CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~21


__ADS_3

Mentari kembali ke mejanya dengan perasaan aneh, mendadak sikap Zio berubah. Mentari mengira jika tadi ia akan di pecat oleh Zio, tetapi justru keanehan terjadi dimana Zio mendadak sikap dingin padanya. Zio yang biasanya sangat suka mengerjainya bahkan berbicara padanya tidak menggunakan bahasa formal mendadak begitu baku saat bicara dengannya. Mentari seolah berbicara dengan seorang CEO sungguhan, dan ia tidak melihat atasannya tadi itu adalah sosok Zio.


Ramon yang tadi melihat wajah tegang Mentari sebelum masuk ke ruangan Zio, sekarang menjadi heran lagi karena melihat Mentari sedang melamun sambil menatap layar komputer. Ia yakin pikiran Mentari tidak berada pada pekerjaannya melainkan sedang menerawang jauh entah ke mana.


Ramon tidak ingin ikut campur, yang ia tahu Mentari dan Zio pasti memiliki urusan pribadi sehingga membuat Mentari menjadi uring-uringan seperti ini. Ramon memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya, dia yakin sebentar lagi Mentari pasti akan fokus untuk bekerja.


Saat Mentari mulai mengalihkan perhatiannya dari perubahan sikap Zio, ia langsung mengerjakan pekerjaannya yang masih cukup banyak. Tetapi saat ia sudah serius dengan pekerjaannya, seseorang kembali mengganggu fokus kerjanya.


"Betah deh gue, betah! Nggak bakal gue balik ke luar negeri lagi. Biar gue ngurus perusahaan dari sinj aja. Apalagi kalau di sini ada bidadari gue," celetuk Oliver, a saat ini sedang berkacak pinggang sambil menatap Mentari yang sedang fokus bekerja menatap ke arah layar komputer.


Mentari yang sudah hapal betul dengan suara pria gila itu langsung menatapnya dengan sengit.


"Lu ngapain sih gangguin gue. Pergi sana lu, ada urusan apa di kantor ini? Jangan bilang lu nguntit gue ya. Gue bakalan laporin lu ke pihak berwajib. Pergi nggak lu? Gue nggak bisa ngelayanin orang gila, pekerjaan gue banyak!" sungut Mentari, bertemu dengan Oliver selalu saja membuat mood-nya memburuk.


Dikatai gila oleh Mentari nyatanya justru membuat Oliver semakin tergila-gila padanya. Bukannya marah oleh hujatan Mentari, ia justru menyatakan bahwa dirinya memang sudah gila karena bertemu dengan Mentari–sang bidadari yang hari itu menolongnya dari kecelakaan saat cium tanah air.


Ramon sendiri terkejut begitu melihat Mentari sedang memaki-maki salah satu cucu dari pemilik perusahaan ini. Jika saja disamakan maka posisi Zio dan Oliver di kantor ini yaitu sama, tetapi Oliver sedang mengurus perusahaannya sendiri milik keluarga ayahnya di luar negeri sehingga hanya Zio yang mengurus perusahaan ini.


"Hai Rama, jangan kayak gitu dong! Lu apa nggak sadar kalau gue itu calon suami masa depan lu? Lu yang kalem dong sama gue, salim tangan kek. Cipika cipiki kek. Calon suami masa depan lu nih, jangan garang-gatamh gitu deh. Jangan sampai wajah menggemaskan lu bikin gue semakin gila dan tahu nggak kalau gue bakalan ajaku pulang buat gue lamar. Gue serius, lu mau mencoba nggak?"


Mentari menengadahkan wajahnya, ingin sekali ia memarahi pria gila ini tetapi ia harus tetap menjaga kewarasannya. "Oliver gue mohon dengan sangat, lu jangan ganggu gue. Gue punya banyak pekerjaan penting, oke? Mending lu jauh-jauh deh," ucap Mentari mencoba bernegosiasi dengan pria ini, bisa saja dengan dia yang berbicara baik-baik maka Oliver akan mengerti jika dirinya sedang sibuk dan tidak lagi mengganggu.


Mendengar Mentari yang berbicara begitu lembut dan sabar menghadapinya, Oliver berlangsung tersenyum senang.


"Nah gitu dong dari tadi. Oh ya apakah Zio sudah ada di dalam? Boleh gue masuk? Gue ada banyak urusan sama dia," tanya Oliver, padahal yang sesungguhnya jika ia ingin masuk ya tinggal masuk saja. Tidak perlu bertanya pada Mentari, Ia hanya ingin melama-lama 'kan waktunya agar bisa mengobrol sedikit lebih banyak dengan Mentari.

__ADS_1


Oh jadi dia ini salah satu kliennya Zio. Pantas dari tadi dia mondar-mandir di kantor ini. Ya ampun … kayak gue udah salah orang nih, semoga dia nggak laporin gue sama si Zio dengan tuduhan perlakuan tidak menyenangkan dari sekretaris. Semoga semoga!


Mentari mengangguk, "Ya pak Zio ada di dalam. Anda silahkan masuk," jawab Mentari berusaha bersikap formal karena ia tahu bahwa tidak mungkin dia bersikap kasar dan ketus pada pria yang merupakan klien bisnis di perusahaan ini.


"Oke." Oliver langsung membuka pintu ruangan tersebut. Ia segera masuk dan duduk di sofa sambil menatap Zio yang sedang fokus bekerja.


"Bro! Lu serius amat sini. Duduk dulu dong, gue mau ngobrol," ajak Oliver.


Zio hanya menatap sekilas pada sepupunya memang selalu saja santai tetapi jika sudah berhubungan soal bisnisnya sendiri, Oliver adalah orang yang sudah dikenal sebagai pengusaha muda berdarah dingin dan juga merupakan pengusaha yang cukup sadis dalam bisnisnya.


"Kerjaan gue banyak, kalau mau ngobrol nanti aja!" tolak Zio.


Oliver berdecak, ia tidak lagi mengganggu Zio karena melihat raut wajah sepupunya itu begitu serius dan sangat datar. Tidak tahu saja jika saat ini Zio sedang mengalihkan perhatiannya dari pikirannya yang terus mengarah pada Mentari.


Oliver memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya dari ruangan Zio. Sebagai pengusaha muda yang sukses, ia tidak mungkin meninggalkan perusahaannya begitu saja. Oliver bekerja dari manapun ia berada dan tetap memantau melalui orang-orang kepercayaannya yang akan memberikan laporan setiap hari dari apa yang terjadi di perusahaannya.


"Katanya ada yang pengen lu bicarain, apa bro?" tanya Zio, ia sebenarnya tidak terlalu penasaran tetapi jika sepupunya ingin cerita, maka mau tidak mau Oliver pasti akan terus menyusahkannya.


Oliver mengalihkan pandangannya dari laptop mengarah pada Zio. Ia kemudian menutup laptopnya karena pekerjaannya pun sudah selesai. Bibir Oliver melengkungkan senyuman, Zio yang melihat langsung berdiri karena yakin sekali senyuman itu adalah senyuman khas Casanova seperti Oliver. Mendadak Zio langsung tahu kemana harapan pembicaraan selanjutnya.


"Jadi siapa wanita yang saat ini bikin lu senyum kayak gini?" tembak Zio, ia tidak ingin berbasa-basi.


Oliver terkekeh, "Lu tahu aja kalau kali ini gue bakal bicara soal perempuan bro."


"Senyuman menjijikan lu udah menjelaskan, bro," ucap Zio tanpa tedeng aling-aling.

__ADS_1


Oliver tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Zio barusan. "Kayaknya udah gue putusin kalau gue nggak bakalan balik beberapa waktu ke negara gue. Gue bakalan kerja dari sini sambil menunggu waktu bidadari gue bakalan luluh sama gue. Gue serius sama dia Bro. Gue udah yakin dia jodoh gue, hanya memerlukan waktu untuk meluluhkan hatinya dan gue bakalan jadiin istri gue. Serius gue!"


Zio terbengang mendengar ucapan Oliver sang Casanova ini. Berbicara soal pernikahan dan hendak menjadikan seorang perempuan menjadi istrinya. Sungguh tidak pernah ada dalam pikiran Zio.


Oliver yang mengerti dengan arti tatapan Zio, Ia hanya mengangkat kedua bahunya saja, yang penting dia sudah mengatakan jika ia sudah menemukan calon jodohnya, apapun tanggapan Zio ia tidak akan peduli.


"Emang siapa sih wanita yang bikin lu pensiun dini dari dunia peranjanhan panas ini bro?" tanya Zio sangat penasaran dan semoga sosok itu bukan Mentari karena tadi pagi Oliver mengatakan jika ia bertemu dengan bidadarinya itu di kantor ini.


Oliver tersenyum sambil membayangkan Mentari yang tadi bersikap judes kepadanya. "Namanya Rama, Bro," jawab Oliver.


Zio kemudian meletakkan telapak tangannya yang kemudian ditepis oleh Oliver. "Nggak panas, nggak demam dan nggak sakit juga," lirih Zio merasa heran.


"Lu pikir gue gila?" sungut Oliver.


Zio menganggukan kepalanya, "Iya, habisnya lo naksir sama orang yang bernama Rama. Rama itu cowok 'kan Bro?" jawab Ezio jujur.


Oliver tertawa, tanggapan Zio sama persis seperti waktu ia pertama kali berkenalan dengan Mentari.


"Namanya Ramadhani bro. Katanya dia biasa dipanggil Rama," ucap Oliver..


Dalam hati Zio juga menerka-nerka, nama Ramadhani seperti begitu tidak asing dengannya. Tetapi ia tidak bisa menemukan entah dimana sosok bernama Ramadhani itu pernah dikenalnya.


Ramadhani … Ramadhani … jangan bilang Mentari Ramadhani!


"Wait, lu ketemu tuh cewek dimana? Gue kenal nggak?" tanya Zio tidak sabar, dalam hatinya ia berharap bahwa bukan Mentari yang dimaksud oleh sepupunya ini.

__ADS_1


"Di depan ruangan lu, dia sekretaris lu, 'kan." Mendengar jawaban Oliver langsung saja membuat seluruh tubuh Zio terasa lemas.


Sial! Udah gue duga pasti Mentari. Nggak ini nggak boleh terjadi. Oliver nggak boleh naksir sama Mentari. Apa gue pindahin Mentari aja ya atau gue pecat dia? Biar dia nggak ketemu Oliver atau Juan lagi. Tapi gimana sama gue kalau dia nggak ada di kantor ini? Aduh … kenapa bisa jadi kacau begini sih? Sebenarnya lu punya magic apa sampai Oliver naksir sama lu? Harusnya cuma gue yang boleh Mentari jatuh cinta sama lu, yang lain nggak boleh. gu6e harus gimana nih?


__ADS_2