CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~63


__ADS_3


Mentari terpaku di tempat begitu melihat Zio yang sudah berdiri di hadapannya. Bagaimana bisa Zio sampai tahu jika ia sedang berada di perusahaan dan bahkan ia tidak memberitahukan mamanya jika hari ini ia akan datang bekerja lembur.


Melihat Mentari yang tidak bergerak sama sekali membuat Zio mengambil langkah untuk mendekatinya saja. Langkah Zio semakin cepat dan hal itu berpengaruh pada detak jantung Mentari juga yang semakin berdegup kencang.


"Ha-hai. Lu kok disini?" sapa Mentari saat Zio sudah berada di hadapannya dan mereka sangat dekat bahkan ujung sepatu mereka saling bersentuhan.


Zio mengangkat sebelah alisnya, "Lu hanya gue? Harusnya gue yang nanya lu kenapa bisa ada disini? Apa yang lu lakuin dari pagi sampai sore di perusahaan? Gue nggak minta lu kerja lembur dan gue juga tahu kalau nggak ada pekerjaan penting yang mengharuskan lu untuk datang bekerja di hari libur. Ada apa Mentari?"


Pertanyaan Zio sukses membuat Mentari kehilangan ide untuk menjawabnya, apalagi wajah mereka terlalu dekat, Mentari semakin gugup dan ia yakin Zio pasti mendengar detak jantungnya.


"Jawab," ucap Zio dengan suara lembut namun penuh penekanan.


"Gu-gue lagi nyelesaiin pekerjaan kemarin," jawab Mentari. Haduuhh ... kenapa bisa ada Zio disini? Gue harus bilang apa sama dia? Ayolah otak, bekerjalah! lanjut Mentari dalam hati.


Zio memajukan kepalanya dengan tatapan tajam dan mengunci kedua netra Mentari sedangkan Mentari refleks memundurkan kepalanya. "Jangan bohong! Gue udah pantau lu sejak tadi lewat CCTV di hp gue," ucap Zio lagi, ia tidak berniat mencium Mentari melainkan mencari kejujuran dari jawaban kekasih merangkap sekretarisnya ini.


Sontak Mentari menahan napas, ia juga akhirnya tahu bagaimana Zio bisa menemukannya berada di kantor. Memang benar jika tadi Zio tidak sengaja mengecek CCTV kantor padahal hal tersebut sangat jarang ia lakukan apalagi di hari libur. Namun seperti mendapat bisikan, Zio pun menggerakkan jarinya untuk membuka CCTV pada ponselnya dan ia sangat terkejut menemukan Mentari yang sedang menyelesaikan pekerjaan dan ia mengecek lagi dari waktu dimana Mentari sampai di kantor dan ternyata hanya berselang satu jam setelah ia pulang dari rumah Mentari.


"Bernapaslah dengan benar," ucap Zio kemudian ia mengambil jarak dari Mentari. Ia sudah cukup mengintimidasi kekasihnya tersebut dan ia memang bisa melihat jika Mentari sedang gugup, terbukti dari bulir keringat yang keluar di pelipisnya.


Mentari pun mengatur pernapasannya dan merasa lega karena Zio mengerti dengan dirinya dan ia tidak jadi kehabisan napas. Namun hal tersebut hanya sesaat saja karena Mentari sadar jika Zio pasti akan kembali menanyakannya lagi perkara dirinya yang berada di perusahaan.


"Zio, harusnya lu datang ke rumah gue nanti di jam yang sudah kita tentukan. Kenapa datang menemuiku lebih cepat sih?" ucap Mentari mencoba mengalihkan.


"Dan lu jangan coba-coba untuk mengalihkan pembicaraan, Mentari. Mending sekarang lu ikut gue dan kita harus bicara. Lu nggak usah nanyain soal motor lu karena motor itu udah sampai di rumah lu. Tadi gue udah minta mobil derek buat bawa motor lu ke rumah lu. Sekarang lu udah nggak punya alasan lagi buat menghindar," ucap Zio yang membuat Mentari menganga, ia tidak menyangka jika ternyata Zio sudah mengatur segalanya.

__ADS_1


Mau tidak mau Mentari menurut saja saat Zio menarik tangannya keluar dari perusahaan dan menuju ke mobil Zio yang terparkir sembarangan di depan kantor.


Di dalam mobil keduanya sama sekali tidak mengeluarkan suara. Mentari sibuk memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada Zio sedangkan Zio sibuk menerka apa yang akan dijawab oleh Mentari dari semua pertanyaannya tersebut.


Yang paling gue nggak yakin itu Mentari nggak mungkin nyuri data perusahaan karena sejak tadi gue pantau dia emang kerja. Dan nggak mungkin dia ngelakuin itu. Dia juga nggak ada masuk ke ruangan gue dan sejak dia datang sampai gue juga datang ke perusahaan dia nggak beranjak sedikitpun. Tari, apa sih yang lagi lu sembunyikan? Gue selalu mendapati lu kayak gini dan gue yakin ada sesuatu yang lu sembunyikan dari gue.


Zio menepikan mobilnya di dekat sebuah danau yang indah dimana tempat itu cukup sepi. Zio memang sengaja mencari tempat yang jauh dari keramaian tetapi bukan untuk berbuat mesum melainkan untuk membuat Mentari mau berbicara padanya dan ia merasa tempat ini cocok untuk keduanya berbicara heart to heart.


"Lu mau turun atau gue gendong?" tanya Zio dan sontak hal tersebut membuat Mentari tersentak halus.


Mentari menggeleng, ia dengan cepat membuka seatbelt dan langsung turun diikuti oleh Zio yang geleng-geleng kepala karena Mentari begitu cepat bergerak hanya karena ia mengatakan akan menggendongnya. Padahal Zio pun hanya bercanda sebab ia melihat Mentari terus melamun.


Keduanya bertemu di depan mobil dan Zio langsung menggenggam tangan Mentari dan mengajaknya untuk duduk di bangku panjang yang mengarah ke danau.


Untuk beberapa saat keduanya saling terdiam dengan tatapan lurus ke depan. Zio memberikan ruang untuk Mentari berbicara lebih dulu sedangkan Mentari menunggu Zio akan kembali menanyainya. Ia sudah siap menjawab semua pertanyaan Zio dan lebih baik ia jujur saja daripada kedepannya akan menjadi boomerang untuknya sendiri.


"Sayang!"


Keduanya saling memanggil lalu saling melempar senyuman.


"Lu aja dulu!" ucap keduanya lagi bersamaan hingga akhirnya Zio yang memilih berbicara lebih dulu dan kembali menanyakan alasan Mentari mengambil lembur.


Mentari meraup udara sebanyak-banyaknya sebelum ia menceritakan kebenarannya pada Zio.


"Yang, lu ingat 'kan waktu itu lu pernah ngasih gue SP satu dan juga potongan gaji buat ganti mobil lu yang lecet karena gue?" tanya Mentari memulai pembicaraan.


Zio mengangguk, mengingat hal tersebut membuatnya tersenyum karena teringat akan perdebatannya dan juga pertemuannya dengan Mentari setelah bertahun-tahun berpisah.

__ADS_1


"Ingat, kenapa? Eh tapi waktu itu gue nggak serius kok Yang," ucap Zio terkekeh.


Mentari tersenyum kecut, dulu saja Zio begitu menggebu-gebu memotong gajinya dan sekarang setelah mereka balikan ia baru bilang kalau semua itu hanya bercanda. Padahal Mentari sudah menerima gaji dengan potongan tersebut.


Melihat Mentari yang tersenyum kecut langsung bisa diartikan oleh Zio jika sudah terjadi kesalahpahaman disini.


"Yang, jangan bilang kalau gaji lu beneran kena potongan ya," terka Zio dan Mentari hanya tersenyum kecut.


Zio menepuk jidatnya, ia kemudian tertawa dan dalam hati ia mengutuk Ramon karena ia yakin ini pasti ulah asistennya itu. "Nanti gue ganti deh. Nanti ditransfer ya kekurangannya," ucap Zio kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan menanyakan nomor rekening Mentari akan tetapi kekasihnya itu menggeleng.


"Nggak usah. Ini udah benar kok. Jangan mentang-mentang gue pacaran sama lu terus lu bawa urusan pribadi ke urusan pekerjaan. Itu nggak bagus," cegatnya.


Zio tersenyum, ia pun mengurungkan niatnya akan tetapi bukan Zio namanya jika niatnya tidak ia teruskan. Ia bisa menghubungi stafnya untuk mengirim sisa uang Mentari yang sudah dipotong.


"Sekarang gue mau lu jujur, apa sebenarnya yang lu sembunyikan dari gue? Please Tari, jawab gue," ucap Zio sambil menggenggam tangan Mentari.


Mentari membuang muka, tadinya ia sudah sangat siap menjawab namun karena pembicaraan mereka teralihkan dengan masalah gaji, mendadak ia jadi kehilangan keberaniannya yang tadi.


Ya udah deh, jujur aja.


"Sebenarnya masalah gaji itu, gue sendiri yang minta dan kasih tahu ke pak Frits. Dan mengenai kenapa gue mengambil kerja lembur itu karena gue ... gue udah resign kemarin dari perusahaan lu," jawab Mentari kemudian ia memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup melihat wajah terkejut Zio saat ini.


Zio memang sangat terkejut dan ia bahkan tidak untuk beberapa saat sampai ia kembali mendapatkan kesadarannya. Ia menatap Mentari yang terlihat enggan untuk membalas tatapannya. Zio tersenyum kecut karena ia sadar apa yang baru saja ia dengar tersebut memang benar adanya.


"Kamu serius?" tanya Zio dengan suara lembut dan kini ia sedang menahan sesak dan juga amarah pada Mentari.


Mendengar suara lembut Zio dan caranya memanggil itu membuat dada Mentari terasa sesak. Ia yakin sekali saat ini keaksihnya itu sedang hancur hatinya.

__ADS_1


"Sayang, lihat aku please. Aku lagi ngomong lho sama kamu. Kita bisa 'kan bicara baik-baik," ucap Zio lagi dengan suara yang semakin lembut.


Tak tahan mendengar ucapan Zio tersebut, Mentari pun berbalik dan langsung memeluk tubuh Zio dengan erat dan menumpahkan tangisnya.


__ADS_2