
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Zio masih belum ingin kembali ke rumahnya. Ia bahkan mengatakan pada Mentari ingin menumpang tidur di rumahnya. Mentari sendiri awalnya tidak begitu keberatan sampai Zio mengatakan jika ia ingin menumpang tidur tetapi di kamar yang sama dengan Mentari. Tentu saja Zio langsung mendapat hadiah cubitan di lengannya dari Mentari.
Sebenarnya Zio tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya, itu semua hanya untuk menggoda Mentari saja sebab di rumah pun saat ini sudah ada Maya yang bergabung bersama mereka berdua dengan ia yang membawa banyak kue dari rumah tetangga sehingga ketiganya saat ini sedang menikmatinya bersama.
"Kalau udah nikah, jangankan tidur sekamar, tidur dimana pun itu tidak masalah," ledek Maya yang membuat pipi Mentari memerah, ia paling sensitif jika harus membahas masalah menikah dan apalagi masalah hubungan intim.
Zio sendiri tidak berhenti menggoda Mentari dengan terus membahas hubungan antara suami istri, membuat gadis yang mudah kesal itu menjadi kesal.
"Zio ih, nggak usah bahas yang kayak gituan. Memalukan!" tegur Mentari mengundang gelak tawa Zio dan Maya.
Setalah lama berbincang, Maya pun berpamitan karena ia ingin beristirahat. Ia sangat lelah setelah membantu tetangganya membuat kue.
Tinggallah Mentari dan Zio di ruangan tersebut, Zio kembali melempar godaan pada Mentari hingga sebuah bantal sofa melayang di wajah tampan Zio.
"Wah KDRT lu ya," ucap Zio kemudian ia menggelitik pinggang Mentari hingga Mentari tertawa keras bahkan air mata keluar dari sudut matanya.
Ia meminta ampun agar Zio menghentikan aksinya tapi kini justru keduanya terdiam karena pose mereka saat ini dimana Mentair yang berbaring di sofa dan Zio yang berada di atasnya, terlibat seperti Zio tengah mengungkung Mentari.
Wajah Zio semakin dekat hingga Mentari menutup matanya. Mentari mengira jika Zio akan mendaratkan kecupan di bibirnya tetapi justru pria itu mengecup lembut dahi Mentari dan itu cukup lama sebelum ia bangkit dari atas tubuh Mentari dan ia meminta Mentari untuk kembali duduk.
"Tumben," ledek Mentari.
__ADS_1
Zio menatap Mentari, "Ck! Dicipok salah, nggak dicipok salah. Gue harus gimana?" keluh Zio dengan mendramatisir keadaan.
Mentari tertawa, Zio-nya yang dulu sudah kembali dan Mentari semakin takut kehilangan pria ini. Mentari berharap ia dan Zio akan terus bersama selamanya.
"Lu belum mau pulang? Biar gue anterin," tanya Mentari yang kemudian ia melirk jam dinding.
"Lu ngusir gue?" tanya Zio merada tidak senang.
"Ya enggak, hanya saja lu nggak mungkin 'kan tidur di sini. Nggak ada tempat dan nggak ada AC. Nggak mungkin kalau tidur di sofa. Mendingan lu pulang biar gue anterin ya," bujuk Mentari, ia sebenarnya tidak enak hati pada keluarga Zio karena memilihnya. Namun ,justru Zio tidak ingin pulang ke rumah dan menjauhi mereka.
"Kalau lu anterin gue terus lu pulangnya gimana? Masa gue anterin lu lagi, jadinya kita antar mengantar doang dong, hehehe."
Mentari memalingkan wajahnya, ia merasa sedikit malu dengan ucapan Zio karena memang benar kenyataannya seperti itu. Ia mengantar Zio menggunakan sepeda motornya dan Zio tidak akan membiarkannya kembali seorang diri dan tujuannya pasti akan mengantarnya lagi dan tidak mungkin lagi Mentari akan mengantar Zio lagi.
Mentari menolak keras, ia mengatakan kepada Zio jika ini sudah hampir larut malam dan mereka berdua tidak pantas untuk jalan-jalan naik motor di tengah cuaca yang sudah mulai dingin dan juga yang harusnya mereka gunakan untuk istirahat apalagi besok akan masuk kerja.
Namun Zio tidak mau kalah, ia tetap memaksakan kehendaknya kepada Mentari agar mereka jalan-jalan. Zio ingin bermesraan bersama mentari di atas motor dan ia ingin menghabiskan malam ini bersama Mentari.
"Untuk malam ini aja," ucap Zio memohon kepada Mentari agar kekasihnya itu setuju saja, dengan alasan Ia yang ingin menghibur diri dan juga agar mereka bisa melupakan sejenak masalah yang tengah mereka hadapi.
Akhirnya setelah beberapa paksaan , bujuk rayu dan juga didukung wajah Zio yang sangat memelas itu Mentari pun setuju.
__ADS_1
Mentari dan Zio pun keluar bersama dan Zio yang menyetir motor Mentari. Cuaca malam ini juga begitu cerah, ada banyak bintang di langit sedangkan udara kini terasa semakin dingin.
Zio yang tidak mengenakan jaket merasa begitu kedinginan sedangkan Mentari yang dia bonceng di belakangnya menggunakan hoodie tebal. Beberapa kali Zio mencoba untuk mengerem motor mendadak agar Mentari yang berada di boncengan yaitu tiba-tiba memajukan tubunya dan memeluk Zio.
"Dasar modus!" pekik Mentari dan Zio pun tidak peduli.
Sebelah tangan Zio menguasai setir motor, dan satu tangannya lagi ia gunakan untuk menggenggam tangan Mentari yang melingkar di pinggangnya.
"Mentari gue minta sama lu untuk nggak usah peduliin masalah Dini. Masalah perjodohan sialan itu, gue nggak bakalan tunangan sama Dini karena gue hanya bakal tunangan dan nikah sama lu. Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku ya, karena kemanapun lu pergi gue pasti bakalan cari dan nemuin lu," pinta Zio dan Mentari yang menyandarkan dagunya di bahu Zio pun hanya bisa menganggukkan kepalanya lirih.
Zio kembali menekankah bahwa kedepannya hubungan mereka ini pasti akan semakin banyak kendala dan juga ada banyak duri yang menghalangi jalan mereka. Tak lupa Zio juga berpesan pada Mentari untuk terus percaya kepadanya karena hanya kepercayaan Mentari yang saya butuhkan.
"Dan kayaknya juga setelah ini hubungan kita bakalan lebih sering diuji. Gue hanya ingin lu bersabar demi gue dan jangan menyerah sama gue, ya," pinta Zio lagi, malam ini pria tampan dan casanova ini begitu banyak bicara.
Keresahan Mentari mulai timbul begitu Zio selesai mengucapkan kata-katanya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Zio, ke depannya hubungan mereka ini akan semakin rumit sebab pasti orang kaya seperti keluarga Rasyid tentu memiliki cara untuk menyingkirkan orang-orang dari golongan biasa seperti Mentari.
"Gue janji, gue bakalan kasih lu kepercayaan Tapi tolong jangan di ingkari ya," pinta Mentari.
Zio mengangguk patuh, ia berjanji kepada Mentari untuk terus terbuka dengannya dan memberitahukan apa-apa saja yang mengganjal dalam hati dan pikirannya.
Jam di tangan Mentari sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan Mentari pun mengajak Zio untuk kembali ke rumah dan apabila Zio ingin tidur di sofa maka Mentari tidak akan melarangnya.
__ADS_1
Zio sendiri tidak benar-benar memintanya, ia kembali pulang ke apartemnya karena ia masih memiliki hunian yang ia beli dengan uangnya sendiri.