
Bright menatap datar pada Mentari dan Zio yang masuk ke dalam ruangannya. Ia sudah melarang keras Mentari untuk datang bersama Mawar tapi justru Mentari datang dengan membawa seseorang yang jelas ia tahu siapa namanya dan dari keluarga mana walaupun mereka tidak saling mengenal. Siapa yang tidak tahu Dimas Ezio Rasyid di kota ini, pengusaha muda yang sukses dan digandrungi oleh banyak wanita. Bukan hanya itu, pria ini adalah orang yang dijodohkan dengan Dini, kekasihnya.
Ternyata selera Mentari bukan kaleng-kaleng juga ya. Pantas saja dia memilih keluar dari perusahaan Daddy ketika dilamar dan diminta jadi istri keempat. Rupanya sepak terjangnya luar biasa sampai bisa memikat pria ini. Dimas Ezio Rasyid ya, pacar Mentari tetapi calon suami Dini. Sangat menarik.
Bright sibuk dengan pikirannya dan bahkan sampai detik ini mereka belum memulai rapatnya dan juga penandatanganan kerja sama. Zio sibuk mengunci pandangannya pada Bright sedangkan Bright sibuk menatap Mentari dan juga memikirkannya. Entah mengapa hanya dengan memandang dan memikirkan Mentari sudah membuat Bright merasa tegang dan terangsang.
Tak lama kemudian kedatangan Pram -- asisten Bright pun memecah kebisuan diantara mereka. Pram yang tadi sedang sibuk mengurus yang lainnya dibuat terkejut karena ada Zio di ruangan ini. Pria yang sudah lama mereka incar untuk menjalin kerja sama akan tetapi sepertinya mereka sangat sulit menembus Zio. Dan kini pria itu justru berada disini, tentu saja Pram sangat terkejut.
"Selamat siang semuanya, maaf saya terlambat. Oh iya, bukankah Anda adalah Dimas Ezio Rasyid?" ucap Pram sambil pandangannya bergantian menatap tiga orang di ruangan ini.
Zio mengangguk dengan sedikit menampilkan keangkuhannya. Ia juga harus menjaga wibawanya serta menjaga kekasihnya ini karena sedari tadi ia memperhatikan gelagat Bright yang terus saja curi-curi pandang pada Mentari.
__ADS_1
Pram mengangguk, ia kemudian ikut duduk dan mulai memberikan berkas-berkas kepada Bright untuk dibaca kembali dan dibubuhi tanda tangan persetujuan.
Dengan malas Bright membaca berkas tersebut namun setelah membaca beberapa poin ia pun mendapatkan ide untuk menanyai Mentari dan juga Zio. Beberapa pertanyaannya sudah dijawab oleh Mentari karena menurut gadis itu semua pertanyaan Bright tidaklah masuk akal atau dalam artian pernyataan yang sudah tidak perlu ditanyakan lagi karena di proposal tersebut sudah diterangkan semuanya.
"Aku hanya mengetes kemampuanmu saja, mungkin saja kau lupa dengan semua penjelasanmu," ucap Bright dengan begitu enteng.
Zio tersenyum kecut, sebagai sesama pria, Zio tentu tahu arti dari setiap sikap Bright terhadap Mentari hanya saja ia belum akan menegurnya. Selagi Bright masih diam, ia akan diam juga namun tetap siaga.
Bright mengangguk-anggukkan kepalanya, sejurus kemudian ia menandatangani kontrak kerja sama dan Mentari begitu senang hanya saja ia tidak melakukan selebrasi. Ia sempat ragu karena ia datang bersama Zio karena Bright melarang Mentari untuk datang dengan siapapun bahkan Mawar sekalipun.
Kali ini kau lolos Mentari, semua karena ada dia. Tapi jangan salah, aku masih akan memburumu. Sepertinya mendapatkan hati dari wanita yang dicintai oleh pria sekelas Zio akan sangat menyenangkan sekali. Mentari, bersiaplah karena sebentar lagi kita akan bersama.
__ADS_1
"Oh ya Mentari, lain kali kalau kita ada pertemuan seperti ini tolong jangan mengajak pihak lain. Bukankah tadi aku sudah menghubungi Mawar? Kali ini masih ada toleransi tapi tidak untuk yang selanjutnya," ucap Bright yang membuat langkah Mentari dan Zio terhenti.
Zio berbalik arah, Mentari sudah mencegahnya karena ia tidak ingin urusan pribadi dikaitkan dengan masalah bisnis apalagi ini adalah pekerjaan milik Mawar. Namun kekasihnya itu justru tidak mau mendengarkan karena sejak tadi Zio sudah memilih diam.
Bright menyeringai saat ia merasa berhasil memancing emosi Zio, ini memang sengaja ia lakukan agar nantinya Zio akan mengamuk lalu ia bisa mengambil simpatik dari Mentari jika memang Zio memukulnya maka ia akan diam saja.
Namun sayang sekali, ia justru salah prediksi. Zio datang mendekatinya bukan karena ingi memberikan satu atau banyak pukulan di tubuhnya melainkan apa yang Zio bisikkan membuat Bright terdiam dan bahkan ia tidak bergerak sama sekali ketika Zio dan Mentari sudah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Pram mengagetkan Bright yang masih terdiam, asistennya itu merasa heran karena sejak tadi ia terlihat seperti orang yang kehilangan jiwanya.
Dengan cepat Bright keluar dari ruangannya dan mencoba untuk menyusul Mentari dan Zio. Ia khawatir jika apa yang dikatakan oleh Zio itu benar adanya, ia tidak ingin hancur seorang diri dan ia tahu betapa mengerikannya dan betapa berkuasanya keluarga Ar-Rasyid tersebut. Ia sudah salah mencari musuh kali ini.
__ADS_1
"Sial! Harusnya gue tahu kalau Mentari itu kekasih Zio. Nggak, gue nggak mau masalah ini justru berimbas pada perusahaan dan nama baikku!"