
Lu kuat Mentari, lu pasti kuat. Ingat lu harus move on dari Zio karena dia juga udah move on dari lu sejak lama. Sadar diri itu perlu Mentari Ramdhani binti Ramadhan.
Mentari menguatkan hatinya, sungguh ia tidak pernah bermimpi melihat Zio berciuman dengan wanita lain di depan matanya sendiri. Walaupun sudah lima tahun menjadi kenangan tetapi rasanya masih sakit seperti dulu saat Mentari tahu kalau Zio adalah playboy. Tapi Mentari bisa apa kalau hatinya terus terpaut pada cowok tampan itu.
Ia pun kembali duduk di kursinya sambil menunggu jam pulang yang masih beberapa jam lagi. Mentari mencoba menyibukkan dirinya dengan mengerjakan dokumen yang ia minta dari Ramon untuk besok. Daripada ia uring-uringan tidak jelas dan ujung-ujungnya menggalau, ia lebih baik sibuk bekerja.
Kalau gue nggak ingat di kantor ini gue ketemu sama calon belahan jiwa gue, udah resign gue. Mending balik ke kantor lama walau gajinya kecil tapi gue nyaman. Dasar gue yang serakah aja sih ini, kerja di kantor pak Santoso gaji gede tapi gue nggak mau jadi istri pria bangkotan dan gue malah nyasar ke kantor Zio si mantan tersayang, huhuuu …
Ramon memperhatikan Mentari yang kembali bersibuk padahal ia tahu jika perkejaan sekretaris baru itu sudah selesai. Ia juga tadi sempat melihat reaksi Mentari saat keluar dari ruangan CEO. Ramon yakin Mentari pasti melihat sesuatu yang selalu ia lihat jika di dalam ruangan itu ada wanitanya CEO.
Sedangkan di dalam ruangannya, Zio menjadi uring-uringan setelah kedapatan Mentari berciuman dengan Bella. Ia menjadi marah pada dirinya sendiri padahal itu bukan salahnya karena ia dan Mentari sudah lama putus dan Bella adalah kekasihnya. Tidak ada yang salah kecuali hati Zio yang sedang aneh saat ini.
Padahal Bella sudah kembali mencumbuinya tetapi Zio sama sekali tidak merasakan apa-apa. Ia bahkan memekik kuat membuat Bella yang sedang menciumi leher Zio menjadi kaget.
"Baby, kamu kenapa sih?" tanya Bella.
Zio menyugar rambutnya ke rumah, ia kemudian menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia menatap Bella sesaat lalu menggelengkan kepalanya.
Aneh! Kenapa gue justru kepikiran Mentari terus dari tadi? Dia sakit hati nggak ya lihat gue sama Bella? Kalau iya berarti dia masih ada rasa dong sama gue. Bagus kalau gitu. Biar gue coba sekali lagi.
Zio yang ingin tahu seperti apa perasaan Mentari padanya pun kembali menghubungi sekretarisnya itu. Ia meminta Mentari untuk mengantar laporan ke ruangannya sedangkan ia membiarkan Bella duduk manja di pangkuannya.
Sabar Mentari ini ujian. Sabar, ada Juan yang bisa lu jadikan sandaran.
__ADS_1
Mentari tersenyum melihat keintiman Zio dan Bella. Dulu dia pernah pacaran tapi tidak pernah seintim itu dengan Zio. Mereka pacaran selama sebelas bulan dan bisa dihitung berapa kali Zio menciumnya. Awalnya Mentari mengira perlakuan Zio itu semata-mata karena ingin menjaganya agar mereka tidak sampai kelepasan saat pacaran. Dan dulu, hal itulah yang membuat Mentari sangat mencintai Zio, pria baik, tampan, romantis, penyayang dan menjaga harkat dan martabatnya sebagai wanita.
Hingga akhirnya Mentari tahu ternyata kekasihnya itu main belakang dan merupakan seorang Casanova, petualan ranjang panas kelas kakap. Mentari tidak bisa terima karena Zio selingkuh dan meniduri banyak wanita, tapi Mentari sendiri yang justru galau karena memutuskan hubungannya dengan Zio kala itu.
"Ini laporan yang anda minta, Pak," ucap Mentari, kemudian ia menyerahkan berkas itu pada Zio tanpa melirik Bella yang sedang memeluk leher mantan kekasihnya itu.
Zio menerima berkas tersebut kemudian ia memeriksanya. Pekerjaan Mentari itu memang bagus namun karena Zio ingin menahan Mentari lebih lama di ruangan ini maka ia pun langsung memasang wajah garang.
Zio membanting laporan itu di atas meja hingga membuat Mentari terkejut. "Laporan lu banyak salahnya. Bisa-bisa perusahaan gue rugi besar karena kesalahan lu ini. Cepat koreksi lagi dan gue tunggu sekarang. Buka laporannya dan gue bakalan nunjukin mana saja yang salah," ucap Zio.
Mentari menghela napas, ingin sekali ia memaki-maki bosnya ini tetapi ia harus sabar agar tidak dipecat karena ia belum mendapatkan cinta barunya.
Mentari kemudian duduk di hadapan Zio dan pria tampan itu terus mencoret bagian yang menurutnya salah sedangkan menurut Mentari bagian yang Zio coret itu sepertinya tidak ada yang salah dan hanya berupa narasi saja.
Kok gue ingin muntah lihat sikap Zio ini ya. Eneg gue!
"Tapi baby, aku 'kan biasanya kayak gini juga," tolak Bella kemudian ia mengecup pipi Zio dengan mesra, "Buat penyemangat baby. Semangat ya kerjanya," imbuhnya.
"It's okay. As you wish baby," ujar Zio melancarkan aksinya untuk memanas-manasi Mentari.
Mentari tersenyum kecut, kali ini ia benar-benar menyesal pernah jatuh cinta dan galau karena pria di hadapannya ini. Mentari baru menyadari kalau semua waktu dan air mata untuk mengingat dan menangisi pria ini adalah sia-sia.
Dalam hati Mentari bertekad jika ia akan berusaha melepas perasaannya ini dari Ezio. Tidak ada gunanya untuk Mentari menyimpan perasaan ini lagi sementara perasaannya sudah tidak terbalas. Zio sudah memiliki calon pendamping hidup yang baru yang begitu sempurna dibandingkan dirinya yang hanya seorang sekretaris biasa dengan wajah pas-pasan eh tapi ralat Mentari merasa dirinya cantik karena berhasil menaklukkan Dimas Ezio Rasyid dulu.
__ADS_1
Lu kuat Mentari, lu pasti bisa lupain dia seperti dia yang udah lupain lu segampang itu. Lu harus ingat kalau Zio sejak dulu nggak pernah punya perasaan yang serius sama lu. Ayo Mentari semangat lupain mantan.
Dengan menyemangati dirinya sendiri Mentari pun mulai merasa lega. Harusnya sudah sejak lama ia melakukan ini, melupakan sang mantan yang teramat ia sayangi namun tidak dengan sebaliknya.
"Baik Pak, saya permisi untuk mengerjakannya kembali. Saya akan mengoreksi laporan ini dan akan segera membawanya begitu selesai. Tidak akan lama Pak, saya janji," ucap Mentari dengan diiringi senyuman. Kali ini setelah ia bertekad mengikhlaskan, ada perasaan lega di hatinya walaupun rasa sakit itu masih ada sedikit. Setidaknya Mentari merasa senang karena ia sudah mulai membiasakan dirinya di hadapan Ezio dengan bersikap layaknya bos dan bawahan.
Zio sedikit heran melihat Mentari yang bersikap biasa-biasa saja padahal ia mengira Mentari akan bersikap ketus atau sinis padanya dan bahkan mungkin akan meledak-ledak seperti biasanya. Tapi kali ini jauh dari ekspektasi Zio.
Dia kenapa?
Saat Mentari berdiri dari kursi di hadapan Zio, pintu ruangan diketuk dan Zio mempersilahkan seseorang untuk masuk.
Mentari yang langsung bertatapan dengan pria yang baru saja masuk itu pun langsung menerbitkan senyuman.
Ternyata benar habis gelap terbitlah terang. Dan gue ngerasain itu.
"Lho Mentari, kita bertemu lagi," ucap Juan kemudian ia berjalan mendekat ke Mentari tetapi lebih tepatnya ia hendak menemui pimpinan perusahaan ini.
"Hai Juan. Mau ke bos ya?" tanya Mentari dengan suara kalem yang membuat pria di belakangnya panas dingin.
Mereka saling mengenal? Kok bisa?
Juan mengangguk, kemudian ia menyerahkan berkas yang tadi diminta oleh Ezio. Karena merasa tidak ada lagi yang dibutuhkan bosnya itu sebab ia hanya diminta untuk mengantar berkas maka ia langsung berpamitan.
__ADS_1
"Yuk Mentari, keluarnya bareng gue aja. Kaki lu masih sakit nggak? Nanti pulangnya bareng gue. Gue masih merasa bersalah sama lu karena udah bikin kaki lu kayak gini," ucap Juan panjang lebar dan itu membuat Mentari senang sedangkan pria di belakang mereka hampir kesetanan.