
"Penjarakan dia Pak, berani sekali dia mengendarai dengan mabuk dan hampir merenggut nyawa adik saya. Tidak sampai disitu saja, adik ipar saya justru yang jadi korbannya. Beri dia hukuman Pak, saya tidak ingin di dibebaskan bersyarat," ucap Zio penuh penegasan.
Tadinya Oliver yang akan datang, namun karena Dini kabur, Oliver memintanya untuk bertukar dengan ia yang pergi mencari keberadaan Dini sedangkan Zio menemui Juan di kantor polisi.
Wajah Zio terlihat sangat syok ketika ia bertemu dengan sosok pelakunya. Pria yang tengah dicarinya ternyata sudah berada di depan mata. Zio tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langkah ini untuk membuat Dwine merasakan akibat dari perbuatannya pada Zio.
"Baik, Pak. Kami akan memberikannya hukuman sesuai dengan prosedur yang berlaku," jawab polisi tersebut.
Zio dan Dwine saling bertatapan beberapa saat, seolah keluar sinar kilatan dari mata keduanya hanya lewat tatapan mata. Zio memutuskan untuk duduk dan ia akan mengambil alih masalah ini.
"Kak, aku akan pergi ke desa Lidya dan menjemput kedua orang tuanya. Aku akan menceritakan kepada mereka jika Lidya saat ini sedang berada di rumah sakit, sekaligus ada hal penting yang akan aku bicarakan dengan mereka. Boleh ya untuk satu hari ini saja?" bujuk Juan dan Zio pun langsung mengangguk.
Permintaan Juan tersebut langsung diiyakan oleh Zio. Tentu saja Zio tidak akan melarang Juan pergi ke desa. Juan harus menjemput kedua orang tua gadis itu dan juga memberitahukan kepada mereka tentang kejadian kecelakaan yang sebenarnya.
Juan belum ingin mengatakan niat sebenarnya jika ia ingin pergi mengutarakan perasaannya yang sangat merasa bersalah karena sering menghina penampilan media selama ini. Ia juga belum bisa memastikan apakah setelah melihat sisi lain Lidya, pandangannya terhadap gadis itu akan berubah.
__ADS_1
Setelah Juan pergi, Zio kembali disibukkan dengan permasalahannya dengan Dwine. Zio sangat mendendam pada pria yang membuatnya terjebak bercinta satu malam dengan Dini dan akhirnya membuat hidupnya menjadi bermasalah untuk beberapa waktu.
"Tempatmu memang pantas berada di sini. Aku bahkan bisa melaporkanmu dengan tuduhan yang lain, misalnya membuatku terjebak dengan minuman yang sudah kamu masukkan obat perangsang. Belum lagi korupsi yang kamu lakukan pada proyek kita bersama sehingga membuatnya harus gagal berkali-kali karena kualitas bahan yang tidak sesuai dengan apa yang tertera di proposal," ucap Zio ketika ia menemui Dwine yang sudah berada di dalam sel tahanan.
Wajah Dwine merah padam. Ia memang dalam keadaan mabuk saat mengendarai mobilnya tadi. Ia melihat sosok Juan seperti melihat Zio, mungkin karena pengaruh alkohol. Namun sayang ada seorang gadis yang datang bagai pahlawan kesiangan menolong Juan yang disangkanya adalah Zio.
Dwine yang sudah tidak bisa menahan laju mobilnya akhirnya ia banting setir dan menabrak pohon. Ia sempat pingsan sebelum akhirnya ia tersadar dan berada di dalam ruang kantor polisi. Belum lagi ada Zio yang siap membantu polisi memenjarakannya.
Zio dan Dwine terlibat perdebatan yang membuat suasana samakin panas hingga harus petugas kepolisian yang mengamankan keduanya. Zio terpaksa diminta untuk pergi karena masalah mereka memang sudah selesai dan jika Zio ingin mengajukan banyak tuntutan, ia bisa datang bersama dengan pengacaranya.
"Lihat saja, aku pasti akan membuatnya jatuh dan terpuruk seperti yang aku rasakan. Aku akan keluar dari penjara ini jika aku berkelakuan baik dan aku juga harus bisa menyusun rencana yang lebih bagus lagi untuk bisa menghancurkanmu," gumam Dwine.
Hidup Dwine sekarang menjadi luntang-lantung, walaupun ia memiliki rumah tetapi perusahaannya yang mendadak pailit membuatnya stress dan hanya bisa menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan. Bahkan saat ini ia menginap di hotel prodeo entah sampai berapa lama.
"Aku harus mencari seseorang yang bisa menjadi sekutu untuk bisa menghancurkan Zio. Akan aku pastikan pria arogan itu akan mendapatkan ganjarannya. Dia pasti akan merasakan jatuh seperti yang aku rasakan. Tunggu saja," lanjut Dwine, ia kemudian duduk di lantai sambil bersandar di tembok dan meratapi nasibnya.
__ADS_1
.....
"Ouh yes Mentari, kamu sangat nikmat dan hebat sekali. Aku menyukai permainanmu ini amor. Jadilah milikku dan aku akan membuatmu bahagia seumur hidupku," ucap Bright yang terus memacu kecepatan geraknya di atas wanita yang sedang ia hujami dengan rudal miliknya.
Wanita yang tengah ia kungkungi itu hanya bisa menggigit bibirnya dan menahan tangisnya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya ia akan mengalami hal seperti ini. Ia terjebak dalam niatnya sendiri dan ia tidak bisa mundur karena sudah terlanjur.
Lenguhan panjang terdengar di telinga wanita yang sedari tadi menunggu pelepasan Bright. Ia harus segera pergi dari sini karena rasanya begitu sakit saat seseorang membuat kita tidak menjadi diri kita sendiri apalagi saat sedang bercinta.
"Idemu lumayan juga," ucap Bright ketika ia sudah menarik diri dari tubuh Dini. "Gue masih punya banyak stok wajah Mentari yang bisa gue cetak terus lu pakai setiap kali kita bercinta. Bayaran lu bakalan gue transfer," imbuh Bright.
Hati Dini terasa sakit namun ia bisa apa, ia membutuhkan banyak uang untuk bisa pergi dari hidup Bright dan memulai semuanya dari nol dengan membawa modal untuk membuka usaha, mencari rumah tinggal dan merawat anaknya hingga lahir dan besar nanti.
Dini sudah tidak memiliki siapapun yang akan menemaninya, hanya bayi dalam kandungannya yang tak pernah pergi dan selalu menempel padanya. Hal ini membuat Dini emosional dan ia rela mempertahankan bayi tersebut walaupun nanti Bright tidak akan mengurusnya. Dini siap memberikan segalanya untuk anaknya nanti, ia rela menderita tubuh dan batin saat ini.
"Terima kasih, gue pamit ke kamar gue," ucap Dini sambil memunguti satu per satu pakaiannya.
__ADS_1
Bright hanya bisa menatap punggung Dini yang hilang dari balik pintu. Sebenarnya di lubuk hati Bright yang terdalam, ia merasa kasihan pada Dini ketika mereka bercinta lalu ia malah menganggap Dini sebagai wanita lain. Tapi ... Bright tidak bisa memberikan hati lagi padanya, ia sudah terhipnotis pesona Mentari dan baginya Dini hanyalah masa lalu. Mereka hanya terikat karena ada anak di dalam kandungan Dini.
"Maaf Dini, maaf untuk cinta yang sudah tidak lagi mencinta. Kamu yang memilih meninggalkanku karena aku tidak sekaya keluarga Ar-Rasyid — Bagaspati. Padahal aku memiliki hati yang kaya akan cinta untukmu, tapi kau mencampakkannya begitu saja."