CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~83


__ADS_3

Setelah hari dimana mereka memutuskan untuk menjadi teman, Oliver semakin gencar mendekati Mawar tetapi bukan lagi menjadi pria gila yang selalu saja menyambangi kantornya. Hanya lewat perhatian seperti mengirim chat atau menelepon Mawar. Perhatian kecil yang ia yakin akan memberi kesan pada para gadis yang sebenarnya sangat ingin diperhatikan tetapi gengsi untuk mengatakan.


Mawar juga tidak pernah mengabaikan pesan dan panggilan dari Oliver. Apalagi pria itu saat ini sudah kembali ke negaranya karena ia memiliki banyak pekerjaan yang harus ia tangani. Entah mengapa Mawar merasa kantornya menjadi sepi setelah dua hari tidak ada gangguan dari Oliver namun yang ada justru kedatangan Zio yang terus menebar cinta kepada Mentari dan Mawar cukup jengah karena melihat sahabatnya yang biasanya cuek dan gila kerja itu justru begitu manja ketika bersama Zio. Dan bukan hanya Mentari, Zio pun bersikap sama saja.


Zio mengantar Mentari setiap pagi dan mendatanginya setiap makan siang lalu menjemputnya saat pulang bekerja. Sungguh sangat romantis dan mendadak Mawar berpikir bahwa ia juga harus memiliki kekasih agar hidupnya lebih berwarna seperti Mentari dan Zio. Terlihat sangat manis hubungan keduanya hanya saja dibalik itu semua ada hal tragis yang memisahkan hubungan mereka, restu!


"Sayang, nanti malam aku ada urusan penting, maaf tidak bisa menjemputmu karena aku masih harus lembur di kantor dan dari kantor aku akan langsung ke tempat meeting," ucap Zio setelah mereka menghabiskan bekal makan siang yang dibawa oleh Mentari.


Mentari menatap Zio sesaat lalu ia tersenyum, "Ya kamu aja yang terlalu lebay karena selalu mengantar-jemputku setiap hari," ucap Mentari.


Zio tersenyum manis, ia memang sangat berlebihan terhadap Mentari namun di sudut hatinya yang terdalam saat ini Zio sedang menangis. Membayangkan hubungannya dengan Mentari yang sebentar lagi akan berakhir.


Ada hal yang tidak diberitahukan Zio kepada Mentari dan itulah sebabnya ia selalu protektif terhadap kekasihnya itu. Ia khawatir jika saja Mentari mengetahui apa yang sedang ia sembunyikan maka hubungan mereka pasti akan tidak baik-baik saja nantinya.


Senyuman Mentari membuat jiwa Zio meradang. Bagaimana nantinya jika ia bukan lagi pemilik dari senyuman indah itu? Zio tidak siap tetapi ia bisa apa jika semua sudah terlanjur terjadi.


"Oh ya, aku mendengar kalau Oliver sering datang ke kantor ini. Ngapain? Godain kamu lagi? Dia masih suka sama kamu?" cecar Zio.


Please Tari, jika kita nggak bisa bersama seenggaknya lu jangan sama Oliver atau Juan karena gue bisa hancur kalau tiap hari ngelihat lu bareng sama saudara gue sedangkan cinta gue hanya buat lu. Gue mana sanggup melihat orang yang gue cintai menjadi milik orang lain. Apalagi saudara gue. Gue akui Juan paling cocok buat lu, tapi gue nggak mau Tari. Gue nggak mau jika setiap hari harus melihat lu bareng dia di rumah yang sama. Tapi gue juga nggak rela lu dimiliki siapapun kecuali gue. Arrrggghh!!


Mentari mengernyit bingung, baru saja Zio mencecarnya dengan berbagai pertanyaan lalu mendadak wajahnya terlihat murung dan seperti sedang memiliki beban pikiran. Namun demikian ia tidak berpikir negatif karena ia tahu Zio tidak akan berani memiliki niat buruk terhadapnya.


"Dia lagi ngedeketin Mawar," jawab Mentari.

__ADS_1


Senyum Zio mengembang, ia melirik ke arah ruangan Mawar yang tertutup namun ia tahu jelas jika penghuninya sedang berada di luar untuk pergi makan siang.


Zio tidak menyangka jika Oliver akan jatuh pada sahabat Mentari yang memang sebelas dua belas dengan Mentari. Ia merasa lega karena satu nama berhasil tersingkirkan. Dan dari pemikirannya ia yakin bahwa kali ini Oliver serius pada Mawar.


Oliver tereliminasi, tapi masih ada Juan!


Zio masih meragu, ia sangsi jika Juan sudah menghapus perasaannya untuk Mentari. Ia tahu adiknya itu masih cinta pada Mentari hanya saja tidak ingin menjadi adik yang buruk untuknya dan memilih mengalah padahal ia sebenarnya bisa saja berjuang dan memenangkan hati Mentari.


"Sayang, apakah Juan masih sering menghubungimu?" tanya Zio, lebih baik bertanya secara langsung daripada penasaran.


Mentari menautkan alisnya, heran saja karena sedari tadi Zio terus menanyai dua saudaranya entah mengapa. Padahal kemarin-kemarin semuanya biasa saja.


Apakah dia sedang mengaktifkan mode cemburu dan ke-posesifannya?


"Juan? Sudah begitu jarang. Dan kalau kau ingin tahu aku lebih sering diganggu oleh Bright Santoso. Mengapa kau tidak menanyakan dia?" ucap ketus Mentari, biasanya jika ia meladeni kecemburuan Zio dengan terus menerus maka Zio pasti akan marah dan banyak mengoceh tidak jelas.


Tetapi kali ini berbeda, Zio bukannya kaget dan langsung meminta ponsel Mentari untuk mengecek isinya atau memberikan Mentari siraman rohani, Zio justru memilih diam dengan pemikirannya. Mentari hanya bisa menatap penuh tanya pada kebungkaman kekasihnya itu.


Bright Santoso? Dia memang pengusaha yang cukup sukses walau gue jauh lebih sukses. Dia tampan walau ketampanan gue berada di level maksimal, tapi apakah dia tepat buat jadi kekasih dan pendamping Tari? Seenggaknya gue nggak bakalan sesakit saat melihat Tari bersatu dengan salah satu dari saudara gue. Tapi tetap aja hati gue sakit kalau Tari jadi milik orang lain. Huhh ....


Zio lagi dan lagi mengeluh dalam hati. Ia sudah berusaha mencocokkan Mentari dengan beberapa pria tetapi ia hanya menemukan kalau pria yang paling cocok bersama Mentari adalah dirinya saja.


Mengapa ini harus terjadi? Teriak Zio dalam hati. Ingin rasanya membagi beban hati dan pikirannya pada wanita yang menggenggam hatinya ini, tetapi Zio belum siap. Ia masih ingin bersama Mentari walau cepat atau lambat ia akan kehilangannya.

__ADS_1


Mentari menghela napas, sudah beberapa kali ia mendapati Zio sedang melamun. Mengumpulkan keberaniannya, Mentari mencoba untuk menanyakan Zio agar rasa penasaran itu terbayarkan.


"Sedari tadi aku perhatiin kamu kok ngelamun? Kamu nanya aneh-aneh dan bahkan kamu sangat aneh karena nggak biasanya kamu diam aja kalau aku cerita soal cowok yang ngedeketin aku. Kamu lagi nggak niat buat mengakhiri hubungan kita, 'kan?"


Pertanyaan Mentari sukses menarik Zio dari alam lamunannya dan menatap tak berkedip kearah Mentari. Ia tidak tahu mengapa ucapan Mentari mengena telak di hatinya. Dengan cepat Zio menstabilkan perasaanya dan menormalkan kembali raut wajahnya.


"Jangan ngomong sembarangan. Siapa yang akan ninggalin kamu hah?! Jaga baik-baik ya bicaranya, ucapan itu adalah doa. Jangan sampai Tuhan mendengar dan mencatat ucapan kamu. Aku nggak mau ya!"


Suara lantang Zio membuat Mentari tersentak. "Zio! Aku nggak tahu kenapa tapi aku ngerasa hati ini kamu itu aneh. Sebaiknya kamu balik lagi ke kantor karena sebentar lagi waktu istirahat berakhir," ucap tegas Mentari, ia cukup kesal dengan sikap Zio hari ini.


Zio gelagapan, ia tidak tahu mengapa bisa sampai berteriak seperti itu pada Mentari. Ia lepas kendali karena sedari tadi ia hanya terus melamun saja memikirkan hubungan mereka dan menerka-nerka siapa pria yang paling cocok untuk mendampingi Mentari.


"Sayang maaf, aku nggak maks--"


Mentari mengangkat tangannya dengan maksud agar Zio tidak perlu lagi berbicara atau menjelaskan sesuatu. Mentari tidak ingin merusak moodnya dan akan lebih baik kalau Zio segera pergi saja daripada menambahkan kekacauan di hati dan pikiran Mentari.


Paham bahwa kekasihnya tidak ingin ia kembali berbicara dan pembicaraan mereka berakhir sampai disini, dengan berat hati Zio meninggalkan Mentari. Tak lupa ia mengecup pelipis Mentari, padahal dulu ia selalu saja mencium Mentari di bibir sesukanya walau mereka tidak menjalin hubungan dan hanya sebatas Bos dan sekretaris saja.


"Aku balik dulu. Nanti aku nggak bisa jemput, maaf ya. Kamu kalau udah mau pulang tolong kabari aku. Aku sayang kamu, I love you!" ucap Zio, tangannya mengacak rambut Mentari dengan senyuman lirih di bibirnya.


Mentari menatap kepergian Zio dengan tatapan sendu. Ia tidak bodoh, sesuatu telah terjadi dan itu adalah penyebab mengapa Zio bertingkah aneh. Mentari sadar benar akan hal tersebut.


"Gue akan caritahu sendiri!"

__ADS_1


__ADS_2