
Mentari meremas ujung gaunnya, ia benar-benar gugup berhadapan dengan keluarga besar Zio. Ini pertama kalinya Mentari menginjakkan kakinya ke rumah mertuanya dan juga rumah yang ditempati oleh Zio selama ini. Mewah nan megah bagai istana dan Mentari mulai merasa ia begitu kecil berhadapan dengan keluarga besar Ar-Rasyid.
Mata semua yang ada di sana menatap Mentari dengan berbagai pikiran mereka masing-masing. Rasa gugup Mentari masih begitu terasa walaupun Zio menggenggam tangannya. Rasanya napas Mentari tercekat di tenggorokan, lidahnya kelu dan ia bahkan merasakan tubuhnya bergetar hebat.
Ini tidak benar, ia harusnya bersikap santai sebab ia dan Zio sudah menikah dan tidak melakukan kesalahan juga ia tidak menjadi wanita yang merebut siapapun atau menjadi wanita memiliki keinginan serakah terhadap Zio.
Mereka murni menikah karena rasa cinta dan sedikit tipu muslihat Ezio.
"Perkenalkan dirimu," ucap kakek Rasyid, sebenarnya ia ingin tertawa melihat bagaimana Mentari dan Zio sama-sama gugup.
"Me ... nama saya Mentari, Tuan. Bukankah kita sudah pernah berkenalan sebelumnya?"
Mentari langsung membekap mulutnya sendiri, ia tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan. Saking gugupnya, bahkan ia hampir saja menyebutkan bagaimana dulu ia dan kakek Rasyid berkenalan.
"Oh ya? Apakah benar begitu?" pancing kakek Rasyid.
Mentari mengernyit,ia bingung apakah benar kakek Rasyid melupakan perkenalan mereka saat itu? Belum lagi ia sudah pernah bertemu dan didatangi oleh Danuarta — papi Zio, mengapa mendadak mereka seakan lupa padanya.
Oh apakah ini pertanda mereka tidak pernah menganggap keberadaannya selama ini? Mentari hanya bisa menerkanya. Ingin menanyakan kembali tetapi siapa dia? Menanti di keluarga ini? Sejak kapan? Pernikahan mereka bahkan tidak dihadiri dan tidak diketahui oleh keluarga Zio.
Rasanya Mentari ingin berteriak melihat bagaimana Zio hanya diam saja tanpa bicara sepatah kata pun. Zio yang membawanya datang dan memang cepat atau lambat mereka harus memberitahukan keluarga Zio jika mereka sudah menikah.
Tatapan Zio teralih pada Mentari yang menggenggam erat tangannya. Ia tersenyum tipis, ia tahu saat ini Mentari sudah begitu gugup hingga akhirnya ia berinisiatif untuk membuka suara.
"Ayolah, jangan membuatnya semakin gugup. Bukankah semua sudah Zio jelaskan. Mengapa mendadak menjadi setegang ini? Istriku jadi ketakutan karena suasana yang kalian ciptakan. Berhenti berpura-pura mengintimidasinya," ucap Zio yang kemudian disambut gelak tawa oleh seluruh anggota keluarga Ar-Rasyid bahkan Juan sekalipun.
Mereka tertawa? Tadinya begitu dingin dan menakutkan lalu sekarang tertawa? Mentari dibuat tidak paham tetapi ia kini paham jika dirinya sengaja dibuat gugup. Rasanya ia ingin mencubit perut bagus Zio jika tidak mengenakan pakaian itu dengan kuat agar suaminya ini tahu bahkan ia hampir saja pingsan dalam prosesi perkenalan ini.
__ADS_1
"Wah Tari, ternyata wajah gugupmu itu sungguh lucu," ucap Juan yang mendadak ia meringis ketika kepalanya digeplak oleh papinya.
"Dasar tidak sopan! Dia itu kakak iparmu dan bersikaplah sopan padanya," tegur Danu dan Juan hanya bisa terkekeh pelan. Ia sudah terbiasa memanggil Mentari dengan menyebut namanya, lidahnya bisa terpeleset nanti jika memanggil Tari dengan sebutan kakak ditambah embel-embel ipar.
Dalam hati Mentari tertawa jahat, ia berharap bukan hanya Juan yang mendapat balasan, Zio pun harus mendapatkan yang lebih parah dari ini karena sudah membuatnya gugup luar biasa.
"Coba kalian tanyakan pada menantu kalian itu seperti apa mereka bisa sampai menikah," celetuk kakek Rasyid yang memang sengaja ingin membuat Zio pun terkena amukan kedua orang tuanya.
Zio memang tidak menceritakan bagaimana ia bisa sampai menikah dengan Mentari. Tadi pagi ia baru memiliki keberanian untuk memberitahukan semuanya tetapi tidak dengan seperti apa kejadian pernikahan tersebut. Ia hanya mengatakan bahwa pernikahan terjadi sebab ia memaksa Mentari dan mengancamnya.
Kini kedua orang tua Zio menatap penuh selidik padanya. Zio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kembali Mentari tertawa puas dalam hati, sepertinya sebentar lagi giliran suaminya akan tiba dan ia tidak sabar untuk menyaksikannya.
"Dia tidak akan sanggup untuk menjawabnya, coba tanyakan langsung saja pada menantu kalian," imbuh kakek Rasyid bagaikan kompor meleduk.
Kini mami Lolita menatap Mentari, ia menanti jawaban Mentari saat ini juga begitupun dengan Danu. Ini adalah bagian yang paling Mentari tunggu dan yang selalu ingin ia protes pada kehidupan dan juga para Zio tetapi ia tidak bisa melakukannya sebab Zio pasti selalu mengalihkan pembicaraan.
Anehnya sudah terdapat sajian makanan, para warga berpakaian rapi dan juga sudah ada pakaian pengantin, seserahan dan juga mas kawin. Benar-benar terencana dengan sangat matang dan ia tertipu.
Belum selesai Mentari bercerita, Danu sudah berdiri dan berjalan ke arah Zio lalu memukul wajah tampan itu hingga membuat Mentari terjungkit kaget.
Danuarta sangat kesal dengan cara Zio yang tergolong unik untuk mendapatkan pujaan hatinya. Cara yang membuat Mentari tidak bisa mengelak dan dalam hati Danu memuji tindakan Zio hanya saja ia juga merasa malu dengan kelakuan Zio tersebut.
"Dasar anak kurang ajar! Membuat malu keluarga saja! Papi pikir kamu menikahinya karena mengancam atau sudah membuatnya bunting, ternyata kamu selicik itu hingga bisa menjeratnya," sungut Danu setelah ia puas memberikan dua pukulan di wajah Zio yang kini terlihat lebam.
Zio tidak bisa menjawab dan ia hanya bisa menatap Mentari dengan tatapan memelas, berharap istrinya itu akan memeluknya dan mengusap wajahnya lalu berkata 'semua akan baik-baik saja dan akan lukanya akan sembuh setelah aku mencium dan mengajakmu bercinta' tetapi itu tidak mungkin.
Sungguh pikiran mesum mantan casanova ini benar-benar selevel dewa.
__ADS_1
Mami Lolita lalu berdiri, ia menyingkirkan tangan Mentari yang hendak mengusap tangan Zio. Mentari merasa ciut namun hanya untuk sesaat hingga ia kembali menahan tawanya saat melihat ternyata ibu mertuanya itu justru menarik telinga Zio dengan kuat dan itu membuat Zio meringis.
"Tidak usah pedulikan dia, Tari. Dia sangat nakal dan pantas dihukum. Sekalian saja mami sembunyikan istrimu ini dan biar kamu mencarinya dengan mengajak satu negara seperti kamu menipunya dengan mengajak satu kampung warga untuk menggrebek kalian yang tidak berbuat apa-apa. Ya ampun, ya Tuhan, mengapa aku memiliki anak seperti dia? Ini cobaan atau karma?"
Setelah kedua orang tuanya puas menghukum Zio, kini mereka kembali mengobrol serius. Papi Danu bahkan mendengus melihat bagaimana Zio bersikap sangat manja dengan bersandar di bahu Mentari.
"Tari, mami dan papi berniat untuk melamar kamu kembali. Pernikahan kalian memang sah secara hukum dan agama karena Zio mendaftarkannya langsung di KUA, tetapi kami juga ingin melihat pernikahan kalian itu dan menyelenggarakannya dengan besar-besaran. Ini adalah pernikahan pertama dari salah satu cucu di keluarga Ar-Rasyid dan tidak boleh jika tidak mengundang kerabat juga keluarga ...."
Lolita tersenyum ke arah Mentari yang terlihat sedikit terkejut tetapi dengan cepat ia bisa menguasai dirinya.
"Oh itu, bagaimana baiknya saja nyo— eh mami. Tari mengikut saja dan apapun keputusan kalian pasti adalah yang terbaik," ucap Mentari dengan begitu lugunya hingga membuat Zio seketika tersedak karena menahan tawanya.
Mentari mencubit pinggang kuat Zio hingga lelaki itu berpura-pura meringis kesakitan.
"Aduh sayang, kenapa mencubitku sekuat itu? Kamu seperti baru saja memakan bayam dan langsung memiliki kekuatan luar biasa," ucap Zio dengan suara yang cukup keras, ia sengaja.
"Lu pikir gue ini Popaye?" bisik Mentari dengan suara penuh penekanan.
Zio kembali tertawa. Setelah puas ia pun turut membahas rencana lamaran dan juga ada hal yang ia katakan hingga membuat Mentari menggetuk kepalanya dengan kesal dan tanpa ragu lagi.
"Mi, lihat menantumu. Aku hanya mengusulkan bulan madu tetapi dia langsung KDRT," adu Zio namun Mentari sudah tidak takut lagi. Sudah cukup jaga imagenya.
"Itu karena kamu pria berotak mesum!" balas Mentari.
"Mesum hanya padamu saja," bela Zio untuk dirinya sendiri.
"Oh apakah itu benar? Bukankah dulu kamu sering membawa wanita berganti-ganti ke kantor? Kamu itu memang pria berotak mesum!"
__ADS_1