CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~81


__ADS_3

pasca kejadian memalukan di perusahaan Mawar, Oliver semakin gencar mendatangi kantor tersebut dengan alibi menemui Mentari padahal yang ia lakukan adalah mendapatkan hati Mawar. Ia terpesona pada pandangan pertama dan terlebih lagi karakter Mawar adalah yang paling ia inginkan. Ia suka saat wanita bersikap dingin dan cenderung menolaknya dan itu bukan karena kepura-puraan semata. Ada kesan tersendiri baginya jika ia yang harus mengejar wanitanya.


Seperti dulu ketika ia menyukai Mentari, rasanya berbeda saat Mentari selalu menolak dan bahkan sering berkata ketus dan tidak menganggap keberadaannya. Oliver mencari wanita yang seperti itu dan kini ia menemukannya di diri Mawar. Setidaknya jika ia berhasil mendapatkan Mawar maka ia akan terhindar dari perjodohan dan juga Mawar tidak akan ditolak oleh keluarganya karena setidaknya Mawar adalah seorang pemimpin perusahaan.


Zio bahkan merasa heran karena Oliver selalu berkata bahwa ia memiliki urusan dengan Mentari dan itu membuat Zio kadang menaruh curiga kepada kakak sepupunya itu. Bagaimanapun Oliver pernah menyukai Mentari sedangkan ia masih harus berada di luar kota.


Setiap kali Zio membunungi Mentari, pasti akan selalu ada Oliver disana. Pria itu seolah tidak punya kesibukan padahal ada banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan.


Seperti hari ini, Oliver kembali datang dan ia langsung menyapa Mentari. Ia mengajak Mentari untuk makan siang namun ujung-ujungnya semua itu akan terjadi jika Mawar ikut bersamanya.


"Lu itu pingin ngajakin gue atau Mawar sih?" keluh Mentari yang baru saja menyimpan berkas-berkas di mejanya.


Waktu istirahat sudah tiba dan Mentari yang tidak begitu sibuk memilih untuk mencari makan siang di luar. Dan seperti yang ia duga, Oliver pasti akan kembali datang dan terbukti calon kakak iparnya itu sudah berada di dekat Mentari.


"Dua-duanya. Lu bantuin gue kek deketin sama sahabat sekaligus bos lu itu. Gue naksir tahu nggak sama dia," bujuk Oliver.

__ADS_1


Mentari menatap Oliver dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia kemudian menyilangkan kedua tangannya di atas perut dan kembali menatap Oliver dengan lekat hingga membuat Oliver salah tingkah.


"Jangan natap gue kayak gitu. Lu kayak polisi yang lagi menginterogasi tersangka tahu nggak!" ujar Oliver.


Mentari menghela napas, ia memutar bola matanya malas. "Gue tahu sepak terjang lu dan gue tentu saja nggak mau jerumusin sahabat gue sama buaya buntung kayak lu! Jangan harap deh," sungut Mentari.


Oliver berdecak, ia tahu ini tidak akan mudah karena Mentari sudah tahu sifat asli Oliver dan sedikit banyak tahu tentang sepak terjangnya selama ini. Zio juga pasti sudah banyak bercerita dan lagi-lagi pria sempurna di keluarga Ar-Rasyid hanyalah Juan semata. Namun meski begitu sampai detik ini tidak ada satupun wanita yang menarik hati Juan kecuali Mentari.


"Gue udah tobat semenjak lihat Mawar berduri," ucap Oliver sembari menunjukkan jari telunjuk dan jari tenganya ke atas.


"Tobat? Maaf tapi gue nggak percaya. Gue sayang banget sama sahabat gue jadi gue nggak mau dia sakit hati sama orang kayak lu!" sarkas Mentari.


Mawar sudah tidak heran lagi dengan keberadaan Oliver yang baginya hanyalah makhluk tak kasat mata. Mawar tidak mengelak jika Oliver sangat tampan tetapi sikap Oliver yang terlalu percaya diri itu membuatnya eneg dan tidak menyukainya. Mawar tidak bodoh jika beberapa waktu ini Oliver memang sengaja mencari perhatiannya, ia hanya berusaha untuk tidak peduli karena menurut informasi dari Mentari, Oliver adalah seorang casanova dan Mawar yang tidak ingin sakit hati tentu saja menjaga rapat perasaanya.


"Halo Bu Mawar, apa kabar?" sapa Oliver Sik manis, ia sendiri tidak sadar sikapnya ini yang membuat Mawar menjadi risih padanya.

__ADS_1


"Baik. Dan tolong ya, kantor saya ini adalah tempat bekerja, bukan tempat untuk rekreasi sehingga Anda bisa datang setiap hari sesuka hati Anda. Mulai besok dan seterusnya jangan datang lagi kesini," ucap tegas Mawar, ia sebenarnya tidak berniat berkata sejahat itu tetapi ia hanya tidak ingin Oliver datang mengganggunya, itu saja .


Oliver mencebikkan bibirnya, "Gue nggak datang beneran baru kangen lu!" gumam Oliver yang hanya ia sendiri saja yang bisa mendengarnya.


"Ya sudah, karena gue nggak akan gangguin lu lagi, gimana kalau kalian gue traktir makan? Setuju nggak?" tanya Oliver.


Mawar dengan cepat menggeleng, ia mengatakan bahwa mereka sudah ada jadwal menghadiri undangan makan siang bersama klien. Ia sebenarnya ingin menerima ajakan Oliver tetapi klien ini sangat penting dan Mawar tidak mungkin mengabaikannya.


Tak habis akal, Oliver pun kembali mengajak mereka untuk makan siang atau sepulang dari kerja ia akan mengajak Mawar dan Mentari untuk makan bersama.


Mawar memandang Mentari dan sahabatnya itu mengangguk tanda menyetujui. "Baiklah, nanti sore. Dan ingat setelah itu jangan lagi mengganggu di kantor saya," ucap Mawar tegas.


Oliver tersenyum puas, ia dengan refleks mengacak rambut Mawar yang terurai indah itu. Mawar sampai terkejut begitupun dengan Mentari.


"Maaf gue refleks. Hehe," cicit Oliver.

__ADS_1


Mawar mendengus sedangkan Mentari hanya menjadi penonton setia dari dua orang yang sedari tadi entah berdebat atau berdiskusi. Mendadak ia merindukan Zio yang entah kapan akan kembali karena kabar terakhir ia belum bisa kembali karena proyek yang ia tangani tengah mengalami masalah dan Zio sendiri sudah jenuh karena tidak biasanya ia akan tertahan lama di tempat tersebut.


"Oke. Sampai jumpa nanti sore. Gue balik dulu," ucap Oliver terlanjur senang. Ia kemudian mendekati Mentari dan berbisik pelan, "Kalau bisa lu bantuin gue buat luluhin hatinya nanti sore, dia pasti mau dengar apa kata lu. Lu harus jadi adik ipar yang baik biar restu gue selalu ada di tangan lu."


__ADS_2