CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~42


__ADS_3

Mentari kemudian mengganggukan kepalanya, kali ini ia berusaha untuk kembali percaya pada Zio, tetapi semua itu tidak mengurungkan niatnya untuk keluar dari perusahaan Zio karena ia harus bisa mengantisipasi jika saja nanti Zio kembali berbuat ulah. Apalagi ia yang sudah berjanji pada Mawar untuk ikut bekerja di perusahaan sahabatnya itu.


Zio menatap tak berkedip pada Mentari, saat ini ia masih gagal paham dengan maksud Mentari yang menganggukkan kepalanya. "Ini maksudnya apa Yang? Lu percaya sama gue 'kan? Lu mau 'kan balikan sama gue lagi? Tolong jangan beri gue jawaban yang ambigu dan membingungkan, karena lu tahu jawaban lu bikin gue ketar-ketir gini," cecar Zio.


Mentari tersenyum melihat Zio yang begitu tak sabaran menanti jawabannya secara pasti. "Menurut lu, gue tadi ngangguk karena apa coba?" tanya Mentari balik, ia sangat suka melihat wajah resah Zio dan ia ingin sekali mengerjai mantan kekasihnya itu.


Zio mengusap kasar wajahnya, "Ya gue nggak tahu Yang. Kalau menurut gue sih lu ngangguk itu artinya lu udah percaya sama gue dan lu mau balikan lagi sama gue. Tapi gue nggak tahu gimana sama lu," jawab Zio, ia menatap Mentari dengan lekat sambil berharap Mentari akan kembali mengganggukan kepalanya dengan jawaban yang baru saja Ia berikan


Mentari tertawa lirih, ia kemudian menatap Zio lalu kembali menganggukkan kepalanya.


Zio masih tercengang begitu Mentari sudah berjalan perlahan meninggalkannya. Mentari saat ini hanya sedang berusaha menyembunyikan senyuman setelah ia berhasil mengerjai Zio dan ia yang berhasil mengikis perasaan curiganya terhadap Zio. Mentari kali ini benar-benar ingin menerima Zio kembali dan berharap semoga Zio akan menjaga hatinya dan tidak dipatahkan lagi seperti dulu. Mentari terlalu takut untuk hal itu terjadi lagi dengan orang yang sama.


"Yang tungguin gue. Awas lu ya ngerjain gue!" teriak Zio, ia kemudian berlari mengejar Mentari dan dari belakang ia langsung mengangkat tubuh Mentari kemudian menggendongnya dan membawanya berputar-putar.


Mentari memekik kuat, ia pun memeluk erat leher Zio karena khawatir akan terjatuh dari gendongan Zio.


"Turunin Zio, gue takut," pinta Mentari.


"Panggil gue sayang dulu baru gue turunin," ucap Zio dan Mentari pun langsung membuang muka ke samping.


Melihat Mentari yang masih enggan memanggilnya dengan sebutan sayang, Zio kembali membawanya berputar-putar hingga akhirnya Mentari menuruti keinginannya dan memanggilnya dengan sebutan sayang dan barulah Zio menurunkannya.


Keduanya saling bertatapan, Zio kemudian memeluk Mentari dengan erat sambil membisikkan kata terima kasih dan juga kata cinta di telinga Mentari dengan lirih. Tak lupa Ia juga membagikan rasa bahagianya kepada Mentari yang sudah memberinya kesempatan lagi untuk menjalin hubungan.


"Setelah ini gue janji kalau kita bakalan berhubungan lebih serius Mentari. Lu sama gue udah dewasa dan sudah waktunya kita untuk menikah. Kalau lu emang serius sama gue, kita nikah ya," ucap Zio dan Mentari pun menganggukkan kepalanya.


Kali ini memang Mentari membenarkan ucapan Zio, usia mereka sudah cukup untuk menikah dan untuk membuktikan keseriusan Zio pun mereka memang harus menikah. Mentari tidak ingin lagi patah hati dan putus cinta lalu berakhir dengan dirinya yang susah move on dan harus mencari lagi pengganti Zio.


Melihat Mentari yang mengangguk dalam dekapannya, Zio semakin melebarkan senyumannya.


Yess, nikah! Besok gue bawa dia ketemu kakek deh.


.


.


Pagi sudah kembali menyapa, pagi ini Mentari bangun lebih awal lagi dan ia sangat bersemangat untuk pergi ke kantor terutama bersemangat untuk bertemu dengan kekasihnya yang semalam mereka baru kembali menjalin hubungan lagi. Sesuai keinginan Zio tadi malam, ia ingin Mentari membawakannya bekal makan siang agar mereka berdua bisa makan bersama di dalam ruangannya dan kembali mengulang kisah mereka di mana dulu ketika mereka masih kuliah, Mentari sering membawa bekal makanan dan keduanya menghabiskannya bersama-sama.

__ADS_1


Zio hanya ingin mengulang hal itu, ia ingin semuanya diperbaiki dari akarnya. Dari dia yang berhenti menjadi casanova dan dari ia dan Mentari yang mengulang kisah cinta mereka seperti dulu, semanis dulu.


Maya tersenyum melihat Mentari yang begitu bersemangat menyiapkan bekal makanannya, ia kemudian menggoda anaknya itu dan membawa-bawa nama Zio membuat pipi Mentari semakin memerah saja.


"Mama ih, apaan sih? Nggak ada Zio-Zio kok," elak Mentari.


"Emang mama nggak pernah muda kayak kamu? Apalagi semalam Zio datang ke sini buat ngapel, apa tuh tandanya? Udah balikan ya?" goda Maya yang membuat Mentari tak kuasa menyembunyikan senyumannya.


Mentari pun mengajak mamanya untuk duduk bersama dan menikmati sarapan pagi mereka ala kadarnya. Sambil makan, Mentari menceritakan tentang ia dan Zio yang katanya Zio ingin berhubungan serius dengannya dan memintanya untuk menikah. Mentari hanya ingin meminta pendapat Maya, karena walau bagaimanapun ibunya ini harus tahu lebih dulu sebelum ia menyetujui keinginan Zio.


"Orang tuanya sudah kenal kamu Nak? Seperti mama kenal Zio?" tanya Maya.


Maya yang biasa mengikuti serial TV setiap harinya, tentu saja ia merasa waspada dengan hubungan Mentari dan Zio dimana Zio adalah seorang anak konglomerat, sedangkan Mentari hanyalah pegawai biasanya dan mereka bukanlah orang yang berasal dari golongan orang yang berstatus tinggi.


Maya tidak ingin nantinya hubungan Mentari dan Zio tidak akan mendapat restu dan hanya akan menyakiti hati anaknya sendiri. Sedangkan Zio, pria itu pasti bisa mendapatkan wanita lagi setelah dilarang menikah dengan Mentari atau mungkin sudah disiapkan jodoh oleh keluarganya yang lebih sepadan dengan mereka.


"Belum sih mah, Zio selama ini selalu ngajak aku buat kenalan sama orang tuanya dan keluarganya cuma aku masih takut mah," jawab Mentari.


Maya tersenyum lembut, "Harusnya kamu mau ketika diajak Zio untuk berkenalan dengan orang tuanya. Itu salah satu bukti dia serius sama kamu Mentari. Lagi pula kamu harus mengenal orang tuanya lebih dulu dan kamu harus tahu apakah mereka mau menikahkanmu dengan Zio atau tidak. Jangan sampai kamu sudah terlanjur cinta dan sayang sama dia tapi orang tuanya tidak ingin kalian bersama."


Mentari membenarkan ucapan mamanya, harusnya memang ia sudah melakukannya sejak lama. Ia lupa jika ketika mereka dewasa maka bukan lagi tentang perasaan mereka berdua saja yang akan diperhitungkan tetapi tentang restu dari kedua orang tua mereka masing-masing yang menjadi hal utama yang harus mereka pastikan sebelum mereka menjalin hubungan lebih serius lagi.


"Kamu nggak akan tahu seperti apa tanggapan mereka terhadap kamu jika kamu nggak mencobanya," ucap Maya memberikan dorongan semangat.


Setelah mereka menghabiskan sarapannya, Mentari pun berpamitan pada mamanya untuk berangkat kerja. Begitu ia keluar rumah, di hadapannya sudah berdiri Zio yang sedang menunggunya untuk berangkat kerja bersama.


Padahal Zio tidak memberitahukan padanya jika ia akan menjemput Mentari pagi ini, rupanya kekasihnya itu membuat inisiatif sendiri dan memberikannya kejutan.


"Duh yang masih anget-angetnya, hari ini dijemput, besok dijemput, lusa mungkin dia lupa kali ya," sindir Mentari yang membuat Zio tergelak.


Maya sendiri tertawa dengan ucapan Mentari yang menyindir kekasihnya sendiri serta hubungan mereka berdua. Ia kemudian menyuruh mereka untuk segera berangkat agar tidak terlambat ke kantor.


Zio hanya menyapa Maya sebentar kemudian mencium punggung tangannya dan meminta restunya untuk hubungan mereka kedepannya agar lebih baik dan lebih serius lagi.


Maya pun mengamini ucapan Zio tersebut, ia kemudian masuk ke dalam rumah setelah Mentari dan Zio masuk ke dalam mobil dan Zio sudah mulai melajukan mobilnya menuju ke kantor.


Sepanjang jalan Zio tidak melepaskan genggaman tangannya dari Mentari, seolah-olah jika ia melepaskan genggaman itu Mentari akan hilang dari hidupnya.

__ADS_1


"Lu tahu gue cowok posesif, tolong lu jangan nyerah sama gue ya. Gue ngelakuin semua ini semata-mata karena gue cinta sama lu," ucap Zio kemudian ia mengecup punggung tangan Mentari.


"Selama ke-posesifan lu itu masih dalam batas yang wajar, gue pasti bisa mengerti kok," ucap Mentari, ia sebenarnya sangat suka diposesifkan oleh Zio tetapi jika sudah berlebihan maka itu menurutnya tidak akan baik.


"Tenang aja, gue tahu batasannya. Paling ya gue hanya bakalan nyingkirin cowok yang berusaha deketin lu. Itu doang kok posesifnya gue," kelakar Zio yang membuat Mentari mendelik kepadanya.


"Termasuk Ramon gitu?" timpal Mentari dan Zio pun mengangguk pasti.


"Ramon adalah lelaki yang artinya dia juga harus disingkirkan jika dia mencoba untuk merayu lu!" jawab Zio tanpa tedeng aling-aling.


Mentari memalingkan wajahnya, memang tingkat kecemburuan dan ke-posesifan Zio tidak ada tandingannya. Namun begitu, Mentari pun sudah terbiasa karena sejak dulu Zio memang seperti ini orangnya.


Sepanjang jalan keduanya terus berbagi cerita, lebih tepatnya Zio yang lebih banyak bercerita dan Mentari. hanya menjadi pendengar yang baik Ada banyak keluhan Zio, mulai dari klien hingga sesekali Ia menceritakan tentang Oliver dan juga Juan.


Zio mengatakan jika ia dan Juan sudah mulai sedikit akrab, lebih tepatnya ia sudah mulai membuka diri untuk menerima kehadiran Juan. Namun walau begitu, ia masih kadang-kadang kaku jika harus berbicara dengan Juan lebih lama apalagi di hadapan keluarga mereka.


Mentari cukup maklum, apalagi menyangkut masalah keluarga mereka dimana Juan pun sendiri mengakui jika ibunya adalah seorang perebut suami orang. Sangat wajar jika Zi9 memendam rasa marah terhadap Juan, tetapi jika Zio mau lebih membuka dan melapangkan hatinya, maka ia pasti akan bisa menerima Juan sebagai adiknya dan melupakan masa lalu mereka.


Mentari yang tidak memiliki saudara merasa kasihan dengan persaudaraan Juan dan Zio, setidaknya mereka adalah anak dari seorang ayah yang sama walaupun dari rahim yang berbeda. Tidak sewajarnya mereka saling membenci ataupun saling menjauh apalagi saat ini Juan hanya memiliki ayahnya saja karena ibunya sudah lama tiada.


Selain membahas hubungannya dengan Juan, Oliver pun masuk dalam pembahasan mereka dimana Zio membeberkan tentang kelakuan buruk Oliver kepada Mentari.


"Untung lu nggak suka sama dia Yang, kalau nggak lu bakalan masuk ke sarang casanova," celetuk Zio yang membuat Mentari menatap lekat kepadanya.


"Terus apa bedanya sama lu?" cibir Mentari, Zio pun hanya terkekeh pelan karena memang ia dan Oliver tidak ada bedanya.


Ponsel Zio berdering, ia yang sedang menyetir sambil menggenggam tangan Mentari meminta kekasihnya itu untuk mengangkat teleponnya. Mentari berusaha mencari dimana letak ponsel Zio tersebut dan Zio langsung menunjukk ponselnya yang berada di dalam saku celana. Mentari langsung menatap horor kepada Zio yang hanya bersikap biasa saja.


"Cepat ambil Yang, kali aja penting," pinta Zio.


Mau tidak mau Mentari pun mengambil ponsel Zio dari dalam saku celananya. Zio sedikit bergerak hingga Mentari hampir saja salah memegang. Zio tertawa terbahak-bahak, sedangkan Mentari justru memasang wajah cemberut.


"Siapa yang nelpon Yang?" tanya Zio karena saat ini menteri Saya memegang ponselnya.


Mentari mengerutkan darinya, "Di sini sih tertera namanya Dini," jawab Mentari.


"Oh, ya udah kalau gitu angkat aja Yang. Dia itu salah satu wanita gila yang selalu mengejar-ngejar gue, sekalian biar tahu rasanya cewek gue labrak. Angkat Yang angkat," ucap Zio yang terlihat sangat bersemangat ingin melihat Mentari berdebat dengan Dini.

__ADS_1


"Kenapa harus gue sih, 'kan urusannya sama lu bukan sama gue?" protes Mentari, tapi dalam hatinya ia merasa begitu senang karena Zio mempercayakan dirinya untuk menjawab panggilan dari wanita yang tergila-gila dan mengejar-ngejar dirinya.


"Ya karena lu cewek gue, calon istri gue, makanya harus elu yang menghadapi para hama pengganggu yang mencoba untuk merusak dan menghancurkan hubungan kita," jawab Zio mantap.


__ADS_2