
Danu keluar dari ruangan Zio, ia melirik sekilas ke arah Mentari yang masih sibuk melanjutkan pekerjaannya sedangkan ini sudah masuk jam istirahat. Ia tersenyum tipis, bisa ia lihat Mentari memang serius bekerja, bukan hanya sekadar pura-pura.
Memang benar, Mentari bekerja bahkan tidak mengenal jam makan siang sebab hari ini ia harus segera menyelesaikan seluruh pekerjaannya yang tertunda sebab besok adalah akhir pekan dan Senin nanti ia sudah akan masuk ke perusahaan milik Mawar. Mentari juga sedang menunggu kabar dari Pak Frits mengenai surat pengunduran dirinya.
Mentari yang fokus tidak sadar jika saat ini dua pria sedang mengamatinya. Zio sendiri heran mengapa Mentari begitu fokus bekerja sedangkan pekerjaan itu bisa ia lanjutkan nanti dan di hari Senin nanti. Namun kecurigaannya itu ia tepis dengan mengingat bahwa tadi ia sudah meminta Mentari untuk menunggunya.
"Papi bisa lihat sendiri 'kan? Pilihan Zio itu tidak pernah salah. Dia bahkan nunffuin Zio dengan cara menyelesaikan pekerjaan, bukan sibuk main ponsel atau mengoceh tidak jelas. Kalau perempuan lain behh ... Zio jamin pasti lagi mengoceh karena dibuat menunggu," bisik Zio pada papinya.
Danu mengangguk membenarkan ucapan Zio. Ia yakin ketika mereka nanti bersatu dan menikah maka Zio akan memiliki partner hidup yang sempurna. Mentari bisa diandalkan oleh Zio begitupun sebaliknya.
Akan tetapi, Danu tentu saja tidak menyatakan pujian itu di hadapan Zio. Anaknya itu bisa besar kepala dan juga akan semakin memuji Mentari sedangkan Danu masih ingin melihat lebih jauh seperti apa sosok Mentari yang sudah membuat Zio menentang seorang Ar-Rasyid demi mempertahankan posisi gadis ini di hidupnya.
"Sudah waktunya istirahat, apakah atasanmu selalu membuatmu bekerja di jam istirahat sekalipun?"
Mentari terkejut bahkan ia memegangi dadanya karena saking kagetnya ia mendengar suara Danuarta di sampingnya. Ia memang sedang sibuk bekerja tetapi ia juga sibuk memikirkan ia yang akan keluar dari kantor ini lalu mendadak calon mertuanya ini datang dan langsung membuka suara.
"Eh kamu kaget ya?" tanya Danu sambil tertawa pelan.
Mentari menggeleng, "Sedikit Pak. Tidak juga Pak, hanya kadang-kadang saja atasan saya itu menyebalkan. Tetapi mengenai pekerjaan ini memang sengaja saya kerjakan karena besok sudah akhir pekan dan saya memang berharap pekerjaan ini bisa cepat selesai," jawab Mentari sambi tersenyum kecil.
Danu mengangguk, diikuti oleh Zio yang kini sudah merangkul pundak Mentari dan tak tanggung-tanggung ia langsung mengecup pelipis Mentari dengan cara membungkukkan tubuhnya sedikit.
__ADS_1
Buugghh ...
"Ouhh ... ya sakit dong Yang. Kenapa perut aku ditonjok sih?" keluh Zio sambil memegangi perutnya yang terasa sedikit sakit.
"Itu balasan karena kamu sudah cium aku sembarangan. Dasar pria mesum!" sungut Mentari dan oh ... oh ... dia bahkan lupa kalau di sampingnya ada Papi Danu yang saat ini sedang menahan tawa saat melihat putranya dianiaya oleh sekretaris also known as kekasihnya sendiri.
Pantas, pantas aja Zio tidak bisa menyentuh gadis ini. Bahkan baru dicium saja dia sudah bereaksi seperti itu. Aku yakin dan percaya kalau selama ini Zio sering mendapat kekerasan dari gadis ini. Ah ya, memang harus gadis seperti ini yang mendampingi Zio. Aku mendukung tetapi aku belum bisa langsung memberikan restu karena aku baru pertama kali dan baru sehari mengenalnya.
Danu langsung pergi, ia tahu anaknya saat ini butuh waktu berdua dengan Mentari. Setelah papinya pergi, Zio kemudian mengajak Mentari untuk pergi ke restoran untuk makan siang. Namun Mentari menolak karena ia tidak ingin berlama-lama diluar sebab pekerjaannya masih lumayan banyak.
Alhasil akhirnya Mentari turun ke kantin dan memesan dua porsi makanan lalu ia membawanya ke ruangan Zio sebab kekasihnya itu sudah menunggu sejak tadi.
Seperti kata Zio, apapun makanannya minumnya tetap teh botol Sosro. Oh tidak, tidak ... apapun menu makanannya asalkan Zio menghabiskannya bersama Mentari maka pasti akan terasa nikmat dan juga mengenyangkan.
Setelah selesai makan, Zio langsung menarik Mentari agar duduk di atas pangkuannya. Ia menatap wajah cantik itu kemudian ia mengecup pipi Mentari dengan kilat dan menangkap kepalan tangan Mentari yang hendak memberikan pukulan lagi. Zio langsung mengecup punggung tangan Mentari hingga membuat Mentari mendengus.
"Yang, gue punya lagu bagus nih. Lu mau dengar nggak?" tanya Zio kemudian tanpa persetujuan Mentari ia segera memasangkan headset di telinga Mentari.
Mentari pun mulai mendengarkan lagu tersebut, sebenarnya ia beberapa kali pernah mendengarnya hanya saja ia tidak begitu memaknainya.
Alasan masih bersama
__ADS_1
Bukan karena terlanjur lama
Tapi rasanya, yang masih sama
Seperti sejak pertama jumpa
Dirimu di kala senja
Duduk berdua, tanpa suara
Zio menyanyikan sepenggal lagu tersebut dengan satu tangannya yang ia lingkarkan di pinggang Mentari kemudian ia menyandarkan kepalanya di bahu Mentari.
"Lu harus tahu Tari, perasaan gue sejak dulu sampai detik ini pun masih sama. Emang kisah kita udah terlalu lama, tapi gue masih ngerasain hal yang sama seperti pertama kali kita ketemu di kampus dulu. Lu harus tahu kalau gue pingin kita balikan bukan hanya sekadar balikan melainkan kita juga akan fokus pada hubungan masa depan seperti yang lu bilang tadi. Gue bakalan bekerja keras dan lu bakalan menikmati semua hasil kerja keras gue sebagai seorang istri dan pendamping hidup gue."
Mentari menggigit bibir bawahnya, ia berusaha untuk tidak menangis karena ia juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Zio rasakan. Namun mengingat bagaimana kemarin keluarga Zio memandangnya hanya sebagai wanita yang ingin numpang hidup enak pada Zio membuat Mentari harus bisa menahan hatinya sebab jika ia membiarkan perasannya meluap-luap sedangkan cinta mereka tidak direstui hanya akan menimbulkan rasa sakit untuk Mentari di akhir kisah.
"Lu kok nggak jawab?" tanya Zio yang memang berharap Mentari akan merespon ucapannya tersebut.
Mentari sedikit gelagapan, ia bingung harus berkata apa sedangkan sedari tadi hatinya terus membalas ucapan cinta tersebut hanya saja bibirnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun.
Zio menatap Mentari, ia heran karena Mentari justru diam saja. Saat Mentari membalas tatapannya, dengan perlahan Zio berusaha untuk mencium bibir Mentari sedangkan Mentari justru langsung memalingkan wajahnya hingga ciuman itu jatuh di pipi Mentari.
__ADS_1
Entah perasaan gue doang atau memang benar kalau sekarang Tari lagi coba menghindar dari gue. Tapi kenapa? Apa ada yang salah yang gue nggak tahu dan gue nggak sengaja? Dasar cewek, mendam aja terus kerjanya. Kalau ditanya pasti bilang nggak apa-apa tapi kalau didiamin kita para cowok pasti bakalan dibilang nggak peka. Serba salah 'kan jadinya. Gue aja bingung mau ngomong apa sama Tari. Gue nggak punya kata-kataain selain cinta buat dia.