
Baik Mentari maupun Zio tidak peduli dengan kemarahan Dini. Salah dia sendiri karena memaksa ikut bersama Zio. Sebenarnya Mentari juga tidak tega karena walau bagaimanapun wanita ini adalah pilihan keluarga Rasyid, ia hanya pilihan Zio yang sudah pasti tidak mendapat restu sebab kakek Rasyid sudah mentok menjodohkan Zio dengan Dini.
Tak kehabisan cara, Dini tetap mencoba merebut Zio walaupun malam ini ia akan ikut bersama pasangan yang membuatnya kesal. Bodoh memang, tetapi Dini tidak ingin membiarkan mereka bersenang-senang sementara dirinya tersiksa. Zio dan Mentari pun tidak peduli dengan keberadaan Dini, Zio justru memberikan kunci mobil pada Dini.
"Gue mau jalan sama Tari dan gue nggak mau ada hama pengganggu. Lu kalau mau pulang silahkan pakai mobil gue," ucap Zio, kemudian ia mengajak Mentari untuk naik motor bersama.
Dini menghentakkan kakinya sambil berteriak memanggil Zio yang sudah pergi dengan membonceng Mentari. Ia bahkan berlari mengejar namun sayang ia tidak bisa menjangkau karena Zio melajukan motor tersebut.
"Sial! Bukan gini yang gue mau! Awas aja lu Mentari, lu nggak bakalan aman setelah malam ini. Gue pastiin lu bakalan menjalani hari-hari dengan penuh ketegangan. Apa yang gue mau harus gue dapatkan, dengan cara apapun itu. Kalau pun gue harus nyingkirin lu, nggak masalah," gumam Dini, kemudian ia masuk ke dalam mobil Zio. Ia akan mengejar, mungkin saja ia bisa mendapatkan keberadaan pasangan tersebut.
Dini mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi, ia berusaha mengejar Zio dan akan mencegahnya melangsungkan rencana mereka tadi. Dini khawatir Mentari akan hamil dan posisinya pasti tidak akan aman. Padahal yang sebenarnya tentu saja Mentari tidak akan melakukan hal tersebut.
Susah payah ia mencari namun ia tidak menemukan dua orang tersebut. Yang sedang ia cari memang tidak berada di jalan raya saat ini, keduanya mampir di kafe karena Zio belum makan malam dan Mentari dengan senang hati menemaninya.
Semenjak keduanya memutuskan untuk kembali bersama, Zio semakin menunjukkan sikap manjanya kepada Mentari. Seperti saat ini, ia makan sambil disuapi oleh Mentari bagai anak kecil saja. Namun karena rasa cinta yang begitu besar pun, Mentari dengan senang hati menuruti keinginan Zio.
Biarlah malam ini menjadi milik kita berdua. Gue pingin menghabiskan malam ini dengan indah dan manis. Besok-besok kita pasti akan kesulitan dan mungkin tidak akan lagi memiliki waktu bersama. Maafin gue, bukan gue nggak mau berjuang, tapi gue lebih ke sadar diri kalau mengharapkan lu itu adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin. Gue nggak mau sakit hati dan gue mengindar dari cemoohan keluarga lu, Zio. Gue emang miskin tapi gue nggak bisa menerima penghinaan atau tuduhan keji.
__ADS_1
Zio kembali mendapati Mentari uang yang sedikit-sedikit melamun. Ia tentu tahu jika Mentari tengah memikirkan sesuatu. Ingin bertanya tapi pasti nanti Mentari akan mengelak. Sepertinya Zio harus mengajak Mentari berbicara dari hati ke hati. Ia akan membawa Mentari ke apartemennya dimana mereka bisa leluasa berbicara tanpa ada yang akan mendengarkan.
Setelah makanan habis, keduanya pun kembali berada di jalan dan seperti yang sudah Zio rencanakan, ia membawa Mentari ke apartemennya.
"Zio, lu nggak bakalan macam-macam sama gue, 'kan?" tanya Mentari merasa gugup saat ia memasuki unit Zio.
Cowok tampan itu pun tersenyum, "Lho, bukannya tadi lu bilang kalau malam ini kita bakalan mempraktekkan gaya baru ya? Jangan bilang lu amnesia ya," jawab Zio dengan sengaja menatap lekat Mentari kemudian ia membelai pipi Mentari.
Mentari yang takut pun langsung berdiri dan berusaha mengambil jarak dari Zio. Saat ini ia dilanda ketakutan. Ia harus mendapatkan cara agar bisa keluar dengan selamat tanpa kurang satu pun dari apartemen ini.
"I-itu nggak benar Zio. Tadi gue hanya bercanda saja dan nggak benar-benar pengen ngelakuin itu. Gue hanya mau bantu lu lepas dari Dini," ucap Mentari mulai gugup, ia bahkan terus mundur dan akhirnya tumitnya membentur kursi dan ia kembali jatuh terduduk.
"Gue kasih lu pilihan, lu mau gue kungkungin lu malam ini atau lu jawab pertanyaan gue," ucap Zio. Ia tidak benar-benar akan melakukan hal tersebut terhadap Mentari, ia hanya ingin tahu masalah yang selalu mengganggu pikiran Mentari.
Mentari yang duduk di pangkuan Zio pun langsung menggeleng. Ia tidak punya pilihan selain menjawab pertanyaan Zio sehingga ia mengatakan jika ia memilih opsi kedua.
"Emang lu mau nanya apa sama gue?" tanya Mentari. Ia cukup penasaran dengan pertanyaan Zio.
__ADS_1
Zio menatap Mentari yang seolah tidak memiliki keraguan saat bertanya hal tersebut. Dan kini justru dirinya yang bingung hendak bertanya apa. Zio berpikir cepat, "Lu ada masalah apa?"
Mentari mengernyit, ia menggeleng. "Gue nggak punya masalah apapun," jawab Mentari.
Zio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepetinya ia langsung saja ke intinya. "Gue sering lihat lu melamun. Gue yakin kalau saat ini lu ada masalah. Jadi tolong, jangan bikin gue jadi cowok nggak berguna karena nggak tahu masalah yang sedang lu hadapi," ucap Zio berterus terang.
Mentari membuang muka, ia tidak menyangka jika gerak-geriknya itu ternyata diperhatikan oleh Zio dan ia tidak mungkin mengatakannya.
Cup ...
Satu kecupan Zio berikan di pipi Mentari. Ia mengatakan jika Mentari tidak segera menjawab pertanyaannya maka ia akan kembali mencium dan bahkan mengancam akan meniduri Mentari saat ini juga.
"Pilihan ada di tangan lu. Gue nggak butuh jawaban khayalan lu, gue mau jawaban yang akurat!" ucap Zio.
Mentari menghela napas, ia sudah mendapatkan ide untuk menjawab pertanyaan Zio tersebut. "Gue hanya sedang memikirkan nasib hubungan kita. Kita akan gimana kedepannya, Zio? Lu nggak diizinin nikah sama gue karena mereka sudah menyiapkan wanita untukmu. Kau tidak perlu berusaha payah mencari cinta. Tapi bagaimana dengan gue? Gue udah jatuh cinta sama lu dan gue juga berharap kalau kita berjodoh. Namun keluarga lu menentang gue sama lu. Kayaknya emang kita nggak ditakdirkan bersama!"
Zio menangkup kedua pipi Mentari, ia lalu menggeleng pelan. "Lu masih punya gue, kita bakalan berjuang bersama. Dapat atau enggak restunya, gue bakal nikahin lu bisa tidak saatnya. Lu mau gue nikahi besok pun gue siap. Tari, gue mohon sama lu agar nggak usah peduliin suara-suara sumbang dari orang lain. Lu tetap yakin kalau gue tetap milih lu dan bukan Dini!
__ADS_1
"Ta-tapi ...."