
Zio menatap Mentari yang saat ini tidak mau menatapnya. Zio yakin sekali ada hal yang sedang dipikirkan oleh Mentari. Dan ia bisa menebak jika hal ini tidak sesederhana itu. Apalagi Mentari tiba-tiba turun dari pangkuannya tanpa berkata apa-apa. Zio semakin curiga dan juga penasaran dengan diamnya Mentari yang aslinya bukanlah pendiam.
"Gue mau antar piringnya ke kantin dulu. Nggak lama lagi jam istirahat selesai. Pekerjaan gue masih banyak. Lu lanjutin deh pekerjaan lu. Semangat, biar bisa ngumpulin banyak uang buat masa depan kita. Bisa beli rumah dan menghidupi gue dan anak-anak kita nanti," ucap Mentari sembari tersenyum manis.
Bluusshh ...
Pipi Zio memerah dan Mentari tahu akan hal itu. Ia yang tadi melihat jelas Zio begitu tersipu saat ia membahas masa depan membuat Mentari ingin mengulanginya lagi. Dan terbukti, Zio kembali terlihat menggemaskan.
"Kalau itu sudah pasti dong Yang, nggak usah disuruh pun gue bakalan kerja keras buat lu dan anak-anak kita nanti," timpal Zio dan kini justru pipi Mentari yang memerah.
__ADS_1
Cup ....
Mentari meninggalkan satu kecupan di pipi Zio sebelum ia keluar dengan membawa nampan berisi peralatan makan yang sudah kotor. Zio sendiri mematung sambil memegangi pipinya yang baru saja dicium oleh Mentari.
Sedangkan Mentari saat ini, setelah ia keluar dari ruangan Zio ia pun menengadahkan wajahnya, berusaha untuk menahan air mata yang sebentar lagi akan jatuh membasahi pipinya.
Kuat Mentari, lu pasti kuat. Lagi pula gue nggak mau jadi pemeran pelakor di kantor ini. Gue bukan nggak sayang Zio, gue sayang banget mala. Tapi gue nggak mau nyari ribut dan gue nggak mau nantinya gue bakalan disebut perebut atau wanita idaman lain. Gue memilih menghindar dan gue bakalan lihat seperti apa takdir Tuhan. Gue cuma nggak mau ribut-ribut karena kalau gue udah kepancing gue takut merusak citra gue dan juga image Zio yang milih gue sebagai cewek blak-blakan dan meledak-ledak buat dijadikan istri.
"Saya pikir setelah perginya alias dihempasnya Bella dan Helena maka hubungan keduanya akan membaik, tetapi ternyata saya salah. Apakah harus dalam hubungan setiap orang akan ada baru sandungan yaitu pihak ketiga? Entah ada yang selingkuh atau mendadak salah satunya di jodohkan. Untung sampai saat ini saya tidak memikirkan soal asmara. Jika sampai saya berada di posisi mereka, mungkin pekerjaan saya yang luar biasa banyak ini akan terbengkalai."
__ADS_1
Ramon tersenyum miring, ia iba dengan nasib CEO dan sekretarisnya itu, namun disisi lain ia juga mensyukuri dirinya yang belum berniat mencari pendamping hidup.
Saat Mentari keluar dari lift, ia berpapasan dengan Juan. Pria itu tersenyum padanya dan Mentari membalasnya. Juan sempat bertanya pada Mentari apa yang hendak ia lakukan dan Mentari mengatakan jika ia hanya ingin mengembalikan barang-barang dari kantin.
Juan pun memutuskan untuk menunggu Mentari agar mereka bisa sedikit mengobrol. Jujur saja Juan masih belum bisa lupa soal Mentari yang dengan berani melawan kakeknya. Ia penasaran ingin tahu bagaimana perasaan Mentari setelah tahu jika Zio dijodohkan.
Pria tampan ini siap untuk menjadi the shoulder to cry on untuk Mentari. Juan masih menyimpan rasa dan harap pada gadis itu dan ia ingin menjadi orang yang berada di dekat Mentari ketika hari dimana Zio akan dipaksa menikahi Dini tiba. Juan siap menjadi teman curhat dan tempat Mentari melampiaskan segala kesedihannya.
Ia nanti pasti akan sangat membantu gadis itu dan nanti perlahan Juan akan masuk ke hati Mentari dan Mentari akan menerima dirinya juga cintanya seiring dengan berjalannya waktu. Semua sudah ada di dalam benak Juan, namun bukan berarti dia langsung setuju dengan usulan dimana Zio yang akan dijodohkan. Bagaimanapun Juan tetap menyayangi Zia dan ia berharap kakaknya itu bahagia walaupun dengan wanita yang sangat ia sayangi.
__ADS_1
"Mentari, gue mau bicara sama lu berdua boleh nggak?" tanya Juan begitu melihat Mentari menyelesaikan urusannya di kantin ini.