
Wajah Zio mendadak menjadi datar saat melihat siapa yang bertamu di apartemennya. Namun walau begitu ia tetap mempersilahkan lelaki tua itu untuk masuk dan Zio menyambutnya dengan baik walau wajahnya tidak bersahabat. Ia tetap menyayangi pria tua ini terlepas dari bagaimana hubungan mereka saat ini, Zio dan kakeknya ini hanya sama-sama butuh waktu dan saling berbicara dari hati ke hati.
"Kakek ingin minum apa?" tanya Zio basa basi, namun sebenanrya di kulkas miliknya memang ada berbagai macam makanan dan minuman, ia sempat berbelanja bersama Mentari dan ia berniat mengisi penuh kulkasnya.
Kakek Rasyid tersenyum tipis, "Sajikan saja yang baik untukku," jawabnya.
Zio mengangguk, ia kemudian segera ke dapur dan tak lama kemudian ia mengambilkan segelas jus dan juga camilan sehat untuk sang kakek. Hal tersebut mengundang rasa penasaran kakek Rasyid sebab cucunya ini bahkan memiliki stok makanan. Ia sempat berpikir apakah Zio sengaja melakukan ini karena ia sudah tidak memiliki apapun lagi.
"Kau punya makanan dan minuman juga rupanya," ledek kakek Rasyid.
Dengan bangganya Zio berkata, "Aku ini pria yang tidak memikirkan hal tersebut Kek, jika aku lapar maka aku akan memesan makananku sendiri akan tetapi aku memiliki kekasih yang tahu jika saat ini aku pengangguran sehingga dia mengusulkan untuk menyetok persediaan makanan dan minuman sampai nanti aku mendapatkan pekerjaan. Dia sungguh manis, bukan?"
Zio tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah dan berbohong. Mentari memang memintanya untuk menyetok makanan dan minuman akan tetapi Mentari sama sekali tidak tahu jika Zio sudah berpisah dengan keluarganya dan memilih mengundurkan diri dari kantor.
__ADS_1
Kakek Rasyid mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejujurnya ia sama sekali tidak menentang hanya saja ia merasa bahwa janjinya bersama sang sahabat - Harun Vindex juga penting. Dulunya ia tidak pernah menentukan apakah Zio yang akan menjadi calon jodoh dari cucu sahabatnya itu sebab ia menargetkan Juan pada awalnya. Akan tetapi siapa yang akan menyangka jika Dini ternyata memilih Zio.
"Kakek minta maaf karena sudah membuat hubunganmu dengan kekasihmu itu menjadi berantakan," ucap tulus kakek Rasyid.
Zio mengibaskan tangannya, "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Kek. Tidak ada juga yang berantakan karena hubungan kami semakin hari justru semakin kuat. Hanya saja ...."
Zio menggantung ucapannya dengan tujuan agar sang kakek merasa penasaran. Ia tahu jika kakeknya masih berharap ia dan Mentari akan putus hubungan. Namun Zio juga bisa melihat dari pancaran dan mimik muka kakeknya, pria tua itu sebenarnya merasa bersalah hanya saja ia tidak berani mengatakannya secara langsung, ia hanya mewakilkan semuanya lewat kata 'maaf' yang entah untuk perbuatan yang mana atau untuk keseluruhan.
"Hanya saja apa?" tanya kakek Rasyid.
Kakek Rasyid kembali dibuat mengangguk dengan ucapan Zio tersebut. Ia tahu jika Zio saat ini berusaha meninggikan kekasihnya itu dan mencoba untuk menjelaskan bahwa ia tidak salah dalam memilih calon pendamping hidupnya.
"Ya kau benar sekali. Hanya saja sayang sekali dia tidak akan bisa menjadi cucu menantu kakek-" ucapan kakek Rasyid terhenti ketika ia melihat wajah tampan cucunya kini begitu mengerikan hanya saja ia mencoba untuk bersikap santai saja, - "Zio, kakek datang kemari karena ingin berbicara denganmu dari hati ke hati. Kakek tahu tindakan kakek salah, tapi semua ada alasannya," imbuh kakek Rasyid dengan suara lembut, ia sangat hafal karakter Zio yang lebih mudah diajak bicara jika lawan bicaranya bertutur kata yang lembut.
__ADS_1
Melihat Zio yang hanya diam saja, Kakek Rasyid pun menceritakan sama persis seperti yang sudah ia ceritakan di rumah tentang bagaimana sampai terjadi perjodohan seperti ini. Tanpa ia kurangi atau tambahkan agar Zio percaya padanya.
Zio yang mendengarkanpun hanya diam saja. Ia masih belum tahu harus berbicara apa walaupun dalam hati dan pikirannya ia tetap bersikeras memperjuangkan hubungannya bersama Mentari.
"Maaf karena memaksamu. Lagi pula Dini tidak begitu buruk, Nak. Bersamanya saja lah, bantu kakek untuk membalas hutang budi," lirih kakek Rasyid.
Zio mengangkat sebelah sudut alisnya. "Tidak buruk? Kakek, bukankah sudah pernah aku katakan kalau Dini itu sebelas dua belas sama aku? Aku nggak bisa, Kek. Aku nggak mau dan aku hanya ingin Mentari saja. Bukankah aku sudah keluar dari rumah demi memperlihatkan kesungguhanku? Aku nggak bisa dipaksa, Kek."
Helaan napas kecewa terdengar dari arah kakek Rasyid. Ia sudah tahu hal ini akan terjadi dan sudah memperhitungkannya.
"Jangan jawab sekarang, berpikirlah lebih dulu. Kakek akan menanti jawabannya saat kau sudah berpikir. Kakek pulang dulu dan jaga dirimu. Oh ya, Juan sepertinya sangat kesulitan menangani perusahaan. Sebaiknya kau kembali dan urus lagi perusahaan yang aku dirikan dan wariskan itu padamu. Ini tidak ada hubungannya dengan masalah perjodohan. Kau itu tetap pewaris, ingat tugasmu Dimas Ezio Rasyid!"
Zio hanya tersenyum tipis, ia mengantarkan kakeknya hingga ke pintu dimana sudah ada asisten pribadi kakeknya yang siaga menunggu.
__ADS_1
Saat sang kakek sudah pergi, Zio nampak tengah berpikir dan ia menyeringai saat sebuah ide melintas di pikirannya.