
"Pegangan yang erat!" ucap Zio ketika ia melakukan motor Mentari. Ia jadi semakin suka naik motor bersama kekasihnya itu karena ia bisa dipeluk oleh Mentari sepanjang perjalanan.
Zio sudah mengecek saldo di rekeningnya dan masih cukup untuk membeli satu unit motor yang nantinya akan menjadi alat transportasinya. Ia sudah meninggalkan mobil walaupun ia tahu jelas mobil itu ia beli dengan uangnya sendiri. Ia juga akan mencari pekerjaan melalui kenalannya dan ia ingin menjadi karyawan biasa saja sehingga ia bisa dikatakan setara dengan Mentari.
Tadinya Zio ingin mereka untuk kencan di rumah saja dan meminta Mentari menyuguhkan pisang goreng untuknya akan tetapi karena ia sudah berjanji akan membawa Mentari jalan-jalan malam ini, ia terpaksa harus berbohong dengan mengatakan mobilnya tadi mendadak mogok sehingga ia datang dengan naik taksi.
Dengan cerita Zio tersebut pun akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dengan naik motor milik Mentari.
"Besok aku mau beli motor!" ucap Zio dengan suara agak keras karena ramainya kendaraan di malam Minggu.
"Lho kenapa?" tanya Mentari, ia menyandarkan dagunya di bahu Zio.
"Soalnya setelah aku pikir-pikir, naik motor bareng kamu itu menyenangkan. Kamu bisa peluk aku sepanjang jalan," jawab Zio dan kini pipi Mentari bersemu merah. Dengan cepat ia melepaskan pelukannya namun sayang Zio kembali menangkap tangannya dan melingkarkan kembali di pinggangnya.
"Jangan dilepas. Aku suka seperti ini," ucap Zio dan Mentari hanya menjawab dengan senyuman walaupun ia sadar Zio tidak akan bisa melihat senyumannya.
Motor tersebut terparkir di parkiran mall. Keduanya memutuskan malam ini mereka akan menonton film saja. Daripada berkendara mengukur jalan tidak jelas, lebih baik menikmati film romantis.
Sementara keduanya sedang menikmati momen bersama, di rumah keluarga Ar-Rasyid saat ini sedang diliputi keresahan. Setelah mereka tahu kejadian yang sebenarnya, kini mereka harus berpikir untuk menemukan solusi.
Memang benar hutang emas dapat dibayar tapi hutang budi di bawa mati.
Jika saja hanya membayar berapa banyak uang yang sudah diberikan Harun Vindex kepada Ar-Rasyid pada masa itu, maka bisa saja mereka lakukan. Namun pertolongan tersebut bukan hanya tentang uang tetapi tentang jasa Harun dalam membantu Rasyid berjaya kembali. Tentu saja Rasyid tidak akan memberikan uang dan Harun tidak akan menerimanya juga.
Jalan terbaik untuk membalas budi hanyalah dengan menjodohkan Zio dan Dini. Akan tetapi disini Zio bersikeras untuk tidak menerima perjodohan tersebut bahkan hengkang dari rumah.
Hati memanglah tidak mudah dipaksakan.
__ADS_1
"Pi, bagaimana ini? Harusnya Dini bisa memilih yang lain jika Zio tidak mau bersamanya. Dan Zio juga, apa salahnya menerima Dini sebagai istrinya?" keluh Lolita di dalam kamar.
Danu masih diam dalam pemikirannya. Ia tidak ingin egois dengan nasib putranya. Ia tahu wanita yang dipilih Zio ini adalah yang terbaik dari semua yang baik. Akan tetapi kemungkinan besar mereka tidaklah berjodoh. Keinginan ayahnya tidak bisa ia tentang mengingat ayahnya sudah renta dan tidak bisa mendapat banyak tekananan dan tidak bisa sering emosi. Danu khawatir dengan kondisi sang ayah dan ia prihatin dengan nasib putranya.
"Hanya ada satu solusi Mi. Kita harus menemui Mentari dan meminta bantuannya untuk membujuk Zio menerima perjodohan ini," ujar Danu.
"What?! Papi sudah gila? Nggak bisa gitu dong Pi. Kita akan menyakiti hati Mentari, mami sejujurnya merestui hubungannya dengan Zio tapi mami juga mikirin ayah. Ahh … mami pusing!"
Keduanya kembali terdiam, mengambil jalan ini salah dan mengambil jalan itu juga salah. Meminta Zio melepas Mentari tentu tidak akan mudah dan Zio tentu tidak mau. Meminta Dini untuk membatalkan perjodohan adalah sesuatu yang sia-sia karena hal tersebut sangat mustahil sebab Dini sangat menginginkan Zio. Dan meminta Mentari untuk menjauhi Zio, gadis itu pasti akan melakukannya akan tetapi bukan tidak mungkin Zio akan tahu dan akan lebih marah lagi pada mereka.
Perjodohan ini membuat hubungan anak dan orang tua menjadi hancur. Semuanya egois dan tidak ada yang mau mengalah. Lolita sendiri pun jika ada di posisi Zio pasti akan memilih cintanya seperti ia yang tetap memilih berdiri mendampingi Danu walaupun pria itu pernah selingkuh darinya.
"Mami nggak mau kehilangan Zio. Kalau dia pergi dari rumah ini maka mami juga akan menyusulnya," ucap Lolita tegas.
"Jangan memperkeruh keadaan Mi. Jangan bikin papi tambah pusing. Mending sekarang mami tidur dan biar papi yang memikirkan masalah ini," ujar Danu. Ia tahu istirnya ini tidak bisa terlalu stress karena akan mempengaruhi kesehatannya. Akan lebih baik Lolita tidur dan ia akan memikirkan jalan keluar.
"Ya, kau caritahu semua yang saya inginkan. Saya akan mengirim datanya. Kerjakan dengan baik dan cepat!" ucap Danu kemudian ia mengakhiri panggilannya.
"Aku akan menemui Mentari besok. Hanya dia yang bisa membantuku," gumam Danu kemudian ia naik ke tempat tidur dan bergabung bersama sang istri menuju alam mimpi.
Di jalan yang masih sangat ramai dengan banyaknya kendaraan berlalu lalang, pasangan yang sedang sayang-sayangnya namun karena keadaan membuat nasib percintaan mereka terlihat mengenaskan itu sedang menikmati jajanan di pinggir jalan. Setelah menonton bioskop mereka memutuskan untuk mencari makan dan Mentari mengusulkan agar mereka mampir di warung tenda saja.
"Yang, jadi mulai hari Senin kamu sudah nggak kerja di perusahaan ya. Hmmm … tapi ingat, jaga mata dan hati kamu buat aku ya. Jangan larak-lirik cowok-cowok di perusahaan itu. Kamu pasti tahu apa yang bisa aku lakukan pada mereka yang berani dekat denganmu," ucap Zio dengan gaya merajuk dan juga terlihat jelas kecemburuannya.
Zio kemudian membuka mulutnya dan ia mematung seketika saat Mentari menyuapinya langsung tanpa menggunakan sendok. Hanya dengan menyentuh hati Mentari dengan bibirnya saja sudah membuat Zio panas dingin.
Sial! Jiwa Casanova gue meronta-ronta. Semenjak balikan sama Mentari gue udah pensiun. Huuhh … kalau kayak gini gue harus secepatnya nikah sama Tari, gue nggak bisa nganggur kayak gini. Awas aja lu kalau udah jadi istri, lima kali sehari semalam gue bantai lu.
__ADS_1
Wajah Zio memerah, dengan perlahan ia mengunyah makanan tersebut dengan terus menatap Mentari. Lain halnya dengan apa yang ada di pikiran Mentari, ia mengira Zio tersipu malu karena ia menyuapnya langsung tanpa menggunakan sendok.
Padahal tadi mereka sedang makan sendiri-sendiri, hanya saja Mentari tidak tahan dengan ocehan Zio apalagi hal tersebut bisa didengar oleh para pengunjung warung ini, Mentari merasa malu dengan sikap lebay dan overprotektif dan over posesif Zio.
"Zio ih, jangan lihatin aku terus," keluh Mentari, ia tentu saja menjadi grogi karena Zio terus menatapnya. Padahal mereka sudah lama bersama akan tetapi Mentari masih selalu gugup jika Zio menatapnya.
Zio terkekeh bahkan sampai ia tersedak dan terbatuk-batuk. Mentari lalu dengan segera memberikan air minum dan Zio meneguknya hingga tak bersisa.
"Makanya jangan rese!" ujar Mentari.
Zio mengerucutkan bibirnya, "Habisnya aku suka menatapmu karena kamu cantik dan seketika seluruh dunia berhenti berputar saat aku menatap wajahmu. Wajahmu mengalihkan duniaku," ucap Zio sambil bertopang dagu menatap Mentari.
Pipi Mentari memerah, ia dengan cepat memalingkan wajahnya. Malam ini ia merasa benar-benar malu karena Zio. Apalagi kini pandangan mata para pengunjung warung yang sedang menikmati makanan mereka juga sedang menunggu pesanan tertuju pada mereka.
"Ciee … romantis sekali suaminya. Pengantin baru ya," ledek salah satu pengunjung.
"Bukan Pak. Masih dalam proses, doain ya," jawab Zio menimpali.
Seketika kata Aamiin meramaikan warung tersebut dan Mentari semakin dibuat malu dan juga tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
Zio, lu emang selalu berbeda dan bisa bikin gue jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Ditukar dengan uang miliaran pun gue nggak mau. Lu miskin lu kaya pun gue nggak peduli. Gue bakalan pertahankan hubungan kita. Gue nggak akan biarin lu berjuang sendiri.
"Tari, kalau aku jatuh miskin dan hidup tidak punya apa-apa lagi, apakah kamu masih mau menikah denganku? Seandainya semua yang aku miliki hilang dari genggamanku, apakah kamu tetap bersedia berdiri di sampingku?" tanya Zio yang mendadak jadi melankolis karena teringat akan keadaannya sekarang.
Mentari kini menatap Zio, "Bahkan sekalipun kamu jadi gelandangan aku bakalan terima kamu, Zio. Kita bisa berjuang bersama. Dan aku tahu, kamu juga nggak bakalan biarin aku hidup susah. Kamu adalah orang yang selalu bisa diandalkan. Dan kamu juga nggak mungkin nggak bisa bekerja buat kita. Tapi aku tahu juga semua itu tidak akan terjadi. Kau sudah punya segalanya dan jangan pernah coba-coba untuk meninggalkannya. Aku tidak ingin menjadi perusak hubungan orang tua dan anaknya!" jawab Mentari dengan tegas.
Tapi kenyataannya gue udah ninggalin semua itu, Tari. Semua demi lu, demi kita. Maafin gue, tapi lu benar sekali jika gue nggak bakalan bikin hidup lu susah. Gue bisa bekerja sendiri dan berdiri di kaki gue sendiri. Dan lu bakalan jadi saksinya.
__ADS_1