
Zio membawa Mentari ke dalam lift, sampai di lantai satu pun ia masih menggendong Mentari. Mereka mendadak menjadi pusat perhatian, banyak pasang mata yang melihat kejadian itu dan banyaknya mulut yang mulai berkoar-koar dan menduga-duga apa yang sudah terjadi pada bos mereka dan sekretaris barunya ini.
Mentari memberontak minta diturunkan, ia tidak suka mendengar ucapan-ucehan para karyawan dan tatapan mata mereka yang seolah ingin membunuh Mentari. Namun Zio tetap menggendong Mentari hingga sampai di depan mobilnya yang sudah diparkirkan.
"Pak, turunkan saya. Apakah anda tidak melihat bagaimana tatapan mata para karyawan dan juga ocehan-ocehan mereka yang membuat telingaku sakit? Tolong dong Pak, jangan seperti ini. Saya tidak ingin dibully di hari pertama saya kerja," pinta Mentari, ia masih menutup wajahnya di dada bidang Ezio. Ia malu menampakan wajahnya karena tidak ingin orang-orang semakin mencibirnya.
"Ini kantor gue, jadi gue bebas ngakuin apapun di sini. Tidak usah dengar ucapan mereka, jika mereka akan mem-bully lu besok-besok, maka gue bakalan pecat!" ucap Zio dengan suara lantang agar para karyawannya yang sedari tadi memperhatikan mereka mendengar dan tidak berani melakukan pembully-an terhadap Mentari.
Seketika kerumunan yang memperhatikan mereka itu bubar.
"Tidak usah gunakan telinga lu untuk mendengar suara-suara sumbang seperti itu, cukup diam dan biarkan gue membawa lu pulang," imbuh Zio, ia paling tidak suka jika Mentari menolak keinginannya.
Mentari hanya bisa pasrah, Zio memang sejak dulu sudah seperti ini. Ia sangat tahu sifat pemaksa Ezio dan tidak ingin dibantah. Lebih baik ia mengalah daripada ia kehabisan tenaga hanya untuk berdebat dengan mantannya ini.
Di belakang mereka, Juan menatap lekat ke arah bosnya dan juga sekretaris barunya itu. Dari bahasa tubuh mereka, mereka bukanlah dua orang yang baru berkenalan tetapi ada sesuatu diantara mereka yang entah apa, tetapi Juan yakin mereka bukan sepasang kekasih seperti bosnya dan Bella.
"Yaak … karena ini sudah di luar kantor jadi please lu turun gue di sini, oke! Gue bisa pulang sendiri dan gue bawa motor," ucap Mentari yang sudah tidak menggunakan bahasa formal karena ia tahu ia sudah berada di luar kantor, sudah bukan jam kerja juga sehingga ia bisa leluasa berbicara kepada Zio sang mantan.
Zio sama sekali tidak mendengarkan ucapan Mentari, dengan santainya ia membawa Mentari masuk ke dalam mobilnya di jok depan, kemudian ia mendudukkan wanita itu lalu memakaikannya sabuk pengaman. Ingin rasanya ia mengecup dahi itu atau sekedar membelai puncak kepala Mentari namun ia urungkan karena ia tidak ingin dikira masih memiliki perasaan terhadap sang mantan.
Zo menutup pintu mobil dan berputar arah, kemudian ia kemudian masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobil tersebut.
Di dalam mobil keduanya hanya saling diam. Mentari sibuk dengan mengusir pikirannya yang mulai kembali terbawa perasaan terhadap mantannya ini. Sedangkan Zio, ia sibuk menahan diri untuk tidak memeluk Mentari, untuk tidak menyentuhnya, karena pada saat ini Zio begitu ingin lebih dekat lagi dengan Mentari seperti dulu.
"Lu apa-apaan sih! Gue ini mau pulang dan gue bawa motor. Putar balik nggak? Kalau nggak, gue bakalan turun dari mobil ini. Gue lompat nih, gue nekat. Lu tahu 'kan gue orangnya seperti apa. Apapun yang gue bilang pasti bakalan gue lakuin. Cepat! Dengarin gue, turunin gue. Hentikan mobil lu, kalau enggak gue lompat nih!" ancam Mentari, ia tidak ingin berlama-lama satu mobil dalam dengan Zio karena tidak ingin kembali baper.
__ADS_1
Tidak mempedulikan ucapan Mentari, Zio terus melakukan mobilnya. Anggap saja Mentari sedang bernyanyi, pikir Zio.
"Dimas Ezio Rasyid! Turunin gue," teriak Mentari.
"Lu bisa diam nggak sih? Dari tadi lu nyanyi mulu. Bagus kalau suara lu merdu, tapi yang ada suara lu kayak suara tikus kejepit. Sakit kuping gue," ujar Zio yang sudah tidak tahan dengan Mentari yang selalu minta diturunkan.
"Apa lu bilang?" pekik Mentari geram.
Zio tidak mempedulikan tatapan membunuh dari Mentari, ia hanya ingin punya waktu bersama dengan sang mantan. Entah mengapa ketika tadi Mentari memergokinya berciuman dengan Bella, Zio merasa resah. Apalagi ketika melihat kedekatan Mentari dan Juan serta sikap biasa saja yang ditunjukkan Mentari ketika ia berusaha memanasi gadis ini dengan bermesraan bersama Bella, Zio semakin dibuat kesal.
Zio langsung mengerem mendadak mobilnya, membuat Mentari terhuyung ke depan dan untung saja ia mengenakan sabuk pengaman sehingga dahinya tidak membentur dashboard mobil.
Zio terkejut dengan perasaan dan pemikirannya sendiri. Bagaimana mungkin ia memiliki perasaan demikian sedangkan ia sudah tidak memiliki perasaan apapun pada mantannya ini.
Nggak, ini mungkin hanya pengaruh gue baru bertemu dia sejak sekian tahun lamanya. Gue nggak perlu mikir yang aneh-aneh sama hati gue karena gue punya Bella, Helena dan Valllery. Ya, gue hanya terbawa perasaan sesaat karena gue baru bertemu Tari yang selama pacaran gue main hati.
Mentari menatap tidak percaya pada Zio yang mendadak berubah seperti kulkas sepuluh pintu. Yang tadinya tidak ingin menurunkannya dan sekarang dengan tiba-tiba mengerem mobil dan menyuruhnya turun.
Namun karena tidak ingin dianggap menjilat ludah sendiri karena sudah mengatakan banyak hal tadi, Mentari segera membuka mobil Zio dan langsung turun. Ia bahkan tidak berbalik badan dan langsung berjalan terus untuk mencari tempat yang aman sambil ia memesan ojek online untuk kembali membawanya ke kantor. Ia harus mengambil motonya karena besok ia akan ke kantor menggunakan kendaraannya itu.
Zio pun melakukan hal yang sama, ia langsung melakukan mobilnya, ia tidak peduli dengan Mentari yang sedang mengumpat di jalan karena ia pun tidak mendengarnya. Zio hanya melihat dari spion mobilnya saat Mentari masuk ke dalam mobil yang sangat ia kenali.
"****!" umpat Zio. Ia tidak menyangka Mentari justru akan mendapatkan tumpangan secepat itu dan oleh orang itu.
Dengan kemarahan Zio melajukan mobilnya pulang ke apartemennya. Ia sangat marah saat ini dan ia butuh menenangkan diri. Ia harus menghubungi Helen untuk pelepasan amarahnya.
__ADS_1
"Gue lagi pingin ketemu sama lu. Gue mau lu ke apartemen gue sekarang," ucap Zio setelah menelepon salah satu kekasihnya yang selalu ia ajak bersenang-senang di atas tempat tidur.
Sedangkan di dalam mobil yang membawa Mentari pergi, pria itu tersenyum tipis sambil melihat wajah kesal Mentari. Ia terus mendengar gadis ini menggerutu sedari tadi padahal tadi di kantor yang ia lihat gadis yang menjadi teman barunya ini begitu pendiam dan sangat menjaga image-nya.
Mentari sendiri lupa akan dirinya yang ingin terlihat seperti wanita kalem di depan Juan. Ia justru mengeluarkan sifat aslinya yang suka mengomel dan meledak-ledak.
"Rasanya aku ingin membunuhnya, Juan. Bagaimana bisa aku bekerja di kantor dengan bos seperti itu? Kenapa nasibku selalu saja sial!" gerutu Mentari.
Juan hanya terkekeh mendengar ocehan demi ocehan yang keluar dari mulut gadis cantik ini. Tadi ia memang memutuskan untuk mengikuti Mentari dan Zio karena ia khawatir dengan keselamatan Mentari. Bukan rahasia lagi jika CEO mereka itu adalah penjahat wanita sehingga ia memutuskan untuk mengikuti mereka dan memastikan Mentari selamat. Tetapi justru yang ia lihat Mentari turun dari mobil tersebut dengan wajah marah dan CEO mereka pun meninggalkan Mentari tanpa mengantar gadis ini sampai di rumah.
"Ada apa? Memangnya kenapa dengan pekerjaanmu sebelumnya?" tanya Juan yang lebih tertarik mendengar cerita Mentari tentang pekerjaan lamanya dibandingkan ia mendengar Mentari membahas nama Zio.
Mentari menghela napas kemudian ia menatap Juan. Mau tidak mau ia harus menceritakan tentang pengalamannya di kantor lama karena ketika marah Mentari pasti selalu ingin berbicara.
Wajah Juan memerah menahan tawa mendengar cerita Mentari, tidak masuk akal tetapi memang seperti itu kenyataannya. Mentari yang melihat wajah Juan pun langsung melotot.
"Awas saja kalau lu sampai menertawakan gue. Gue bunuh lu!" ancam Mentari yang justru langsung membuat tawa Juan pecah.
Mentari mendengus tetapi dalam hati ia begitu senang karena bisa melihat Juan tertawa lepas bersamanya.
Oh Tuhan, mengapa dia semakin tampan saat tertawa. Ah apakah gue bertanya saja apakah dia sudah punya kekasih atau belum?
Mentari ragu-ragu, ia tidak ingin ketika ia menanyakan hal ini justru Juan berpikir jika ia ingin melakukan pendekatan padahal memang benar seperti itu.
"Mentari," panggil Juan dengan suarah lirih.
__ADS_1
"Ya."
"Lu udah punya pacar?"