CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~15


__ADS_3

Mentari masih mengeluarkan tawanya hingga ia keluar dari ruang rapat. Sungguh hatinya sangat senang setelah berhasil mengerjai Zio seperti tadi. Akhirnya sakit hati dan juga kekesalan Mentari terbayarkan sudah. Bahkan ia tidak peduli dengan teriakan Zio maupun beberapa karyawan yang melihatnya tertawa sendiri.


Hahaha … rasain pembalasan gue. Makanya jadi orang jangan nyebelin, ngeselin, mesum, hidup lagi. Kena karma 'kan jadinya.


Mentari yang sedang mengejek Zio dalam hati pun tak berhenti tertawa hingga ia menabrak seseorang yang hendak keluar dari lift.


"Maaf saya tidak sengaja," ucap Mentari.


"Oh ya ampun gue tabrakan sama bidadari nih. Selendang lu mana, biar gue umpetin dan lu nggak bisa terbang lagi ke kayangan. Biar lu menetap di bumi dan jadi ibu dari anak-anak gue."


Mentari yang menundukkan kepalanya langsung mendongak mendengar ucapan absurd dan nyeley serta suara yang sangat familiar di telinganya.


"Orang gila!" pekik Mentari begitu tahu yang ia tabrak adalah Oliver.


Tak peduli dengan ucapan Mentari yang mengatainya gila, Oliver tetap memasang senyum sejuta Watt agar terlihat tampan di mata Mentari. Mentari sendiri malah melihat Oliver semakin hari semakin berkurang kewarasannya.


"Lu lupa minum obat?" tanya Mentari kemudian ia menyentuh dahi Oliver dengan punggung tangannya. "Nggak panas," lirihnya.


Tidak panas tetapi pipi Oliver memerah, Mentari semakin dibuat bingung. Senyum-senyum sendiri, tubuh menghangat, pipi memerah, membuat Mentari bingung menentukan apakah Oliver ini sedang sakit atau memang sakit jiwa.


Oliver sendiri entah mengapa merasa begitu malu dan salah tingkah setiap kali berada di dekat Mentari. Sejak semalam ia bahkan sudah tidur karena berharap akan bertemu dengan Mentari lagi. Ia bahkan sudah menyusun rencana untuk menunggu Mentari di jalan dimana kemarin ia kecelakaan tunggal akibat negara ini minta ia untuk mencium tanah air mengutip dari ucapan Zio padanya.


"Lu cantik banget, perhatian lagi. Cocok dijaiin istri dan lu bakalan jadi ibu terbaik buat anak-anak kita nanti," celetuk Oliver yang membuat Mentari menatap sengit padanya.


"Lu halu? Belum minum obat? Lu kalau gila jangan disini dong!" sungut Mentari.


"Gue emang gila, lebih tepatnya gue tergila-gila sama lu," sambar Oliver yang membuat Mentari dengan cepat menekan tombol lift agar segera terbuka dan dengan cepat Mentari melarikan diri agar terhindar dari Oliver.


Oliver masih senyam-senyum sendiri sambil mengingat bagaimana Mentari menyentuh dahinya. Seorang player kelas kakap sepetinya dibuat tidak berdaya oleh seorang Mentari yang sangat jauh dari tipe wanita yang selalu ia kencani.


Mentari yang memiliki tubuh hampir lurus itu dan wajah kurang dandan alias dandan seadanya dan lebih terlihat natural, juga mulutnya yang judes sungguh berbalik dengan wanita yang selalu mendampingi Oliver.


Kekasih semalam atau seminggu Oliver pasti memiliki bodi oke, wajah cantik, dandanan glamor, dan yang paling penting pandai bermulut manis padanya.


Sedangkan Mentari, semua adalah kebalikan dari mereka. Dan Oliver menyukainya.

__ADS_1


Dari ruang rapat, Zio keluar sambil bersungut-sungut. Di kepalanya seolah sudah keluar tanduk, ia ingin segera menyusul Mentari dan membalas perbuatannya. Zio tidak terima Mentari menyentil bibir bagusnya itu.


Tangkapan mata Zio melihat sang sepupu terlihat seperti orang bodoh di depan pintu lift, ia langsung menepuk pundaknya untuk mengagetkan dan benar, Oliver sedari tadi masih melamun saja.


"Lu kenapa? Kesambet?" tanya Zio.


Oliver menggeleng seraya berkata, "Nggak, gue cuma abis ketemu lagi sama bidadari gue. Cantik, pingin gue lamar aja biar gue jadiin istri dan ibu dari anak-anak gue."


Setelah Mentari, kini giliran Zio yang merasa sepupunya ini sedang tidak waras.


Entah kenapa hari ini semua orang menyebalkan.


Zio yang wajahnya terlihat kesal langsung menyita perhatian Oliver yang sudah keluar dari dunia halu-nya.


"Lu kenapa marah-marah? Ada yang salah? Meeting lu tadi nggak berjalan lancar? Atau lu gagal dapat jatah siang ini?" tanya Oliver.


Zio menatap semakin kesal pada Oliver. Padahal bukan salah sepupunya ini tetapi karena ia sedang kesal dan butuh pelampiasan maka ia salurkan saja pada Oliver karena untuk memberi Mentari hukuman itu akan ia pikirkan nanti.


"Gue lagi kesal sama sekretaris gue. Lu tahu nggak, dia malah ngerjain gue karena gue minta imbalan setelah gue bantuin dia selamat dari lamaran pria tua dengan istrinya yang ada tiga. Harusnya dia berterima kasih dengan baik sama gue, tapi justru dia giniin gue. Lu mau tahu?" Zio menggantung cerianya agar Oliver menjadi penasaran.


"Aww! Sialan lu! Bibir gue sakit ogeb!" teriak Oliver setelah Zio berhasil menyentil bibirnya.


Sambil menahan tawa, Zio berusaha untuk menekan tombol lift. Ia yakin Oliver pasti akan membalasnya makanya ia harus segera kabur dari kakak sepupunya ini. Keduanya bahkan tidak malu menjadi tontonan menarik para karyawan.


Image Zio yang merupakan CEO Casanova dan berdarah dingin serta berjiwa iblis itu mendadak runtuh setelah beberapa karyawan melihatnya bertingkah konyol bersama Oliver dan mendengar sendiri bagaimana ia tertawa terbahak dan itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


"Wah rupanya pak Dimas Ezio memiliki selera humor juga ya."


"Dia sangat menggemaskan dan ternyata dia selucu itu. Ah, gue mendadak jatuh cinta lagi sama pak Ezio."


"Itu juga pak Oliver ternyata sudah kembali. Gue jadi makin betah berada di perusahaan ini. Siapa tahu salah satu dari mereka jodoh gue."


"Dih ngarep!"


Dan masih banyak lagi suara-suara sumbang yang menggosipkan tentang Zio dan Oliver hingga berita itu menyebar ke seluruh penjuru perusahaan ini.

__ADS_1


Zio yang berhasil meloloskan diri dan keluar dari lift setelah sampai di lantai kantornya berpapasan dengan Ramon yang hendak turun karena ada meeting diluar dan ia akan pergi bersama Oliver. Zio menyeringai tipis, ia sudah mendapatkan ide untuk memberi hukuman pada Mentari.


Zio melewati meja Mentari sambil menatap horor pada mantan merangkap sekretaris ini. Mentari sendiri berpura-pura cuek seakan tidak ada Zio di dekatnya. Ponselnya berbunyi pun dengan cepat Mentari menjawabnya sedangkan Zio yang hendak membuka pintu ruangannya langsung menghentikan aksinya. Ia penasaran.


Siapa yang nelepon si mantan sih? Kenapa dia pakai senyam-senyum segala?


"Oh hai Juan. Makan siang? Oh tentu, nanti tunggu aku ya di lantai satu. Kita ketemu di sana aja."


Tangan Zio terkepal kuat, ia marah karena Mentari hendak keluar bersama Juan. Harusnya ia tidak boleh begini mengingat ia sudah tidak punya hubungan apapun dengan Mentari. Ia bahkan sudah memiliki banyak kekasih. Sangat tidak pantas baginya untuk marah apalagi cemburu. Zio pun langsung masuk ke ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya sambil memijat pelipisnya.


Zio mengambil telepon di atas meja kemudian ia menghubungi Mentari. "Lu sekarang ke ruangan gue. Jangan ngebantah karena ini perintah!"


Mau tidak mau Mentari harus masuk. Ia tahu dan yakin ia akan mendapat balasan dari Zio atas aksi nekatnya tadi. Mentari pun berdiri dan berjalan ke ruangan Zio.


Tanpa mengetuk pintu, Mentari membuka pintu tersebut dan langsung terkejut saat tangannya ditarik seseorang dan langsung membenturkan punggung Mentari ke tembok dengan mulutnya yang dibekap oleh tangan seseorang.


Zio menyeringai, "Lu berani ya sama gue tadi. Lu mau dikasih pelajaran ya?"


Ya, Zio memang sengaja langsung berdiri di dekat pintu setelah ia menelepon Mentari agar ia bisa langsung menangkap gadis itu. Kedua tangan Zio ia tempelkan ke dinding dan jadilah ia mengungkung Mentari dengan kedua tangannya.


"Pak, anda mau apa?" tanya Mentari waspada.


"Hmmm … mau gue ya? Mau gue itu begini …."


Zio langsung menempelkan bibirnya di bibir Mentari hingga membuat mata Mentari melotot.


"Itu bayaran karena lu udah berani sama gue. Masih berani lu ngerjain bos lu?" ucap Zio setelah menarik bibirnya kembali. Ia hanya sekadar menempelkan bibirnya dan tidak melakukan lebih karena ia sadar sudah berbuat jauh pada Mentari.


Mentari yang kesal langsung menarik tangan Zio yang masih berada di dinding dan dalam sekejap Mentari langsung membalikkan keadaan menjadi Zio yang membentur dinding.


Cupp …


"Itu juga balasan karena bapak sudah berani mencium saya. Bapak pikir cuma anda yang bisa berciuman, hah? Saya juga bisa. Dasar bos dan mantan bangsat! Brengsek! Mesum!"


Setelah mengumpati bosnya itu, Mentari langsung keluar dengan perasaan kesal. Sedangkan Zio, ia masih terpaku sambil memegang bibirnya yang baru saja dikecup oleh Mentari.

__ADS_1


"Eh? Emang ada ya pembalasan kayak gitu?" gumam Zio.


__ADS_2