
Semuanya terkejut dengan tindakan Zio, terlebih lagi kakeknya yang tidak menyangka Zio akan nekat melepas segalanya demi memilih kekasihnya itu. Hampir saja mami Lolita pingsan melihat tindakan Zio, ia menangis sejadi-jadinya dan meminta agar Zio tetap tinggal. Ia juga membujuk mertuanya agar menahan Zio dan membatalkan pertunangan tersebut. Namun sayang kakek Rasyid tidak berbuat apa-apa, begitupun dengan Danuarta.
Zio tersenyum kecut kemudian ia segera keluar dari rumah tersebut. Ia tidak membawa mobil hanya saja di apartemen ia masih memiliki satu kartu yang merupakan penghasilan dari ia bekerja sebagai CEO dan semua itu adalah haknya. Yang ia tinggalkan hanyalah kartu-kartu yang khusus untuk keluarga Ar-Rasyid saja, dimana baik Juan maupun Oliver pun memilikinya.
Juan mengejar Zio yang sedang berjalan keluar menuju ke gerbang untuk mencari kendaraan.
"Kak, kau mau pergi kemana?" tanya Juan.
"Pulang ke rumah gue. Lu mending di rumah jagain mami. Gue bisa jaga diri gue sendiri dan mulai Senin lu aja yang mimpin perusahaan karena gue nggak bakalan lagi kerja disana. Kalau lu nggak mau ya tinggal minta tolong papi atau kakek aja. Nah kalau bisa lu telepon deh si Oliver, biar bantu lu juga," ucap Zio kemudian ia menepuk pundak Juan yang belum sempat bicara apapun dan Zio sudah meninggalkannya begitu saja.
Dua satpam yang berjaga di depan gerbang rumah megah itu membukakan pintu untuk Zio. Mereka menanyakan Zio hendak kemana dan ia menjawab jika ia sedang menunggu taksi online yang ia pesan.
Kedua satpam tesebut jelas heran karena di dalam sana ada banyak mobil milik Zio yang bisa ia gunakan namun justru mendadak memilih menggunakan transportasi umum.
Sekitar lima menit menunggu akhirnya Zio kini sudah berada di dalam taksi pesanannya dan ia ingin segera diantarkan ke apartemen miliknya. Ia harus bersiap karena malam ini ia akan pergi berkencan dengan Mentari. Ia juga memastikan Mentari tidak boleh tahu tentang ia yang keluar dari rumah karena jelas Mentari pasti akan mengajukan protes padanya. Dan parahnya ada kemungkinan Mentari memilih pergi darinya karena tidak tega melihat Zio yang bersitegang dengan keluarganya.
__ADS_1
Dua jam berlalu, Zio sudah siap untuk pergi ke rumah Mentari. Sekarang ia baru ingat jika ia tidak memiliki kendaraan pribadi lagi untuk menjemput Mentari. Ia tidak mungkin mengajak Mentari berkencan dengan menaiki transportasi umum. Tidak akan bebas menurut Zio.
"Nanti aja deh dipikirin. Nggak jadi jalan juga nggak apa-apa. Pacaran di rumah kayaknya seru juga," ucap Zio kemudian ia turun ke parkiran dan menunggu taksi online yang ia pesan kembali.
Sedangkan setelah kepergian Zio dari rumah itu, ketegangan kembali terjadi lagi dimana Lolita mengamuk pada suaminya dan secara tidak langsung ia juga menyinggung mertuanya.
"Aku tidak bisa jauh dari anakku. Dia itu anakku, bagiku dia bisa menentukan pilihannya sendiri asalkan dia merasa bahwa calonnya itu sudah benar-benar baik dan mereka saling mencintai. Jangan memaksakan kehendak padanya karena kita semua tahu jika Zio orang yang sangat suka memberontak dan tidak suka dikekang!" jerit Lolita, Danu hanya bisa memeluk sang istri dengan erat agar tidak sampai melakukan hal-hal yang nekat.
Kakek Rasyid terdiam, sebenarnya ia sama sekali tidak marah dan keberatan jika Zio memiliki kekasih, hanya saja ia sudah terlanjur terikat kesepakatan perjodohan. Dan kebetulan Dini hanya menginginkan Zio saja sehingga Oliver dan Juan gugur dengan sendirinya.
"Harusnya kita membebaskan Zio memilih. Kekasihnya itu wanita baik-baik dan Zio tidak akan mungkin senekat ini hanya karena jatuh cinta semata. Kita semua tahu seperti apa sepak terjang anak nakal itu terhadap kaum perempuan. Dan kali ini Zio bahkan sampai meninggalkan keluarganya, itu pasti ia sudah sangat yakin dengan pilihannya. Harusnya Ayah paham dengan sikap Zio," timpal Danu, ia tidak ingin disalahkan seorang diri oleh istrinya.
"Kak Zio juga berhak bahagia dengan pilihannya, Kek. Kalau menurut Juan, pasti ada sesuatu yang buruk tentang Dini sehingga kak Zio pun langsung menolak keras. Dan juga pasti ada sesuatu yang hebat dari Mentari hingga kak Zio sangat mencintainya," timpal Juan.
Kakek Rasyid memijat pelipisnya sesaat, ia kemudian menatap satu per satu anggota keluarga yang tersisa. Helaan napas terdengar dari arahnya.
__ADS_1
"Dulu, saat Danu masih berusia tiga tahun, perusahaan yang aku kembangkan mendadak bangkrut karena aku ditipu klien dan juga karena aku yang terlalu banyak membuang-buang uang di meja judi serta bermain perempuan. Kenakalan masa muda membuatku kehilangan segalanya termasuk istriku. Aku terpuruk dan aku harus mengurus Danu seorang diri sedangkan aku tidak mampu untuk membayar pengasuh.
"Hidupku menjadi kacau dan belum lagi kedua orang tuaku menyalahkan semua perilaku burukku kala itu. Hingga disaat aku sedang terpuruk, Harun datang mengulurkan tangannya padaku. Memberikan bantuan hingga aku bisa memulai lagi Bisnisku seperti dulu dan akhirnya berkembang pesat serta menjadi perusahaan yang maju dan berpenghasilan besar di negara ini."
Kakek Rasyid menjeda ucapannya, ia menatap anggota keluarganya yang saat ini sedang menatap penuh tanya padanya. Ia pun kembali melanjutkan kisahnya.
"Saat bantuan Harun datang padaku, semuanya pun perlahan mulai berubah. Perusahaanku kembali berkembang dengan perlahan tapi pasti. Dalam tiga tahun aku kembali mendapatkan kejayaan dan semua tak lepas dari tangan dewa milik Harun.
"Semuanya maju dan memiliki banyak cabang dimana-mana seperti yang kalian bisa nikmati selama ini. Dan saat itu kami saling berjanji untuk terus mengeratkan hubungan pertemanan kami. Dulu kami pikir akan ada perjodohan antara Danu jika Harun memiliki anak berlawanan jenis. Namun sayang ternyata istri Harun melahirkan bayi lelaki juga. Dan dari situlah kami menentukan jika kami punya cucu nanti dan berlainan jenis kelamin maka akan kami jodohkan."
Kakek Rasyid kembali melanjutkan ucapannya dengan mengatakan jika ia sebenarnya tidak tega pada hubungan Zio dan Mentari, akan tetapi ia sadar jika ia memiliki hutang besar terhadap Harun, sahabatnya.
Kakek Rasyid memalingkan wajahnya, ia merasa lelah setelah menceritakan rangkaian ceritanya. Ia pun berharap keluarganya akan mendukungnya dan kembali ia menekankan kata 'hutang budi' hingga membuat keluarganya menjadi tidak enak hati.
Kakek Rasyid pun meninggalkan ruangan tersebut dan ia memilih menyendiri di kamarnya. Jujur saja ia tidak tega dengan memaksa kehendak pada Zio, ia juga ingin Zio bersama dengan wanita yang ia cintai. Hanya saja keadaannya tidak mendukung.
__ADS_1
"Zio harus tahu Nak, kakek sangat sayang padamu. Jika sana ada hal yang bisa membantu untuk membuatmu dan Dini tidak jadi menikah maka aku akan melakukannya," gumam kakek Rasyid sambil menatap potret besar dir kamarnya dimana anggota keluarga tersebut tersenyum bahagia dalam gambarnya.
"Jika Zio nekat seperti ini, sebaiknya aku buat Dini yang menjauh dari Zio. Aku harus menemukan sisi burknya!"