CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~35


__ADS_3

Zio menghela napas lega setelah ia berhasil mengusir Helena dari hidupnya namun ia masih merasa was-was jika saja Bella akan melakukan hal yang sama. Ia harus mengantisipasi lebih dulu karena jika ia ingin kembali melanjutkan cinta dengan Mentari, maka ia harus terbebas dari kedua wanita itu. Bukan tidak mungkin mereka akan mendekati Mentari dan membuat Mentari menjadi ilfeel padanya.


Zio sudah bertekad, setelah ini ia akan kembali meminta Mentari untuk menjadi kekasihnya dan menjauhkan Oliver dan Juan dari hidup Mentari. Ia sudah cukup dibakar cemburu oleh kedua pria itu, dia sudah berhasil menyingkirkan Fardan maka ia akan menyingkirkan dua orang lagi untuk bisa mendapatkan hati Mentari seutuhnya.


Dari gelagat Mentari, Zio bisa membaca jika mantan kekasihnya itu masih memiliki rasa untuknya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, jangan sampai Juan mampu menyingkirkan posisinya dari hati Mentari jika ia membiarkan Mentari bebas tanpa terikat status hubungan dengannya.


"Gue ajak dia makan siang deh," ucap Zio kemudian ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata waktu sudah menunjukkan jam makan siang.


Sambil tersenyum manis Zio melenggang keluar dari ruangannya. Namun senyum itu pupus ketika melihat meja Mentari sudah kosong dan ketika ia meluruskan pandangannya ia melihat Mentari sedang bergandengan tangan dengan Juan berjalan masuk ke dalam lift.


Zio mengepalkan tangannya, ia tidak suka melihat pemandangan di depan matanya ini. Dengan cepat ia berusaha mengejar bamun sayang sekali lift itu sudah tertutup hingga ia memutuskan untuk memasuki lift khusus untuknya.


Sesampainya di lantai satu, Zio tidak menemukan keberadaan Mentari dan Juan karena ia terhalangi oleh kedatangan Bella. Hal yang sudah ia duga sebelumnya dan ternyata secepat itu Bella datang menemuinya.


Zio mengurungkan niatnya untuk mengejar Mentarihl, ia tidak ingin Bella mengetahui siapa sebenarnya orang yang membuatnya memutuskan hubungan mereka. Zio harus antisipasi jika Bella marah dan akan menyasar pada Mentari.


"Mau ngapain lagi lu kemari?" tanya Zio dengan tatapan datar.


"Sayang kamu nggak benar 'kan mutusin aku? Iya 'kan? Kamu cuma bercanda doang 'kan? Mau ngerjain aku doang 'kan?" cecar Bella sambil berusaha meraih tangan Zio namun dengan secepat kilat Zio memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


Hal tersebut mengundang perhatian karyawan yang sedang berlalu-lalang di lantai satu. Mereka terus memperhatikan interaksi bosnya dengan salah satu kekasihnya.


"Sekali gue bilang berakhir ya berakhir! Lu jangan lagi dong cari-cari gue karena kalau lu nggak mau dengar ucapan gue dan masih bersikap keras kepala, jangan salahin gue kalau sesuatu yang buruk terjadi sama lu. Mending sekarang daripada semua itu terlambat lu sadari, lu jauh-jauh dari gue!" ucap Zio dengan penuh penekanan.


Mata Bella terbelalak, rupanya Zio memang benar-benar ingin memutuskan hubungan mereka. Tentu saja ia tidak bisa menerima semua itu, setelah sekian lama mereka bersama dan apa yang sudah mereka lalui dan lakukan bersama, Bella tidak mungkin melepaskan Zio begitu saja.


"Sayang jangan gitu dong, kalau kamu mau duain aku itu terserah kamu. Tapi jangan mutusin hubungan kita karena aku terlanjur cinta sama kamu," ucap Bella memohon berharap belas kasih dan berlutut di kaki Zio.


Zio memundurkan langkahnya, ia tidak suka diperlakukan seperti ini boleh Bella karena semuanya juga tidak akan merubah keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka.


"Mendingan lu pergi dari sini sebelum gue bertindak nekat sama lu!" ucap Zio dengan begitu dingin hingga membuat Bella menghentikan aksinya yang sedang memohon dan berlutut di kaki Zio.


Zio kemudian memanggil satpam, Ia pun menegaskan pada seluruh karyawannya yang menyaksikan kejadian barusan untuk mencegah kedatangan Bella lagi ke kantor ini. Jika wanita ini muncul lagi maka mereka harus segera mengusirnya, begitu perintah Zio yang langsung dipatuhi oleh para karyawannya.


Tak jauh dari tempat kejadian itu, sepasang mata Mentari memperhatikan dengan jelas bagaimana Zio mengusir Bella dan kejadian ini membuatnya bingung karena tadi pun sepertinya dia bertengkar dengan Helena.


Mentari yang berniat pergi ke toilet tak sengaja menyaksikan kejadian ini. Dan kini ia bertanya-tanya apa yang sudah terjadi pada Zio sehingga memarahi dua kekasihnya dan memutuskan hubungan mereka.

__ADS_1


"Mungkin mereka sudah nggak menarik lagi bagi Zio," ucap Mentari kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju ke toilet.


Zio yang menangkap siluet Mentari menuju ke arah toilet, ia bergegas mengajarnya agar bisa berbicara dengan Mentari.


Zio menunggu di depan pintu toilet wanita membuat Mentari terkejut ketika ia membuka pintu toilet tersebut.


"Pak Zio, sedang apa anda di sini?" tanya Mentari heran kemudian ia refleks menutupi dadanya, ia teringat ketika Zio hampir saja memperkosanya. "Jangan bilang Anda mengikuti saya ke tempat ini untuk melakukan hal cabul ya. Nanti saya bisa teriak, awas aja!" ancam Mentari dengan melemparkan tudingan yang membuat Zio tergalak.


"Gue? Perkosa lu di toilet? Nggak berkelas banget sih! Mending gue bawa lu ke hotel berbintang lima, di sana fasilitasnya lebih bagus dan paling enak untuk kita main kuda-kudaan. Gimana, lu tertarik nggak?" jawab Zio menimpali tudingan Mentari.


Mentari langsung memasang wajah sebalnya. Ia kemudian bergegas meninggalkan Zio namun tangannya ditarik oleh Zio dan kini Mentari justru jatuh ke dalam pelukan dengan wajahnya bersandar di dada bidang Zio.


Mentari menghirup dalam-dalam aroma tubuh Zio yang selalu membuatnya tenang. Wangi parfum yang tidak pernah berganti, serta dada yang dulu selalu ia jadikan tempat bersandar tetap terasa hangat seperti dulu.


"Mentari, lu ngerasain nggak debaran jantung gue?" tanya Zio, suaranya saat ini terdengar begitu gugup.


Mentari yang tidak paham dengan maksud pertanyaan Zio hanya menganggukkan kepalanya karena memang ia merasakan dan mendengar debaran jantung Zio yang begitu berdebat kencang.


"Lu tau nggak debaran ini sama persis ketika pertama kali gue melihat lu? Pertama kali ketika gue menyantain cinta sama lu, dan pertama kali ketika gue meluk lu," ucap Zio, ia merasa dirinya berbicara melantur tetapi memang benar karena Ia memang tidak tahu harus mengatakan apa pada Mentari untuk menyatakan cinta, karena saat ini yang sedang grogi.


"Pak saya tidak bisa bernapas ini, tolong lepasin dong," pinta Mentari karena Zio memeluknya erat, apalagi saat ini wajahnya terbenam dan tertahan di dada Zio yang membuatnya kesulitan menghirup udara.


"Anda bicara apa sih?" tanya Mentari namun tiba-tiba Zio langsung membungkam bibir Mentari dengan sebuah ciuman.


Sekuat tenaga Mentari berusaha melepaskan diri dari Zio kemudian ia menampar pipi atasannya tersebut.


"Kenapa Anda suka sekali mencium saya sembarangan sih? Memangnya sayang ini apaan?!" bentak Mentari.


"Mentari nggak gitu. Gue hanya kesel aja, lu nggak usah pakai bicara formal gitu ke gue, karena sekarang gue minta lu untuk bicara biasa aja ke gue. Bisa 'kan?"


"Terus mau lu apa?" tanya Mentari sarkas.


"Lu tenang dulu oke. Nggak ada maksud apa-apa selain gue ingin menyatakan cinta sama lu. Gue cinta sama lu Mentari. Lu mau nggak balikan sama gue, please?"


Hah?


Mentari terbengang mendengar penuturan Zio yang mengungkapkan cinta dan mengajaknya balikan. Dulu hal ini selalu ada dalam bayangan Mentari, tetapi kali ini ketika harapannya itu datang ia justru tidak tahu harus menanggapinya seperti apa.

__ADS_1


"Mentari lu kok diam aja?" tanya tanya Zio harap-harap cemas, ia sangat takut jika seandainya Mentari menolak cintanya.


Mentari mengerjapkan matanya berkali-kali, ia berusaha mempercayai apa yang baru saja dengar.


"Lu tadi nembak gue?" tanya Mentari setengah bingung.


Zio mengangguk mantap.


Mentari kemudian memperhatikan Zio dari ujung kaki sampai ujung kepala kemudian ia menggelengkan kepalanya, membuat Zio merasa sakit hati karena Mentari langsung menolaknya bahkan tidak memberinya kesempatan untuk memperjuangkan cintanya.


Mentari pun berlalu pergi kemudian ia berbalik dan memanggil Zio yang masih mematung di depan toilet.


Mendengar Mentari memanggil namanya, dengan lesu Zio berbalik badan.


"Gue emang nolak lu, siapa suruh lu nembak gue di depan toilet. Kayak nggak ada tempat romantis aja!" ucap Mentari kemudian Ia berlari meninggalkan Zio sambil tertawa puas.


Zio yang baru bisa mencerna kata-kata Mentari setelah mantan kekasihnya itu tertawa lepas, ia langsung melebarkan senyumnya. Ia kemudian segera menyusul Mentari namun ia kehilangan jejak gadis itu.


"Dia ngerjain gue rupanya. Tapi nggak apa-apa, ternyata cinta gue bersambut. Lu minta tempat romantis, 'kan? Gue bakalan sediain tempat romantisnya. Lu tunggu aja," ucap Zio senang, kemudian ia bergegas masuk ke dalam lift, ia akan kembali ke ruangannya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda karena kehadiran Helena tadi. Tak lupa ia memesan makanan dari restoran favoritnya untuk diantarkan ke kantor saja.


Zio sangat bersemangat mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda, bibirnya tak pernah lepas dari senyuman manis walaupun beberapa dokumen yang sedang ia periksa itu bermasalah. Semua ini karena Mentari, mantan terkasih yang merupakan mood booster-nya selama ini.


Saat Zio sedang sibuk memeriksa pekerjaannya, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dan ia melihat di sana Oliver berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke mejanya.


"Ada apa?" tanya Zio heran melihat wajah tegang Oliver.


Oliver menarik kursi yang ada di hadapan Zio kemudian duduk sambil menatap tegang pada Zio.


"Bro ini benar-benar gawat!" ucap Oliver.


Rasanya Zio ingin menggeplak kepala kakak sepupunya itu karena berbicara bertele-tele. Dia hanya ingin Oliver berbicara saja secara terus terang dan jangan diputar-putar seperti ini. Apalagi wajah tengah Oliver, Zio merasa saat ini ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi pada mereka.


"Si kakek, dia bilang dia bakalan kenalin kita bertiga sama anak temannya. Dia berencana buat jodohin kita sama anak temannya itu dan nanti cewek itu yang bakalan nentuin dia maunya sama siapa. Kalau nggak gitu, kakek yang bakalan nentuin siapa yang harus menjadi suami cewek itu. Gue nggak mau!"


"What? Lu serius?" pekik Zio.


"Gue serius. Gue sih nggak mau kalau dijodohin, mending gue balik ke negara gue. Nggak tahu kalau lu," ucap Oliver kesal

__ADS_1


"Apalagi gue! Kenapa harus ada acara perjodohan segala sih? Mendingan tuh si Juan aja yang dijodohin. Dia 'kan paling dekat sama kakek, gue mah ogah!" tolak Zio mentah-mentah.


__ADS_2