
Zio memarkirkan mobilnya di depan rumah Dini. Seperti yang ia duga, Dini sudah menantinya dan begitu girang menyambut kedatangannya. Zio harus kembali berpura-pura memasang tampang senang dan juga sebagai calon suami yang baik, ia harus bersikap lemah lembut dan sangat manis.
Sejujurnya ia sangat muak melakukan ini terhadap Dini. Ingin rasanya ia mencekik wanita ini sekarang juga, akan tetapi rencananya harus tetap dilaksanakan dan Oliver sudah menunggu mereka di tempat yang sudah dijanjikan.
"Apa kau sudah siap?" tanya Zio begitu lembut, ia tak lupa mengelus rambut Dini. "Sebenarnya Tari memaksa untuk ikut, tapi aku menolaknya. Semua demi waktu bersamamu dan anak kita," lanjut Zio bercerita agar Dini semakin percaya padanya.
Mata Dini terlihat berbinar-binar, tentu saja ia sangat senang mendengar ucapan Zio barusan. Dengan begini ia yakin Zio lebih mengutamakannya dibandingkan Mentari yang bersatu sebagai istrinya. Ada lagi sikap manis padanya, Dini semakin merasa bahwa ia telah berhasil memenangkan Zio.
"Aku pikir cintamu berat padannya, ternyata sedangkal ini," ejek Dini kemudian ia berbelayut manja di lengan Zio.
Zio memalingkan wajahnya begitu Dini menggandeng tangannya. Ia mencoba mengatur mimik mukanya agar tidak terlihat sangat kesal pada perbuatan Dini saat ini. Zio benar-benar ingin menghempaskan tangan Dini yang sudah berani dan sangat lancang menyentuhnya. Dalam hati ia terus menegaskan bahwa dirinya hanya sedang menjalankan misi dan setelah semuanya berakhir, ia bisa bahagia dengan Mentari.
"Kakek dimana, Din? Ayo kita berpamitan sebelum pergi," ucap Zio mengalihkan pertanyaan Dini ,jelas aja ia tidak akan menjawab karena cintanya tidak sedangkal itu pada Mentari bahkan luar biasa besarnya.
"Kakek sudah pergi perusahaan. Bukankah perusahaan milikmu sudah menyuntikkan dana kepada perusahaan kami, jadi dia begitu bersemangat untuk kembali mengelola perusahaan. Aku juga sudah berpamitan kepada mereka, sekarang kita tinggal pergi saja," ujar Dini dan Zio pun hanya mengangguk saja.
Dalam hati Zio merasa senang karena ia tidak perlu berlama-lama bersandiwara di rumah ini dan juga bermuka ramah padahal sangat ingin menghancurkan mereka semua. Zio berharap urusan bersama Dini segera selesai sesuai dengan rencana yang telah ia susun bersama dengan Oliver. Mereka sudah merencanakan akan melakukan kekerasan jika saja Dini tidak mau buka mulut ketika mereka berusaha bertanya baik-baik kepadanya nanti.
__ADS_1
Nikmati waktumu bermanja-manja padaku karena sebentar lagi lu bakalan abis di tangan kami. Dan jangan harap lu bakalan bisa kabur, karena setelah ini lu bakalan gue bikin menderita.
....
Mentari hari ini tidak masuk kerja, semua berkat Zio yang membuatnya kesulitan berjalan sedangkan pria itu sudah melanggar pergi bersama Dini. Walaupun Zio pergi untuk menyelesaikan misi, akan tetapi Mentari juga merasa kesal karena dia bukannya bersamanya untuk menjaganya di rumah namun justru pergi mengurus Dini.
Sebenarnya Mentari sudah bisa untuk pergi bekerja akan tetapi Zio melarangnya dan menugaskan mertuanya untuk menjaga Mentari dengan baik dan melaporkan kepadanya jika ia berani nakal untuk nekat pergi kerja. Zio juga sudah menghubungi Mawar dan meminta izin untuk istrinya dengan tidak menutupi apa yang terjadi pada Mentari.
Mentari duduk di atas tempat tidurnya sambil mengingat kejadian semalam hingga tadi pagi ia tersenyum malu. Beberapa saat kemudian Mentari mulai mengusap perutnya yang masih begitu rata sambil berkata, "Semoga kau akan hadir di dalam sini. Entah takdirku bersama ayahmu atau bukan, yang terpenting keberadaanmu bersamaku. Aku sangat mengharapkan kehadiranmu."
Saat Mentari tengah melamun membayangkan ia memiliki anak bersama Zio, ponselnya berdering dan itu panggilan dari Mawar. Ia yakin sekali saat ini Mawar akan membahas tentang pekerjaan sehingga dengan cepat ia langsung mengangkatnya.
Laporan dari Mawar tersebut membuat Mentari memutar bola matanya dengan jengah. Tentu saja ia tahu ini pasti taktik Bright karena ingin kembali dekat dengannya. Ia bersyukur karena Mawar tidak memberikan alamat rumahnya yang walaupun demikian Mentari pasti tahu jika Bright mengetahui alamat rumahnya, hanya saja ia berbasa-basi kepada Mawar agar tidak ketahuan.
"Dasar orang aneh! Udah tahu gue udah punya suami, masih aja ngebet. Kenapa nggak lu aja yang maju buat jadiin dia pacar," keluh Mentari tanpa memberikan solusi kepada perkataan panjang lebar Mawar tadi.
Terdengar Mawar mendengus, Mentari terkekeh karena ia yakin sekali Bos sekaligus sahabatnya itu saat ini sedang kesal karena ucapannya barusan.
__ADS_1
"Terus si Oliver mesum itu lu mau kemanain? Yang ada perusahaan gue bakalan tutup karena gagal proyek. Kalau gue mendekati Bright dan dia sampai tahu gue dan Zio hanya sandiwara, gue nggak berani. Tampangnya emang manis, bicaranya emang santai tapi lu nggak pernah tahu gimana orangnya kalau lagi serius, gue 'kan pernah sampai nggak ngenalin dia kalau itu si Oliver yang suka banyak bicara dan biang onar."
Mentari terdiam. Ia tidak pernah tahu sisi lain dari Oliver karena selama ini yang ia ketahui Oliver adalah pria tengil dengan sejuta kelucuannya, namun hal itu membuat Mentari jengah karena tidak memiliki rasa padanya. Dan setelah mendengar ucapan Mawar barusan serta bagaimana dia membuat pengaturan kepada Zio dan Dini serta dirinya dan Juan, Mentari meyakini bahwa Oliver memang benar-benar orang yang serius jika dalam menghadapi sebuah masalah.
"Gue harus gimana?" Terdengar lagi ucapan Mawar yang merasa frustrasi.
Mentari menghela napas, ia kemudian mengatakan kepada Mawar jika nanti dirinya yang akan langsung menemui Bright, tapi bukan hari ini. Tak lupa ia meminta Mawar untuk tetap tenang karena urusan mereka pasti akan segera selesai jika dirinya sendiri yang langsung turun tangan.
"Mentang-mentang kesayangan tuan Bright," ledek Mawar.
"Berani lu ledek gue, dijamin bakalan gagal tuh proyek. Lu tenang aja deh, gue pasti bisa luluhin dia dan lu jangan coba-coba ngeledek gue lagi!" ancam Mentari walaupun ia tidak serius.
Mawar pun mengiyakan dan mempercayakan semuanya kepada Mentari, lalu ia menutup telepon tersebut. Sedangkan Mentari saat ini langsung mencari kontak Juan dan menghubungi adik iparnya tersebut untuk menjalankan misi selanjutnya.
Juan yang sedang berada di kantor menerima panggilan dari Mentari. Ia pun langsung menjawabnya dan keduanya berbicara panjang lebar tentang masalah yang tengah dihadapi Mawar. Juan berkata jika ia akan menemani Mentari untuk menemui Bright.
Mentari pun merasa senang apalagi Juan sudah memberikannya ide yang bagus untuk bisa meyakinkan Bright tentang hubungannya bersama Zio yang mulai renggang.
__ADS_1
Sementara itu, di kantornya Bright sedang memikirkan Mentari. Ia menduga saat ini Mentari pasti tengah bersedih sehingga tidak masuk kantor. Bukan tanpa alasan, Bright mengetahui tentang Dini yang pergi bersama Zio dan hal itu pasti membuat luka di hati Mentari.
"Mentari, harusnya lu milih gue karena gue yakin gue adalah pria yang tepat buat lu. Dan lu harus tahu, walaupun lu jadi janda Zio, gue bakalan tetap akan menjadikan lu pendamping hidup gue. You drive me crazy, amor.