
Mentari berlari ke arah motornya, untung saja tadi begitu mereka sampai di apartemen ia langsung mengambil kunci motornya dari tangan Zio dan memasukkannya ke dalam tasnya. Dan kini dengan berderai air mata dan juga dengan gemetar Ia memakai helm di kepalanya, tujuannya hanya satu, ia harus segera pergi dari tempat ini.
Sambil membawa motornya melaju di jalan selaju air mata yang kini membasahi dan menjejak di pipi Mentari, ia tidak lupa dengan kejadian yang baru saja ia alami bahkan rasanya sesakit ini walaupun ia sudah mewanti-wanti semuanya. Namun ternyata kenyataannya jauh lebih pahit dan sakit dari yang pernah ia duga sebelumnya.
Kali ini ia memang merasa benar dengan tindakannya yang resign dari perusahaan milik Zio. Entah apa yang terjadi, mengapa tiba-tiba keluarga Zio datang dan langsung menyerangnya juga menyentuh titik terendahnya -- dihina dan itu membuat Mentari merasa hancur. Dan hal itu juga adalah hal yang paling Mentari tidak sukai tapi kini ia merasakannya sendiri dari orang tua kekasihnya -- orang tua dari pria yang begitu cintai.
Sesekali ia menyeka air matanya, karena matanya terasa perih dan ia tidak ingin sampai terjadi kecelakaan ketika ia membawa motor. Mentari belum ingin pulang ke rumah, ia belum siap bertemu dengan mamanya ataupun bertemu dengan Zio yang mungkin saja akan datang ke rumahnya untuk menyusul walaupun itu kecil kemungkinan.
Mentari memutuskan untuk pergi ke rumah Mawar, tempat yang cukup jauh dari rumahnya tetapi ia yakin sekali Zio tidak akan tahu alamat tersebut. Tak lupa Mentari mematikan data selulernya agar dia tidak dapat melacak keberadaannya walaupun hal itu juga Mentari rasa tidak mungkin dilakukan oleh Zio.
Setelah lebih dari tiga puluh menit, Mentari akhirnya sampai di rumah Mawar. Sahabatnya itu langsung menyambutnya di pintu pagar dan Mentari langsung turun dari motornya dan memeluk Mawar sambil menangis sejadi-jadinya.
"Sebaiknya lu masuk dulu ke rumah bareng gue, biar pak satpam yang bakalan masukkin motor lu ke dalam. Jangan nangis di sini please, gue nggak mau orang melihat sisi lemah lu," ajak Mawar yang hampir saja menitikan air matanya melihat keadaan Mentari yang cukup mengenaskan.
Setelah sampai di dalam kamar Mawar, Mentari tak langsung berbicara. Ia meminjam ponsel Mawar untuk menghubungi sang Mama yang ia yakin belum tidur atau mungkin sudah tertidur namun mau tidak mau Mentari harus memberikan kabar kepada mamanya yang hanya sendiri di rumah.
Maya yang kebetulan baru akan memejamkan matanya langsung duduk dan mencari ponselnya yang berada di atas nakas.
"Halo mah, ini dengan Tari. Aku lagi sama Mawar ya, mungkin aku bakalan pulang telat atau mungkin nggak pulang juga malam ini mah. Mama nggak apa-apa sendirian di rumah?" tanya Mentari begitu sang Mama menjawab panggilannya.
__ADS_1
"Oh sama mawar ya. Ya nggak apa-apa kok. Nanti mama tinggal kunci pintu, yang penting kamu baik-baik ya," jawab Maya yang sudah setengah mengantuk.
"Tari baik mah. Ya udah mama sekarang tidur aja, aku mau istirahat juga sama Mawar, capek. Jangan lupa kunci pintunya," ucap Mentari kemudian dia mematikan sambungan teleponnya.
Setelah selesai berbicara dengan sang Mama, Mentari mengembalikan ponsel Mawar. namun ia langsung membuang muka begitu melihat tatapan dari Mawar -- sahabat yang selama ini selalu tahu bagaimana keadaannya walaupun mereka jarang berjumpa karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Lu kenapa? Coba cerita sama gue, udah lama banget gue nggak lihat lu dalam keadaan terpuruk ini Tari. Cepat jelasin ke gue, siapa tahu gue bisa bantu. Setidaknya lu merasa terhibur karena udah cerita beban hati lu ke gue. Kita 'kan selalu berbagi masalah Tari," cecar Mawar, ia sudah tidak sabar ingin mengetahui apa dan siapa penyebab dari hancurnya hati sahabatnya ini.
"Mawar, gue-gue patah hati," ucapnya kemudian ia segera memeluk Mawar dengan erat untuk menyalurkan rasa sedihnya dan mencari ketenangan juga kenyamanan dari sang sahabat.
.
.
"Mi! Kenapa mami ngelakuin itu sama Mentari? Dia itu gadis baik-baik dan kita sama sekali nggak pernah ngelakuin hal diluar batas, Mi. Zio nggak ngapa-ngapain sama Mentari dan kenapa kalian datang lalu langsung menghujatnya? Salah dia apa?"
Lolita yang masih emosi nampak menatap tak percaya pada Zio. Ia memijat pelipisnya, bingung dengan semua kebenarannya.
Beberapa jam yang lalu ....
__ADS_1
Dini memukul setir mobil Zio, ia kesal karena kehilangan jejak mereka. Dini harus mencari cara agar keduanya berpisah ia akan menjadi orang yang akan menengahi lalu membuat mereka saling salah paham dan juga keluarga hingga nanti ia akan masuk menjadi orang yang paling baik.
"Aha, gue harus ke rumah kakek Rasyid. Dia harus tahu apa yang sedang dilakukan oleh cucunya tersebut.
Dini pun melajukan mobil tersebut ke arah kediaman keluarga Zio. Ia sudah mendapatkan sebuah rencana untuk ia tunjukkan di hadapan kelaurganya Zio.
Sesampainya disana, ia langsung menangis karena kebetulan keluarga itu sedang berkumpul di ruang keluarga dan sedang mengobrol santai. Semuanya terkejut dengan kedatangan Dini apalagi dengan ceritanya yang mengatakan jika ia baru saja bertengkar dengan Mentari dan ia kalau lalu Mentari membawa kabur Zio.
Tak lupa ia juga mengatakan bahwa Mentari mengajak dan memaksa Zio untuk berhubungan badan dengan mengatakan mereka saat ini berada di apartemen Zio.
Mulainya kedua orang tua Zio tidak percaya, akan tetapi Dini meyakinkan dengan kedatangan dirinya menggunakan mobil Zio. Dengan cepat mereka pun bergegas menuju ke apartemen Zio.
Saat ini ...
"Jangan pernah berpikiran buru soal Mentari. Dia adalah gadis baik-baik dan jangan pernah mudah tertipu oleh orang asing," ucap Zio begitu dingin, ia menatap lekat ke arah Dini yang kini bersembunyi di belakang kakeknya.
"Kau tidak perlu mengelak, jika saja kamu tidak datang pasti kau dan dia sudah berbuat diluar batas. Dia memberimu apa hingga kau begitu patuh dan membelanya?" sungut kakek Rasyid. Ia sangat kesal dengan sikap Zio yang terus saja membela dan menjaga nama baik Mentari.
Zio menggeleng, tak habis pikir dengan sikap kakeknya. Ia ingi mengembalikan ucapan tersebut namun ia tahu itu sangat tidak sopan.
__ADS_1
"Setelah semua kebenaran terungkap, jangan ada diantara kalian yang akhirnya menyesal. Dan ya, aku akan tetap bersama Mentari baik semuanya diambil dariku ataupun disaat aku menjadi gelandangan. Aku hanya mau Mentari!"