CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~68


__ADS_3

Hari kembali berlalu dan kini hari Senin pun sudah kembali datang. Mentari dengan setelah kerjanya bergegas pergi ke tempat baru dimana ia akan bekerja. Hari barunya telah dimulai dan ia harus lebih bersemangat dari hari yang kemarin. Ia melepaskan segala beban pikirannya terutama masalah percintaannya untuk hari ini agar tidak membuat Mawar kecewa dengan kinerjanya.


Mentari juga tidak memberitahukan pada mamanya jika ia sudah tidak lagi bekerja bersama Zio, ia berpamitan dan melajukan motornya menuju ke tempat dimana ia akan mengais rejeki. Senyuman manis ia kembangkan walaupun pada kenyataannya hatinya masih merasa sesak sebab harusnya ia berangkat kerja dan berjumpa Zio setiap saat. Namun apalah daya, semua sudah sangat runyam.


Di belakang Mentari, sebuah mobil terus mengikutinya hingga ke tempat kerja. Penumpang di dalam mobil tersebut tidak lain adalah Zio. Ia hanya ingin tahu dimana Mentari bekerja dan ia cukup kaget karena kekasihnya itu justru memilih bekerja di perusahaan yang jauh dibawah kelas perusahaan Zio.


Entah apa yang ada dipikiran lu, Tari. Kenapa lu pindah ke perusahaan kecil ini dan memilih resign dari perusahaan gue. Gue sama sekali nggak bisa nebak jalan pikiran lu.


Lamunan Zio dan juga pemantauannya ia akhiri sebab Mentari sudah masuk ke dalam perusahaan tersebut. Zio pun meminta sopir taksi tersebut untuk membawanya ke dealer motor sebab ia akan membeli satu unit untuk transportasinya sehari-hari.


Setelah mendapatkan keinginannya, Zio pun kembali ke apartemennya dan menjadi pengangguran untuk sementara waktu. Ia masih memilih dan memilah akan masuk bekerja di perusahaan yang mana.


Sementara itu di perusahaan yang dulunya dipegang oleh Zio tengah terjadi kehebohan. Seluruh karyawan dibuat menganga sebab diangkatnya Juan sebagai CEO baru oleh tuan Danuarta dan juga ia memperkenalkan Juan sebagai anaknya sekaligus adik dari Dimas Ezio Rasyid.


Selama ini tidak ada yang tahu tentang Juan kecuali Ramon dan Mentari. Banyak yang mulai mengelu-elukan Juan dan ada beberapa orang yang merasa resah sebab dulu sering sekali memerintah Juan seenaknya. Namun tak banyak yang bertanya-tanya kemana perginya Zio dengan begitu mendadak posisinya digantikan oleh Juan.


"Pi, tapi Juan nggak siap. Dan Mentari juga belum datang sebagia sekretaris. Juan nggak biasa sama Ramon, Pi. Ayolah, bujuk kak Zio buat balik lagi," rengek Juan ketika mereka sudah berada di dalam ruangan.


Papinya hanya tersenyum tipis, ia sempat menangkap ucapan Juan tentang Mentari. Ia pun mengatakan jika Mentari sudah keluar dari perusahaan ini dan Juan harus merekrut sekretaris baru lagi. Hal tersebut tentu saja membuat Juan terkejut. Mentari sama sekali tidak pernah menyatakan jika ia akan keluar dari perusahaan ini.


"Jangan bilang papi mecat Mentari?" terka Juan.


"Itu tidak mungkin. Dia sendiri yang memilih mundur karena tidak ingin lagi berhubungan dengan kakakmu. Coba lihat, dia bahkan menghindar dari Zio hanya karena kejadian malam itu. Jika benar dia cinta pada Zio, harusnya dia bertahan dan membuktikan. Tapi, ini tidak sama sekali. Dia hilang gadis yang baik dan tepat untuk Zio!"


Juan terdiam mendengar ucapan papinya. Ia jelas tidak percaya karena ia begitu mengenal Mentari walau belum dalam waktu yang lama. Hati dan pikiran Juan menolak semua ucapan papinya tersebut.


Sedangkan Danu, ia tersenyum menikmati raut wajah Juan yang dengan jelas menyatakan ketidaksetujuannya dengan ucapannya barusan. Ia memang sengaja mengatakan hal tersebut kepada Juan dan tujuannya hanya ia sendiri yang mengetahuinya.


.


.

__ADS_1


Mentari mulai mengerjakan beberapa pekerjaan yang diberikan Mawar padanya. Dengan sangat cekatan dan hati yang gembira Mentari menyelesaikannya.


Tak lama kemudian Mawar keluar dari ruangannya dan mengajak Mentari untuk menemaninya melakukan pertemuan dengan klien sekaligus makan siang. Mentari langsung menurut sebab ia tahu Mawar membutuhkan dirinya untuk rapat kali ini karena sekretaris sekaligus asistennya itu sudah cuti sejak Minggu lalu karena akan melahirkan.


Setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan mobil Mawar, kedua gadis cantik ini sampai juga di kafe tempat dimana meeting akan dilakukan. Mawar membawa Mentari ke tempat dimana mereka sudah janjian tepatnya di ruang VIP karena kata Mawar, kliennya ini tidak suka keramaian saat sedang bekerja.


"Kenapa tidak di kantornya saja kalau seperti itu?" celetuk Mentari merasa heran.


"Ya ini biar bisa sekalian makan siang. Lumayan, dia yang traktir dan dengar-dengar orang ini sangat tampan lho. Gua nggak pernah bertemu sebelumnya karena selama ini urusan pekerjaan selalu diwakilkan oleh asistennya," ujar Mawar kemudian ia membuka pintu ruangan yang dimaksud.


Ganteng? Menurut gue nggak ada sih yang bakalan ngalahin ketampanan Zio, wajahnya seperti Kim Seok Jin si Worldwide Handsome, hehe.


Mawar dan Mentari duduk berhadapan dengan dua pria yang terlihat begitu mempesona. Yang satu terlihat tersenyum ramah saat mereka berjabatan tangan sedangkan yang satunya lagi terlihat angkuh dan bahkan tidak mau berjabatan tangan dengan mereka.


Dalam hati Mentari sedikit mengumpati pria itu. Ia bisa menebak jika bosnya disini adalah dia dan ia kembali membandingkan dengan Zio yang selalu saja tebar pesona dan sudah mahir dalam hal flirting.


"Perkenalkan nona, ini bos saya CEO di PT. Bright Santoso," ucap pria yang merupakan asistennya.


Mawar dan Mentari bergantian memperkenalkan nama mereka dan rapat pun dimulai. Kedua gadis cantik itu terbengang mendengar suara CEO tampan itu saat berbicara, enak di dengar seperti suara Vino G Bastian dan caranya menyampaikan presentasinya pun membuat keduanya terpana.


Lemah iman nih gue kalau udah kayak gini. Aduh Tari ... ingat Zio, ingat Zio.


Setelah pria tersebut memaparkan proposalnya, kini giliran mereka saling membuat kesepakatan. Mentari lebih banyak berbicara sedangkan Mawar hanya sesekali menimpali. Ia sibuk dalam pesona pria tampan yang mereka belum ketahui namanya itu.


Sampai hampir satu jam, akhirnya pembicaraan mereka berakhir dan nantinya akan melakukan penandatanganan kontrak di perusahaan Bright Santoso.


Bertepatan dengan selesainya rapat, makanan mereka pun datang karena sang asisten sudah memesannya sejak tadi.


"Oh ya tuan, kalau boleh tahu nama Anda siapa?" tanya Mawar yang sangat penasaran.


"Bright Santoso," jawabnya singkat.

__ADS_1


Mentari langsung tersedak, ia seperti pernah mengenal nama ini. Dengan cepat ia meminta maaf karena merasa telah mengganggu kenyamanan dan ia pun meneguk air minum dengan banyak.


"Maaf tuan, apakah Anda adalah anak dari tuan Santoso dari PT Santoso?" tanya Mentari hati-hati.


Bright menatap Mentari dengan tatapan yang sulit terbaca, ia kemudian mengangguk pelan.


Mentari menggigit bibir bawahnya. Ia masih ingat dulu ia sering mengirim uang untuk Bright atas permintaan Pak Santoso dan ia yang sering kali mengurus segala keperluan yang dibutuhkan Bright saat pria ini masih menempuh pendidikan Magisternya di luar negeri.


"Apakah kita pernah saling mengenal?" tanya Bright yang merupakan pertanyaan Mawar sejak tadi namun hanya ia pendam dalam hati.


Mentari mengangguk lalu menggeleng membuat Bright merasa ambigu. Ia kemudian kembali fokus pada makanannya saja dan segera menghabiskannya lalu kembali ke perusahaannya.


"Nona Mentari mengenal tuan Bright?" tanya Pram, sang asisten.


Mentari melirik Bright sebelum ia menjawab pertanyaan yang sama, "Saya dulunya bekerja di perusahaan Pak Santoso sebagai sekretaris. Dulu semasa tuan Bright melanjutkan studi di luar negeri, saya yang selalu mengurus kebutuhannya dari perusahaan," jawab Mentari.


Sontak Bright melepaskan sendok dan garpu yang ia pegang. Ia menatap Mentari lamat-lamat kemudian ia tersenyum miring.


"Jadi kamu orang yang ingin dinikahi Daddy?" tembak Bright hingga Mentari langsung merasa tertohok.


Bagaimana dia bisa tahu? Oh ya, dia ini anak dari istri yang mana?


Mentari bertanya-tanya dalam hati sekaligus mengumpati Bright karena secara tidak langsung ia sudah membongkar aib yang coba ditutupi oleh Mentari. Ia sangat tidak suka masalahnya bersama Pak Santoso kembali muncul di permukaan.


Mentari tersenyum kecut, "Maaf tuan, jika Anda berpikir bahwa saya adalah wanita rendahan karena mencoba menggoda ayah Anda maka saya tekankan lagi jika saya bukan orang seperti itu!" ucap Mentari mulai kesal.


"Lalu, kau orang yang seperti apa?" sindir Bright.


Mentari mengepalkan tangannya, rasanya ia ingin mengacak-acak wajah pria ini akan tetapi ia ingat jika pria ini sangat penting untuk perusahaan Mawar.


Sabar Mentari sabar. Habis ini biar gue aduin deh ke Zio. Bisa-bisanya gue yang seleranya seorang Dimas Ezio Rasyid dituding menggoda pria bangkotan! Jelas gue nggak bisa terima!

__ADS_1


__ADS_2