
Oliver yang merasa tidak paham dengan ucapan Zio hanya ikut duduk saja dan menunggu kedatangan Mentari serta menunggu kedatangan Juan juga menunggu kapan Zio akan pergi karena katanya ia akan pergi menemui Helena.
Tak berselang lama Mentari pun datang dari dalam rumah sambil membawa makanan yang sudah ia salin ke dalam piring dan juga air minum. Ia langsung duduk di samping Zio. Oliver tentu bertanya-tanya dalam hati apa yang hendak dilakukan oleh Zio dan Mentari yang kata Zio akan membuatnya patah Hati.
"Ayo makan," ajak Mentari memberi piring pada Zio untuk bagiannya.
Zio hanya menatap piring tersebut kemudian ia kembali menatap Mentari yang sudah melahap makanannya. Ditatap seperti itu oleh Zio saat ia sedang menyendokkan makanan ke dalam mulutnya membuat Mentari menggigit sendok tersebut. Wajah masam Zio langsung membuat Mentari terkekeh.
"Ck! Bayi besar gue," ledek Mentari.
Mentari meletakkan piringnya di pangkuan Zio kemudian ia mengambil piring Zio dan mulai menyuapi mantan kekasihnya yang tadi sempat merajuk itu.
"Buka mulut aa--" ucap Mentari kemudian Zio segera membuka mulutnya dan Mentari langsung memasukkan sesuap makanan ke dalam mulut Zio.
Oliver yang melihat kemesraan tersebut langsung membulatkan matanya. Ia tidak percaya jika Mentari akan memperlakukan Zio dengan selembut itu dan semanis itu. Dalam hati Ia pun berharap jika dia juga bisa diperlakukan seperti itu oleh Mentari.
Zio kemudian bergantian menyuapi Mentari dengan makanan yang ada di pangkuannya. Hal tersebut terus saja dilihat oleh Oliver, dalam hati ia mengumpat karena benar yang dikatakan oleh Zio jika setelah melihat adegannya bersama Mentari maka ia akan patah hati.
Mentari kemudian meliuk-liukkan sendok tersebut untuk menuju ke dalam mulut Zio sambil berkata "pesawat terbang segera meluncur" seperti sedang memberi makan anak kecil dan Zio dengan senang hati melahap makanan tersebut kemudian keduanya sama-sama tertawa lucu.
"Dari dulu nggak berubah, tetap saja manja. Setiap mau makan bareng gue selalu aja minta disuapin. Dasar bayi besar!" cibir Mentari kemudian ia menerima suapan dari Zio.
"Lagian makan dari tangan kamu itu nikmatnya beda Yang," ucap Zio yang membuat Mentari tersentak, pipinya memrrah kemudian ia memalingkan wajahnya, sedangkan Oliver yang mendengar celetukan Zio tersebut tak sengaja tersedak ludahnya sendiri.
__ADS_1
Zio yang melihat Mentari memalingkan wajahnya yang sudah memerah serta Oliver yang terbatuk-batuk tanpa ada yang memberikannya minum, membuatnya berpikir apa yang sudah terjadi hingga membuat keduanya menjadi seperti itu.
Zio seketika tersentak sendiri mengingat apa yang baru saja ia ucapkan. Pipinya sendiri kemudian memerah hingga ke telinganya, ia merasa malu sendiri karena keceplosan memanggil Mentari dengan sebutan 'Yang' karena dulu memang ia selalu berkata seperti itu dan memanggil Mentari dengan panggilan sayang.
"Sorry, gue terbawa perasaan dan mengira kita masih ada di masa lalu. Makan lagi yuk, nggak usah malu sama gue. Santai aja, kalau habis ini juga lu mau ayang-ayangan bareng gue lagi, ya nggak masalah dong!" ucap Zio yang membuat Mentari mendengus kesal namun tidak bisa ia pungkiri bibirnya tersenyum manis sedangkan Oliver langsung membuang muka dengan mendengus kesal.
"Apaan sih lu? Mending nggak usah ngegombalin, receh tahu! Casanova kelas kakak sekaligus pemandu tour ranjang panas kayak lu nggak cocok buat ayang-ayangan sama gue!" ketus Mentari kemudian dia kembali menyuapi dan dengan senang hati Zio menerimanya.
Zio terkekeh, ia kembali teringat pada zaman mereka pacaran dulu dimana Mentari sering makan bersamanya dan walaupun ia membuat Mentari kesal, nyatanya Mentari tetap memberikannya suapan makanan hingga makanan mereka habis walau dengan wajah yang ditekuk.
Oliver menelan ludahnya kemudian ia menatap Mentari dan Zio dengan lekat. "Kalian berdua lagi reunian atau mau pamer kemesraan sih sama gue? Lu juga Mentari, bukannya lu suapin gue disini yang notabenenya sebagai calon suami masa depan lu, eh ini lu malah mengabaikan gue dan asyik reunian sama mantan lu ini. Gue patah hati tahu!" sungut Oliver.
"Kan tadi udah gue bilang mending lu cabut. Lu dibilangin nggak mau dengar, rasain 'kan. Patah hati, patah hati deh lu!" ejek Zio kemudian ia menyuapi Mentari lagi sedangkan Mentari saat ini merasa tak enak hati pada Oliver karena ia sempat mengabaikan pria tersebut dan malah terbawa perasaan bersama sang mantan kekasih.
"Ya ampun, jadi lu belum makan juga. Ya udah sini, gue suapin deh sekalian, daripada lu kelaparan di situ," ucap Mentari merasa bersalah namun dengan secepat kilat Zio mengambil piring yang ada di pangkuan Mentari dan menghabiskan makanan tersebut.
"Kalau lu mau makan, nih makan punya gue yang ini nih," ucapnya kemudian yang memberikan makanan yang masih bersisa di piring yang ada di pangkuannya kepada Oliver. "Dan lu Mentari, jangan mau makan atau suapin dia. Lu tahu nggak dia itu punya penyakit rabies. Lu nggak mau 'kan ketularan sama dia? Dih ngeri!"
Zio meringis sambil memegangi kepalanya yang baru saja digeplak oleh Oliver. Kakak sepupunya itu tidak habis pikir dengan ucapan Zio barusan yang mengatakan jika ia memiliki riwayat penyakit rabies. Sungguh Zio sudah sangat mengejeknya dan juga menguji kesabarannya.
Mentari meringis pelan melihat pertengkaran kakak dan adik sepupu di hadapannya tersebut. Ia kemudian mengangguk ketika Oliver mencoba menjelaskan jika apa yang dikatakan Zio tersebut tidaklah benar. Mentari juga mengiyakan ketika Oliver mengatakan jika dirinya bersih dari penyakit dan juga selalu menjaga pola hidup sehat.
"Lagian lu ya, lu itu udah punya dua gandengan. Mentari biar sama gue yang jomblo ini. Ya nggak Mentari," ucap Oliver sambil menaikturunkan alisnya menatap Mentari.
__ADS_1
"Eh iy-"
"Alaah ... macam lu nggak sama aja kayak gue. Jangan mau sama dia Tari. Lu mending jauhin dia karena dia ini Casanova kelas kakap yang selalu mempermainkan hati wanita. Lu harus dengan pria yang nggak kayak gue dan juga nggak kayak Oliver," sambar Zio. Tapi seandainya lu mau balikan, bakalan langsung gue jadiin istri, lanjut Zio dalam hati.
Oliver berdecak kesal karena Zio membuka aibnya di hadapan Mentari. Oliver ingin sekali membuat pembelaan tetapi Zio selalu saja memotong dan menyambar ucapannya, seolah Zio sedang menunjukkan padanya jika Oliver tidak memiliki tempat dan kesempatan di dalam kehidupan Mentari.
Mentari yang tidak ingin melihat Zio dan Oliver kembali berseteru lagi memilih untuk segera masuk ke dalam rumah dan membawa wadah tempat mereka makan tadi untuk ia simpan di dalam rumah. Mentari tidak ingin menjadi penengah dari keduanya, ayo memilih melipir daripada harus kembali pusing mendengarkan celetukan celetukan aneh dari saudara sepupu tersebut yang sama-sama gila menurut Tari.
"Lu ngapain buka kartu gue di depan Mentari? Lu mau bikin gue jadi turun pamor ya sama dia. Wah lu nggak Nggak bener nih," omel Oliver pada Zio yang hanya menatapnya dengan datar.
"Ya lu juga ngapain gombalin Mentari saat orangnya lagi sama gue. Tapi ya gue peringatan dan gue tekankan sama lu, walaupun Mentari itu nggak jadi sama gue, tapi gue nggak mau dia juga jadi sama lu. Apa jadinya rumah tangga dia bareng Casanova macam lu. Masih banyak yang lain yang jauh dari kata buruk seperti kita berdua," ucap Zio walau sebenarnya dalam hati ia mengharapkan jika dirinya yang akan mendampingi Mentari hingga mereka menua bersama.
Zio dan Oliver sama-sama menghela napas, keduanya menyadari jika sosok mereka itu sangat jauh dari kata baik dan sangat tidak pantas untuk mendampingi seorang Mentari sebab masa lalu mereka dan juga masa kini mereka yang selalu saja tidak bisa jauh dari wanita.
Tak lama kemudian Mentari keluar dari dalam rumah, wajahnya tersenyum berseri-seri hingga membuat Zio dan Oliver membalas senyuman tersebut dengan tak kalah manisnya. Mereka juga membalas lambaian tangan Mentari yang saat ini tengah berdiri sambil melambaikan tangannya. Meskipun merasa aneh, Oliver dan Zio tetap membalas lambaian tangan tersebut tanpa merasa curiga.
"Juan, lu udah datang ya. Ayo sini masuk bareng gue!" teriak mentarik sambil berjalan melewati Zio dan Oliver.
Zio dan Oliver sontak menoleh ke belakang, keduanya terkejut karena melihat Juan sudah berjalan mendekati Mentari begitupun Mentari yang berjalan mendekatinya.
Melihat Mentari yang begitu senang melihat kedatangan Juan, Zio langsung berpikir bahwa Ia ada baiknya bersikap merajuk lagi agar supaya Mentari tidak melirik Juan melainkan memanjakan dirinya.
Mentari langsung melupakan keberadaan Rio dan universe hingga kini ia mengajak cuman untuk masuk ke dalam rumah dan melihat sang ayah.
__ADS_1
"Ya udah, karena ini sudah selesai, juga makannya sudah habis karena lu suapin gue, sekarang gue pamit ya. Ada seseorang yang nungguin gue soalnya," ucap Zio yang kemudian berharap jika Mentari akan kembali memanggilnya.
"Oh ya udah, karena lu juga udah makan jadi nggak masalah kalau pergi. kalau mau pergi silahkan aja," jawab Mentari mematahkan ekspektasi Zio.