CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~105


__ADS_3

Mentari tertidur lelap setelah percintaan panjang yang mereka lakukan hampir semalaman. Zio benar-benar tidak melepaskan Mentari sedikitpun walaupun istirnya itu terus berkata lelah dan memintanya untuk berhenti. Zio bagai seseorang yang tengah kelaparan dan sialnya Mentari juga menyukai semua perbuatan Zio terhadapnya hingga walau ia mengatakan ingin menyerah akan tetapi ia terus saja mende-sah.


Zio mengecup wajah Mentari keseluruhan, ia menjadikan lengannya sebagai bantal untuk sang istrinya. "Terima kasih sayang, kau sudah mempercayakan dirimu padaku. Ternyata bercinta menggunakan rasa itu senikmat ini. Aku memang sudah banyak berpetualang tapi belum pernah ada rasa secandu ini. I love you Mentari," gumam Zio, ia kemudian menarik lebih erat pelukannya pada tubuh Mentari.


Ingin rasanya Zio memejamkan matanya untuk beristirahat, akan tetapi ia terlalu sayang melewatkan malam ini tanpa menatap sang istri. Belum lagi ia teringat akan masalahnya bersama Dini, ia berharap semua akan segera berakhir. Zio ingin lepas dari bayang-bayang Dini dan keluarga Vindex, ia berharap perbuatan mereka malam ini akan membuahkan hasil.


Hanya Mentari yang boleh mengandung benih gue, nggak bakalan gue izinin siapapun mengandung benih premium gue. Gue yakin banget anak itu adalah anak Bright, gumam Zio dalam hati.


Pukul empat subuh Zio berhasil menutup matanya dan saat itu Mentari justru membuka matanya. Ia menatap wajah tampan Zio yang mungkin sebentar lagi ia akan kehilangannya. Rasa takut ikut terbawa hingga ke dalam mimpi yang menarik Mentari ke alam sadarnya.


Gue harap gue nggak salah mengambil langkah. Dan kalaupun nantinya gue dan Zio harus berpisah, gue berharap apa yang kami lakukan malam ini membuahkan hasil. Gue cinta banget sama lu, Zio. Gue nggak tahu gimana jadinya nanti kalau kita nggak bersama lagi.


Mentari membingkai wajah Zio dan mengecup bibir suaminya itu dan mendadak ia merasa malu karena telah mencuri ciuman Zio. Ia kembali memejamkan kedua matanya dengan tangannya yang memeluk erat tubuh Zio. Tak butuh lama ia kembali tertidur dengan lelapnya.


....

__ADS_1


Pagi kembali menjelang, Mentari yang terbiasa bangun pagi pun membuka matanya perlahan-lahan dan ia sempat bingung mengapa ia terbangun di tempat yang asing, namun setelah ia berhasil menguasai dirinya, ia pun kembali teringat jika semalam ia dan Zio bermalam di tempat ini dan menghabiskan waktu dengan bercinta.


"Tetaplah tertidur, ini masih terlalu pagi."


Tanpa membuka keduanya matanya Zio berucap kepada Mentari. Ia bahkan kembali menarik pinggang Mentari agar merapat pada tubuhnya. Sentuhan kulit mereka dengan cepat mengembalikan hasrat Zio seperti semalam, apalagi dada Mentari yang menempel langsung di dadanya membuat terong super Zio kembali menegang.


Mentari merasakan ada yang menusuk perutnya dan ia yang sudah merasaka benda tak asing itu semalaman penuh membuatnya langsung terbungkam. Ia yakin sebentar lagi suaminya ini akan mengajaknya bercinta. Dan untuk itu ia harus bisa kabur secepatnya dari Zio karena hari ini ia harus masuk kerja dan lagi ia memiliki meeting penting.


"Sayang aku —"


Sayang sekali, Mentari tidak memperhitungkan tubuhnya yang masih terasa remuk serta kakinya yang sulit digerakkan karena perbuatan mereka semalam.


"Aw!" ringis Mentari.


Zio segera turun dari tempat tidur dan membantu Mentari berdiri lalu ia menggendongnya. Awalnya Mentari menolak dan memalingkan wajahnya karena melihat Zio yang benar-benar tidak mengenakan apapun serta terong supernya yang terpampang nyata.

__ADS_1


"Kau bisa mencicipinya nanti. Sekarang biar aku membantumu ke kamar mandi," ucap Zio yang langsung membawa Mentari ke dalam gendongannya.


Kenapa nasibku sial sekali sih? Gue tadi niat mau menghindari Zio eh malam langsung kena karma. Ini ceritanya pagi-pagi gue udah kena azab istri yang menolak suaminya bercinta akibatnya terjatuh dari tempat tidur. Huuhhh ...


Zio membawa Mentari ke dalam kamar mandi dan ia menyiapkan air di bathtub sedangkan Mentari yang tadinya pura-pura ingin buang air kecil kini justru benar-benar kebelet. Setelah itu Zio pun membawanya untuk berendam air hangat.


Zio duduk di belakang Mentari sambil memijat punggung istrinya tersebut. Sesekali Zio memberikan sentuhan yang dapat menaikkan hasrat Mentari.


"Apakah masih sakit sayang? Apakah masih lelah?" tanya Zio saat Mentari ia minta untuk berbalik badan dan kini mereka saling berhadapan.


Mentari mengangguk seraya berkata, "Sedikit."


Zio tersenyum kemudian dengan cepat ia mengubah posis sehingga kini Mentari tepat berada di bawah kungkungannya.


"Aku akan melakukannya dengan lembut," bisik Zio dengan suara seraknya.

__ADS_1


Mentari tak sempat menghindar karena Zio sudah menaklukkannya melalui ciuman panas di pagi hari.


__ADS_2