CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK ~ 123


__ADS_3

"Anda siapa ya?"


Juan tersenyum begitu mendengar pertanyaan dari kedua orang tua Lidya. Ia sudah sampai di rumah Lidya dan melihat kedua orang tuanya yang terlihat begitu sederhana menyambutnya dengan ramah, tetapi dalam keadaan bingung. Tentu saja, karena Juan tiba-tiba datang ke rumah mereka dan ia pun sama sekali tidak pernah mengenal keduanya bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya.


"Sebelumnya perkenalkan Bu, Pak, nama saya Juan. Saya datang kemari karena saya ingin bertemu dengan kedua orang tuanya Lidya. Apa benar itu adalah kalian berdua?" tanya Juan dengan begitu sopan walaupun ia sudah tahu tetapi apa salahnya untuk bertanya lagi.


Ibu dan bapak Lidya langsung menganggukan kepala. Keduanya pun merasa resah karena mereka baru melepaskan beberapa hari anak gadis mereka di kota bersama dengan saudaranya, akan tetapi tiba-tiba ada orang berpenampilan kota datang menemui mereka dan membicarakan tentang Lidya.


Hati orang tua mana yang tidak akan was-was jika anak gadis mereka satu-satunya itu pergi dan tahu-tahu sudah ada orang yang datang menyusul dan mencarinya di sini.


"Mohon maaf sebelumnya karena saya datang mendadak, tetapi di sini saya hanya ingin datang untuk menjemput bapak dan ibu pergi menemui Lidya. Saya adalah orang yang sangat berhutang budi pada anak kalian dan saya memohon maaf karena kelalaian saya, anak kalian harus terbaring di rumah sakit karena menolong saya," ucap Juan dengan kepala yang langsung ia tundukkan, tidak kuat menatap ekspresi dari kedua orang tua Lidya.


Bagai disambar petir, ibu-bapak Lidya langsung histeris mendengar anaknya kecelakaan dan terbaring di rumah sakit. Baru tadi pagi mereka saling membagi kabar lewat telepon, tahu-tahu anaknya itu sudah berada di rumah sakit ketika malam hari menjelang — sebab Juan sampai di kampung ini saat matahari hampir tenggelam.


"Bagaimana bisa? Apakah Anda bisa menjelaskan kepada kami apa yang terjadi kepada Lidya? Lalu di mana saudaranya?" tanya bapak Lidya.


Juan mengangkat kepalanya, wajahnya terlihat begitu sedih. Dia juga merasa bersalah pada dua orang yang sudah terlihat tua tapi masih sanggup untuk bekerja di ladang.

__ADS_1


"Kebetulan saya adalah adik ipar dari Mentari. Tadi pagi saya mengantar mereka berdua, Mentari menuju ke kantor dan Lidya ke kampus. Awalnya saya pikir Lidya sudah masuk ke dalam area kampus karena saya sudah cukup lama meninggalkannya. Dan ketika saya keluar dari mobil untuk mengambil uang di mesin ATM, seseorang dalam keadaan mabuk mengendarai mobilnya dan hampir menabrak saya dan saya tidak menduga tiba-tiba Lidya datang dan mendorong saya lalu dia yang terserempet mobil tersebut ..."


Lebih lanjut Juan menceritakan tentang kronologi kecelakaan tersebut dan tidak ada yang ia tutup-tutupi. Kedua orang tua Lidya semakin menangis histeris mendengar kabar anaknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dan mereka pun tidak menyalahkan Juan karena semua itu terjadi diakibatkan karena kesalahan oleh pengemudi yang mengemudi dalam keadaan mabuk.


Bahkan tersirat rasa bangga di hati mereka karena anak mereka yang selalu mendapat perundungan di kampung dan juga di sekolahnya itu bisa menyelamatkan orang lain tanpa berpikir panjang tentang nyawanya sendiri.


"Kalau begitu kami ingin ikut bersama Nak Juan saja. Kami akan bersiap-siap dulu, dan janganlah merasa begitu bersalah karena semua ini adalah kecelakaan semata, bukan keinginan Nak Juan untuk membuat anak saya masuk rumah sakit. Dan bukan keinginan dia juga untuk membuat Nak Juan merasa bersalah seperti ini. Mari kita berdoa saja agar Lidya bisa lepas dari masa kritisnya," ucap bapak Lidya mencoba untuk legowo.


Juan dibuat tidak bisa berkata-kata, dia sangat terharu dengan bagaimana orang tua ini menyikapi masalah yang tengah terjadi padanya dan Lidya. Jika saja orang kota, pasti mereka akan menuntut ini dan itu kepada Juan. Tetapi di sini mereka justru mengatur secara kekeluargaan dan Juan merasa begitu senang apabila kedua orang tua ini akan menjadi mertuanya.


Setelah kedua orang tua Lidya bersiap, Juan pun langsung mengajak mereka untuk pergi. Awalnya kedua orang tua itu meminta Juan untuk istirahat lebih dulu karena merasa tidak enak dengan Juan yang baru saja sampai lalu langsung diajak pergi lagi, sedangkan perjalanan cukup jauh dan menempuh waktu berjam-jam lamanya.


Namun Juan menolak karena ia ingin segera membawa kedua orang tua ini menemui anak mereka, dan ia berharap saat mereka sampai di sana kondisi Lidya sudah membaik sebab sedari tadi Mentari tidak memberikannya kabar dan Juan pun sama sekali tidak terpikirkan untuk menghubunginya, karena ia lebih memikirkan tentang Lidya dan juga perasaan aneh yang tiba-tiba menghampirinya.


"Mohon maaf sebelumnya Ibu, Bapak, ada yang ingin saya tanyakan ... tapi ini mungkin menyangkut privasi. Jika tidak ingin menjawab tidak masalah, dan jika dijawab pun saya sangat bersyukur. Saya hanya sangat penasaran kok bisa Lidya menutup penampilannya seperti itu?" tanya Juan dengan begitu hati-hati.


Kedua orang tua itu saling memandang. Juan bisa memperhatikan mereka lewat kaca spion yang ada di dalam mobil, ia merasa bahwa ini adalah sebuah rahasia keluarga dan ia merutuki dirinya sendiri karena sudah bertanya selancang itu padahal mereka baru saja bertemu.

__ADS_1


"Ada hal yang sangat kami rahasiakan, Nak Juan. Mohon maaf jika kami tidak bisa menceritakannya saat ini karena Lidya pun tidak boleh tahu tentang ini semua. Itu adalah rahasia milik kami sekeluarga dan jika harus membahasnya, kami khawatir tidak akan kuat karena akan mengenang luka lama," ucap ibu Lidya mewakili sang suami.


Juan pun tersenyum tipis. "Tidak apa-apa Ibu, semua adalah hak kalian. Saya hanya bingung saja karena begitu saya membawanya ke rumah sakit dan ketika saya hendak menjenguknya di ruang perawatan, saya hampir tidak mengenalinya jika saja suster tidak mengatakan kalau pasien yang terbaring di hadapan saya itu adalah Lidya. Dia benar-benar berbeda jika tidak memasang mode cupunya. Mohon maaf, tapi saya tidak bermaksud menghinanya, hanya saja itu merupakan sebuah rasa penasaran saya," ucap Juan kembali.


Kedua orang tua Lidya langsung maklum, semua terjadi karena keinginan mereka dan apapun yang terjadi pada Lidya mereka pasti akan selalu menanggung rasa sakitnya. Seperti ketika anaknya mendapatkan perundungan, yang lebih menderita adalah mereka berdua karena yang terjadi pada Lidya adalah kehendak mereka.


Untuk beberapa saat mereka terdiam dan Juan meminta izin untuk memutar musik agar ia tidak merasa mengantuk. Juan juga meminta kedua orang tua itu untuk beristirahat, akan tetapi bapak Lidya yang bernama Pak Rusno itu memilih untuk menemani Juan sepanjang perjalanan, sedangkan istrinya sudah tidur lebih dulu.


"Kalau begitu bapak pindah saja di depan, biar saya ada teman mengobrol," ucap Juan dan Pak Rusno pun menyetujuinya.


Juan menghentikan mobilnya sesaat dan Pak Rusno langsung berpindah tempat. Ia membiarkan istrinya berbaring karena sudah sangat kelelahan. Rasa lelah setelah seharian bekerja di ladang sedang istrinya belum istirahat, lantas mereka melanjutkan perjalanan yang cukup jauh dengan bawaan beban pikiran tentang kondisi anak mereka.


Juan kembali melajukan mobilnya ditemani Pak Rusno. Keduanya bercerita tentang Lidya dan Juan menjadi pendengar yang begitu baik. Ia baru tahu tentang perundungan yang terjadi pada Lidya dan tak sedikit Pak Rusno mengatakan tentang rasa sesalnya telah membuat anaknya berpenampilan buruk seperti itu.


"Sejujurnya saya sangat setuju dengan pendapat bapak yang menjadikan anak kalian tersembunyi. Benar-benar membuat orang yang akan mendapatkannya sangat beruntung karena dia merupakan mutiara tersembunyi yang ada di dasar lautan. Akan lebih baik ia menutupi kecantikannya, apalagi berada di kota dimana yang cantik biasanya akan mendapat banyak kejahatan. Bagi saya apa yang kalian lakukan kepada Lidya sudah sangatlah tepat," ucap Juan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Dan setelah itu orang beruntungnya adalah gue. Itu karena gue nggak bakalan biarin Lidya dimiliki oleh orang lain. Setelah gue melihatnya dalam keadaan secantik itu, bukan juga karena kecantikannya, tetapi karena ketangguhannya menerima segala macam perundungan selama ini. Padahal ia sesungguhnya sangat cantik, hal itulah yang membuat gue tertarik padanya. Terlebih lagi dia rela mengorbankan nyawanya buat gue, apa sih yang nggak buat Lidya. Dan apa sih yang membuat gue nggak bisa tidak jatuh cinta sama dia? gumam Juan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2