
Zio merebahkan tubuh Mentari di atas tempat tidur, sudah sampai di rumah tetapi Mentari sama sekali belum juga ada tanda-tanda bangun. Maya lansung mencari minyak angin di dalam kamar Mentari, Zio mengatakan pada Maya jika ia saja yang akan menjaga Mentari di sini sedangkan Maya, Zio minta untuk beristirahat.
"Tante titip Mentari ya, dia itu memang sangat dekat dengan papanya. Mungkin saja ia tidak siap kehilangan sosok ayah, jadi dia pingsan. Apalagi dia semalaman tidak tidur dan belum menyentuh makanan, tubuhnya pasti saat ini sedang lemas biar tante buatkan makanan dulu untuk dia dan untuk para kerabat yang masih tinggal," ucap Maya.
"Nggak usah repot-repotan Tan, aku yang pesankan makanan. Tante istirahat saja atau bergabunglah dengan para kerabat biar hati Tante tidak begitu sedih," cegat Zio.
Maya tentu saja menolak, ada banyak orang yang harus diberi makan tetapi Zio tetap keukeuh jika dia yang akan memesankan makanan dan meminta Maya untuk istirahat saja.
Maya pun akhirnya menurut saya pada Zio karena pada saat ini Zio sudah mulai menelpon salah satu restoran langganannya dan memesan banyak makanan. Ia menitipkan Mentari karena ia harus keluar menemui kerabatnya.
Zio duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan Mentari. Ia mengecup dengan lembut seiring dengan jatuhnya air hujan membasahi bumi.
Zio mengusap kepala Mentari kemudian ia mendaratkan satu kecupan di dahi Mentari. Hal yang bisa Zio lakukan saat Mentari tidak sadar, jika saja Mentari tahu ia mencuri kecupan, maka mungkin Mentari akan mengamuk dan marah-marah padanya.
Zio terkekeh dengan kejadian kemarin dimana ia mencium bibir Mentari dan Mentari yang kesal justru membalas Zio dengan kecupan juga.
"Harusnya kita udah nikah ya," gumam Zio, ia terus saja mengecup punggung tangan Mentari.
Zio kemudian mengenang kembali hubungannya dengan Mentari yang jika saja mereka masih bersama dan tidak putus mungkin mereka sudah menikah dan sudah memiliki anak yang lucu-lucu.
Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Zio merasa senang. Ia bertekad untuk mewujudkan keinginannya tersebut.
Perlahan mata Mentari mulai terbuka, hal yang pertama Zio lihat adalah air mata yang mulai mengalir dari sudut mata Mentari.
"Hei, lu sudah bangun," sapa Zio yang langsung membuat Mentari menatapnya.
Mentari tersenyum lirih, kemudian ia bergerak untuk bangun dan Zio membantunya untuk duduk.
"Gue tadi pingsan? Pa-papa dimana? Papa gue dimana Zio? Ayo cepat kita keluar, gue mau ketemu sama papa," ucap Mentari gelisah.
Tak tahan melihat Mentari yang masih syok dengan meninggalnya sang ayah, Zio langsung mendekapnya. "Tari, lu yang sabar ya. Lu harus ikhlas agar bokap lu bisa tenang di alam sana," hibur Zio.
Mentari memeluk erat tubuh Zio, ia menangis sejadi-jadinya dalam dekapan sang mantan. Zio sendiri membiarkan Mentari meluapkan tangisnya. Ia tidak peduli dengan kemejanya yang basah karena air mata Mentari. Ia terus mengusap punggung Mentari untuk memberikan kekuatan dan penghiburan.
"Kemarin gue masih sarapan bareng dia, masih saling melempar candaan tapi kenapa dia tiba-tiba pergi? Gue belum bahagiain dia, gue belum bisa jadi anak yang baik buat dia, gue belum nikah dan memberikan dia cucu, hikksss ...."
"Kemarin 'kan gue ngajak lu nikah waktu dia masih ada di rumah. Lu sih menolak," ucap Zio yang sengaja memberi candaan agar Mentari merasa terhibur.
"Hikss ... lu ya, kalau lu serius lamar gue ya gue mau lah. Huhuuu ... Papa," ucap Mentari yang membuat Zio tergelak.
__ADS_1
Zio mengeratkan pelukannya pada Mentari, ia tahu saat ini mantan kekasihnya itu membutuhkan support dan juga hiburan dari orang-orang terdekatnya.
Mentari mendongakkan kepalanya, ia tersenyum pada Zio yang masih saja peduli dengannya walau semalam ia sudah membuat Zio sakit hati dengan kehadiran Juan.
Sadar tidak sadar, keduanya saat ini masih saling memeluk dengan keduanya yang saling menatap lembut. Mentari terpana dengan ketampanan Zio yang masih saja sama seperti dulu dan Zio pun seolah terhipnotis hingga perlahan ia memajukan wajahnya dan ketika Mentari menutup matanya, Zio langsung menempelkan bibirnya di bibir Mentari.
Keduanya saling melu-mat, Zio menyesap bibir Mentari dengan kerinduan yang membuncah dan satu tangannya ia gunakan untuk menekan tengkuk Mentari agar ciuman mereka makin dalam.
Didukung suasana hujan deras di pagi menjelang siang, Zio yang terbuai dengan ciumannya bersama Mentari perlahan merebahkan tubuh Mentari dan ia menindihnya. Mentari bahkan tidak sadar jika saat ini Zio sudah berada di atasnya dan ciuman mereka semakin lama semakin panas.
Zio melepaskan ciumannya, ia menatap Mentari dengan pandangan berkabut gairah, apalagi Mentari yang terlihat pasrah di bawah kunkungannya, Zio kemudian kembali mencium Mentari. Satu tangannya ia gunakan untuk menyentuh titik-titik sensitif di tubuh Mentari hingga tanpa sadar Mentari melenguh.
Mata Mentari terbelalak begitu Zio menyentuh dadanya. Kesadarannya pun kembali dan ia segera mendorong tubuh Zio dari atas tubuhnya.
Bruukk ...
"Aww, ya sakit dong Yang," keluh Zio begitu ia terjatuh di lantai.
Mentari tidak mempedulikan Zio yang baru saja jatuh di lantai, ia sibuk mengancing kemejanya yang entah sejak kapan sudah terbuka. Zio pun duduk di ranjang sambil cengengesan menatap Mentari.
"Heheh, sorry." Zio tidak tahu harus berkata apa selain meminta maaf karena ia sudah melewati batas.
'Kan, gue bilang juga apa. Kalau dia sadar gue ***** pasti bakalan ngamuk. Lagian gue kenapa sampai kelepasan sih? Yakin pasti Mentari bakalan jaga jarak dari gue.
"Tadi 'kan kita sama-sama menikmati Yang," ucap Zio memberi pembelaan.
"Yang Yang, lu pikir gue ayang lu. Jangan manggil-manggil gitu lagi deh. Eneg gue dengarnya. Dipanggil Yang ternyata entah yang keberapa!" sungut Mentari.
Zio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia juga bingung entah harus berkata apa lagi pada Mentari.
Tokk ... Tokk ...
Bunyi pintu di ketuk kemudian pintu tersebut terbuka menampilkan Maya yang membawa dua kotak makanan di tangannya.
"Mentari, kamu sudah bangun Nak. Ini, kalian makan dulu. Kebetulan pesanan makanannya sudah datang. Terima kasih banyak ya Nak Zio," ucap Maya seraya memberikan nampan berisi dua kotak makan pada Mentari.
"Nggak usah terima kasih Tante, kayak sama siapa aja," ucap Zio.
"Ya tetap saja Tante mau bilang terima kasih. Ya sudah, kalian makan saja, Tante mau keluar dulu. Tari, kamu makan Nak, mama keluar dulu ya," ucap Maya, kemudian ia segera keluar dari kamar Mentari.
__ADS_1
Mentari menatap makanan yang ada di tangannya kemudian ia memberikan satu untuk Zio. Dari pembicaraan Zio dan mamanya, Mentari bisa menyimpulkan bahwa makanan ini adalah makanan yang dibeli oleh Zio untuk mereka. Mentari ingin mengucapkan terima kasih tetapi ia masih kesan pada Zio karena hampir saja memperkosanya.
Zio sendiri hanya menatap Mentari sesekali karena ia tahu saat ini Mentari sedang kesal padanya. Ia harus memutar otak, memikirkan cara agar Mentari tidak lagi marah.
"Jangan lihatin gue, makan sana!" sungut Mentari, ia kemudian membuka kotak makanannya dan mulai menikmati suapannya walau saat ini hatinya masih begitu sedih dan terpuruk.
Melihat Mentari yang mulai melahap makanannya, Zio pun turut membuka kotak makanan tersebut dan mulai menikmatinya. Sesekali ia melirik Mentari, hati Zio terasa hancur begitu melihat ternyata Mentari makan dengan deraian air mata. Ia tahu pasti Mentari saat ini kembali mengingat sang ayah.
Zio meletakkan kotak makannya di atas tempat tidur kemudian ia menghapus air mata yang membasahi pipi Mentari. Ia juga mengambil kotak makan Mentari dan mengambil alih untuk menyuapinya.
"Di depan makanan kita nggak boleh nangis, lu juga harus makan ya biar lu nggak sakit. Biar gue suapin," ucap Zio, kemudian ia mengarahkan sendok berisi makanan ke depan mulut Mentari tetapi Mentari menggelengkan kepalanya.
"Gue nggak lapar," lirih Mentari.
Zio menghela napas, "Lu mau makan atau lu mau gue makan, hem?" tanya Zio sambil menyeringai hingga membuat Mentari bergidik ngeri. "Sekarang lu tinggal pilih, makan atau dimakan. Lu lihat sendiri sekarang lagi hujan deras, kalau gue mau memakan lu sekarang, biar lu teriak juga nggak bakalan ada yang dengar. Sekarang lu pilih deh mau gue ma --"
"Oke gue makan gue makan," sambar Mentari yang membuat Zio tertawa.
Zio kemudian menyuapi Mentari. Jika ia memasang senyuman manis setiap menatap Mentari, justru Mentari menatapnya sengit.
Dia selalu bisa bikin gue kalah! Lagian tadi kenapa gue bisa hilang akal sampai ciuman sama Zio? Mana tadi dia baring di atas tubuh gue. Oh ya ampun, gue malu banget. Nanti kesannya gue itu cewek gampangan yang dengan mudah dikungkungin sama mantan.
Mentari mengambil kotak makannya dari tangan Zio dengan berkata bahwa ia makan sendiri. Sejujurnya ia hanya ingin agar Zio turut makan bersamanya.
Setelah makanan keduanya habis, suasana kembali hening dan hanya terdengar derasnya hujan. Sesekali Mentari mencuri pandang pada Zio yang kini sedang sibuk dengan ponselnya yang tadi katanya Ramon mengirim pesan penting lewat email.
"Lu kenapa curi-curi pandang gitu sama gue. Lu bebas kok kalau mau natap wajah ganteng gue, serius!" ucap Zio tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Ia sedang sibuk membaca pesan dari Ramon.
"Cih! Hmm ... itu, mengenai kejadian tadi ... gue harap lu nggak mikir kalau gue ini cewek murahan dan gampangan, gue hanya --"
Zio meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Mentari, "Dari dulu sampai saat ini, gue nggak pernah ada pikiran seperti itu tentang lu. Harusnya gue yang minta maaf karena udah ngambil kesempatan dalam kesempitan. Lu yang lagi terpuruk dan gue justru ngelakuin hal yang nggak seharusnya gue lakuin. Berhenti menilai diri lu itu rendah karena gue selalu melangitkan elu, Mentari!" ucap Zio yang membuat Mentari tertegun.
Senyuman miris terbit di bibir Mentari, "Dan lu juga berhenti bermulut manis ke gue. Jangan sampai gue baper sama semua perlakuan lu ke gue," ucap Mentari yang membuat Zio tertegun.
Baru saja Zio akan menjawab perkataan Mentari, ponselnya berdering dan panggilan tersebut berasal dari Ramon yang meminta agar Zio segera kembali ke kantor karena ada rapat penting yang tidak bisa diwakilkan.
Zio mengecup dahi Mentari, "Gue ke kantor dulu. Nanti gue mampir lagi. Lu jangan coba-coba nyuruh Juan yang datang buat menemani lu. Kalau lu butuh apa-apa, lu hanya harus hubungi gue," pesan Zio yang membuat Mentari tersentak.
Mentari memegangi dahinya yang baru saja dikecup oleh Zio. Air matanya kembali mengalir begitu Zio sudah keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Hikss ... lu itu maunya apa sih Zio?"