
Mentari menganga dibuat Zio, ia sungguh tidak menyangka dengan ajakan Zio tersebut. Mentari memang cinta dan berharap bisa menikah, namun bukan dengan cara itu. Opsi yang tidak pernah ada dalam pikiran Mentrari selama ini.
Mentari memang pernah memimpikan menikah dengan Zio, akan tetapi menikah secara baik-baik dengan acara yang sederhana dan tentu saja bukan sederhana karena mereka menikah siri atau kawin lari.
Kepala gadis itu menggeleng keras, "Enggak! Gue nggak mau ya, apa kata orang nanti kalau tahu-tahu gue kawin lari sama lu. Emang lu mau nunjukin sama keluarga lu kalau gue emang niat banget buat nikahin lu karena harta bahkan gue rela kawin lari. Ogah! Mending gue nikah sama pak Santoso kalau kayak gitu. Dinikahi secara terhormat walaupun jadi istri ke empat!" jawab Mentari yang membuat Zio kaget.
Wajah pria tampan itu memerah. Ia tidak suka Mentari menyebut pernikahan dengan orang lain. Apalagi itu pak Santoso yang jelas-jelas jauh dibawah Zio. Ia pikir Mentari akan menyebut nama Juan, mungkin masih masuk di akal Zio, tetapi pacarnya a.k.a sekretarisnya itu justru menyebut nama pak Santoso. Entah mengapa Zio menjadi geli sendiri.
"Ya udah kalau nggak mau kawin lari, ya kita kawin sambil jalan di tempat aja," seloroh Zio agar Mentari tertawa, ia tidak ingin mereka membahas hal yang membuat keduanya menjadi tegang dan tertekan.
Zio hanya ingin mereka menjalani hubungan mereka dengan begitu manis, sepeti dulu. Biarlah dulu mengalir seperti air, namun Zio akan tetap bersikap waspada dan hati-hati karena ia hanya tahu Mentari saja yang akan menjadi pendampingnya. Bukan Dini!
Mentari mendengus, ia menatap kesal pada Zio yang justru mengajaknya bercanda. Namun tidak bisa ia pungkiri jika ia cukup terhibur dengan ucapan Zio barusan. Ia tahu jika Zio sendiri pun tidak ingin mereka menikah tanpa restu dari keluarganya, hanya saja ia memang merasa itu sangat sulit.
"Lagi pula, restu keluargamu itu hanya sulit, bukan mustahil 'kan?" ucap Mentari turut menguatkan Zio.
Lagi pula sebentar lagi ia akan keluar dari perusahaan ini, ia akan berada cukup jauh dari Zio dan Mentari ingin tahu apakah Zio akan tetap mempertahankan hubungan mereka atau tidak. Atau mungkin saja jika Mentari tidak ada disekitar Zio maka pria ini akan kembali pada tabiat aslinya yang suka bermain wanita.
"Benar juga," ucap Zio sembari tersenyum manis dan Mentari langsung terpesona dibuatnya.
Gue aja pacarnya sekaligus mantan pacarnya masih suka meleyot kalau lihat senyuman Zio, apalagi wanita-wanita di luar sana. Pesona Zio emang nggak ada obatnya, sekadar senyum doang pun dia bahkan bisa bikin cewek-cewek meleleh. Gue aja pacarnya yang bisa dibilang udah lama kenal dia ya masih suka deg-degan kalau lihat dia tersenyum.
__ADS_1
"Ya udah, mending kamu masuk ke ruangan kamu dan bekerja untuk ngumpulin uang yang banyak buat masa depan kita," ucap Mentari sembari menyelipkan kata mesra agar Zio menurut saja.
Dan benar, bahkan pipi pria Casanova itu kini memerah setelah Mentari mengatakan 'masa depan' mereka. Dengan patuh Zio masuk ke dalam ruangannya, tak lupa ia mengecup pelipis Mentari sebagai penyemangat paginya.
Mentari sempat terheran-heran dengan ekspresi wajah Zio yang seperti seorang remaja baru jatuh cinta. Mentari bahkan tak pernah melihat Zio se-merona itu. Sepertinya gadis ini menemukan sesuatu yang bisa membuat Zio terlibat malu dan menggemaskan.
Dia sangat manis, dan itu sangat lucu dan menggemaskan. Bisa juga playboy seperti Zio malu-malu kayak gitu. Ah, ngomongin masa depan bareng dia sepertinya seru. Lumayan, bisa bikin dia tersipu, hehehe.
Mentari pun kembali melanjutkan pekerjaannya, ia harus cepat karena tidak lama lagi ia akan meninggalkan perusahaan ini dan ia tidak boleh meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai. Mentari tidak ingin meninggalkan kesan buruk di perusahaan Zio karena walau bagaimanapun ia harus tetap profesional. Masalah pekerjaan tidak boleh dicampuradukkan dengan masalah percintaan.
Ramon sendiri tidak begitu mempedulikan keduanya. Ia tahu jika Mentari dan Zio kembali menjalin hubungan dan menurut Ramon keduanya adalah pasangan yang serasi dan sejak awal ia melihat pertengkaran Zio dan Mentari di awal Mentari masuk kerja, ia tahu jika Mentari adalah sosok yang lebih mendominasi Zio dan tidak bisa diperlakukan sesuka hati oleh Zio.
Menurut Ramon, Zio akan menjadi lebih baik bersama dengan Mentari karena ia sendiri yang melihat perubahan-perubahan di diri Zio semenjak ada Mentari di kantor ini. Ramon sangat menyayangkan jika keluarga Rasyid tidak menyetujui hubungan mereka padahal mereka akan jadi best couple jika bersama.
.
.
Di dalam ruangannya sendiri, Zio yang mendapat angin segar dengan perkataan Mentari tentang masa depan itu menjadi sangat fokus dan bahkan ia bisa menyelesaikan banyak pekerjaannya dengan mudah dan cepat. Mungkin karena ia terlalu bersemangat sehingga ia lupa sebentar lagi jam makan siang dan beberapa kali Ramon menghubunginya untuk mengatakan jadwal dan sebagainya, Zio bahkan dengan semangat mengiyakan semua meeting yang disebutkan oleh Ramon, tidak seperti biasanya yang selalu memilih dan memilah mana yang ingin ia hadiri dan ia minta di wakilkan saja.
"Mentari, lu tenang aja, gue pasti bakalan bekerja keras buat masa depan kita walaupun gue tahu harta gue nggak bakalan habis untuk tujuh turunan dan tujuh tanjakan. Tapi demi lu, gue bakalan usahain buat terus menambah kekayaan gue biar masa depan lu sama anak cucu kita terjamin," gumam Zio dengan bibirnya yang terus tersenyum.
__ADS_1
Tiba-tiba Zio tertawa sendiri. Ia bahkan belum pernah memikirkan hal ini. Menikah-bekerja keras-memikirkan masa depan hingga anak cucu, Zio belum pernah memikirkannya karena ia sibuk mengarungi percintaan sesaat saja demi mencapai kepuasan.
Sungguh lucu bagi Zio yang seorang player dan juga casanova kelas kakap mendadak insyaf dan langsung membahas bualan cinta dan masa depan. Semua karena gadis yang sudah membuat Zio main hati, Mentari Ramadhani binti Ramadhan.
"Mentari, you drive me crazy!"
Saat Zio sedang tergila-gila akan Mentari, berbeda halnya dengan Mentari yang saat ini tengah gugup karena seorang pria paruh baya yang wajahnya sangat tampan dan lumayan mirip dengan Zio versi tua sedang bertatapan dengannya.
"Apakah Ezio ada di dalam?" tanya Danu.
Mentari yang sedikit gugup pun mengangguk, "Pak Zio ada di dalam tuan," jawab Mentari.
Jadi ini pacar Zio. Cantik, alami dan sepertinya pekerja keras karena dari tadi aku perhatikan dia memang sedang sibuk bekerja.
"Kamu sekretaris baru? Atau pacar baru Zio?"
Mentari tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan Danuarta yang langsung mengena telak.
"Sa--"
"Dua-duanya Pi," sambar Zio yang baru saja membuka pintu ruangannya. Ia yang berniat mengajak Mentari untuk makan siang justru terkejut karena melihat papinya berada di kantor dan sedang berbicara dengan Mentari.
__ADS_1
Tak ingin papinya kembali melakukan hal serupa seperti sang kakek, Zio pun mengajaknya masuk ke dalam ruangan. Saat papinya berbalik badan dan hendak masuk, Zio pun mengusap kepala Mentari dengan pelan.
"Aku masuk dulu, tunggu ya," bisik Zio.