum ia ganti.


Maya awalnya tidak paham tetapi begitu ia melihat kehadiran Zio di rumah ini, ia langsung paham dengan siapa yang dimaksud oleh ibu-ibu tersebut.


"Lho Zio, kamu masih di sini. Kenapa belum pulang, Nak? Nggak dicariin sama orang di rumah? Mana kamu belum ganti pakaian. Kamu pasti udah capek banget dan gerah. Harusnya nggak usah sibuk Nak, jadi merepotkan kamu nih 'kan. Maaf ya soalnya tante juga nggak punya anak laki-laki jadi nggak ada yang bisa bantu-bantu di luar."


Zio tersenyum menanggapi ucapan Maya tersebut, sebenarnya Ia juga bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa ia masih bertahan di rumah ini padahal Ia dan Mentari tidak memiliki hubungan khusus dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang ia tujukan untuk dirinya sendiri dengan apa yang terjadi padanya malam ini.


"Sebentar lagi tante, nanti aku bakalan balik lagi, aku nggak tega lihat tante sama Mentari nggak ada yang temanin. Apalagi banyak yang harus dipersiapkan dalam suasana duka seperti ini, dan seperti yang tante bilang di sini nggak ada anak laki-laki tante, sekarang 'kan ada aku. Biar aku aja ya, dan anggap aja aku anaknya tante."


Ucapan lembut Zio membuat hati Mentari bergetar. Ia tidak menyangka saja Zio bisa memiliki sisi lembut seperti ini. Mentari sejujurnya tahu dulu Zio memang sangat lembut padanya. Tetapi kali ini 'kan sudah beda, Zio sudah bukan siapa-siapanya selain atasannya di kantor.


Diam-diam Mentari mencuri pandang pada Zio yang saat ini sedang serius berbicara dengan mamanya.


Gimana gue nggak mau gagal move on coba kalau dia aja sehebat ini bikin hati gue meleleh. Harusnya lu nggak di sini Zio, biar gue udah nggak perlu mikir-mikir lu lagi dan gue bisa move on. Selain itu, gue juga nggak mau sampai patah hati lagi karena gue tahu lu punya banyak kekasih. Dan … apalah gue nggak sebanding dengan mereka. Tahan Mentari, jangan sampai lu main hati lagi sama dia.

__ADS_1


Zio pun berpamitan pada Maya dan para pelayat yang ada di dalam rumah tersebut, Mentari turut mengantarnya sampai di depan mobilnya.


"Mentari, emang lu mau nikah?" tanya Zio berpura-pura tidak tahu dengan hal yang tadi ditanyakan oleh Fardan tadi.


"Menikah apa? Nggak ih! Kok pertanyaan lu sama pertanyaan Fardan sama? Emang siapa yang mau nikah, pacar aja nggak punya!" jawab Mentari yang kembali dibuat bingung oleh pertanyaan Zio.


"Oh gue kira lu udah mau nikah, padahal gue udah siap lho buat lamar lu. Mumpung masih ada papah lu di rumah. Walau dia sudah nggak bernyawa, kita bisa 'kan melangsungkan pernikahan, seenggaknya dia masih bisa menyaksikan lu menikah walau dia udah nggak bisa membuka matanya dan lu masih merasa bokap lu ada disaat ludilamar dan dinikahi oleh seorang pria. Gimana, lu mau mencobanya nggak?"


Mentari bingung, entah harus bereaksi seperti apa pada ucapan Zio barusan. Ada rasa marah, kesal juga sedih bercampur aduk mendengar ucapan Zio tersebut. Apalagi ketika Zio menyinggung tentang pernikahan dan tentang ketidakkehadiran papanya ketika ia menikah nanti. Ingin sekali rasanya ia mengiyakan ucapan Zio jika saja pria itu masih menjadi kekasihnya.


"Mending lu pulang deh, kayaknya lu udah capek banget dan udah ngantuk banget sampai ngomongnya ngelantur gitu. Pulang gih, nggak usah balik lagi. Lu harus istirahat dan Makasih ya untuk waktu dan bantuan lu sama gue dan mama," ucap Mentari, ia harus cepatnya mengusir Zio dari sini sebelum ia kembali gagal move on dan Mentari tidak mau terbawa perasaan pada pria tampan ini.


Zio menganggukkan 'kan kepalanya, ia tersenyum lembut pada Mentari hingga membuat Mentari menatap sendu padanya. Masih bisa Zio lihat bahwa kesedihan ditinggal oleh orang tuanya masih menyelimuti hati Mentari. Dengan refleks Zio mengusap kepala Mentari dengan lembut kemudian ia membawa Mentari ke dalam dekapannya.


"Lu yang kuat ya Mentari. Nggak mudah memang berada di posisi lu yang mendadak kehilangan salah satu orang tua. Tapi lu nggak usah khawatir, gue masih ada buat lu kapanpun lu butuh gue. Lu tahu gue, lu bisa cari gue. Gue nggak akan bilang tidak buat lu," ucap Zio kemudian Mentari membalas pelukannya, Mentari menumpahkan tangisan yang dari tadi ia tahan karena dia tidak ingin terlihat rapuh saat mamanya begitu rapuh.


Mentari hanya ingin salah satu dari mereka ada yang kuat sehingga bisa menguatkan yang lain, walaupun sebenarnya dari tadi ia begitu sesak menahan rasa ingin menangis karena kehilangan sosok papa yang memberi nama dirinya dengan nama aneh bin ajaib hanya dengan alasan yang bernama mereka sama. Kini pria itu tidak ada lagi dan tidak ada lagi yang bisa mengganggu atau mengomeli Mentari setelah ini selain mamanya.


"Dada gue sesak banget, gue masih nggak nyangka kalau papa udah pergi secepet ini. Perasaan tadi pagi kita masih sarapan bareng, tahu-tahu sorenya dia udah nggak ada. Gue masih nggak bisa terima, tetapi ini udah jalannya takdir!" ucap Mentari sambil terisak-isak dalam dekapan Zio.


Zio mengusap punggung Mentari dengan lembut, "Lu yang sabar, gue tahu ini nggak mudah tapi gue lebih tahu kalau lu adalah wanita yang kuat. Lu harus ikhlasin kepergian bokap lu agar beliau bisa tenang, lu jangan nangis lagi. Oke? Simpan aja tangisan lu nanti ketika gue udah nikahin lu. Gue yakin lu bakalan nangis kejer deh kalau gue yang bakalan jadi suami lu!" selorohnya ingin membantu Mentari untuk tersenyum kembali tidak bermaksud yang lain.


Mentari langsung mengurai pelukannya, di tatapnya wajah tampan yang selalu bersikap songong dalam segala hal itu. "Fix, lu lagi ngantuk bro. Pulang gih," ucap Mentari sedikit sinis.


Zio tertawa lirih, ia kemudian kembali mengusap kepala Mentari. "Ya sudah, gue balik tapi tungguin, gue pasti bakalan balik lagi ke sini. Gue nggak lama kok, sabar ya Ayang, calon suamimu ini pasti bakalan datang lagi. Ingat yang tadi gue bilang, pikirkan baik-baik kalau emang lu mau gue nikahi malam ini, seenggaknya masih ada bokap lu di rumah. Gimana, mau nggak? Mau dong? Mau 'kan? Bilang iya dong! Bilang iya please!"


Refleks Mentari menyentil bibir Zio. "Berisik! Lu udah gila ya? Pulang sana!" usir Mentari namun ia gagal menyembunyikan rona merah di pipinya karena merasa deg-degan dengan ucapan Zio yang terdengar nyeleneh tersebut.


"Gini-gini juga lu pernah cinta, pernah sayang sama gue atau jangan-jangan masih ya. Ayo aku!" goda Zio kemudian ia menatap Mentari dengan tatapan mengintimidasi tetapi bibirnya bergetar menahan tawa.


"Zio, lu rese banget sih! pulang sana, jangan gangguin gue ih." pekik Mentari yang membuat Zio tertawa kembali.


"Iya iya gue pulang, sunnya mana?"


"Dimas Ezio Rasyid!"

__ADS_1


Sambil tertawa Zio masuk ke dalam mobilnya, ia begitu senang membuat Mentari kesal, baginya itu adalah hiburan tersendiri. Sedangkan Mentari memegang dadanya, ia merasakan degup jantung yang begitu kencang setelah ia berbicara sesantai ini dengan Zio untuk waktu yang begitu lama pasca mereka putus dan setalah mereka menjadi atasan dan sekretaris.


"Aduh jangan sampai gue gagal move on deh!"


__ADS_2