
Zio baru saja sampai di rumah Mentari, Ia hanya berniat mengantar kekasihnya itu sebab ia tahu seharian bekerja pasti Mentari sangat lelah dan membutuhkan istirahat. Setelah berpamitan dan meminta Mentari untuk masuk ke dalam rumah. Zio melajukan motornya di jalan raya dan beberapa saat kemudian ponselnya berdering sehingga ia mau tidak mau harus berhenti dulu dan menjawab panggilan tersebut.
Dahi Zio berkerut begitu ia melihat ID pemanggil yang tidak lain adalah papinya. Walaupun enggan, nyatanya ia tetap saja menjawab panggilan tersebut karena ia tidak ingin semakin menjadi anak durhaka.
"Ada apa Pi?" tanya Zio tanpa basa-basi.
Terdengar suara Danu mendengus. Papinya itu meminta Zio untuk segera pulang. Ia juga berkata bahwa mereka tidak akan menahan Zio hanya saja saat ini ada hal yang sangat penting sehingga Zio diharuskan pulang sebentar.
Mau tidak mau, pria tampan dan mantan casanova itu berbalik arah menuju ke rumah keluarganya. Zio jadi semakin penasaran karena tadi papinya mengatakan hal ini tidak ada hubungannya dengan perjodohan.
Kurang dari tiga puluh menit, Zio sudah sampai di rumah keluarganya, tempat dimana selama ini ia tinggal. Zio turun dari motornya dan tidak melihat mobil milik Dini dan itu artinya memang tidak ada hal tentang perjodohan. Ia bergegas masuk karena ada hal yang mungkin jauh lebih urgent dibandingkan perjodohan.
Saat Zio masuk dan berjalan ke arah ruang keluarga, wajahnya langsung menegang saat melihat Dini juga berada disana. Belum lagi wajah kakek dan papinya yang terlihat tegang sedangkan wajah Juan terlihat mengernyit seolah sedang menelisik sesuatu.
Hanya Lolita yang langsung berdiri dan menghampiri Zio dengan membawa pelukannya. "Mami sangat merindukan Zio, Nak," lirih Lolita, Zio pun membalas pelukan tersebut dan membalas ucapan maminya.
"Kenapa ada dia disini? Zio pergi saja, malas banget kalau harus melihat wanita itu," ucap Zio kemudian ia hendak berbalik sebelum suara menggelegar papinya membuat langkah Zio terhenti.
Daripada membuat keributan, Zio lebih memilih menuruti saja. Lagi pula sebenarnya ia cukup penasaran dengan hal yang tadi papinya bicarakan sebab katanya bukan mengenai perjodohan. Dengan adanya Dini, apakah ini mungkin tentang pembatalan perjodohan, pikir Zio.
"Zio, kamu udah salah milih kekasih. Dia sudah berselingkuh darimu. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," ucap Dini memulai dramanya saat Zio sudah duduk di samping Juan.
Zio mengernyit, dalam hati ia berkata drama apa lagi yang sedang berusaha dimainkan oleh Dini. Ia sendiri selalu mengawasi Mentari dan kekasihnya itu tentu hanya bepergian dengannya saja.
__ADS_1
Begitupun dengan Juan, ia yang tadinya sedang berpikir keras kini menyeringai.
Kayaknya bakalan ada tontonan lucu nih, ucap Juan dalam hati sambil ia terkekeh geli.
Zio mengangkat sebelah alisnya menatap Dini, ia tidak membuka suara karena ia sedang berpikir kemungkinan keluarganya saat ini pasti sudah termakan hasutan Dini.
"Putuskan hubunganmu dengan Mentari. Dia tidak sebaik yang kau pikir. Kakek pikir dia setia padamu dan seperti kata-katanya tempo hari kalau dia mencintai seorang Zio saja bukan karena kau adalah Dimas Ezio Rasyid. Tapi apa yang dia lakukan, dia mengkhianatimu!" timpal kakek Rasyid.
"Apa yang dikatakan kakekmu benar," ujar Danu memperkuat penegasan ayahnya.
Zio menatap satu per satu anggota keluarganya. Ia bisa menilai disini yang masih peduli dengannya hanya ada sang mami dan Juan. Ia kemudian menghela napas, "Atas dasar apa kalian menuduh Mentari seperti itu? Punya bukti?" tantang Zio.
Dini menyeringai, ia kemudian memberikan ponselnya dan memperlihatkan foto yang tadi ia ambil. Wajah Zio terlibat menegang dan menggenggam ponsel Dini dengan erat hingga membuat Dini bersorak dalam hati.
"Kau mendapat foto ini darimana?" tanya Zio dengan raut wajah datar.
Sambil bersorak dalam hati, Dini pun menjawab jika ia mendapatkannya saat tadi ia sedang berada di jalan dan tak sengaja melihatnya. Ia bahkan menambhakan cerita versinya agar Zio semakin panas.
"Oh begitu, kalau boleh kirimkan foto itu padaku. Aku sangat berterima kasih atas pekerjaanmu. Aku akan memberikan bayaran untukmu nanti," ucap Zio.
Dini merasa senang, dengan cepat ia mengirim foto tersebut ke nomor telepon Zio karena ia memilikinya namun setiap kali ia menghubungi Zio, pasti pria itu akan terus menolaknya.
"Kau sudah lihat sendiri seperti apa kekasihmu itu--"
__ADS_1
Ucapan kakek Rasyid terhenti saat Zio mengangkat tangannya. Semua mata kembali tertuju padanya dengan tatapan yang berbeda-beda.
"Kakek, rupanya Kakek memang berniat menggantikanku menjadi cucu kakek. Bagaimana bisa seorang Ar-Rasyid sampai bodoh seperti ini. Maaf mengatakan ini, tapi selama ini yang aku tahu kakekku itu adalah orang yang cerdas!" ucap Zio dengan senyuman yang meremehkan.
Kakek Rasyid dan Danuarta terkejut mendengar ucapan Zio barusan bahkan Danu berdiri dan berteriak lantang jika Zio sudah melewati batasannya.
Lolita mencoba menenangkan suaminya, ia tahu jika saat ini Danu sedang dikuasai oleh amarah.
"Kakek, coba lihat foto itu baik-baik dan lihat aku. Apakah sehari aku meninggalkan rumah ini kalian sudah melupakan aku? Bukankah pakaian yang aku kenakan sama seperti pria yang ada di foto itu? Dan mengenai motor itu, kalian bisa keluar dan pasti kalian akan menemukan motor itu terparkir di garasi," ucap Zio yang langsung membungkam mulut mereka.
Hanya Juan dan Lolita yang tersenyum melihat wajah Dini yang terkejut bukan main. Ia bahkan hampir saja mengeluarkan bola matanya jika saja bola mata itu bisa terlepas sendiri dari matanya.
Danu langsung memperhatikan Zio dan ia melihat foto yang ada di ponsel Zio yang sengaja ia letakkan di atas meja setelah tadi Dini mengirimkan padanya. Begitupun dengan kakek Rasyid, ia merasa malu karena sudah membuat sang cucu merasa terlupakan.
"See, kalian sudah lihat dan sekarang tidak akan ada lagi yang bisa menahan aku untuk pergi dari sini. Papi dan kakekku sendiri sudah tidak mengenaliku lagi. Lalu untuk apa aku disini? Dan jika saja aku menjadi gelandangan di jalan dan tak sengaja bertemu kalian, mungkin kalian bahkan tidak akan melihatku. Baru begini saja sudah tidak mengenali. Zio pergi Mi, jaga diri mami baik-baik. Jika merindukanku maka telpon saja aku. Juan, gue titip mami," ucap Zio panjang lebar dan ia langsung pergi tanpa mempedulikan teriakan papinya yang memintanya untuk berhenti.
Kakek Rasyid memegang dadanya yang terasa sesak. Ia sudah berlalu diskriminasi pada cucunya itu. Begitupun dengan Danu yang terduduk lemas di kursinya setelah apa yang sudah terjadi. Ia menyesal sudah bertindak gegabah tanpa mencari tahu kebenarannya.
"Kakek, paman aku--"
Danu mengangkat tangannya menginterupsi ucapan Dini. "Sebaiknya sekarang kau pulang. Kami ingin beristirahat dan tolong jangan membawa segala sesuatu yang tidak jelas kebenarannya jika tidak sikapmu tersebut akan memecah belah keluargaku. Pulanglah!"
Dini mengepalkan tangannya, ia juga merasa malu dan tertipu dengan sikapnya yang gegabah. Agar tidak lebih malu lagi, ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya saja.
__ADS_1
Sepertinya gue harus setuju dengan rencana Bright. Dan mengenai Mentari, gue bakalan turun tangan langsung buat jebak dia. Sialan! Gue nggak ngenalin kalau cowok tadi itu ternyata Zio.