
Usai insiden dimana Mentari melihat terong super milik Zio, ia menjadi kesulitan untuk tidur. Bayang-bayang dimana milik Zio begitu nyata terlihat dan itu adalah pengalaman pertama Mentari melihat yang begituan membuatnya susah move on.
Bagaimana jika benda sebesar itu dimasukkan ke dalam milikku, apakah aku tidak akan mati?
Mentari bertanya-tanya dalam hati, ada rasa penasaran dan juga ketakutan bersatu dalam hati dan pikirannya. Mentari sangat ingin memberikan hak itu pada Zio, akan tetapi ia takut untuk memulainya. Mentari takut akan kesakitan walaupun ia sudah tahu hal itu adalah kewajaran. Dia masih tersegel dan pasti akan sangat sakit ketika Zio berusaha menyobek segel tersebut.
Sementara itu, Zio nampak hanya memejamkan matanya namun sebenarnya ia tidak benar-benar tertidur. Selain karena keinginannya yang terpaksa ia batalkan, ia juga merasakan kegelisahan Mentari yang sedari tadi terus bergerak ke kanan dan ke kiri.
Zio tahu Mentari pasti sedang memikirkan hal tadi, ia berniat untuk menggoda Mentari lagi dan jika Mentari tidak bisa memenuhi hasratnya maka Zio bisa mengajak Mentari untuk membantunya mencapai pelepasan.
"Tidak bisa tidur, hmm?" tanya Zio dan Mentari yang sedang berbaring menyamping membelakangi Zio pun langsung berbalik hingga tatapan mereka bertemu.
Mentari mengangguk sebagai jawaban karena entah mengapa Mentari begitu kaku saat ini dan ia benar-benar dalam keadaan gugup.
Zio merapikan anak rambut Mentari yang jatuh menutup sebagian wajah cantiknya. Setelah itu Zio mulai membelai lembut wajah Mentari dan sentuhannya itu turun hingga ke leher Mentari. Kini tangan itu sudah berada di punggung Mentari dan ia menarik tubuh istrinya itu untuk mendekat dan merapat di dadanya.
__ADS_1
Dalam sekejap Mentari dan Zio sudah saling berpelukan. Zio menatap dalam kedua bola mata Mentari dan entah siapa yang memulai tapi kini keduanya sudah asyik bertukar saliva.
Tangan nakal Zio kini mulai beraksi dengan bergerak memasuki gaun Mentari di bagian belakang guna untuk melepaskan pengait bra. Setelah pengait tersebut terlepas — tautan bibir mereka masih berlanjut, Zio mulai meraba punggung mulus Mentari dan memberikan gerakan yang sensual hingga membuat Mentari tanpa sadar meloloskan suara merdu tersebut.
Hal tersebut semakin memacu hasrat Zio, tangannya yang bermain di punggung Mentari kini dalam sekejap sudah berada di dua buah kembar milik Mentari.
Suara lucknut pengantar tidur lolos dari bibir keduanya. Mentari bahkan tak sadar jika dirinya sudah tidak mengenakan pakaian atasan yang entah Zio membuangnya kemana.
Malam ini Mentari harus jadi milik gue. Entah dia bakalan marah atau menolak, tapi gue bakalan jebol malam ini. Sayang bersiaplah, gumam Zio dalam hati.
Perlakuan serta sentuhan Zio mampu membuat Mentari terbuai. Saudara desa-han yang lolos dari mulutnya bagai utama penyemangat Zio untuk bisa unboxing malam ini.
"Perlahan Zio!" pekik Mentari ketika Zio baru saja memasukkan benda miliknya yang padahal kayanya baru di ujung saja. "Ini sakit sekali, hiksss ..."
Zio paham, Mentari baru pertama kalinya disentuh dan itu adalah dirinya. Ia yang sudah mahir dalam urusa ranjang mampu membuat rasa sakit yang Mentari rasakan tadi kini berganti dengan rasa nikmat.
__ADS_1
Walaupun sekarang Mentari tengah menjerit karena kesakitan, Zio langsung membungkam erangan kesakitan itu dengan ciumannya yang bertubi-tubi.
"Jika sakit kau boleh menggigit atau mencakar punggungku sayang," bisik lirih Zio di telinga Mentari kemudian ia menciumi telinga tersebut hingga membuat tubuh Mentari menggeliat.
"Arrrggg ..." Mentari berteriak begitu milik Zio berhasil menerobos masuk ke dalamnya. Air mata Mentari menetes, ini adalah tanda dimana mulai detik ini Mentari sudah sah menyandang status sebagai seorang wanita dan juga seorang istri.
Zio mendiamkan untuk beberapa saat dan mencoba untuk membuat Mentari merasa rileks. Ia mengecup kedua mata Mentari yang terlihat mengeluarkan air mata. Zio tahu Mentari saat ini merasa sedih karena sudah memberikan kehormatannya pada pria se-brengsek dirinya.
Ada rasa bangga yang hinggap di hati Zio karena ia adalah yang pertama untuk sang istri. Zio berharap hingga seterusnya dirinya lah yang akan menjadi pemilik dari wanita ini.
"Apakah masih sakit?" tanya Zio sambil tersenyum manis menatap ke arah Mentari.
Dengan malu-malu Mentari menggeleng. Zio pun tersenyum seringai, ini adalah saat yang paling ia tunggu selama ini.
"Baiklah sayang, bersiaplah untuk menikmati malam ini bersamaku. Akan kubawa kau ke nirwana," ucap Zio kemudian ia mulai bergerak di atas tubuh Mentari.
__ADS_1