
Mulut Oliver terbuka lebar setelah Zio dengan tegas mengakui jika Mentari adalah mantan kekasihnya. Matanya beberapa kali mengerjap saling tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Oliver melirik ke arah Mentari yang kini tertunduk, Mentari sebenarnya ingin tertawa melihat reaksi Oliver tetapi saat ini situasi dan kondisinya tidak memungkinkan untuk Mentari terbahak. Tapi ia merasa lega, setidaknya ia tidak sesedih tadi. Namun ia yakin ketika lagi menjelang dan saat papanya akan dikubur maka ia pasti akan kembali sedih dan rapuh lagi.
Zio sendiri hanya memutar bola matanya jengah karena Oliver memasang tampang yang tidak enak dilihat.
"Mentari, lu benar mantannya Zio?" tanya Oliver memastikan. Ia juga sudah memanggil nama Mentari bukan lagi Rama – setelah ia tahu nama Mentari yang sebenarnya.
Zio berdecak pelan, "Dibilangin nggak percaya! Diam nggak lu, ini suasana duka. Mending lu pulang deh!" ucap Zio sewot, ia harus memasang siaga satu karena tidak ingin Oliver mendekati Mentari.
Mata Oliver memicing, ia kemudian menuding Zio menyuruhnya untuk pulang karena tidak ingin mengganggu kebersamaannya dengan Mentari. Dengan keras Oliver menggeleng, ia tidak mungkin pulang dan membiarkan Zio berduaan dengan Mentari walau kenyataannya saat ini di rumah Mentari ada banyak orang.
Zio hanya menghela napas, ia tidak lagi mempermasalahkan keberadaan Oliver karena ini bukan saat yang tepat untuk berdebat dan ia lebih memilih diam karena Mentari pun saat ini tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Beberapa saat mereka terdiam hingga Oliver berdiri. Zio merasa senang karena akhirnya Oliver akan pulang tetapi justru yang terjadi malah sebaliknya, Oliver berdiri karena ia ingin pindah posisi dan kini ia duduk di sebelah kiri Mentari sedangkan Zio berada di sebelah kanan Mentari.
Zio ingin protes tetapi ia sadar saat ini ia harus bersikap tenang dan ia juga harus sadar kalau Mentari bukanlah siapa-siapanya sekarang.
Kenapa gue malah bersikap seolah-olah gue ini adalah pacarnya Mentari. Harusnya gue biasa aja, bukan panas dan nggak tenang kayak cacing kepanasan gini.
"Rama eh Tari, gue turut berduka cita ya. Gue nggak tahu kalau bokap lu meninggal. Tapi serius, tadi waktu Ramon ngasih tahu kalau orang tua lu kecelakaan, gue bahkan sampai mendatangi beberapa rumah sakit cuma buat nyari lu. Zio nggak ngasih tahu gue alamat rumah sakitnya jadi gue cari aja ke beberapa rumah sakit terdekat," ucap Oliver, ia memang benar kalau tadi ia sempat mencari keberadaan Mentari ke tiga rumah sakit tetapi ia tidak menemukannya.
Mentari menatap Oliver tak berkedip, ia merasa julukan pria gila memang sudah sangat tepat untuk Oliver.
Belum sempat Mentari membuka suara, Zio lebih dulu menyahuti ucapan Oliver. "Emang lu ada nanya gitu ke gue? Salah sendiri, lu itu kelewat pintar atau ogeb sih?"
Mentari hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perdebatan Zio dan Oliver. Tapi sedikit memberi hiburan untuk Mentari yang hatinya kini tengah sedih ditinggal sang papa.
Kalau Mentari mantannya Zio, apa dia udah nggak virgin lagi? Secara Zio itu 'kan nggak pernah kalau nggak unboxing sama pacar-pacarnya. Bahkan sejak kita kelas dua SMA dia udah kenal sama adegan skidipapap. Tapi ngelihat dia yang begitu melindungi Mentari dari gue, apa jangan-jangan Mentari ini mantannya yang nggak pernah dia sentuh itu? Kalau benar begitu … hehehe, gue bakalan tetap maju.
__ADS_1
Zio memperhatikan Oliver yang tengah senyam-senyum tidak jelas, ia mencoba menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan oleh Oliver. Ia khawatir jika Oliver sedang merencanakan untuk menyatakan cinta pada Mentari atau langsung melamarnya.
Dan kini Zio kembali merutuki hati dan pikirannya yang selalu saja mencemaskan Mentari jika di dekati pria lain. Harusnya ia bersikap santai saja, Mentari bukan lagi kekasihnya sehingga ia tidak pantas jika melarang atau menghalangi siapa saja yang menyukai mantan kekasihnya itu.
"Lu nyari gue sampai segitunya? Harusnya lu tinggal telepon aja, tanyain gue dimana. Nggak perlu repot kayak gitu juga Oliver. Lu jadi capek sendiri 'kan?" ucap Mentari.
Oliver terkejut dengan Mentari yang bersikap lembut padanya juga terselip makna khawatir dari setiap kata yang ia ucapkan. Senyuman tersungging di bibirnya sedangkan Zio saat ini langsung memasang siaga dua karena Mentari merespon ucapan Oliver walaupun agak lambat tetapi sikap Mentari terlihat manis.
"Iya. Gue maunya nelepon lu tapi gue nggak punya nomor hp lu. Nah sekarang ini ponsel gue dan lu catat tuh nomor ponsel lu biar gampang gue hubungi," ucap Oliver seraya menyodorkan ponselnya pada Mentari.
"Dasar modus. Tari, gue saranin lu jangan kasih nomor hp lu ke dia. Lu bakalan capek dapat spam dari dia. Kalau pun dia hubungi lu, cuekin aja atau langsung blokir aja nomor dia," seru Zio, ia harus mencegah Mentari untuk memberikan nomor ponselnya pada Oliver, jika tidak maka akan ada kemungkinan untuk mereka menjadi dekat.
Mentari melirik Zio, ia bisa melihat tatapan Zio menyiratkan kecemburan. Dulu sekali, Mentari pernah beberapa kali melihat Zio dengan gurat wajah dan sorot mata sama persis seperti saat ini. Di kampus dulu tidak sedikit yang mencoba mendekati Mentari karena selain parasnya yang cantik alami, ia juga memiliki otak yang cerdas juga bakat di bidang seni yang membuatnya menjadi populer walau dirinya sendiri merasa ia hanya seorang mahasiswa biasa saja.
Dulu Zio selalu saja cemburu jika ada pria yang terang-terangan mendekatinya dan berakhir dengan Zio dan para pria itu berkelahi. Awalnya Mentari mengira itu semua karena Zio memang mencintainya dan tidak ingin ia didekati oleh pria lain. Tetapi siapa sangka jika Zio lah yang selama ini memiliki banyak kekasih di belakang Mentari.
Merasa penasaran dengan hubungan Zio dan Mentari dulu, Oliver berinisiatif mengirim pesan pada Zio.
^^^Oliver Ogeb!^^^
^^^Bro, walaupun Mentari itu mantan lu tapi gue udah jatuh cinta dan biarin gue jadi pendampingnya^^^
Zio menatap Oliver setelah ia membaca pesan tersebut. Mata tajam Zio melirik Oliver seolah ingin membunuh sepupunya itu dengan lirikannya saja.
^^^Zio Cousin^^^
^^^Enak aja lu, cari cewek yang lain. Masa lu mau sama mantan gue. Nggak bisa gitu lu cari yang nggak pernah berhubunhan sama gue?^^^
Oliver tersenyum samar membaca pesan Zio. Pikirannya hanya dua – Zio masih mencintai Mentari atau Mentari belum pernah disentuh oleh Zio.
__ADS_1
^^^Oliver Ogeb!^^^
^^^Ya nggak apa-apa. Gue nggak masalah dapat sisa lu. Gue siap kok nampung bekas lu, walau lu yang unboxing pertama tapi nggak masalah dong. Serius!! Kalian nanti bisa jadi adik dan kakak ipar yang akur.^^^
Ingin rasanya Zio membanting ponselnya membaca pesan Oliver yang tidak menyerah juga.
^^^Zio Cousin^^^
^^^Jangan sembarangan ngomong lu ya, Mentari nggak pernah jadi bekas gue. Orang dia masih virgin! Gue nggak mau ya lu deketin Mentari. Lu cari sono yang lain.^^^
Mata Oliver berbinar membaca pesan dari Zio. Ia yang niatnya hanya memancing saja ternyata umpannya dimakan oleh Zio.
Jadi benar kalau Mentari itu masih virgin, ck! Gue harus bisa dapatin Mentari. Zio bego banget sih ngelepasin Mentari dalam keadaan utuh. Biasanya juga cuma sekadar flirting dia udah bisa naik ranjang. Kok sama Mentari enggak ya?
Zio baru saja tersadar jika ia sudah membuka rahasianya bersama Mentari. Ia yakin seratus persen pasti Oliver semakin ingin mendapatkan Mentari karena mantannya itu belum tersentuh sama sekali.
^^^Oliver Ogeb!^^^
^^^Lu yakin? Lu nggak pernah apa-apain dia? Nggak pernah ada adegan percipokan? Atau jangan-jangan udah ada cowok lain yang udah berhasil ngebobol gawang Mentari setelah putus dari lu.^^^
"Gue ngawasin Mentari selama tiga tahun ini. Lu puas?!"
Mentari tersentak kaget mendengar ucapan Zio yang cukup keras dan untung saja hanya Mentari dan Oliver yang yang mendengarnya.
Oliver sendiri tidak menyangka jika Zio melakukan itu pada mantannya. Ia yakin sekali Zio masih memiliki cinta untuk Mentari. Hanya saja, ia akan tetap bersaing dengan sepupunya itu. Apalagi mengetahui jika Mentari masih tersegel, tentu saja Oliver semakin berambisi mendapatkan Mentari.
"Lu ngomong apa sih? Lu ngawasin gue selama tiga tahun? Kenapa?"
Zio pun tergagap, ia tidak tahu harus memberi jawaban apa pada Mentari saat ini.
__ADS_1